
Ayi masuk ke kamarnya, dia berjalan perlahan dan melihat seorang wanita sedang tidur di kasur, dia mendekati wanita itu dan melihat, betapa miripnya wajah mereka berdua, Ayi terdiam.
Hanif masuk ke kamar dan melihat pemandangan ini, dia memperhatikan kedua wanita yang dia kenal, tapi menjadi tidak kenal lagi.
“Aku yang asli.” Ayi yang barus saja datang dari istana ratu laut berkata.
“Tidak, aku yang asli.”
“Tentu saja aku tahu yang mana yang asli.” Hanif menarik wanita yang masih ada di kasur Ayi dan seketika wanita itu berubah menjadi pria.
“Sakit Pak! iya-iya benar! Aku palsu,” Murid Hanif yang bernama Datona berkata, dia adalah murid kepercayaan Hanif, kisahnya sangat rumit, dia dibuang keluarga dan dibiarkan menjadi penjahat, jika saja tak bertemu Ayi, dia pasti sudah menjadi buruan kawanan karena kejahatan, Datona bertemu Ayi dan dibujuk untuk masuk ke AKJ, setelah menyelamatkan nyawanya, keahliannya adalah memiliki khodam yang mampu merubahnya menjadi orang lain, bukan tipu muslihat, atau halusinasi mata. Tapi ilmu karuhun yang dia punya adalah ilmu karuhun kuno merubah bentuk tubuh, apakah kalian pernah bertemu orang yang sama di waktu dan tempat yang sama, padahal orang itu hanya satu orang, maka biasanya ini adalah perbuatan dari jin yang memiliki kemampuan untuk merubah wajah, tapi pada kasus ini, Karuhun milik Datona mampu merubah dirinya berubah bentuk sesuai dengan yang diinginkan oleh tuannya.
“Kau nyaman dengan tubuh Ayi?” Hanif kesal, karena dia dites oleh dua orang ini. Ayi tertawa, dia pikir Hanif akan tidak sadar siapa yang menyamar, tapi Ayi sepertinya lupa, kalau energinya terlalu besar dan mampu dideteksi Hanif dengan mudah, karena Hanif memiliki kemampuan yang tinggi.
“Bukan begitu, walau menjadi Ayi sungguh enak, aku bisa makan apapun yang aku mau, aku bisa menyuruh para pelayang membawakan yang aku mau, aku bebas kemanapun di AKJ ini dan berlarian sesuka hati, aku ....”
“Kau berlarian dengan perut besar itu? seharian ini kau sibuk bermain?” Ayi menggodanya, karena Ayi berpesan pada Datona, dia harus menggunakan tubuh Ayi dengan bijak, tapi dia malah bermain.
“Ayi, Datona hanya berlari kecil, lagian ... tak ada yang curiga juga kalau kau pergi, maaf ya.” Datona meminta maaf, pria yang sangat tampan setelah dirawat di AKJ ini, walau tubuhnya penuh tato karena pergaulan, meminta maaf pada ratunya.
“Sudahlah, aku hanya bercanda, jadi ... apakah ada yang mendekatimu selain para pelayanku?” Ayi bertanya lagi.
“Tidak, semua normal saja, tapi guru metafisika, Pak Hiryawan itu, dia terus memperhatikanku dengan seksama setiap kali melewatinya, aku berusaha ramah, tapi dia hanya mengangguk dan pergi.”
“Dia memang tipikal guru yang intorvert, tapi dia bukan orang yang patut dicurigai sebenarnya.”
“Tapi apakah Ayi tahu bahwa ada rumor tentang pria itu.”
“Rumor apa?” Ayi dan Hanif penasaran.
__ADS_1
Datona berbisik, seolah takut tembok mendengar perkataan mereka, “Katanya dia itu pria yang sangat kesepian, dia itu istrinya meninggal dunia karena jodoh adat yang tidak dia penuhi. Kehilangan istri membuatnya sedikit gila, bahkan katanya anak yang belum dilahirkan, dikerjai para tetua untuk dijadikan pelajaran bagi mereka yang tidak mau menikah sesuai jodoh adat, makanya dia sangat murung karena membenci keadaannya sendiri yang masih hidup sementara anak dan istrinya telah tiada.
Rumornya lagi, katanya, dia itu ahli metafisika karena mencari ruh istrinya, seperti yang kita tahu bahwa ilmu metafisika adalah cabang filsafat yang paling yang paling abstrak, banyak definisi filsafat, tapi kami para cantrik juga percaya bahwa, beliau juga menganut pemahaman metafisika sebagai filosofi keberadaan dan pengetahuan.” Cantrik adalah panggilan untuk seluruh calon Kharisma Jagat di AKJ, diambil dari bahasa sansekerta yang artinya siswa.
“Ya itu betul, secara teori, lalu masalahnya dimana hingga kalian membuat rumor?” Ayi menarik mereka semua untuk duduk, karena dia tak tahan berdiri lama, maklum ibu hamil yang perutnya besar. Mereka semua masih di kamar Ayi yang besar ini.
“Katanya, dia mempelajari metafisika sejak kematian istrinya untuk paham keberadaan, dia terus mencari tahu keberadaannya di dunia ini untuk apa agar tetap bertahan hidup, hingga akhirnya dia menjadi guru di sini.”
“Loh, justru bagus dong, berarti dia akan mengabdi untuk menjadi pahlawan tanpa tanda jasa untuk melatih kalian, mengajar ilmu pengetahuan pada kalian.”
“Duh, agak susah ya kalau bicara beda umur jauh gini,” Hanif langsung menjitak kepala Datona, dia memang Cantrik kesayangan, dipercaya tapi kelakuannya sedikit nyeleneh.
“Maksudmu, bisa jadi dia melamar ke tempat ini, bukan karena dia merasa terpanggil dan paham keberadaannya, tapi justru dia adalah penyusup dan meyakini keberadaannya adalah untuk menerima jodoh adat itu sebagai sesuatu yang benar dan dia telah langgar hingga kehilangan anak istrinya, maka kalian yakin, dia tidak punya niat yang baik untuk AKJ, dia mungkin berniat jahat datang ke sini, karena pada akhirnya, keberadaan yang dia yakini bukanlah anak dan istrinya, tapi hukum adat yang dia langgar akhirnya mencelakai anak dan istrinya, dia yakin dia salah dan sekarang berusaha memperbaikinya dengan mengabdi pada tetua yang tersisa, yang berusaha meruntuhkan AKJ?”
“Nah ini, Ayi memang hebat!” Datona girang melihat ratunya bisa menangkap maksud rumor itu.
“Itu hanya rumor, aku tidak percaya.” Ayi terlihat hati-hati.
“Tenang saja kalian ya, aku sudah bertemu kakak perempuanku, Datona dan Pak Hanif, tolong siapkan 50 kenci teh Tirta Amerta untuk diberikan pada Ratu Laut.”
“Hah? banyak sekali, persediaan kita mulai menipis loh, Ayi.” Hanif mengingatkan.
“Ya aku tahu, tapi jangan minta dulu pada kakakku Raja Bapati, karena kalau dia tahu kita meminta terus, maka dia akan tahu ada yang tidak beres di sini, kirim saja dulu karena aku sudah janji pada kakak perempuanku. Setelah itu aku punya rencana untuk membuka kedok para pembelot.”
“Kau yakin?”
“100 persen yakin Pak Hanif!” Ayi bersungguh-sungguh.
“Baiklah, kalau begitu kami pamit untuk mengerjakannya.”
__ADS_1
Hanif dan Datona hendak pergi, tapi Ayi memanggil mereka lagi dan berkata, “ Datona, kau tahu kan, Ayi tidak percaya siapapun di sini selain kamu dan keluarga Ayi dan aku sudah membuktikannya kalau kamu bisa dipercaya.” Ayi tersenyum, perkataan itu membuat Datona sumringah, karena dipuji oleh ratunya sendiri.
Kenapa Ayi bicara begitu, karena Datona tidak terbakar Mustika mirip Ratu Laut, batu yang bisa mendeteksi niat jahat seseorang.
Ayi lega, dia percaya orang yang benar.
...
“Sudah semua?” Aditia bertanya pada kawanan.
“Sudah, aku juga beberapa kali melihat pohon yang sama dan ini jelas, mereka menggunakan metode putar arah untuk mengelabui jalan kita.” Ganding menjawab pertanyaan Aditia, kawanan sudah seharian ini menamai pohonnya dengan angka, satu pohon bisa ada beberapa angka, karena banyaknya angka yang tertulis di pohon akan menjadi hitungan bagi pergerakannya.
“Kau sudah dapat hitungannya Nding?”
“Coba sebutkan, berapa banyak nomor yang telah kalian tulis pada satu pohon, kita harus sebutkan secara berbarengan ya.” Ganding memberi perintah, yang lain setuju.
Lalu secara bersamaan, mereka mengatakan jumlah nomornya ... “Tiga belas!” semua orang menyebut angka yang sama.”
“Maka 13 putaran mereka lakukan, tak heran kita terus tersesat.”
“Kalau sudah ketemu, kita bisa segera keluar dong!” Hartino senang.
“Bisa, tapi sulit.”
“Kenapa Nding?” Aditia bertanya.
“Karena begini.” Ganding membuat tangan kanan dan kiri berputar saling berlawanan.
“Hitungannya hanya satu, tapi variablenya sampai 13 jenis, artinya, kita harus melakukan 13 jenis pergerakan untuk bisa menemukan pintu keluarnya, satu pergerakan memutari hutan ini yang sangat luas, artinya, mungkin kita butuh berhar-hari, berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan untuk sampai di pintu ke luar.”
__ADS_1
“Apa kau gila!” Aditia berteriak, semua orang menjadi khawatir.
Saat mereka sedang berdiskusi dari kejauhan terdengar ada yang bergerak, gerakan awalnya samar, lalu makin lama makin jelas, seperti orang berlarian, kawanan tak begitu memperhatikan karena sedang asik berdiskusi, sesosok yang berlarian itu semakin dekat, sayangnya ... kawanan tidak sadar ada yang mengintai.