Para Monster Di Hati Jill

Para Monster Di Hati Jill
Episode 40 - Bangga pada diri sendiri


__ADS_3

Gadis itu merenung sendiri untuk yang terakhir kalinya di malam sunyi itu, "Aku harus menjadi gadis dewasa mulai saat ini." Ucapnya pada diri sendiri. Jill duduk di tengah lingkaran media lukis lengkap beserta kanvasnya yang berjajar mengitari tubuhnya, terdapat sepuluh kanvas kosong yang akan menemaninya malam ini. Pencahayaan di kamarnya sudah cukup untuk membantunya melukis, walau sebenarnya ia lebih suka cahaya matahari di saat melukis. Pensil dan cat air telah ia siapkan terlebih dahulu, hanya tinggal menjernihkan pikirannya untuk mendapatkan hasil yang lebih bagus dari ekspetasinya.


Coretan per coretan dari kuasnya itu membuatnya tersenyum sendiri, tentang segala perjalanan yang telah ia lewati di masa remajanya itu. Pikirannya memikirkan hal-hal menyenangkan, "Hanya sebuah lukisan." Ucapnya sendiri. Jill teringat akan orang-orang yang ada di dalam hidupnya, dan para lelaki yang datang dan juga pergi dalam kisahnya.


Sang waktu tak akan pernah berhenti, beberapa kanvas telah terisi oleh lukisan-lukisannya. Walaupun hampir tengah malam, ia meneruskan kegiatannya itu. Karena hatinya sedang bersemangat untuk meluapkan kegembiraannya ke dalam suatu karya yang ia ciptakan. "Yeah aku Jill si bajak laut, aku hebat." Ia terus berbicara seraya tangannya yang terus menggerakkan kuas lukisnya yang berwarna emas itu. "Seorang yang hebat tentunya memiliki lawan... Peter Pan melawan Kapten Hook, lalu para bajak laut melawan apa???" Setiap yang di ucapkannya itu di iringi senyumannya. "Tentu saja monster, bajak laut selalu melawan para monster, seperti di dalam film."

__ADS_1


"Jill? Apakah kau belum tidur?" Ayahnya mengetuk pintu. "Aku sedang melukis, hampir selesai." Jawabnya yang membuat Jeff heran. "Apa yang kau lakukan itu? Cepatlah tidur, besok kau harus sekolah." Pinta ayahnya. "Baiklah aku akan tidur, selamat malam ayah."


Gadis itu membohongi ayahnya karena pada pukul tiga pagilah gadis itu baru menyelesaikan kegiatan malamnya. Sepuluh lukisan ciptaannya itu membuatnya kelelahan, namun perasannya terasa damai setelah menyelesaikannya. "Hebat!" Jeritnya dalam hati. Sebelum memejamkan mata untuk beberapa jam, Jill mengirimi pesan teks pada sahabatnya Anne untuk bersiap melihat apa yang akan di bawanya ke sekolah hari ini.


Senin pagi itu terlihat ramai orang di sekolahnya, adapula komunitas bakti sosial yang menggalang dana di gerbang sekolah. Para gadis cheerleader terlihat saling pamer mendonasikan barang-barang mewah mereka, para guru berjajar mengamati kegiatan amal itu di halaman sekolah. "Dia datang, ayo kita bantu dia." Anne bersama Miles menghampiri mobil Jeff yang baru saja terparkir. "Akhirnya kau datang." Anne langsung mengeluarkan lukisan-lukisan yang tertutupi kain putih dari bagasi mobil sahabatnya itu. Sementara Jill memberikan senyuman kepada Miles yang juga ikut membantunya, "Aku ingin melihat semua ini Jill." "Nanti kalian akan melihatnya saat acara di mulai." Matanya mencari-cari keberadaan Thompson.

__ADS_1


Di akhir acara itu semua barang yang menjadi hak milik para pasien di pamerkan dengan berjajar untuk di perlihatkan sebagai bukti pemberian para partisipan. Ketika itulah hasil karya lukisannya di lihat semua orang, dan membuatnya bangga pada dirinya sendiri.


"Itu milik Jill, keren sekali." "Yeah dia memang hebat." Ucap Derek. "Jika bisa aku ingin membelinya saja." Teman-temannya sangat tertarik melihat lukisan-lukisannya itu, namun ada sesuatu yang membuatnya merasa memalukan, "Hey bung lihat, disini tertulis namamu." Ujar Harry pada Max. Di sisi kiri sebuah lukisan monster bergigi tajam itu terdapat tulisan namanya, "Maxime Goodman!" Kata Ben menertawakannya. "Astaga Jill itu memalukan sekali." Ucap Anne padanya. Setiap lukisan yang di buatnya adalah gambar monster yang memiliki ciri khas berbeda beserta nama yang di cantumkan olehnya. "Jill, terdapat lukisan monster yang tertulis namaku, apa artinya itu?" Bingung Thompson. Miles yang sedang meratapi satu lukisan itu tersadar akan sebuah namanya sendiri yang tertulis juga disana, ia menoleh kepada Jill dengan tersenyum.


Sama halnya dengan Alex yang merasa kaget dan juga kebingungan dengan lukisan monster yang memiliki mata banyak bertuliskan namanya.

__ADS_1


Erick menghampirinya, "Jill kau menulis namaku di salah satu monster berbulu disana." Ujarnya. "Tak apa Erick, itu hanyalah sebuah tanda saja." Gumam Jill. "Monster itu berbulu, karena kau sangat menggelikan baginya." Sambung Anne yang membuat Erick semakin membencinya. "Aku membencimu Anne."


__ADS_2