
“Pak, kamu jangan macam-macam ya, sudah cukup, lagi pula anak kita sudah di kota lagi, sudah cukup, kalau kau tidak suka tinggal di sini dan dicemooh oleh orang kampung sini, kita pindah, sudah cukup, jangan begini!” Ibunya Sujana menahan suaminya keluar dari rumah dengan membawa ayam cemani, tali pocong miliki orang yang sudah dikubur sebelum melewati masa 40 hari dan tanah kuburannya.
Dia akan merayu ruh yang telah meninggal untuk bangkit lagi, mencari talinya dan setelah itu dia akan berikan sajen berupa ayam cemani, kopi hitam dan beras, dengan begitu, ruh pocong itu akan menjadi patuh pada apa perintahnya.
“Kau bisa menerima penghinaan itu dengan mudah? Aku tidak, kita diusir dan dihina sedemikian rupa, buah tangan yang dibeli dari hasil kerja keras anakku dilempar, aku akan pastkan kalau dia akan tidak tenang hidupnya, aku ingin dia mati!” Bapaknya tidak dapat melupakan kejadian itu, di desa itu ada seorang dukun yang tinggal terpisah dari kampung, tinggal di hutan sana dan menerima pesanan pelet dengan bayaran hasil ternak atau hasil perkebunan, asal maharnya pas, pesanan akan diantarkan.
“Pak, itu musrik! Bapak juga dari kemarin sudah tak solat, sekarang bapak harus tobat dan sekarang kita pergi jauh saja dari tempat ini!”
“Kalau kau mau pergi, pergilah, tapi aku tidak, aku ingin melihat gadis itu sengsara dan terluka.”
Lalu dia menampik tangan istri yang memegang tangannya untuk menahan agar dia tak pergi, dia tidak bisa lagi menahan, sudah dua hari ini sejak penolakan atas lamaran itu di pasar heboh, ibu dan bapak ditertawai secara terang-terangan karena penolakan lamaran itu, mereka bilang Sujana tidak tahu diri, tak ada yang berempati, makanya bapak langsung meneguhkan diri untuk pegi ke hutan itu dan meminta syarat menyantet orang.
Maka dukun itu meminta mahar hasil ternak yang cukup banyak, serta syarat sajen yang dibawanya barusan, dia bahkan nekat menggali kuburan salah satu tetangga yang meninggal belum genap 40 hari, ibunya tahu kalau bapak pasti tak terima, biar orang miskin, bapak selalu merasa dirinya tinggi, maklum, dulu orang tuanya kaya raya, tapi karena hutang yang melilit kakeknya Sujana, akhirnya keluarga itu bangkrut dan hanya menyisakan sisa hewan ternak yang dibagikan ke anak cucu, itulah yang membuat mereka akhirnya bisa menjalani hidup dari perternakan hewan.
Makanya, terkadang bapaknya Sujana suka lupa diri, kalau dia bukan orang yang seperti dulu lagi.
Bapak Sujana lalu pergi kembali masuk ke hutan, rumah dukun itu, dukunnya sudah menunggu, di sedang membakar sesuatu di pekarangan rumahnya, api ungun menyala dengan mantra yang aneh.
Jiwatma anururing satwa, kajina tidabakda, ari jawean tukarisembah, khuntiwiri pasowan dalu getir.
Dukun itu terus saja membawa mantra dan membuat api ungun yang tadinya kecil menjadi semakin membesar hingga meninggi, jika saja kau bisa melihatnya, maka api itu sudah setinggi dukun yang membacakan mantra.
“Ki, ini ayam cemani, tali pocong dari orang mati yang belum 40 hari, lalu ada kopi hitam dan beras, aku sudah mencuci berasnya dengan tetesan darahku, agar ketika ruh itu makan sesajen kita, dia akan mengenaliku sebagai tuan.”
“Potong kepala ayam cemani itu, tadahkan darahnya di mangkuk yang sudah aku sediakan, setelah itu, kau tuang darangnya di tengah kobaran api, tanganmu akan terbakar, tapi tahan saja, lalu kau lemparkan tali pocong ke dalam kobaran itu untuk memanggil ruh yang kau ambil tali pocongnya.
“Baik Ki.”
__ADS_1
Lalu bapaknya Sujana melakukan semua yang diperintah oleh dukun itu, sementara bapaknya Sujana melakukan itu, dukun terus membaca mantra.
Butuh waktu 2 jam sampai akhirnya dari arah hutan, terlihat sesosok yang cukup mengerikan, ruh itu mengenakan kain kafan, tentu saja dia berwujud pocong yang cukup mengerikan.
Wajahnya sangat hitam leham sama seperti bibirnya menghitam, dia melayang dengan arah yang sangat jelas, api ungun yang telah membakar tali pocongnya. Wajahnya terlihat marah, makhluk mana yang tak marah, jika saja sedang tidur menghadapi malaikat, tiba-tiba diinterupsi oleh makhluk hidup untuk membereskan masalahnya sendiri.
Dukun itu membaca mantra semakin kencang.
Jiwatma anururing satwa, kajina tidabakda, ari jawean tukarisembah, khuntiwiri pasowan dalu getir.
Jiwatma anururing satwa, kajina tidabakda, ari jawean tukarisembah, khuntiwiri pasowan dalu getir.
Jiwatma anururing satwa, kajina tidabakda, ari jawean tukarisembah, khuntiwiri pasowan dalu getir.
Apakah kalian membaca mantranya, hati-hati, tiga kali dibaca, mungkin pocongnya akan ada di luar jendela kalian. Ini hanya peringatan.
Pocong itu berhenti melihat kopi dan beras itu, dukun tersebut terus membaca mantra agar pocong itu mengikuti maunya mereka, makan sajen sebagai mahar ghaib agar pocong itu tunduk pada tuannya.
Pocong itu lalu mulai menunduk, perlahan seperti anjing dia mengendus kopi dan berasnya lalu tak butuh waktu lama, dia memakan beras dan kopinya.
Ketika habis, dukun itu menyuruh bapaknya Sujana untuk mengikat tali pocong pada bagian kepalanya dengan tali kain kafan yang sudah direndam pakai campuran air dan darah tuannya, ini untuk mengukuhkan kepemimpinan, agar pocong itu semakin merunduk, lalu setelah tali kain kafan diikatkan di bagian kepala, dukun itu meminta bapaknya Sujana untuk memerintah.
“Berdiri.” Pocong yang wajahnya sudah berubah tidak menghitam lagi, tapi hanya pucat saja itu, sudah memberikan tanda bahwa dia menjadi ruh peliharaan.
Pocong itu yang tadinya masih menjilati wadah sajennya, akhirnya berdiri.
Dia melihat tuannya dengan tatapan kosong, sudah jelas, pocong itu telah mengabdi.
__ADS_1
“Bawa pulang pocong itu, lalu setelahnya terserah kau, dia milikmu, tapi ingat, kau harus kembalikan dia jika targetmu sudah mati, karena kalau tidak, dia akan jadi peliharaanmu selamanya, dia akan terus meminta sajen lalu akhirnya kau akan kesulitan jika masa tua makin tiba.”
“Ya, aku akan pastikan dia mati dulu, baru aku kembalikan.”
Lalu pocong itu mengikuti tuannya pulang ke rumah, kejadian pada hari selanjutnya kalian sudah tahu kan, bagaimana Putri Kencana diganggu oleh pocong berwajah pucat itu.
…
“Putri tidur, sudah dua hari ini dia tidur tidak nyenyak karena ketakutan, tapi dia tak bisa bilang, karena setiap kali dia ingin bilang, tiba-tiba dia tak bisa bicara, seperti mulutnya ditutup oleh tangan dingin dan bau busuk, maka Putri hanya bisa menangis, sedang orang tuanya belum paham keadaan anaknya.
“Putri melihat ke arah jendela, lalu ke arah samping kiri tempat tidurnya, di mana pintu berada, dia celingukan memastikan tak ada pocong yang dia lihat lagi, setelah merasa aman, Putri lalu tidur, dia sudah menyiapkan selimut untuk menutupi tubuh dan wajahnya, dia tak ingin melihat apapun.
Tak butuh waktu lama, dia lalu terlelap, lima belas menit berjalan, Putri tiba-tiba terkejut, tapi seluruh tubuhnya tak bisa dia gerakkan, dari telapak kakinya dia merasakan sesuatu yang sangat dingin, tangan dingin yang memegang telapak kakinya, lalu menjalar ke lutur, paha dan perut, Putri yang tak bisa bergerak berada di dalam selimut yang menutupi hingga kepalanya, hanya mampu melihat sesuatu yang menindihnya, dia menatap ke arah perut, sebuah simpul pocongan di kepala terlihat, Putri menangis, tapi tak bisa bersuara, dia mencoba memejamkan matanya, agar penampakan itu menghilang, tapi tak bisa, matanya terus membelalak.
Sementara dia melihat itu, kepala pocong yang terlihat itu semakin naik ke bagian tubuh Putri, dari perut hingga ke wajahnya, saat ini bahkan wajah Putri dan wajah pocong itu saling bertatapan, Putri menangis karena tak bisa berteriak, tak bisa memejamkan mata apalagi lari.
Dia menangis saja tanpa bersuara, lalu pocong itu bergumam, gumaman yang sudah beberapa hari belakangan ini tak bisa didengar … “AN … TAKA ….” Suara gumaman dan berbisik itu sungguh membuat Putri semakin ketakutan, dia menangis sejadinya hingga dia akhirnya gelap, dia pingsan.
Antaka berasal dari bahasa sansekerta, yang artinya MATI!
Tujuan santet ini jelas, agar Putri Mati, santet tali pocong ini sangat terkenal di kampungnya, santet jenis ini takkan bisa dihentikan sampai target meninggal dunia, santet jenis ini adalah salah satu santet tertinggi di kelas perghaiban, maka, Putri Kencana sulit selamat.
Hingga akhirnya ….
“Pulang Nak, bapak … bapakmu … sudah meninggal dunia.” Suara dari sebrang sana terdengar, suara ibunya Jana yang memberitahu anaknya, bahwa ayahnya sudah meninggal dunia melalui sambungan telepon rumah milik kelurahan, ibunya menelpon kantor Sujana dari sana.
Sujana mendengar itu langsung terjatuh, matanya mengeluarkan air mata tanpa suara, dia ingin menagis tapi dadanya terasa tertindih, dia sesak nafas dan setelah rekan kantornya memberikan air, Sujana baru merasa tak sesak lagi dan mulai bisa bernafas, setelah itu tangisnya batu pecah, dia menangis sejadinya sambil meminta maaf pada bapaknya.
__ADS_1