
Seseorang tengah melukis di pinggir rak yang memajang gelas antik, dengan ketenangan yang terlihat dari lelaki itu Jill menghampirinya. Lelaki yang memakai topi itu tak meliriknya sama sekali, terlalu fokus pada lukisan yang sedang ia ciptakan. Jill tak mau mengganggunya jadi ia hanya memperhatikan bagaimana cara lelaki itu melukis. Detik demi detik gadis itu di buat terkesima dengan hasil tangan seniman muda itu, ingin sekali Jill menanyakan jenis pensil dan cat air yang ia gunakan karena belum pernah gadis itu melihat benda-benda yang lelaki itu gunakan. "Apa..." Jill belum selesai bertanya, lelaki itu bersuara. "Semua yang ku gunakan ini adalah barang antik yang sulit di temukan." Jill sangat terkejut dengan ucapan lelaki itu seolah ia mengetahui akan pertanyaannya. Gadis itu sangat terkejut mendengar jawaban seniman itu di bandingkan jika ia hampir tertabrak mobil, "Hai aku Brown, Hayter Brown tapi panggil saja Brown." Senyuman dan keramahan yang tak di sangka-sangka olehnya, Jill masih terdiam. Lelaki itu mengulurkan tangannya untuk menyadarkan Jill, "Eh, hai aku Jill." Gadis itu membalas senyumannya.
__ADS_1
"Semakin sulit proses melukis kita, semakin tak terduga hasilnya, terkadang sesuai dengan ekspetasi, terkadang juga lebih dari yang kita bayangkan." Tak hanya indah lukisannya, setiap kalimat yang terucapnya pun sama-sama indah. Jujur saja Jill belum pernah menemukan orang sepertinya, awalnya Jill merasa ragu namun pada akhirnya ia pun terkejut dengan lelaki yang bernama Hayter itu, dengan nama panggilan Brown. "Kau sangat hebat, aku benar-benar takjub." Ucap Jill. Brown hanya tersenyum dengan ketenangannya yang membuatnya terlihat sangat keren, "Apakah ini akan selesai hari ini juga???" Jill bertanya dengan suara pelan. "Tidak mungkin, sepertinya ini akan lebih daripada yang ku bayangkan." Jawabnya ramah dan kini ia menatap Jill dengan mempesona. Hati Jill akan selalu terasa panas jika mendapatkan hal-hal seperti ini, "Jika saja ini bisa selesai, aku ingin membelinya... Apakah aku lancang?" Jill menghargai setiap karya seni seseorang maka dari itu ia memastikannya. "Santai saja Jill, aku akan berada disini setiap saat, jika kau menginginkannya? Kau bisa mengambilnya dalam dua hari ini," Akhirnya jawaban yang sesuai dengan harapan. "Ya! Aku sangat menginginkannya," Jill merasa ceria. "Baiklah aku akan menyimpannya untukmu." Sangat baik seniman itu, "Terimakasih banyak." Gadis itu merasakan kehangatan dari seorang Brown, "Sesuatu yang sesuai dengan harapan kita, terasa menggembirakan bukan???" Kata perkata yang terucap olehnya itu selalu terasa benar, mereka saling tersenyum. Tiba-tiba ayahnya memanggilnya dari sudut ruangan, "Jill! Ayo kita pulang!" Panggilnya. "Baik ayah tunggu sebentar." "Ramen masakan ibumu sudah matang! Ayah menunggu di mobil." Memalukan sekali bagi Jill karena ayahnya begitu berisik.
__ADS_1
Selama perjalanan pulang, Jill terus memasang senyumannya itu. "Ayah menemukan beberapa benda yang sudah lama tak ayah dapatkan, dan ayah membelinya." Kata Jeff. "Benda apa?" Jill penasaran. "Pemutar piringan hitam dengan gaya klasik untukku, dan guci antik yang pasti akan di sukai ibumu." Ayahnya sangat ceria dengan apa yang di dapatkannya itu. "Apakah masih berfungsi?" "Tentu saja, semua benda yang ada di toko itu memiliki kegunaan tersendiri, jika rusak kita bisa memperbaikinya di toko itu juga." Jawabnya jelas. "Dan kenapa kau tak membeli sesuatu disana???" Jeff mengemudikan mobilnya perlahan saat tepat melewati hamparan ladang yang menghibur indera penglihatan. "Aku mendapatkan sesuatu juga, tapi bukan barang kuno, aku akan mengambilnya lusa nanti bersama Anne." Jawabnya. "Jika kau membutuhkan uang bilang saja." Kata Jeff. "Aku memiliki uang tabungan ayah tenang saja." Jill menikmati perjalanan pulangnya itu. Kau senang hari ini?" "Sangat senang! Terimakasih ayah!" Sangat berkesan hari liburnya ini karena telah mendapatkan suatu pelajaran baru, Ayahnya tersenyum melihatnya ceria seperti itu.
__ADS_1