
Mandau tersebut keluar dari sarangnya tanpa ada yang menyentuhnya, lalu langsung menyerang nek mundil si iblis, namun tak semudah yang diperkirakan,dengan cepat nek mundil pun melemparkan tongkat kayu besinya, tongkat dan Mandau itu bertarung dengan sendirinya, sementara masing-masing dari dari mereka hanya duduk bersila di tanah.
kasut dan Yusak sudah terbangun dan melihat hal tersebut pun kagum melihat hal tersebut.
"kau lihat itu kasut" ucap Yusak.
"kau sudah sadar rupanya" jawab kasut menggoda Yusak.
"apa yang harus kita lakukan sekarang ?"
"inilah kesempatan kita untuk lari" ucap kasut menjawab tanya Yusak.
tanpa disadari perbincangan mereka terdengar oleh Wek rontek yang ternyata dari tadi juga sudah tersadar dari pingsan nya.
"oh jadi itu rencana kalian, dasar pemuda pengecut kalian berdua" ujar Wek rontek memarahi mereka.
Yusak dan kasut pun membatalkan rencana mereka untuk lari dari Medan pertempuran itu.
"baiklah kami tidak akan pergi kami akan membantu untuk menumpas iblis itu." ucap kasut sambil memberikan mengangguk kan kepala memberi tanda setuju kepada Yusak.
" itu lebih baik" ucap Wek rontek dengan senyum kesalnya."
sementara itu pangkalima terlihat sangat kewalahan menghadapi Nek Mundil, terlihat tubuhnya yang penuh keringat dan darah yang keluar dari mulutnya.
sementara tongkat dan Mandau mereka masih terus bertarung, namun keadaan berbeda dengan nek mundil yang terlihat sedikit tenang.
melihat hal itu Wek rontek merasakan kwartir dengan keadaan pangkalima,
iya pun lantas berdiri lalu duduk bersila dibelakang pangkalima, nampak Mandau itu mulai menyerang lebih cepat dan lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
merasakan kehebatan kekuatan dari kedua lawannya itu nek mundil berdiri dari duduknya, hal tersebut membuatnya lengah dan tongkat miliknya berhasil dikalahkan, tongkat itu terlontar dan menghantam tubuh nek mundil, hal itu membuatnya sempoyongan lalu pergi meninggalkan pertarungan begitu saja.
__ADS_1
"dengan cepat kasut dan Yusak pun mendekati mereka berdua lalu membopong keduanya. terlihat pangkalima yang terluka sangat parah.
"cepat kalian berdua bawa pangkalima ke pondok dia mengalami luka dalam yang sangat parah" ucap Wek rontek menyuruh Yusak dan kasut membawa pangkalima ke pondok yang sudah mereka siapkan.
kasut dan Yusak pun dengan cepat membopong pangkalima yang sudah tak sadar kan diri.
sementara Wek rontek yang teringat akan Mandau pangkalima pun menoleh ke arah tempat terjadinya pertarungan tadi. Jauh matanya memandang sekeliling namun iya tak menemukan Mandau milik pangkalima, yang iya temukan hanyalah sarangnya saja, dengan cepat iya mengambil sarang Mandau tersebut lalu meninggalkan tempat itu menyusul Yusak dan kasut, dengan rasa penasaran.
"ternyata siwara belum sepenuhnya bisa menguasai Mandau itu" ujar Wek rontek dalam pikiran nya.
setelah cukup jauh mereka berjalan, sampailah mereka diperbatasan kampung tempat mereka berkemah, namun alangkah terkejut nya Wek rontek melihat pondok mereka sudah hancur berantakan, saat itu hujan pun langsung turun membasahi mereka.
kasut berusaha memperbaiki pondok tersebut namun tak lama datang seorang pemuda salah satu warga kampung tersebut langsung membimbing mereka menuju sebuah tempat persembunyian.
"kemana kau akan membawa kami ?" tanya Wek rontek
"kalian sebaiknya percaya padaku dan ikuti saja aku, aku akan membawa kalian kesebuah tempat yang aman.
setelah berjalan tak terlalu jauh dari perbatasan kampung mereka pun singgah disebuah tempat yang lebih mirip dengan goa, namun bedanya tempat tersebut seperti dibuat oleh manusia karena bentuknya lebih tertata dan rapi.
"pak aku membawa beberapa orang sepertinya mereka membutuhkan bantuan" ucap pemuda itu kepada seorang pria yang sudah cukup tua.
"siapa mereka" tanya orang tersebut kepada si pemuda.
" tidak tahu pak tapi mereka membutuhkan bantuan kita," ucap pemuda itu.
" baringkan pemuda itu, perintahnya
kasut dan Yusak pun membaringkan pangkalima disebuah tikar yang terbuat dari daun tersebut.
tempat itu terlihat ramai sekali warga kampung yang bersembunyi dari ancaman iblis,
__ADS_1
Wek rontek berbincang-bincang dengan orang yang sudah cukup tua itu dan sedikit demi sedikit iya mendapatkan jawaban dari apa yang iya tak tahu selama ini.
"iya iblis itu telah mengutuk desa kami, ucap orang tua itu kepada Wek rontek,
"kampung kami sangat rukun dan harmonis sebelum ini. namun malapetaka datang tiba-tiba setelah orang itu melakukan kesalahan yang sangat fatal" tutur orang itu dengan perasaan sedih.
"siapa orang itu, dan apa kesalahan yang dia lakukan ?" tanya Wek rontek sambil menatap disekelilingnya.
"sebulan yang lalu datang seorang pemuda yang mengaku dirinya orang sakti dan dia memasuki tempat keramat itu lalu mencuri sesuatu yang sangat penting bagi kampung ini.
nama pemuda itu adalah Sunkema.
"lalu dimana pemuda itu sekarang ?
"dia sudah mati dan mustika itu entah dimana kami pun tidak tahu.
dan kami dituntut untuk menemukan mustika itu.
pembicaraan mereka pun seketika terhenti setelah melihat pangkalima sudah sadarkan diri, dengan tubuh yang masih lemah pangkalima mencoba untuk bangun namun terbaring lagi.
Wek rontek dengan cepat meminta air minum lalu memberikannya kepada pangkalima. perlahan pangkalima pun mulai terlihat tenang, walaupun iya hanya bisa terbaring.
sementara itu kasut dan Yusak terlihat sudah mengantuk,
"sebaiknya kalian tidur saja, simpan tenaga kalian, kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi besok" kata Wek rontek kepada kasut dan Yusak yang juga sudah terlihat sangat lemah.
malam pun semakin larut, tempat itu pun menjadi sunyi, hanya menyisakan Wek rontek seorang yang masih belum ter tidur. tiba-tiba iya teringat akan Mandau milik pangkalima yang hilang seperti ditelan bumi.
"kemana Mandau itu pergi" dalam pikiran nya merasa bingung.
setelah lama bergadang Wek rontek pun tertidur sangat pulas.
__ADS_1
bersambung_