
"Hai!" Seorang lelaki yang tinggi menyapa gadis itu sampai terkejut. "Kau? Simon?" Jill begitu terkejut melihat kehadirannya di tempat yang sama itu. Anne hanya terdiam dengan rasa penasarannya, "Hai Jill." Ucapnya seraya tersenyum dan membuat Jill merasa malu sebenarnya. "Apa yang kau lakukan disini? Maksudku," Pertanyaannya terputus karena Anne bersikap menyebalkan seperti biasanya, ia memperkenalkan dirinya pada lelaki itu. "Aku Anne, sahabat terbaiknya dan satu-satunya." Sambil mengulurkan tangannya. "Dan aku Simon, hai." Mereka saling berjabat. "Apakah kau salah satu suporter disini?" Sambung Jill. "Oh tidak, aku salah satu panitia penyelenggara disini," Jawabnya dengan jelas. "Ah tentu saja, dengan tag nama itu memberi tanda bahwa kau salah satu dari anggota panitia." Ujar Anne yang menunjuk ke arah benda kecil yang bertuliskan nama Simon di dadanya. "Ya kau benar." Kata Jill. Setelah melihat Anne kembali fokus pada pertandingan, itulah kesempatan bagi Simon untuk mendapatkan nomor milik Jill dengan suara yang sangat pelan, "Kau bilang apa? Aku tak bisa mendengarmu?" Bingung Jill yang mendekatkan wajahnya ke telinga Simon. "Ponselmu?" Simon meminjamnya dan kemudian ia menyimpan kontak nomornya sendiri di dalam ponsel milik Jill tanpa di ketahui Anne yang sedang asik menatap ke tengah lapangan besar disana. Tak lama setelah itu Simon pun pergi meninggalkan kursi tribun dengan rasa bangga pada dirinya yang telah mendapatkan nomor seorang gadis yang mulai ia kagumi itu.
__ADS_1
"Wow! Dia lebih tinggi dari Thompson." Gumam Anne pada Jill seraya melihat kepergian Simon. Jill hanya mengangkat bahunya sambil memperiksa apa yang di lakukan Simon pada ponselnya.
__ADS_1
Pertandingan berjalan dengan baik seperti yang mereka harapkan, dengan berusaha keras dan juga berkat latihan selama ini. Thompson menghembuskan nafasnya dengan lega usai melihat skor timnya yang sangat puas mampu berhasil dalam pertandingan di hari itu. Carly bersama gadis lainnya berlarian ke tengah lapangan dan memeluk para atlet softball dari sekolahnya itu, Thompson berhasil menghindar. Ia menjauhi lapangan itu dan bergabung bersama pelatihnya yang sedang tertawa ke arahnya, "Kerja bagus nak!" Mr. Mike merangkulnya dengan bangga. Carly sangat kesal dengan perlakuan Thompson yang begitu dingin dan berani menolaknya, pandangannya pun mencari keberadaan Jill yang sedang menuruni deretan kursi tribun bersama penonton lainnya. Terlihat dari lawan arah gadis itu terdapat Alex yang menghampirinya dan langsung memeluknya dengan erat dan penuh emosional. Carly tak menduga hal itu akan terjadi, ia berlari ke arah Thompson dan menunjukkan apa yang sedang terjadi. Gadis pemandu sorak itu berharap sesuatu yang buruk akan terjadi pada hubungan Thompson dan gadisnya itu, Mr. Mike mengejar Thompson yang berlari ke arah dimana akan terjadi kekacauan yang dapat memberi nilai buruk sekolahnya, "Thompson! Jangan lakukan apapun!" Teriaknya yang di susuli beberapa atlet didikannya. "Kerja bagus Alex." Ucap Carly dalam hatinya dengan tersenyum.
__ADS_1
Jill menangis di pelukan sahabatnya, Anne tak bisa berkata apapun karena ia tak pernah mengira semua hal tadi akan terjadi di tempat itu, ia hanya mengusap punggung Jill agar merasa lebih tenang.
__ADS_1
"Jangan berbuat apapun, abaikan saja dia, berusahalah agar tetap berjauhan dengan Alex." Setelah berbicara dengan Mr. Mike, Thompson pun berlari ke arah kekasihnya yang masih memeluk Anne sambil menangis.
__ADS_1