
Karena pakaiannya yang basah dara Serunti bergegas pergi mencari tempat untuk menganti pakaiannya.
"Sebaiknya aku Menganti pakaian ku dulu."
Ucapnya kepada pangkalima yang terlihat juga basah kuyup.
"Apa kau tidak Menganti pakaian mu juga pangkalima, kau juga basah kuyup."
Wek rontek yang melihat hal yang sama pun segera menyuruh pangkalima Menganti pakaiannya.
"Aku juga akan Menganti pakaian ku nanti, sekarang aku masih ingin lanjut untuk berenang."
Jawaban itu membuat Wek rontek hanya terdiam melihat pemuda yang iya rasa sangat pantas mendampingi putri nya itu.
Tanpa banyak suara pangkalima melanjutkan berenang, kali ini iya berenang cukup jauh sampai ditengah danau itu.
Tiba-tiba saja hal yang memang sempat dipikirkan oleh Wek rontek kini mulai iya rasakan, saat mencoba berteriak dan melambaikan tangannya kepada pangkalima saat itu jugalah gelombang dari dalam danau tersebut menerjangnya hingga iya harus terpental sangat jauh.
"Apa yang terjadi ibu"
"Entahlah, tapi yang jelas pangkalima sekarang dalam bahaya."
Jawab Wek rontek sambil menjelaskan keadaan kepada dara Serunti, dara Serunti yang juga melihat hal itu merasa sangat panik dan langsung mendekati ibunya lalu membopong nya sedikit agak jauh dari danau.
"Ibu dimana pangkalima ?"
"Entahlah sebentar lagi kita akan tahu"
kata Wek rontek menjawab tanya dari putrinya itu.
Tak lama berselang terlihat pangkalima berdiri ditengah danau yang dibawahnya disusul dengan munculnya seekor binatang berbadan buaya namun berkepala serupa dengan naga, munculnya binatang itu juga diiringi dengan raungan yang sengat keras disertai gelombang besar.
Setelah gelombang menghilang, terlihat binatang itu semakin mendekati Wek rontek dan dara Serunti.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini !"
Kata pangkalima berteriak menyuruh kedua orang itu untuk menjauhi danau.
Karena tak ingin pergi Wek rontek pun langsung melompat sangat jauh dan langsung mendarat juga di atas tubuh binatang besar itu sambil menusukan mandaunya tepat di kepala binatang itu.
__ADS_1
Raungan yang besarpun terjadi air di danau itu sempat seperti akan mengering namun airnya kembali seperti gelombang dan menghempaskan pangkalima dan Wek rontek.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan Wek?"
Tanya pangkalima yang sangat tenang melihat apa yang iya lihat.
"Kau berpikirlah, sementara aku akan terus menyerang mahluk itu"
jawabnya dengan tergesa karena panik dan tanpa berpikir panjang Wek rontek terus saja menyerang. Tusukan demi tusukan pun iya lakukan namun binatang itu seperti tak bergeming sedikitpun, sementara itu dara Serunti mengambil Mandau milik pangkalima lalu memberikannya.
"Pergilah menjauh dari sini"
kata pangkalima kepada dara Serunti,
"Tidak aku lebih baik mati dari pada harus menggalakan kalian berdua."
Teriaknya dengan nada kesal dan takut,
Mahluk itu meraung kembali hal serupa pun terjadi lagi, danau yang seakan mengering dan air yang kembali seperti gelombang tsunami pun terjadi dan menghempaskan Wek rontek ditepi danau.
Seketika itu juga pangkalima langsung berlari menuju perlengkapannya lalu mengambil sumpit yang telah iya isi dengan racun pohon,
"Syukurlah akhirnya mahluk itu pergi juga." Ucap pangkalima sambil menatap dara Serunti yang ternyata sangat sangat keras kepala.
Wek rontek yang terlihat sangat kelelahan pun mendekati mereka berdua dengan keadaan yang terluka dan berjalan sedikit pincang.
Dara Serunti pun langsung memeluk ibunya sambil menangis.
"Apakah ibu baik-baik saja, ibu membuatku sangat kwartir."
"Ibu tidak apa-apa, hanya kakiku sepertinya sedikit keseleo."
Mendengar hal itu dara Serunti langsung menyuruh ibunya untuk duduk, setelah ibunya duduk iya terlihat menaruh tangan nya di kaki Wek rontek.
Trak...
"AH..."
Wek rontek pun berteriak cukup keras, merasakan sakit saat dara Serunti memutar pergelangan kakinya yang ter kilir.
__ADS_1
"Bagaimana perasaanmu sekarang Wek ?" Tanya pangkalima,
"Sepertinya kakiku sudah mulai membaik, terimakasih Serunti"
Baguslah kalau begitu kita bisa melanjutkan perjalanan."
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggal Wek Rontek.
Tepatnya dikampung Toba lang, yang berbatasan langsung dengan desa Runung Pale. Desa itu dikepalai oleh seorang timanggung yang sangat hebat tetapi juga sangat kejam dan serakah. Karena keserakahannya sudah sering sekali iya mencoba menyerang kampung Toba lang namun usahanya belum pernah berhasil.
Setelah sekian lama menempuh perjalanan, mereka kini sudah sampai dikampung Toba lang.
Saat sampai dirumahnya dara Serunti langsung membuka pintu rumahnya.
Pangkalima duduk terdiam di kursi depan rumah tepatnya didepan warung milik Wek rontek.
"Hm... Kau mau masuk apa duduk terus disitu sampai besok ?"
Ucap Wek rontek sedikit bercanda.
Mendengar hal itu pangkalima pun mengambil bawaannya dan masuk dirumah yang lumayan besar namun sangat sederhana, dindingnya dari papan dengan tiang kayu Belian membuat rumah itu terlihat sangat kokoh.
"Serunti !"
"Iya Bu !"
"Antar kan pangkalima di kamarnya !"
"Baik Bu !"
"Mari aku tunjukan kamar mu !"
Pangkalima yang terlihat sedikit kaku mengikuti dara Serunti dari belakang, seketika Serunti berhenti mendadak dan membalik kan wajahnya seketika itu juga wajah mereka berhadapan dan tanpa sengaja pangkalima mencium kening dara Serunti.
"Ini kamarmu"
"Maaf Serunti aku tidak sengaja melakukannya"
Serunti yang sudah tak mampu menahan rasa malu langsung pergi meninggalkan pangkalima tanpa sepatah kata pun.
__ADS_1
Seharian menempuh perjalanan tak terasa malam pun tiba, karena sangat kelelahan selesai makan malam pangkalima langsung tertidur.