
kemudian setelah cukup lama berpisah kasut terus saja berjalan dengan rasa penasaran akan rusa yang sempat ingin iya sumpit tetapi belum sempat meluncurkan anak sumpitnya rusa tersebut mati seketika, dan saat ingin mengambil rusa yang sudah tewas, tiba-tiba saja rusa itu menghilang, dan iya tak tahu siapa yang membawa rusa yang hampir diburunya itu.
saat sedang asik-asiknya berjalan sambil melihat kearah depan, kemudian Yusak yang ternyata menyusulnya memanggil namanya, panggilan itu sedikit membuat terkejut, namun iya sudah mengenal persis suara yang menyerukan namanya, dan kemudian menoleh untuk melihat yusak.
"kau membuatku terkejut Yusak."
" haha...seorang pangkalima sepertimu ternyata bisa terkejut juga rupanya."
"kau pikir aku dewa"
Yusak yang dengan sengaja mengejutkan kasut, terus saja mengganggu sahabatnya itu dengan gurauan-gurauan kecil.
"kau tahu kenapa aku menyusul mu kasut ?"
"tidak tahu."
ucap kasut dengan nada sedikit kesal dengan pandangan mata menatap terus jalan didepannya.
"itulah sebabnya aku menyusul mu, sebab dari tadi aku melihat ada keanehan padamu."
"aku hanya mencari sesuatu yang membuatku penasaran saja."
"apa kau tak ingin menceritakannya kepada ku ?" "mungkin aku bisa membantu mu !"
mendengar keingintahuan sahabatnya, kemudian kasut menceritakan apa yang telah iya alami saat diperjalanan menuju ditengah hutan sebelumnya,
mendengar cerita sahabatnya Yusak teringat akan sebuah cerita mengenai desa Runung Pale yang dahulu adalah desa yang bersahabat dengan iblis, namu persahabatan itu telah hancur dikarenakan penghianatan yang dilakukan oleh manusia didesa runung Pale.
teringat akan hal itu membuatnya menceritakan kisah yang iya sendiri pun tidak terlalu yakin dengan apa yang dikisahkan oleh orang yang juga memang tidak iya kenal tersebut.
setelah mendengar cerita Yusak, kasut merasa pasti ada hubungannya kejadian yang iya alami dengan apa yang dikisahkan oleh sahabatnya itu padanya.
kemudian sampailah mereka di ujung hutan, kini mereka berdiri tepat di atas bukit yang dibawahnya terlihat ada sebuah desa yang sangat ramai bahkan seperti sebuah kota yang ramai penduduk.
"dimana kita berada sekarang" tanya Yusak keheranan.
"entahlah, sepertinya kita sudah berada di daerah yang bukan wilayah Runung Pale"
jawab kasut dengan yakin bahwa mereka tidak lagi berada didesa runung Pale.
__ADS_1
"apa kau yakin ? desa itu terlihat sangat maju, bahkan seperti perkotaan."
karena merasa penasaran mereka berdua mendekati desa yang mereka lihat, tetapi setelah mereka turun dibawah bukit, desa yang tadi mereka lihat kini telah berubah menjadi hutan dengan pepohonan besar dan tak ada satupun aktivitas kehidupan disana.
kejadian itu membuat kasut dan Yusak terbungkam, karena penasaran kemudian mereka melanjutkan langkah kaki mereka memasuki wilayah tersebut.
"sepertinya kita lebih baik kembali ke desa Runung Pale"
kata Yusak yang merasa posisi mereka sekarang sangat tidak baik.
"kita hanya akan kembali setelah kita menemukan sedikit petunjuk di tempat ini."
karena rasa penasarannya kasut tidak mau mendengarkan perkataan Yusak dan masih terus melanjutkan langkah kakinya menapaki jalan setapak.
sementara didesa, rombongan yang telah datang berburu memberitahukan hasil buruannya kepada timanggung, setelah mendapat perintah rombongan segera mengerjakan binantang hasil buruan yang telah mereka dapat.
setelah dikerjakan, hasil buruan yang sudah menjadi potongan-potongan kecil daging tersebut diserahkan kepada para wanita untuk dimasak, selain dimasak ada juga yang dipanggang dan ada juga yang dijadikan sebagai persembahan untuk dihantarkan ke Panyugu atau tempat melakukan ritual adat didalamnya terdapat patung leluhur dibuat dan dipelihara yang berfungsi sebagai pelindung desa.
setelah selesai menyerahkan daging hasil buruan mereka berkumpul dirumah Radankg, salah seorang dari rombongan yang berburu bercerita mengenai kasut dan Yusak yang belum juga kembali.
sementara timanggung yang mendengarkan cerita itu merasakan hal yang aneh.
tanya timanggung juak.
"kami tidak berniat meninggalkan mereka, kami diperintahkan untuk kembali ke desa lebih dulu, agar hasil buruan dapat dikerjakan secepat mungkin."
"sekarang sudah hampir sore, dan mereka berdua belum juga kembali."
kata timanggung juak yang mulai merasa kwartir dan resah, karena hari sudah mulai menjelang petang tetapi kasut dan Yusak belum juga kembali.
"memangnya kalian berburu di hutan mana ?"
tanya lagi salah seorang tetua desa Runung Pale.
"kami berburu di hutan Sinang."
"kalau begitu persiapkan diri kalian ajak warga desa yang lain !"
ucap tertua itu memerintahkan mereka semua agar kembali ke hutan untuk mencari kasut dan Yusak, timanggung menjadi heran dengan apa yang telah diucapkan tetua itu, yang seakan-akan kasut dan Yusak kini berada dalam bahaya.
__ADS_1
"memangnya kenapa kita harus kehutan ? kasut putraku itu sudah terbiasa pergi berburu,. bahkan sehari semalam iya tidak kembali, dan itu sering iya lakukan."
timanggung juak mengganggap apa yang dilakukan tetua itu sangat berlebihan, meskipun iya kwartir dengan putranya, akan tetapi iya sudah biasa dengan hal tersebut.
"maaf timanggung, hutan sinang itu adalah hutan yang berbatasan langsung dengan hutan kelawar hitam, dan hutan tersebut merupakan salah satu hutan terlarang desa ini."
"hutan terlarang ?"
timanggung berbisik pada dirinya sendiri namun didengar oleh tetua yang memang duduk disampingnya.
"iya, kelawar hitam adalah tempat terkutuk didesa ini, disana dihuni oleh para iblis."
"jika memang seperti itu kita harus bergegas mencari mereka."
"baik lah, timanggung !"
"ajaklah pangkalima siwara untuk ikut bersama rombongan !"
mendengar ucapan timanggung juak, salah seorang warga pergi untuk menemui pangkalima siwara yang sedang berlatih di sebuah ruangan dirumah Radankg.
sementara di ruangan pangkalima yang ditemani oleh dara Serunti baru saja selesai latihan.
"pangkalima !"
"pangkalima!"
karena sedang asik berbicara iya tak mendengar panggilan yang menyerukan namanya itu, namun ketika mereka hendak pergi meninggalkan ruangan, pemuda itu langsung saja memasuki ruangan dan memberitahukan perihal untuk mencari kasut dan Yusak.
"dimana yang lainnya berkumpul ?" tanya pangkalima siwara.
"mereka sekarang telah berkumpul diujung desa menuju hutan Sinang, pangkalima !" jawab pemuda warga desa tersebut
"sebaiknya kita berangkat sekarang hari sudah semakin gelap" ucap pangkalima siwara sembari melangkahkan kakinya.
setelah bertemu dengan rombongan yang lain, pangkalima siwara langsung membawa rombongan untuk memulai perjalanan mereka menuju hutan tersebut, menggunakan obor yang digunakan sebagai penerang jalan.
Gelapnya malam tidak menyurutkan langkah siwara serta rombongan menuju hutan Sinang, setelah sesampainya ditengah hutan tepatnya di hutan Sinang, siwara membagi kelompok menjadi 3, masing" dari mereka telah diberi arahan agar setelah mencari, masing-masing kelompok diwajibkan untuk kembali dan yang tiba ditempat itu terlebih dahulu harus menunggu kelompok yang lain.
setelah mendengarkan arahan pangkalima siwara, masing-masing kelompok mulai berpisah dan menuju kearah yang telah ditentukan beberapa orang pemandu jalan.
__ADS_1
Bersambung...