
Tak mau mengurungkan niatnya lebih lama lagi Mandau yang telah menancap ditubuh timanggung suliang dengan segera dicabut, siwara yang melihat kejadian tersebut seketika menghentikan serangannya.
"Kau telah mengajariku berlaku curang, kini aku pun bisa melakukannya pada mu suliang."
"Sekarang aku serahkan dia padamu siwara aku tidak mau mengotori tanganku hanya untuk memenggal kepala seorang perampok."
Lanjutnya, ucapan tersebut bukanlah tanpa maksud, karena sudah menjadi tradisi setiap kematian seseorang yang berkuasa setelah kekalahannya baik dalam perang maupun pertarungan pribadi, kepalanya wajib untuk dipenggal, hal itu dilakukan sebagai simbol bahwa orang yang berkuasa tersebut sudah menyerahkan kekuasaannya kepada orang yang sudah mengalahkannya.
Mendengar ucapan pemimpinnya siwara sudah sangat mengerti apa yang harus dilakukannya.
Karena ini pertama kalinya iya diharuskan melakukan pemenggalan kepala rasa ragu, rasa takut, dan rasa bersalah pun bercampur menjadi satu kesatuan yang amburadul. Tetapi jika iya tidak melakukan itu iya juga akan disebut penghianat dan siap untuk dipenggal juga. Dengan begitu siwara tidak mempunyai pilihan lain.
Dengan penuh keragu-raguan tangannya yang serasa sangat berat melakukan pemenggalan itu mulai mengayunkan mandaunya dan melepaskannya tepat dileher timanggung Siluang yang memang sudah tak berdaya dan sekarat, yang tanpa dipenggal kepalanya juga pasti mati. Seketika kepala itu sudah terlepas dari badannya, sorak Sorai serta Tariu pun riuh.
Suara nyanyian dan tarian seakan pecah.
Kemenangan sudah didapat. Hal yang sama juga dilakukan oleh pasukan desa Runung Pale, meskipun telah kehilangan pemimpin tertinggi mereka, tradisi untuk menyambut pemimpin baru juga wajib mereka lakukan.
Sebagai simbol mereka tunduk dan patuh kepada pemimpin baru yang akan memimpin binua tersebut.
Kepala yang sudah terpisah dari tubuhnya itu kini dilempar ke sana kemari seperti bola.
Tradisi inilah yang dilihat oleh pangkalima siwara setelah kematian seorang pemimpin.
Iya menganggap hal ini sangat tidak pantas untuk dilakukan oleh sesama manusia apalagi beliau adalah seorang pemimpin
Siwara yang memang penuh kasih akan sesama itu kini hanya terdiam, bahkan tak tahu apakah harus senang atau sedih melihat peristiwa yang kini memang terjadi didepannya itu.
Timanggung juak yang juga melihat hal itu menghentikan suara riuh tersebut.
Seketika suasana menjadi sunyi, timanggung juak mengumumkan dirinya sebagai timanggung diantara dua desa tersebut.
"Desa sungai Unak dan desa Runung Pale kini sudah menjadi satu !"
"Tidak ada dendam, tidak ada permusuhan diantara kita semua, kini kita adalah saudara."
Setelah mengucapkan semuanya itu timanggung juak langsung memalingkan wajahnya dan melihat di salah satu tempat dimana disana sudah terbujur kaku istrinya yaitu Wek rontek.
"Disana... Lihatlah disana dia adalah istriku ibu dari anak ku dara Serunti, dia adalah pahlawan kita hari ini, iya telah mengorbankan nyawanya sendiri demi untuk mencapai kemenangan ini."
Mendengar seruan yang telah terucap oleh Timanggung, mereka semua membuatkan tempat khusus untuk menguburkan Wek rontek disalah satu tempat didesa tersebut.
__ADS_1
Hari itu merupakan hari yang paling berat, sebab mereka harus menanam banyak jasad korban dari pertempuran. Sementara Wek rontek yang sudah menjadi pahlawan dikuburkan secara terpisah dan khusus.
Pemakaman itu tak nampak seperti pemakaman yang lainnya tetapi lebih mirip seperti rumah yang didepannya sudah terukir sebuah karya seni yang mirip Wek rontek, ukiran tersebut terbuat dari kayu Belian atau kayu besi dan biasa disebut dengan nama pantak oleh mereka.
Karena sangat banyak yang harus dikubur mereka berkerja hingga larut malam,
Kerjasama yang sangat melelahkan itu membuat Pangkalima siwara, kasut dan Yusak kini menjadi akur dan bersahabat.
"akhirnya selesai juga pekerjaan kita"
karena merasa pekerjaan telah selesai Yusak merasa bahagia,
"iya walaupun berat akan tetapi banyak hal yang dapat kita pelajari hari ini."
kemudian dilanjutkan oleh pangkalima siwara memberikan sedikit pandangannya tentang kejadian itu.
"aku setuju dengan mu siwara, hari ini memang begitu banyak hal yang aku dapatkan.
kasut yang selama ini tak pernah dengan siwara kini mempunyai pandang yang sama, sambil menepuk bahu pangkalima siwara kasut berkata.
"kini aku percaya dan yakin dengan pilihan ayah menjadikanmu seorang Pesirah didesa ini, oleh karena itu aku sudah ikhlas jika kau menduduki jabatan tersebut.
perkataan itu disambut dengan senyuman manis oleh siwara sembari menepuk pundak kasut lalu mereka berpelukan yang berarti mereka akan lebih mementingkan persatuan dibandingkan harus bermusuhan.
sesekali juga iya mengucapkan kata maaf karena rasa bersalahnya.
"maafkan aku ibu, semua ini adalah kesalahanku.
seandainya aku tidak keluar dimalam itu mungkin kau masih hidup."
ucapnya sembari melabuhkan kepalanya di atas makam tersebut.
sementara itu timanggung yang sedari tadi tidak melihat putrinya mulai merasa kwartir dengan keadaan anak gadisnya itu. karena kwartir beranjak lah iya dari tempat duduknya untuk mencari keberadaan Serunti.
karena merasa tidak menemukan Serunti iya menyuruh pangkalima siwara untuk mencarinya.
"hei kau !"
"ada apa timanggung memanggilku ?"
"apakah kau melihat pangkalima siwara ?"
__ADS_1
"mereka baru saja datang dari pemakaman masal"
"tolong kau panggilkan dia untuk menemui ku !"
"baik timanggung."
mendengar perintah pria itu pergi menemui pangkalima siwara yang sedang bercengkrama dengan beberapa orang pemuda didesa runung Pale tempat mereka menginap malam itu.
"pangkalima....!"
"iya ada apa ?"
"Timanggung memanggilmu untuk menemuinya didalam"
"baik terimakasih."
siwara yang merasakan ada sesuatu melangkah masuk kedalam ruangan, disana timanggung yang nampak seperti orang kalut langsung bertanya padanya.
"apa kau melihat Serunti ?"
"tidak, aku baru saja datang dari pemakaman."
karena merasa malam semakin larut, dan Serunti belum kembali, siwara bergegas pergi untuk mencari wanita yang kini memang sudah mengisi ruang hatinya tersebut.
semua tempat telah iya lihat, namun tak menemukan Serunti, iya pun teringat bahwa satu tempat lagi yang belum iya lihat. setelah terdiam sejenak kini pikirannya langsung tertuju pada tempat ibunya dikebumikan.
dan dugaannya ternyata tepat, dari kejauhan pandangannya langsung tertuju pada sebuah makam yang tak jauh dari keramaian itu.
disana iya melihat Serunti sedang duduk di samping makam ibunya sembari membaringkan kepalanya.
"Serunti kenapa kau masih disini ?"
"ini kan sudah larut malam, sebaiknya kau kembali ke penginapan."
"untuk malam ini aku akan tidur disini, sebab aku tak tahu entah kapan lagi aku akan kemari."
"baiklah jika memang itu pilihanmu, aku pun akan menemanimu disini malam ini."
siwara yang mengetahui watak Serunti yang memang sangat keras dengan pendiriannya tak ingin terlalu memaksa. iya pun menemani Serunti setelah bercengkrama beberapa lama, mereka berdua tidur berhadapan, Sampai terik matahari pagi membangunkan mereka berdua.
setelah bangun dari tidurnya Serunti berpamitan kepada ibunya pangkalima siwara pun melakukan hal yang sam lalu pergi meninggalkan makam tersebut.
__ADS_1
Bersambung....