
"Ayah sengaja tak menjemputmu, karena aku," Heidi belum selesai berbicara karena Jill memeluk dirinya dengan sangat erat. "Aku merindukanmu kakak tercantikku!" Jill sangat gembira sekali di siang hari itu. Heidi merasa lega setelah bertemu dengan adiknya, ia pun memeluknya dan juga menciumi kepala Jill. "Apa kau tak merindukanku???" Dex menyela. "Tentu saja aku merindukanmu juga," Jill menepuk pundak kakak iparnya yang sedang mengemudi itu. "Aku membawakan sesuatu untukmu." Sambung Dex lagi. "Apakah itu???" Jill sangat penasaran kali ini. "Kau akan mengetahuinya nanti ketika kita sampai di rumah."
__ADS_1
Jeff dan Helena hanya tertawa melihat kedatangan anak-anaknya, mereka berdiri di halaman rumah yang sudah rapih dengan beberapa tanaman indah yang menghiasi lahan itu. "Maafkan ayah Jill," Jeff merangkul putri bungsunya itu. "Kali ini aku memaafkan ayah, lain kali tidak." Dengan tawanya.
__ADS_1
Mereka pun mengadakan makan siang bersama di rumah nyaman milik Jeff itu. Dex menceritakan kehidupannya bersama Heidi setelah menikah, "Aku sangat bahagia hidup bersamanya, dan aku akan selalu berterimakasih padamu karena telah memberikanku wanita terhebat ini." Ucap Dex pada Jeff. "Aku pun akan sangat bahagia melihatnya tumbuh dewasa bersama pria yang mampu melindunginya..." Di meja makan itu mereka memperbincangkan Heidi yang sangat berarti bagi setiap orang, belum lagi dengan kepintarannya yang masih teringat oleh ayah dan ibu. Jill hanya bisa menyimak perbincangan mereka saja walaupun di dalam hatinya ia merasa iri terhadap Heidi, dan Heidi pun menyadari akan keirian adiknya itu hanya dengan melihat senyum tipis yang terbentuk dari bibir Jill.
__ADS_1
"Aku tak tahu lagi, dia memang membuktikannya, tapi ia masih berbeda dari pandanganku..." Jill langsung mencurahkan apa yang telah terjadi di dalam kisah percintaannya dengan Thompson. Heidi tersenyum, "Jill kau akan menemukan jalan keluarnya nanti, sebelum itu kau harus mencari sendiri petunjuknya." Jill menutupi wajahnya sendiri, "Lalu Alex mengharapkanku untuk datang ke pesta bersamanya..." Keluhnya. "Ke pesta???" Heidi merasa terkejut sekaligus senang mendengar hal itu. "Ini adalah kesempatan Jill, bisa saja kau menemukan keajaiban atau sesuatu yang baru disana, kau bisa mengalihkan masalahmu dengan berpesta, bersenang-senanglah!" Ucapnya semangat. "Tapi Alex?" Bingung Jill dengan menggigit bibirnya sendiri. "Abaikan saja Alex, bayangkan saja dia hanya sebuah tiket untuk masuk ke dalam pesta itu, percayalah padaku kau akan bersenang-senang disana." Heidi terus mendorongnya untuk bersemangat, sebagai kakak ia tak mau terus melihat adiknya seperti itu. "Aku akan meyakinkan ayah dan ibu agar kau bisa pergi besok malam, ajak sahabatmu Anne untuk berjaga-jaga," Heidi masih menganggap Anne sebagai penjaga Jill untuk menggantikan posisinya setelah menikah. "Oh ayolah, Anne adalah sahabatku bukan penjaga," Mereka tertawa di dalam kamar pelangi itu. "Baiklah dia sahabatmu," Kemudian ekspresi Heidi berubah, "Aku harus kembali menjalani hidup bersama Dex... Kau baik-baiklah disini bersama ayah dan ibu, gunakan komputer itu untuk saling berkomunikasi." Heidi merangkulnya. "Bisakah kau tinggal disini saja bersamaku, ayah dan juga ibu." Pintanya. "Jill adikku, aku tak mau jika terus berada disini karena ayah akan lebih memanjakan aku daripada putri bungsunya ini, aku tak mau membuatmu selalu iri padaku... Apa aku benar?" Jelasnya dengan sangat jujur. "Kau ini..." Jill merasa malu dengan Heidi yang mengetahui ini. Heidi pun bersedih dengan harus meninggalkan adik satu-satunya itu. "Aku akan selalu merindukanmu."
__ADS_1