
pertempuran masih terus berlangsung, pertempuran keduanya sama kuat dan pertarungan keduanya tidak hanya terjadi di tanah saja, terkadang mereka harus bertarung di atas angin, bahkan pepohonan pun harus tumbang karena terkena serangan.
disisi lain tepat di atas bukit, kiloy dan kedua prajurit kerajaan yang sedang melakukan penyelidikan tanpa sengaja juga melihat pertarungan, diam-diam iya memperhatikan kekuatan bertarung kedua iblis tersebut, dan mengutus salah satu dari mereka untuk melaporkan peristiwa yang mereka lihat kepada nek baruangk.
sementara di diperbatasan desa Runung Pale, timanggung juak yang sudah pulang menuju desa sungai Unak berhenti disebuah sungai kecil untuk beristirahat, begitu juga dara Serunti iya terlihat masih murung, diraut wajahnya nampak kesedihan yang tak bisa disembunyikan lagi.
sambil menunggu timanggung dan rombongan beristirahat iya duduk ditepi sungai, saat hendak akan membasuh wajahnya, gambar rupa dirinya pada air sungai, membuat dara serunti mengurungkan niatnya.
"maafkan aku ibu, karena aku kau harus mengorbankan hidupmu, "ibu !" kini aku merasa kesepian tanpamu, saat menatap wajah ini rasa berdosa ku terus saja membayangiku, "ibu !" apakah kau tahu kini aku semakin merasakan kesedihan yang teramat dalam, karena siwara pun kini telah pergi meninggalkan aku."
setelah berkata-kata untuk membuang sedikit rasa rindu dan rasa bersalahnya Serunti lalu membasuh wajahnya.
saat akan hendak berdiri tiba-tiba saja dihadapan nya muncul ibunya dengan mengenakan pakaian serba putih badannya bersinar terang, membuatnya menutup matanya dan tersungkur di tanah.
__ADS_1
"dara serunti anakku, rasa bersalah yang tak berkesudahan, tidaklah baik bagimu, wahai Serunti putri semata wayang ku, penyesalan tak akan mampu membuat air itu mengalir pada sungainya, ingatlah, aku tidak akan mati di hatimu. jadilah kau seperti air, namun jangan kau bawa ranting dan dedaunan bersamamu, sebab jiwa tak akan menjadi murni, jika semua rasa itu tak kau hilangkan, yang pergi dan dinanti, akan datang untuk kembali, tetapi yang mati tidak kembali hidup lagi, biarlah kenangan menjadikan ku hidup bersamamu."
perkataan itu membuat Serunti membuka matanya, meskipun sekilas iya tak mampu memaknai perkataan ibunya.
"ibu, kau kah itu ?"
setelah membuka matanya sinar itu mulai redup lalu kemudian menghilang begitu saja.
seorang wanita setengah baya datang menghampirinya lalu berkata agar dara Serunti untuk bersiap karena perjalanan akan dilanjutkan, dara Seruntipun bangun dan melihat disekitar berharap ibunya masih disitu, karena tak menemukan ibunya iya pun tersadar bahwa ibunya telah tiada, Serunti dengan rasa sedih nya berjalan mendekati rombongan, dan mereka melanjutkan perjalanan menuju desa sungai Unak.
sementara itu siwara dan Yusak masih menonton pertarungan antara Komang dan kondo yang semakin sengit, keduanya sama-sama tak mau kalah.
"jika begini terus kapan kita bisa melanjutkan perjalanan !"
__ADS_1
kata kasut sedikit kesal
pertarungan yang terjadi sudah cukup lama, itu sampai sekarang belum ada pemenang dan yang kalah dan belum ada tanda akan berakhir.
siwara yang memang juga sudah menahan diri akhirnya memutuskan untuk membantu Komang dengan cara menerbangkan Mandaunya, sementara iya mengendalikannya dari jarak yang cukup jauh.
melihat Mandau itu Komang langsung menghentikan pertarungan, karena iya tahu bahwa Mandau itu adalah kepunyaan siwara, akan tetapi Kondo merasa heran dengan kemampuan yang dimiliki oleh Komang.
"ternyata iya bisa menguasai Mandau terbang, darimana iya mendapatkan kemampuan itu ?" ucap Kondo pada dirinya sendiri,
karena menyangka bahwa Mandau itu juga dikendalikan oleh Komang Kondo pun merasa heran dan takjub akan kemampuan tersebut.
bersambung...
__ADS_1