
setelah menyusuri pasar mereka singgah di sebuah tempat makan dan siwara menjadi orang yang pertama kali duduk disebuah kursi kayu bermotif khas kota itu, bukan hanya kursi dan meja, seluruh ruangan dan apapun yang berhubungan dengan ruangan tersebut semua diberi ukiran berupa lekukan dan garis sehingga menjadi satu kesatuan yang sangat memanjakan mata ditambah lagi sentuhan warna merah, kuning dan hitam yang semakin menghidupkan suasana.
karena tak ingin berlama-lama merasa penasaran, siwara memanggil pemilik tempat makan tersebut, yang secara tak sengaja ternyata mengalihkan semua pandangan para pengunjung lainnya, kini semua mata memandang kearah mereka.
pemilik tempat makan itu terlihat mendekati meja tempat mereka menunggu untuk dilayani, akan tetapi saat sudah hampir sampai tiba-tiba saja pemilik tempat makan tersebut melewati meja mereka begitu saja dan langsung keluar dari tempat tersebut.
tak berselang lama kemudian, pemilik tempat makan itu masuk kembali akan tetapi kini iya tak sendirian lagi, melainkan membawa sekelompok orang yang berjumlah 20 orang dan langsung mengepung siwara dan rombongannya.
"kalian semua sebaiknya ikut kami, untuk menghadap kepada junjungan kami."
ucap ketua dari kelompok tersebut
"baiklah kami akan ikuti apa yang kalian inginkan"
karena tak ingin menambah permasalahan, siwara memutuskan untuk mengikuti pasukan berpakaian serba hitam dan mereka menyebut diri mereka sebagai ksatria tanah merah.
oleh karena keputusan itu Yusak merasa kecewa kepada siwara, akan tetapi iya tak bisa berbuat apa-apa sebab iya bukanlah ketua kelompok.
"hei siwara, mengapa kau berubah menjadi seorang pengecut, walaupun kita kalah jumlah tetapi aku yakin kita bisa mengalahkan mereka semua !"
kata Yusak kepada siwara, karena merasa dipermalukan oleh keputusan siwara, karena marah yusak mencoba melawan saat iya hendak diikat oleh salah seorang kelompok ksatria tanah merah, tetapi perlawanan nya hanyalah sekedar saja.
kemudian setelah siwara serta rombongan selesai diikat, mereka dibawa untuk dihadapan kepada seseorang yang disebut sebagai junjungan oleh pasukan ksatria tanah merah.
"hei...kemana sebenarnya tempat junjungan kalian itu !"
"diamlah nanti juga kau akan tahu !"
__ADS_1
"apa tak bisa kau lepaskan saja ikatan kami, sebab kami telah menyerah tanpa perlawanan sedikitpun."
"bisakah kau diam dan ikuti saja kemana aku akan membawa kalian, atau jika tidak akan ku tutup nyawa mu sekarang juga !"
Karena tak ingin terus-terusan mendengar keluhan, ketua ksatria tanah merah berbicara sedikit kasar kepada Yusak sebab perjalanan baru saja dimulai tetapi Yusak terus saja berbicara dan hal itu membuat ketua ksatria tanah merah merasa risih.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh mereka, kini didepan mata sudah terlihat sebuah benteng yang besar dan sangat tinggi, selain menjadi benteng terakhir, benteng itu sekaligus gerbang menuju markas ksatria tanah merah, setelah sampai didepan pintu gerbang benteng kemudian siwara dan rombongan pun disuruh menunggu diluar dan dijaga dengan sangat ketat.
sementara ketua rombongan ksatria tanah merah masuk kedalam benteng yang langsung dikawal oleh dua orang penjaga gerbang benteng.
setelah beberapa lama menunggu akhirnya ketua rombongan dari ksatria tanah merah keluar untuk membawa siwara dan rombongan masuk didalam benteng.
keadaan didalam terasa sangat berbeda, tak seperti diluar benteng, siwara merasa kagum terhadap apa yang dilihatnya kini mereka seperti berada disebuah sumur besar yang didalamnya terdapat sebuah desa dan sangat luas, karena mengagumi benteng itu siwara lupa jika kini mereka telah sampai didepan gerbang kecil dan iya terkejut setelah mendengar suara pintu gerbang tersebut dibuka.
mereka menyusuri lorong tersebut dan kemudian sampai disebuah ruangan besar, dan seseorang telah menunggu mereka.
seru rombongan ksatria tanah merah kepada orang yang duduk disebuah kursi besar seperti singgasana raja dan kursi itu letaknya pun lebih tinggi dari semua lantai diruang tersebut.
"selamat datang para ksatria ku."
mendengar sapaan tersebut ruangan seketika sunyi dan ketua dari rombongan ksatria tanah merah pergi menuju tempat duduknya, setelah duduk iya memberi sebuah kode agar anak buahnya yang masih dalam posisi berlutut dihadapan singgasana segera meninggalkan ruangan dan hanya menyisakan siwara dan rombongannya saja.
"perkenalkan namaku adalah Sonarus dan dia yang membawa kalian kesini adalah Komang salah satu orang kepercayaan ku, aku adalah pemimpin negeri ini, dan kalian sekarang berada di negeri sungkung pala."
ucap orang yang duduk di kursi singgasana itu memperkenalkan dirinya dan juga orang kepercayaannya yang bernama Komang.
"sebelum aku melanjutkan lebih dalam lagi, aku terlebih dahulu ingin bertanya darimana kalian berasal dan apa tujuan kalian datang di negeri kami yang sedang rusuh ini ?"
__ADS_1
mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Sonarus sang pemimpin negeri, siwara melangkah beberapa langkah ke depan.
"salam hormat untukmu Sonarus, perkenalkan namaku adalah siwara aku adalah ketua dari kelompok ini, dan kami berasal dari negeri manusia yang bernama Runung Pale, kami ini sedang mencari teman kami sekaligus putra dari pimpinan kami, akan tetapi kami tersesat di negeri ini."
mendengar pernyataan siwara, Komang lalu kemudian naik keatas singgasana dan berdiri di samping Sonarus lalu berbisik kepada pemimpinnya itu.
setelah mendengar bisikan dari orang kepercayaannya itu, Sonarus berdiri dan turun menuruni anak tangga yang menuju singgasananya itu, setelah sampai dibawah iya berjalan mendekati siwara dengan tatapan sedikit aneh lalu berkata kepada siwara.
"dua hari yang lalu aku mendengar informasi bahwa ada seorang manusia yang dibawa oleh pasukan nek baruangk itam."
"lantas dimana nek baruangk itu sekarang berada ?"
tanya siwara kepada Sonarus
"nek baruangk itam adalah pemimpin pasukan pemberontak terbesar dan terkuat di negeri ini, mereka sekarang telah menguasai hampir sebagian wilayah dan sekarang iya berada di panyangSula, yang merupakan pusat pemerintahan negeri ini."
...****************...
Negeri ini merupakan negeri yang makmur dulunya, semua rakyat hidup aman dan damai serta berkecukupan, namun keadaan berubah setelah nek baruangk yang merupakan kakak kandung dari raja kami yang bernama pangkasuta melakukan pemberontakan, sampai pada suatu hari iya melakukan penyerangan secara tiba-tiba kepada kerajaan kami dan mereka berhasil mengalahkan raja pangkasuta lalu kemudian memasukannya kedalam penjara keabadian, pemberontakan tersebut iya lakukan karena rasa iri dan keserakahannya, raja pangkasuta adalah raja yang bijaksana sehingga sangat dicintai oleh rakyatnya.
iya dipilih menjadi raja oleh raja terdahulu karena memang iya telah memenuhi persyaratan menjadi raja, sementara nek baruangk adalah setengah manusia dan setengah iblis oleh karena itulah iya tidak terpilih untuk menjadi raja karena manusia setengah iblis dapat terbunuh dan mati selamanya, oleh sebab itu meskipun iya adalah anak tertua dari raja terdahulu yang bernama raja sutakra, akan tetapi iya tak bisa diangkat menjadi raja.
dan menurut cerita yang aku dengar kini iya telah menemukan cara untuk membuat nya sempurna sebagai iblis yaitu dengan cara meminum darah anak manusia setengah iblis dan menumbalkan seorang manusia sejati sebagai syarat yang harus iya lakukan.
karena telah diambil alih kini kami harus meninggalkan pusat pemerintahan lalu kemudian kami memutuskan untuk berdiam disini membuat benteng pertahanan terakhir dan aku kini dipercaya sebagai pemimpin besar.
...****************...
__ADS_1