
Malam ini terasa sangatlah dingin bagi Putri, dia mematikan kipas angin yang sedari tadi masih saja menyala di kamarnya, zaman itu, AC bukanlah hal yang lumrah di rumah orang kaya sekalipun.
Udara malam memang biasanya lebih dingin, tapi entah kenapa, Putri merasa malam ini sangatlah dingin.
Dia mengambil selimut dari lemari kayunya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut itu, berharap dingin yang menyelusup sebelumnya tidak menyerang lagi.
Tapi ternyata harapan tinggal harapan, saat baru saja hendak terlelap, Putir terbangun karena tubuhnya kedinginan lagi, Putri kembali bangun dan melihat jam yang ada di dinding kamarnya, jam 2 dini hari, Putri melihat ke kanan, ke kiri dan sekeliling kasurnya, karena selimut yang dia kenakan barusan tak terlihat sama sekali.
Putri lalu melihat ke arah bawah, ternyata benar, ada di sana selimut itu.
Putri mengambilnya dan kembali membentangkan selimut itu lalu menutupi tubuhnya yang kedinginan.
Putri berbaring lagi dan bersiap untuk tidur, tapi lagi-lagi gagal, belum juga dia terlelap, tiba-tiba suara angin kencang sekali terdengar dari luar jendela kamarnya, angin itu membuat jendela tiba-tiba terbuka.
Putri melihat ke arah kaca dan betapa terkejutnya dia karena, posisi jendela yang ada tepat di bagian kepala pada kasurnya, dia melihat ada sesuatu yang berdiri di sana menatap putri dengan tatapan menyeringai, wajahnya pucat sangat pucat, tapi bibirnya menghitam, sedang bagian kepalanya ada sebuah ikatan yang khas dan setelah diperhatikan, ternyata bukan hanya bagian kepala, tapi juga pada bagian dada dan makin kebawah, apa yang dikenakan sosok itu sama, sebuah kain putih lusuh, kain yang digunakan oleh seseorang yang sudah berpamitan dengan dunia karena dipanggil Tuhan, YA! itu adalah pocong dengan kain kafan yang terlihat basah karena tanah kuburan, Putri berteriak, pocong itu menatapnya dengan senyuman mengerikan, dari bibirnya bergumam sesuatu yang tak bisa Putri dengar, karena gumaman itu hampir tanpa suara, yang jelas, pocong itu membuat Putri pingsan.
...
“Put, di makan itu, kok malah didiemin gitu aja?” Ibunya meminta anaknya untuk sarapan, sudah dimasakkan nasi goreng yang menggugah selera oleh ibu dari salah satu orang terkaya di kampungnya itu.
Putri tak menjawab, dia hanya mengangguk dan makan, kejadian semalam masih membuatnya takut, dia selalu terbayang wajah pocong yang bergumam sesuatu itu, setelah tersenyum dengan menyeringai, pocong itu terus saja menggerakkan bibirnya seolah berkata sesuatu, tapi Putri tak tahu apa yang digumamkannya, karena Putri tak mampu melihat wajahnya, tentu saja Putri ketakutan.
Tak ada satu pun keluarganya yang tahu kalau semalam dia pingsan, saat terbangun di kamarnya, dia melihat jendela sudah tertutup kembali dan selimutnya menutupi tubuh Putri, dia tertidur seperti biasa, seperti malam-malam sebelumnya.
Pada Putri ingat, saat dia melihat pocong itu, Putri sedang duduk karena posisi jendela yang berada di kepalanya, jadi kalau mau lihat jendela harus bangun dan berbalik, Putri sangat ingat bahwa semalam dia duduk menyender pada dinding kamarnya, posisi kasur memang dirapatkan dengan tembok.
Putri ingat sekali, dia merasa gelap ketika dalam posisi duduk, tapi kenapa saat bangun dia tidur dengan keadaan yang rapi dan selimut yang menutup tubuhnya.
“Put, kenapa sih?” Papahnya bertanya, dia melihat Putrinya termenung saja, padahal biasanya Putri Kencana sangatlah penuh semangat.
“Nggak apa-apa Pa, semalam hujan ya?” Putri bertanya untuk mengalihkan obrolan.
__ADS_1
“Iya.” Mamanya menjawab.
“Oh, pantas, jendela kebuka, mungkin karena hujan angin ya, Ma.” Putri hanya asal bicara saja, tapi tak dapat dipungkiri dia juga merasa lega.
“Hah? kok hujan angin? Orang hujan gerimis aja, malah Mama nggak tahu semalam hujan, kalau nggak gara-gara ke belakang ambil air, trus lihat dapur basah lantainya, kamu kan tahu, dapur kita itu semen, jadi kalau ada tampias dari luar, airnya masuk dari celah pintu dapur.”
“Jadi, nggak hujan angin, Ma?” Putri bertanya dengan sedikit kecewa, karena logikan terpatahkan.
“Nggak dong, mama liat emang basah lantai dapurnya, pas mama buka pintu dapur, tahunya gerimis, yaudah. Kalau nggak ke belakang mah, mama nggak akan tahu semalam gerimis.”
“Mama jam berapa ambil airnya?” Putri bertanya lagi, sedang papanya hanya menyimak saja.
“Jam berapa ya ... mungkin jam 2 an lah.”
“Jam 2 an? Mama nggak dengar Putri teriak atau gimana?” Putri ingat semalam dia sempat melihat ke arah jam dinding dan itu sama dengan jam mamanya pergi ke dapur.
Kamar Putri dan dapur itu saling berdekatan, jadi, kalau dari kamar ibunya, dia harus melewati kamar Putri dulu, lalu meja makan dan dapur setelahnya, lokasi meja makan memang diletakkan dekat dengan dapur.
“Mungkin, karena jam 2 an itu Putri kebangun dan teriak, tapi nggak ada yang dengar, akhirnya Putri tidur lagi aja deh.”
“Nggak ah, orang semalam Mama sempat buka kamar kamu, mama kalau kebangun pasti buka kamar kamu, cuma pastiin kamu udah tidur, kayak semalam, abis dari dapur mama ke kamar dulu, pas mama buka kamar kamu, ternyata kamu sudah tertidur dengan lelap, bahkan sedikit ngorok, cuma heran aja, kenapa kamu pakai selimut, padahal biasanya paling anti pakai limut, mana tidurnya rapi amat, kamu terlentang dan tangan posisinya menopang di perut, kedua tanganmu itu, karena nggak mau ganggu, Mama aja tutup pintu kamarmu diam-diam. Taku ganggu tidurmu.”
“Oh begitu ya Ma, aku ngerasanya bangun, ah tapi itu mungkin mimpi buruk aja.”
“Betul Nak, itu hanya mimpi buruk aja kok, kamu semalam nggak kebangun kok, jadi Mama akhirnya kembali ke kamar Mama.”
“Waktu Mama lihat Putri, jendela kamar Putri terbuka nggak?” Putri bertanya lagi.
“Hmmm, sebentar Mama ingat-ingat lagi ... oh, tidak! mama kan biasa ngeceknya kamu udah tidur atau belum, tapi saat Mama masuk, kamu lagi tidur dan jendelamu tertutup, kalau terbuka, Mama pasti ingat dan akan tutup jendelanya. Memang kenapa kamu bertanya?
“Nggak apa-apa Ma, berarti semalam hanya mimpi buruk saja.” Putri enggan cerita apa yang terjadi, karena takut membebani orang tuanya.
__ADS_1
Jadi dia memilih untuk diam saja, lagian, agak janggal, kalau memang mamanya ke kamar dia jam 2 an, seharusnya dia terbangun karena Putri ingat sekali sempat melihat jam dinding dan itu benar-benar jam 2, tak lama setelah dia liat jam, dia membetulkan selimut yang terjatuh itu dan bersiap untuk tidur kembali, tapi belum juga terpejam sempurna, tiba-tiba jendela kamarnya terbuka, ini aneh baginya.
Karena jarak waktu antara ibunya melihat dia di kamar dan dia terbangun karena jendela kamarnya terbuka, seharusnya pendek sekali, bisa jadi malah seharusnya, saat ibunya yang membuka kamar Putri itu kaget, karena anaknya sedang ketakutan nelihat sosok mengerikan itu di jendela. Tapi dari yang Putri tangkap, seolah mereka berada di garis waktu yang berbeda, Putri merasa seperti dia dan ibunya di tempat yang sama, waktu yang sama, tapi dengan penglihatan yang berbeda.
“Yaudah kamu makan yang bener dong, kamu pucet kok? Makan dulu abis itu minum obat ya.” Ibunya memerintah, karena nadanya tidak lembut lagi, Putri akhirnya makan dengan terpaksa, karena takut ibunya murka, semua ibu memang begitu, paling marah kalau makanan yang dimasak dengan keringat itu, tidak habis, harusnya dihargai dengan cara dihabiskan.
Putri selesai cukup lama, bahkan papanya sudah pergi dari meja makan untuk baca koran di halaman depan.
Sedang Putri dan ibunya masih saja di meja makan, Putri memang bukan anak kecil lagi, tapi kalau soal makan, Putri memang harus diawasi, ibunya takut kalau Putri akan membuang nasi itu jika dia tak dijaga saat makan.
“Udah abis nih.” Putri memperlihatkan piring kosong pada ibunya dan membawa piring itu ke dapur untuk dicuci.
“Pa, apa kita seharusnya minta maaf?” Mamanya bertanya pada papanya yang ada di halaman depan, dia baru saja memberikan kopi hangat pada suaminya, untuk teman baca koran.
“Minta maaf ke mereka? kau gila, kita ini orang kaya dan terpandang, masa minta maaf sama bocah ingusan!” Papanya menolak.
“Tapi Pa, aku takut, takut anak kita diapa-apain.” Mamanya terlihat gusar.
“Udah jangan percaya hal kayak gitu lah, nggak bener itu, kamu lihat aja, anak kita baik-baik saja dan bahagia.” Papanya menolak usulan ibunya.
“Tapi, kita sudah terlalu kasar pada pemuda itu Pa, aku takut dia kelak akan mengerjai Putri karena dia merasa kita hina.”
“Dia memang pantas kita hina, nggak tahu diri anak itu, masa mau anak saya, emang dia siapa? dia benar-benar menurunkan standar Putri sebagai wanita terpandang di kampung kita ini.”
Ibunya terdiam, teringat kejadian 3 hari yang lalu. Waktu di mana Sujana datang dengan orang tuanya, membawa buah tangan untuh melamar Putri. Mamanya sedikit takut saat itu, karena tahu Putri bakal menolak, bukan hanya pria itu yang ditolak, banyak yang lainnya, mamanya Putri tahu, kalau dia memang gadis yang tak mudah ditaklukan, walau dia selalu ramah pada semua orang.
Salah ayahnya yang selalu memenuhi kebutuhan Putri, hingga ketika dia bertemu Pria, maka Putri memastikan kalau kelak mereka menikah, Putri takkan kekurangan, di kampung ini, yang sekaya keluarganya hanya juragan empang, tapi dia sudah sangat berumur, kurang lebih umurnya hampir 50 tahun. Putri enggan menjadi istri kesekian dari pria itu, makanya dia menolak pinangannya dengan sopan tentu saja, karena uang adalah parameter kamu menghormati dan dihormati orang lain.
Karena Putri anak kesayangan abdi negara itu, maka suami yang papanya pilihkan akan sangat tinggi jabatannya, Putri hanya menurut saja, karena dia memang tidak sedang jatuh cinta dan menyerahkan hidup pada ayahnya, Putri tahu, sebaik-baiknya pilihan adalah pilihan orang tuanya, dia yakin itu makanya dia biarkan papanya yang menolak pinangan.
Dan kedatangan Sujana beserta orang tuanya, membuat penilaian orang pada Putri jadi turun drastis, dilamar Sujana merendahkan nilai anaknya.
__ADS_1
Maka begini kejadian 3 hari yang lalu ....