Pangkalima Mandau Terbang

Pangkalima Mandau Terbang
Kekalahan Nek Mundil


__ADS_3

nek mundil pun seketika mundur kebelakang, rasa terkejut dan rasa takut serta ambisinya menjadi tak menentu, dengan sigap iya kembali menyerang namun Mandau itu tak bergerak sedikit pun.


"darimana munculnya Mandau itu" tanya Yusak keheranan.


"entahlah Mandau itu lebih menyeramkan dari pada iblis yang kita lihat sekarang" sahut kasut.


" kau sudah jelas kalah banyak nek mundil !!!" sekarang bersiaplah untuk menerima kekalahan.


"heh...heh...heh...kalian memang menang jumlah, tapi aku masih lebih kuat dari kalian." ucap nek mundil membalas ucapan Wek rontek.


"jika begitu bersiaplah untuk musnah wahai iblis, kali ini kau tak akan bisa lari lagi. ucap pangkalima dengan rasa geramnya.


mendengar ucapan pangkalima nek mundil tertawa sangat riuh tanpa henti, seketika nek mundil melebarkan biji matanya dan langsung menyerang pangkalima, namun serangan itu berhasil dipatahkan oleh Mandau terbang, serangan itu hanya terpental di semak belukar sehingga semak-semak itu terbakar, alhasil api tersebut dengan cepat menyebar sampai ke pepohonan dan melumatkan hutan disekitaran tempat terjadinya pertarungan itu.


"lihatlah apa yang kau lakukan iblis kau akan membakar habis hutan kami.


"heh...heh...heh... apa kau takut sekarang wahai pemuda? ucap nek mundil mengolok pangkalima.


"sedikit pun aku tak takut padamu, bersiaplah untuk musnah malam ini.


tiba-tiba saja Wek rontek dan Yusak menyerang secara bersamaan,


sementara itu kasut telah bersiap untuk melemparkan mandaunya sasaran nya tak lain ada jantung nek mundil.


Wek rontek dan Yusak terus saja menyerang begitu pula nek mundil yang dengan sangat mudahnya bisa menangkis serangan demi serangan, kasut yang sedari tadi sudah mengarahkan Mandau nya pun melempar kan Mandau nya namun juga dapat dipatahkan dengan mudah, dengan sangat cepat nek mundil mengarahkan tongkat ke Mandau tersebut, dan memukul balik Mandau itu sehingga menyerang balik kasut terlihat Mandau itu telah menancap di kaki kasut, hal itu membuat kasut langsung terdiam menahan rasa sakitnya.


seketika itu Wek rontek dan Yusak menghentikan serangan melihat temannya terluka mereka pun mundur dan menghampiri kasut.


"kau baik-baik saja kasut," tanya pangkalima.


"iya kaki ku hanya terluka, sebaiknya kalian jangan pedulikan aku."


"heh...heh...heh...kalian semua bukanlah tandingan ku" ucap nek mundil sambil berbicara pelan pada dirinya sendiri diikuti lagi oleh tawanya yang semakin riuh.


"sekarang giliran mu anak muda" ucap nek mundil menantang pangkalima yang sudah terlihat semakin geram.


pangkalima yang dari tadi sudah bersiap pun kembali menyerang, kali ini dia menggenggam sendiri mandaunya lalu. serangan pun terus iya lancarkan, sesekali iya melakukan tangkisan dari serangan balik nek mundil.


melihat pangkalima bertarung sendiri Wek rontek dan Yusak kembali membantu menyerang,


serangan terus mereka lancarkan sehingga membuat nek mundil kewalahan dan pangkalima yang melihat hal itu pun langsung mundur dan melayangkan mandaunya tepat mengenai jantung nek mundil.


namun hal itu tidak membuatnya tumbang seketika. nek mundil masih mampu menyerang balik, hasilnya Wek rontek dan Yusak berhasil iya lumpuhkan.

__ADS_1


tak lama setelah itu, pangkalima seperti memberikan isyarat pada Mandau itu. Mandau pun melepaskan tusukannya.


seketika itu juga nek mundil pun tumbang tak berdaya.


"walaupun iya sudah tertusuk namun hal itu tak membuatnya mati" tiba-tiba terdengar suara pak tua sambil mengangkat tubuhnya yang nampak sangat lemah.


"lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang"


"serahkan saja pada. Mandau itu !" jawab pak tua


mendengar perkataan pak tua pangkalima langsung menoleh kearah mandaunya yang ternyata telah mengelilingi tubuh nek mundil, tak lama kemudian tubuh nek mundil pun hilang, dan dari situ terlihat cahaya kecil, pangkalima langsung mendekati cahaya itu lalu mengambil cahaya itu yang seketika berubah menjadi sebuah batu berlian.


"apa yang harus kita lakukan dengan batu ini" tanya pangkalima kepada pak tua.


"sebaiknya batu itu kau yang simpan sebab jika batu itu jatuh ke tangan orang yang salah maka akan menjadi malapetaka bagi kita semua."


"baiklah jika begitu aku akan menyimpan batu ini dengan sangat aman. sahut pangkalima.


sementara itu kasut tiba-tiba berteriak merintih kesakitan, hal tersebut membuat Wek rontek, Yusak serta dara Sunir dan adik nya pun terbangun dari pingsan.


"apa yang telah terjadi ?" Sunir yang terbangun dengan perasaan lemas mempertanyakan apa yang telah terjadi pada mereka.


"sebaiknya kau beristirahat dulu. pak tua yang melihat Sunir sudah sadar dan langsung menghampirinya


"sekarang kita semua sudah aman dari ancaman iblis itu, dia telah dikalahkan oleh Mandau ini" ucap pangkalima menjelaskan keadaan yang sudah terkendali dan nek mundil sudah dikalahkan


mereka semua merasa sangat senang mendengar perkataan pangkalima namun hal itu berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Sunir dan adiknya, karena kejadian itu sudah merenggut nyawa kedua orang tua serta orang yang mereka sayangi lainya. dari sekian ratus warga kampung hanya mereka berdua yang tersisa...


Wek rontek pun perlahan mendekati Sunir dan memeluknya dengan harapan dapat meringankan sedikit rasa sedih gadis malang itu.


"kejadian ini adalah kehendaknya kita sebagai manusia hanya bisa pasrah dengan semua ini.


"yang kuasa memberikan cobaan ini kepada kita semua bukan tanpa tujuan, pasti ada hal yang lebih baik dibalik semua ini." ucap Wek rontek sambil memeluk dan menepuk-nepuk pundak dara Sunir.


sementara itu pangkalima dan Yusak membuat tempat berteduh untuk mereka semua, pak tua pun ikut membantu mereka, tak menunggu terlalu lama pondok kecil dari dedaunan dan batang kayu itu telah selesai mereka buat. kasut yang terluka hanya duduk sambil menahan rasa sakitnya.


"sini aku obati luka mu" tiba-tiba saja Sunir datang dari belakang.


"eh kau rupanya Sunir, mengejutkan ku saja.


"lukamu akan sembuh dalam beberapa Minggu, tadi aku melihat daun obat yang biasa diberikan oleh ibu ku pada ku. aku mengambilkannya untuk mu.


"terimakasih Sunir ternyata kau gadis yang baik"

__ADS_1


"ini akan sedikit sakit sebaiknya kau tahan saja.


Sunir pun memasangkan daun obat yang telah iya kunyah tersebut, karena merasa sakit kasut berteriak


sangat kencang.


"dasar lemah !..."


"jangan bicara seperti itu kau Yusak !..."


"sekarang sebaiknya kita angkat kasut kedalam pondok, karena malam semakin larut.


"mari kita angkat orang angkuh itu" jawab Yusak.


setelah memindahkan kasut kedalam pondok, mereka pun beristirahat. karena merasa sangat lelah satu persatu dari mereka mulai memejamkan mata dan tertidur.


pagi pun tiba, pangkalima sudah bangun terlebih dahulu, dan langsung pergi berburu dengan sumpitnya yang juga selalu iya bawa kemana pun iya pergi...


diikuti oleh Wek rontek dan yang lainnya.


sementara menunggu pangkalima berburu pak tua terlihat membuat perapian.


tidak menunggu waktu yang lama bagi seorang pangkalima yang memang ahli dalam berburu.


iya pun kembali dengan membawa 4 ekor ikan dan beberapa ekor tupai Serta buah singkong yang iya ambil dari kebun yang entah milik siapa.


dengan cepat Sunir dan pak tua mengerjakan makanan yang mereka dapat,


setelah menunggu cukup lama akhirnya makanan pun sudah siap, rasa lapar yang dari semalam mereka rasakan kini sudah berubah menjadi kenyang.


"sebaiknya kita kembali hari ini."


"apa kau yakin" keadaanmu saja seperti itu." Yusak yang mendengar ucapan kasut merasa keberatan, karena iya tak mau bila harus membopong kasut sepanjang perjalanan pulang.


"kita memang harus kembali hari ini, nanti kasut kita tandu saja, sahut pangkalima.


setelah berbincang mereka pun bersiap-siap untuk kembali ke desa sungai Unak.


"bagaimana dengan mu pak tua, sebaiknya kau, Sunir dan adiknya juga ikut dengan kami ke desa di sana kalian akan lebih aman." kata pangkalima kepada pak tua,


"Sunir dan adiknya sebaiknya ikut kalian saja, sementara aku akan pulang ke kampung sebatu.


setelah berbincang, mereka pun memulai perjalanan , setelah sampai dikampung sebatu pak tua memisahkan diri. sementara pangkalima dan yang lainnya terus berjalan menuju desa sungai Unak.

__ADS_1


Bersambung_


__ADS_2