
"Jill!!!" Thompson mengejarnya. "Hey kasihani dia, berhentilah." Anne membujuknya. Jill masih merasakan sakit hatinya itu, "Aku ingin sekali berbicara dengannya, tapi hatiku tak menyetujuinya." Gumamnya yang terus berjalan memasuki gedung sekolah. "Kau saja yang berbicara padanya, Anne." "Oh ya ampun..."
__ADS_1
"Dia tak mau berbicara padamu, padahal aku sudah membujuknya." Jelas Anne pada Thompson. "Baiklah tak apa, karena sangat sulit memaafkan kesalahanku ini, aku akan memberinya waktu." Ucapnya sedih. "Hey bung, aku juga merasa bersalah padamu karena telah marah saat kejadian itu," Anne mengakuinya. "Tentu saja kau akan marah padaku, karena aku membiarkan sahabatmu itu pergi seorang diri, tenanglah Anne itu tak masalah bagiku." "Baiklah kau juga tenang saja, aku akan terus membujuknya lagi." Anne pun segera menyusul Jill. "Terimakasih Anne!"
__ADS_1
Gadis itu fokus pada materi yang sedang di pelajarinya kini, Anne tak bisa membujuknya di situasi seperti itu karena Jill tak meliriknya sama sekali. "Peneilitian memperlihatkan, lebih dari dua-pertiga orang Amerika Serikat yang mencoba merokok, akhirnya jadi ketergantungan rokok." Jelas Mr. Cole pada semua muridnya di ruangan kelas itu. "Apa penyebabnya? Zat apa yang terkandung di dalam rokok?" Di mulailah sesi tanya jawab, kemudian Jill mengangkat tangannya. "Jill," Mr. Cole mempersilahkan. "Zat nikotin sir, zat ini yang menjadi penyebab orang-orang itu merasa kecanduan." Sambil menjawab pertanyaan itu mata Jill menatap tajam sahabatnya yang memang adalah gadis perokok aktif. "Bagus Jill, yang di katakannya itu memang benar, zat nikotin..." Guru kimia itu berjalan ke arah papan tulis dan menuliskan tugas yang di berikannya, "Buka halaman seratus sembilan puluh tiga, pahami dan petik hal-hal pentingnya..." Perintahnya."Dan yeah aku baru ingat, akan ada kegiatan berdonasi senin nanti, Mrs. Raquel berharap kalian akan berbaik hati untuk anak-anak remaja seperti kalian yang terkena kanker itu." Tambahnya.
__ADS_1
Thompson tak bisa memikirkan apapun lagi selain rasa bersalahnya yang tak henti membuatnya melamun. Sementara suasana kafetaria sangat ramai, "Ayolah bung." Ozgur menawarinya minuman. "Tidak, terimakasih Oz." Ia pun bangkit dari kursinya dan berlalu pergi, "Hey kemana kau?!!" Teriak Nick.
__ADS_1
Jill tak terlihat sama sekali di matanya saat jam istirahat itu, Thompson duduk termenung di bangku taman sekolahnya. Tiba-tiba Miles menghampirinya, "Hey." Sapa senior itu padanya. "Apa yang kau inginkan? Biarkan aku sendiri." Thompson menutupi wajahnya. "Aku hanya ingin mengatakan tentang kekasihmu itu..." Belum sempat Miles melanjutkan kalimatnya, Thompson menarik kerah bajunya dengan gerakan cepat. "Apa yang kau lakukan pada kekasihku?!!" Lelaki itu sangat marah. "Bisakah kau melepaskanku dulu?" Miles berusaha menenangkannya. "Katakan saja padaku!" "Baiklah, Jill memang marah padamu untuk saat ini, tapi tenanglah... Dia hanya mencintaimu seorang." Thompson di buat bingung olehnya, "Jelaskan!" Tubuh Miles pun terlepas dari cengkeramannya. "Dia tak bisa menerima perasaanku, kau selalu ada di dalam pikirannya." Jelasnya baik-baik. "Apa kau gila? Dia adalah kekasihku!" "Hey tapi setidaknya aku mengungkapkan perasaanku ini," Miles membela dirinya sendiri. "Baiklah, tapi bagaimana kau tahu dia hanya mencintai dan memikirkanku saja huh? Apa kau bisa menjelaskannya?" "Aku menciumnya."
__ADS_1