
Perlawanan yang sengit terjadi di masing-masing pasukan, teriakan-teriakan penyemangat dan juga suara rintihan dari orang yang terluka pun terdengar sangat jelas dan seperti hanya kematian yang mampu meredam suara-suara itu.
satu persatu dari mereka mulai tumbang, ada yang terluka ada pula yang pingsan dan tidak sedikit pula yang bertemu dengan dewa kematian kematiannya.
kurang lebih 1 jam pertempuran itu terjadi semua pasukan yang berada di kampung Tuluang mulai terdesak, mereka terlihat sangat kelelahan, mental mereka juga sedikit menurun.
karena kuatnya perlawanan dari musuh, membuat pasukan yang terbentuk tidak sampai satu hari itu kini mulai melemah.
kurangnya strategi ditambah serangan dan kepungan yang dilakukan secara tidak disangka-sangka membuat mereka kacau sehingga banyak yang mati dalam pertempuran, melihat hal itu pangkalima langsung menarik mundur pasukan yang tersisa.
mereka lari seperti tikus, sementara dipijak musuh yang merasa mereka menang dari segi apa pun, sekarang berada di atas angin, bahkan pangkalima yang memimpin pasukan dari desa Runung Pale berniat untuk mengejar mereka, tetapi hal itu dihentikan oleh salah satu pangkalima yang mendampinginya.
disisi lain timanggung juak, kasut berserta rombongan utama pun telah dikepung. mengetahui pasukannya telah dipukul mundur, timanggung juak hanya pasrah. namun tidak dengan kasut iya mencoba melawan dengan berusaha menyerang timanggung suliang, namun hal itu hanya semakin mempersulit mereka.
Kasut akhirnya ditangkap dan dimasukan kedalam sebuah lubang yang sangat dalam.
sementara timanggung dan yang lainnya kini sudah tak berdaya, mereka semua ditangkap dan dipenjarakan disebuah gua yang berada dekat dengan desa tersebut.
sementara itu dara serunti yang juga mengetahui hal tersebut sangat sedih, sambil menangis iya berdoa kepada Tuhan nya agar mereka berhasil memenangkan pertempuran itu, namun tiba-tiba saja seorang penjaga mendatanginya sambil mengoloknya.
"Hei Serunti kini ayahmu dan kakakmu sudah berhasil kami tangkap, jadi jangan buang-buang air matamu, sisakan sedikit untuk kematian mereka."
kata salah seorang dari mereka yang menjaga ruang tempat dara Serunti ditahan.
"kalian memang licik, hanya dengan cara ini kalian mampu mengalahkan desa kami."
"hahaha...ya memangnya kau mau kami menggunakan cara yang mana lagi wahai Serunti yang cantik."
"cuh...dasar licik kalian."
ucap dara Serunti sembari meludahi seorang penjaga yang berada didepannya itu.
sementara didesa Tuluang kini terlihat sepi mereka yang berhasil selamat kini menginap di hutan, warga kampung baik wanita, anak-anak, lansia telah diungsikan didesa sungai Unak sebelum pertempuran terjadi.
__ADS_1
pangkalima siwara yang melihat dan merasakan hal itu terlihat murung, karena iya telah gagal memimpin pasukannya, pasukan yang iya pimpin kini berjumlah kurang lebih seratus orang, ditambah sisa pasukan dari kelompok yang lain kini mereka berjumlah 600 orang.
"aku sudah gagal Wek."
pangkalima yang nampak murung mencoba berbicara kepada Wek rontek yang memang sudah sangat cemas dengan keadaan anak dan suaminya.
"kau belum gagal siwara, besok kau akan memimpin pasukan yang tersisa saat ini."
"kau yakin Wek, jumlah pasukan kita sangat sedikit, mana mungkin kita melakukan penyerangan."
"iya aku sangat yakin nanti malam pasukan Yang lain akan datang dan berkumpul bersama kita mereka berjumlah 800 orang."
mendengar apa yang telah diucapkan oleh Wek rontek pangkalima sedikit bersemangat. tak mau membuang-buang waktu iya langsung menyuruh para pangkalima untuk berkumpul dan merencanakan perang keesokan paginya. Yusak yang juga merupakan seorang pangkalima merasakan semangatnya kembali. setelah mendengar rencana dan informasi akan adanya penambahan pasukan.
setelah melakukan pertemuan kini mereka memiliki strategi yang cukup mungkin akan berhasil jika dilakukan dengan teliti. dan semua pasukan kini dalam kendali pangkalima siwara.
gelap kini mulai menyelimuti hutan tempat mereka beristirahat, dari kejauhan terdengar suara teriakan-teriakan Tariu teriakan itu tak lain adalah teriakan dari pasukan yang dikatakan oleh Wek rontek sebelumnya.
tak lama kemudian kedua pasukan itu sudah berkumpul menjadi satu, makanan dan minuman pun kini sudah tersedia yang langsung dibawa oleh pasukan yang baru datang tersebut.
tempat yang tadinya hutan kini sudah menjadi seperti sebuah kota yang ramai,
"bagaimana siwara apa kau sudah yakin dengan strategi mu tadi ?"
"yakin sekali dengan bertambahnya pasukan kita, semakin mempermudah strategi yang telah aku buat."
besok pagi-pagi sekali mereka akan aku bagi menjadi 2 kelompok terdiri dari satu kelompok untuk menyerang pasukan bertahan mereka, sementara aku dan sebagiannya lagi akan langsung menyerang kedalam desa melalui hutan.
kata pangkalima menjelaskan strateginya kepada Wek rontek.
"baiklah kalau begitu aku dan Yusak akan menemani mu melakukan penyerangan langsung ke desa"
Wek rontek yang sudah sangat yakin dengan strategi itu mendukung penuh dan ikut ambil andil dalam penyerangan, Yusak mengangguk kan kepalanya begitupun beberapa pangkalima yang lain.
__ADS_1
malam semakin larut, dingin pun merasuk sampai ke tulang. sementara yang lain tertidur pangkalima siwara sibuk berlatih untuk memperkuat tenaga dalamnya, Wek rontek yang juga tak bisa tidurpun melihat apa yang dilakukan oleh siwara.
saat sedang berlatih tiba-tiba saja 3 orang yang dikenal menyerang pangkalima beruntung iya berhasil menangkis serangan itu, Wek rontek yang menyaksikan pun tidak tinggal diam dan langsung membantu pangkalima, ketiga orang tersebut bergerak sangat cepat dan berhasil membawa Wek rontek dan pangkalima mengejar mereka sampai diujung hutan. di sana mereka melanjutkan pertarungan.
"kalian pasti suruhan timanggung suliang ?"
tanya Wek rontek kepada 3 pemuda yang berpakaian serba hitam dan wajahnya ditutupi oleh topeng kayu.
"hahahaha.... ya kami diperintahkan untuk melihat seberapa kuat kekuatan kalian."
"saran ku sebaiknya kalian menyerah saja dan serah kan binua ini kepada timanggung kami."
lanjut salah seorang dari mereka yang kelihatanya memang bukan orang sembarangan. terlihat dari cara nya bertarung.
"lebih baik aku mati dari pada harus melihat binua ku dipimpin oleh Timanggung kalian yang serakah itu."
Wek rontek yang mendengar ucapan itu nampak sangat geram untuk menyerang namun pangkalima sedikit mengulur-ngulur waktu, karena iya pun penasaran dengan kemampuan ketiga orang itu yang telah masuk dan menyerangnya didalam markasnya.
"timanggung juak beserta rombongannya telah berhasil kami tangkap dan sekarang mereka telah kami kurung di goa Seboro, dan putri mu rontek, akan kami jadikan istri timanggung kami hahahaha..."
penjelasan itu kini memberikan sedikit informasi kepada pangkalima, dan hal itu sangat berguna baginya saat ini.
"kau terlihat begitu hebat, apa boleh aku melihat wajahmu itu pangkalima. ucap siwara dengan tenang dan siaga.
mendengar itu orang tersebut membuka topengnya dengan membalikan wajahnya kesamping dan sedikit menunduk, dengan perlahan iya memperlihatkan wajahnya dan seketika itu langsung saja menyerang pangkalima siwara dan hampir saja mengenai badannya,
beruntung serangan itu berhasil dipatahkan, dan kini giliran siwara yang menyerang balik sampai orang tersebut terdesak dan berhasil ditumbangkan dengan mudah oleh pangkalima siwara.
"ternyata kau hebat juga anak muda, besok kita akan bertemu lagi, perkenalkan namaku sumanta.
tak lama setelah memperkenalkan namanya pria paruh baya dan kedua temannya itu langsung pergi meninggalkan Wek rontek dan pangkalima siwara.
bersambung_
__ADS_1