
Baru saja ia turun dari mobil ayahnya, seseorang tengah bersandar di dinding gerbang menunggu kedatangannya, sembari menyeringai. Jill memutarkan bola matanya dan berjalan melewati Erick tanpa meliriknya sama sekali. "Sekolah adalah tempat terpayah bagiku." "Hey hey..." Erick mengejarnya dan menarik lengan Jill yang langsung terkejut. "Ouch!" Mau tak mau Jill harus menoleh dan menatap wajah lelaki yang akhir-akhir ini berusaha mendekatinya itu. "Pagi Erick." Jill melepaskan cengkeraman Erick dari lengannya, dan mereka berjalan bersama memasuki gedung sekolah. Erick adalah monster pertama yang selalu saja mengganggu waktu Jill selama di sekolah. Tubuhnya memang sempurna di mata setiap gadis hanya saja ia terlihat cupu dengan gaya pakaiannya yang bodoh itu. Kebiasaan yang selalu ia lakukan untuk membuat Jill terpesona adalah mengangkat alis kanannya di setiap berbicara yang menurut dirinya itu bisa membuatnya terlihat lebih keren. Tambah lagi dengan aroma parfumnya yang Jill pikir di tumpahkan ke seluruh tubuh agar setiap orang yang sedang bersamanya akan merasa terpikat terhadapnya. "Yuck!" Jerit Jill di dalam otaknya.
"Bagaimana tidurmu semalam?" Pertanyaan yang sangat intim bagi Jill sebagai seorang gadis muda. "Tidurku sangat baik." Mereka berdua pun baru mencapai koridor dan suasana disana begitu ramai dengan para murid yang masih berkeliaran. Erick terus berbicara dan itu membuat kedua telinga Jill bosan, gadis itu tak menganggapnya sama sekali.
__ADS_1
Sampai terlihat dari ujung koridor yang berlawanan arah seorang atlet gagah nan tampan itu seperti melangkah ke arah Jill yang tengah terpesona terhadap pemain basket nomor sembilan itu. Maxime Goodman adalah monster kedua di dalam imajinasi Jill yang mampu membuatnya terpesona di setiap hal yang lelaki tinggi itu lakukan. Terlebih saat Max berlari dan melompat untuk mencapai ring basket, waktu-waktu seperti itulah yang sangat berkesan bagi Jill. "Astaga dia melangkah ke arahku," Gumam Jill dalam hati dengan mata yang tak berpaling sedikit pun. Tak lama Max berjalan melewatinya tanpa melirik ke arah Jill, aroma tubuh Max yang masih belum berkeringat itu sudah membuatnya meleleh di jalan koridor.
"Jill apa kau mendengarku?" Erick membuyarkan imajinasinya. Belum sempat menjawab pertanyaan Erick, sahabatnya memanggil Jill dengan keras dari jauh. "Jill!!!"
Akhirnya Anne membebaskan Jill dari perangkap Erick, "Ayo kemarilah cepat!" Anne adalah satu-satunya sahabat dekat Jill yang sudah ia anggap sebagai saudarinya. "Kembali ke sekolah huh? Payah bukan?" Gaya tomboy yang cocok dengan dirinya itu membuat Anne populer di kalangan murid-murid sekolah. "Cepatlah! Langkahmu lamban sekali seperti kura-kura." Ejek Anne. "Kau!" Jill mengikuti Anne yang mengajaknya pergi ke ruangan kelas bahasa, "Kelas bahasa? Bukankah kita di kelas kimia???" Heran Jill. "Tunggu saja dulu, kau akan lebih terpesona melihat lelaki ini daripada Max." Katanya dengan semangat.
__ADS_1
"Dia bergabung di tim softball? Aku tak peduli." Jill menghembuskan nafasnya, gadis itu pergi meninggalkan Anne, "Ada apa Jill? Apa kau lihat dia dengan baik???" Anne bertanya. "Oh ayolah Anne, orang yang kau maksud itu Thompson??? Kau bercanda?" Jill merasa bosan. "Thompson Dean Fletcher, ya itu nama pertamanya ketika ia terlahir!" Anne lebih menyebalkan daripada seorang nenek-nenek, Jill berlalu meninggalkannya. "Oke baiklah aku minta maaf, tapi aku bertanya sekali lagi padamu, apa kau memperhatikannya dengan baik-baik? Kau melihat ada yang berbeda darinya? Sesuatu yang baru dari dirinya?" Anne benar-benar membuatnya kesal. "Anne! Kau sekali bertanya dengan beberapa pertanyaan! Aku tak tahu!" Masih dengan langkahnya yang tak berhenti. "Jill," Anne pun menarik tangan sahabatnya itu untuk berhenti. Jill terdiam dan menatap wajah Anne, "Dia menindik salah satu telinganya." Dengan ucapan Anne itu Jill langsung merubah raut kesalnya menjadi ekspresi tertegun. Thompson adalah mantan kekasih Jill yang memberikan kesan indah dalam kehidupan gadis itu dulu, sekaligus sebagai monster ketiga yang pernah ia cintai. Namun suatu konflik membuat mereka harus berpisah dan merelakan hubungan mereka untuk berakhir, Thompson pernah membuat sumpah konyol untuk dirinya sendiri jika ia tak akan memiliki kekasih lagi setelah putusnya hubungan antara dirinya dan Jill, dengan bukti ia akan menindik telinganya agar semua orang mempercayainya tentang kesetiaan yang ia miliki hanya untuk Jill. Dan akhirnya semua itu terbukti.
"Aku tahu kau masih belum mempercayainya, tapi ia sudah membuktikannya Jill." Gumam Anne.
"Hentikan Anne, makan saja roti ini." Jill memberikannya roti yang di titipkan ibunya sendiri untuk sahabatnya itu. "Ibumu sangat menyayangiku, sampaikan terimakasihku padanya." Dengan segera Anne melahap rotinya itu.
__ADS_1
Di kelas, Guru kimia pun datang dengan senyuman seperti biasanya, Mr. Cole menaruh buku-bukunya di atas meja dan kemudian menuliskan sesuatu di papan tulis. "Praktek meracik ramuan untuk obat sakit perut." Semua murid yang hadir di dalam kelas itu pun langsung tertawa sekaligus semangat dalam pelajarannya di hari itu. Namun Jill masih terdiam dengan lamunannya.