Para Monster Di Hati Jill

Para Monster Di Hati Jill
Episode 4 - Menyesal jika terus bermalas-malasan di rumah!


__ADS_3

Jeff membutuhkan beberapa alat dan bahan untuk memperbaiki atap rumah yang sudah rapuh, belum lagi rerumputan yang tumbuh tinggi di halaman rumahnya membuatnya ingin sekali untuk merapihkannya. Helena pun menginginkan beberapa tanaman baru untuk menambah keindahan halaman rumahnya. "Bawakan aku beberapa bunga tulip juga." Pintanya di hari libur itu. Sambil menghidupkan mesin mobilnya Jeff melihat kegiatan Jill yang begitu membosankan, membaca buku dengan headphone yang terpasang di kepalanya. "Jill!" Panggilnya. Putrinya itu hanya menatapnya tanpa berkata apapun, pria tinggi itu pun berjalan ke arah putrinya. "Ikutlah bersama ayah." Ajaknya sembari melepaskan headphone itu dari kepala Jill. "Ayah, kau lihat aku sedang menyelesaikan bacaanku ini." Rengeknya malas. Helena hanya menyimak suami dan putrinya itu sambil menikmati teh paginya. "Ucapkan sampai jumpa pada ibumu," Jeff menarik lengan Jill agar putrinya itu menemani perjalanannya berbelanja beberapa barang yang di perlukan. "Ah ibu..." Jill hanya merengek seperti bayi. "Hati-hati sayang!" Helena melambaikan tangannya.


Selama perjalanan menuju tempat peralatan, Jill terus berbicara tentang kerinduannya pada Heidi, "Aku ingin sekali bertemu dengannya, kau tak tahu bagaimana rasanya merindukan seseorang," Cerewetnya. Jeff tertawa kecil dengan tangan kirinya yang mengacak-acak rambut Jill. "Ayah!" Kesal putrinya. "Hey Jill, tentu ayah tahu bagaimana rasanya merindukan seseorang, lebih tepatnya seorang putri, Heidi adalah anugerah terindah dari Tuhan untukku..." Jujurnya, dan mendengar hal itu Jill merasa sedikit iri. "Ayah dan ibu kesepian, dan tak lama pun Heidi lahir hal itulah yang sangat berkesan dalam kehidupanku, hanya saja waktu kita bersama tak akan terus tersedia... Ia pun tumbuh dewasa dan harus menjalani kehidupannya sendiri," Jeff berbicara dengan senyuman kharismanya. Jill merasa kasihan terhadap ayahnya itu, entahlah "Maka dari itu, ayah ingin menghabiskan waktu selama mungkin hanya bersamamu sayang, ayah tak ingin membuang waktu bersama kita menjadi sia-sia." Jill langsung terenyuh mendengar kalimat akhir dari ucapan ayahnya itu, pantas saja Jeff selalu mengajaknya kemana pun ia akan pergi, Jill merasa menyesal telah mengabaikan ayahnya akhir-akhir ini, untunglah setelah mendengar curahan hati sang ayah itu berhasil menyadarinya. "Ayah aku sangat menyayangimu," Jill memeluk lengan kiri ayahnya dengan erat. "Aku tahu, dan ayah yang lebih menyayangimu... Dan juga ibumu." Jeff merasa bersyukur dengan apa yang ia miliki di dunia ini. Sebagai seorang suami dan peran seorang ayah memang sulit baginya, namun ada saja sesuatu yang manis dapat meringankan beban itu. Dengan tersisa satu putri yang harus ia jaga dan ia berikan kebahagiaan bersamanya.

__ADS_1


"Mesin pemotong rumput, las kecil, paku payung, sekop dan... Bunga tulip???" Jill membacakan catatan belanja yang di tuliskan Jeff sebagai pengingat. "Ya bunga tulip, arahnya kesini ayo." Sambil mendorong troli yang melewati beberapa kotak berisikan alat perkakas dengan harga yang expensive. "Ayah apa aku boleh membeli sesuatu?" Jill meminta pada ayahnya. "Tentu sayang," Ucap Jeff yang pandangannya fokus pada pajangan alat-alat yang di butuhkannya. Jill memisahkan diri dari ayahnya dan mulai berjalan-jalan mencari barang yang ia inginkan, "Aku segera kembali."


Jill menyusuri rak tinggi yang berisikan barang-barang unik dan menarik perhatiannya, dan tanpa disadarinya sesuatu tengah terjadi di dekatnya itu.

__ADS_1



Lelaki itu pun menghampirinya dan kemudian ia membantu Jill dengan mengambilkan kuas itu. Jill tersenyum manis, "Terimakasih banyak," Lelaki itu pun membalas senyumannya. "Tak masalah, kau suka melukis?" Ia mulai membuka perbincangan. "Ya, hobi." Jawab Jill yang masih memasang senyuman mautnya. "Namaku Simon," Lelaki itu pun memperkenalkan dirinya sendiri. "Oh ya dan aku Jill, senang berkenalan denganmu." Jill merasa beruntung ikut berbelanja dengan ayahnya dibandingkan dengan bermalas-malasan di rumah karena dengan ini ia di pertemukan dengan seorang lelaki yang keren dari pandangannya. "Ya senang bisa berkenalan dengan dirimu, dimana kau tinggal?" Tanya Simon. "Lumayan jauh dari tempat ini, kau tahu Smallville High School? Aku bersekolah disana," Jawab Jill. "Beberapa temanku juga bersekolah disana, jika saja aku di perbolehkan pindah aku ingin sekolah disana juga." Keluhnya, ekspresi Simon yang tampan menyenangkan imajinasi Jill. "Memang dimana sekolahmu???" Jill menyela. "Asrama pemuda..." Tiba-tiba Jeff sang ayah memanggilnya, "Jill! Kau sudah selesai? Temui ayah di kasir." Ucapnya nyaring yang membuat Simon terdiam, Jill menggerutu dalam hatinya "Mengapa Kapten Hook selalu mengganggu waktuku?!!" Simon menatap wajahnya, "Baiklah Simon, senang sekali hari ini bisa mendapatkan teman baru, sampai bertemu lagi!" Jill langsung pergi menyusuli ayahnya, sementara Simon merasa ada yang kurang dari perkenalannya dengan Jill. "Sial nomor ponselnya," Gerutu Simon yang masih berdiri dengan rasa sedikit kecewa.

__ADS_1


__ADS_2