
“Sudah cukup Nak, jangan lagi, sudah cukup, jangan seperti bapakmu, kemakan oleh emosi dan nafsu dunia, sudah cukup.”
“Bu, Jana sudah coba sabar ... BU! Jana balik ke kota, Jana mau jadi orang kaya supaya bisa buktiin kalau keluarga kita bukan orang yang bisa direndahkan, tapi apa? Bapak meninggal Bu ... Ibu ngurus mayat bapak sendirian, kita kubur mayat bapak tanpa tahlil, padahal dulu bapak selalu paling sigap jika ada warga yang meninggal dunia, tapi ketika bapak meninggal sekarang? Ada yang datang, Bu?”
“Nak, biar itu jadi tabungan ayahmu di akhirat kelak, lagi pula, dia sudah musrik, menyekutukan Allah, Nak, biarlah itu menjadi dosa ayahmu, jangan sampai kau ikutan berdosa Nak, sudah cukup, tak ada yang memikirkan bagaimana perasaan ibu kah, Nak? Ayahmu sibuk memikirkan perasaannya, hingga pergi ke dukun, lalu kau, kau sibuk dengan perasaanmu dan pergi ke kota, aku sendirian Nak, benar-benar sendirian sekarang, Nak. Bisakah kau kali ini pikirkan aku? ajak ibu ke kota, ibu urus kamu lagi, kita ngontrak saja di tempat yang lebih kecil, Nak. Rumah kita jual, bisa jadi modal untuk ibu berdagang di sana, kita mulai hidup baru.”
“Tidak Bu, maaf, aku harus membalas apa yang mereka lakukan pada bapak, sampai itu terjadi, aku takkan berhenti. Maafkan Sujana Bu, lebih baik ibu pindah ke rumah keluarga ibu, biar Sujana di sini, Sujana akan pergi kalau perempuan itu bertekuk lutut di hadapanku!” Sujana lalu pergi, dia hendak pergi ke tempat dukun yang sudah bermuka dua itu.
Sujana menyusuri hutan, tak lama kemudian dia sampai di gubuk milik dukun itu, dia lalu berlari dan mengetuk rumahnya, dukun itu keluar dengan wajah yang ... pucat.
“Siapa kau?” Dukun itu bertanya dengan wajah datar, tak tahu bahwa Sujana adalah anak dari lelaki yang berhasil dia santet.
“Aku anak dari pria yang memintamu mengantet Putri, aku juga anak dari pria tua yang akhirnya kau kerjai balik karena bayaran yang tinggi.”
“Dukun itu mundur, dia yang sedang lemah karena menggempur bapaknya Sujana tiap malam dengan berbagai ruh untuk mengalahkan pocong peliharaannya, hingga menggunakan banyak jin peliharaan, karena tenyata, pocong yang mengabdi pada bapaknya Sujana sangatlah kuat, pertama karena dendam bapak yang begitu dalam, memberi energi buruk yang sangat tinggi pada pocong itu, kedua, ternyata pocong itu adalah mayat seorang lelaki yang bunuh diri, dia mati membawa dendam kesumat pada rentenir, sehingga ruhnya saja sudah gelap, bertemu dengan kegelapan hati bapaknya Sujana, maka makin menjadi-jadilah energinya.
Tidak heran dukun itu juga sangat lemah setelah pertempuran ghaib yang panjang.
“Mau apa kau?” Dukun itu bertanya.
Sujana mengeluarkan golok dari balik pungungnya, dia lalu mencekik dukun itu dan dengan cepat menusuk perut dukun tersebut, dukun itu sangatlah lemah, usianya juga sudah tua, hingga tusukan pertama membuatnya lunglai, walau penuh perlawanan, tetap saja, tusukan-tusukan golok selanjutnya membuat dukun itu akhirnya tumbang, jatuh ke lantai rumahnya, di ruang tamu itu, Sujana lalu menebas leher dukun yang sudah tak berdaya lagi, dia melihat ke arah Sujana dengan wajah yang sangat ketakutan, dukun itu tak menyangka, bahwa dia berhasil mengalahkan pocongnya hingga musnah dan akhirnya membuat bapaknya Sujana juga ikutan meninggal, tapi sekarang dia dihabisi secara membabi buta oleh anak korbannya.
Dukun itu sadar setelah semuanya terlambat.
“Ini mauku, aku ingin kau mati!” Sujana lalu meludahi wajah mayat itu, menginjak kepalanya berkali-kali, tanda betapa dendamnya sangat kesumat.
__ADS_1
Lalu dia pergi ke dapur mencari minyak tanah, dia menemukan minyak tanah dan mulai menyiram ke segala arah, setelah minyaknya habis, dia memantikkan api dan membakar rumah itu, mayat dukun masih di dalamnya, Sujana tak pergi juga sebelum memastikan rumah itu habis dilahap sijago merah.
Setelah sudah memastikan rumah itu rubuh, Sujana lalu pergi, tapi saat pergi, dia melihat siluet perempuan di belakangnya, tapi, dia tak benar-benar bisa melihat wajah perempuan itu, Sujana lalu hanya pergi begitu saja, tapi saat pergi, dia mendengar perempuan itu berkata, BERHENTI!
Sujana yang tadinya hendak pulang, akhirnya berhenti dan melihat ke arah sekitar.
“Berhenti, berhentilah.” Seorang wanita cantik berselendang hijau datang entah dari mana, tiba-tiba saja dia ada di hadapan Sujana.
“Siapa kau!” Sujana mundur dan menghunuskan goloknya, tapi tidak kena, karena memang wujud wanita itu adalah ruh.
“Berhenti, pergi jauh dari kampung ini, berhenti!” Perlahan wanita itu semakin terlihat transparan dan menghilang.
“Siapa kau!” Sujana yang terlihat cukup terpukau dengan wanita yang cantik itu, bingung karena akhirnya wanita itu menghilang.
Tapi sayang, ketika itu, Ayi sedang lemah habis dikerjai oleh Partagah dan dia sudah berputar di gunung Butir-Butir, sehingga dia hanya bisa melakukan pencegahan dengan satu atau dua kata pada kejadian yang ingin dia rubah, maka komunikasi yang berhasil dia lakukan pada Sujana hanyalah memintanya berhenti dan pergi dari kampung itu, agar Sujana berhenti melakukan apa yang dia niatkan, Ayi berusaha agar Sujana bisa lepas dari dendamnya dan tidak menjadi ruh penasaran. Ayi tak bisa berbicara banyak dan harus kembali pada masa di mana dia sedang melihat masa lalu Sujana di gunung itu, maka Sujana saat ini hanya kagum pada kecantikan Ayi dan tidak begitu mempedulikan apa yang Ayi katakan.
Maka menjadi suatu hal yang lumrah, ketika akhirnya Sujana melihat Ayi di gunung itu untuk kedua kalinya dalam wujud ruh yang tersesat dan teringat, kalau wanita itu dulu sekali saat dia belum mati, pernah datang dan memperingatkannya, sedang Ayi yang saat itu belum melakukan Psikometri yaitu kemampuan melihat masa lalu Sujana, belum kenal padanya, apakah kalian mulai pusing dengan penjelasanku? Kalau ya, baca perlahan ya. Pada akhirnya kalian akan menemukan benang merahnya, bahwa waktu memang berjalan berputar, bulak-balik jika akhirnya menemukan sebuah relasi.
Sujana kembali ke rumahnya dan dia menaruh golok itu dibawah lemari, ibunya sudah berkemas, dia tak tahan dengan semua ini, dia takkan mampu lagi membujuk putranya, sudah cukup suaminya melakukan hal yang paling buruk, maka dia takkan sanggup lagi melihat putranya jatuh di jurang yang sama.
“Aku antar ibu ke rumah keluarga ibu, ya?”
“Tidak perlu, kau sudah sangat teguh dengan jalan kotormu, aku tak bisa melakukan apapun selain berdoa, semoga kau bisa kembali ke jalan Allah, Nak. Karena perbuatan syirik adalah perbuatan paling dibenci oleh Allah.”
Tanpa pamit dengan lembut, ibunya pergi dari rumah itu, meninggalkan Sujana yang juga bersiap, dia bersiap akan pergi mencari dukun ternama dan meminta bantuan untuk mengerjai Putri. Target yang akan dia kerjai memang hanya Putri, dia ingin papanya Putri hidup dengan baik agar bisa menderita saat melihat putrinya gila.
__ADS_1
Sujana pergi ke beberapa kampung dan akhirnya menemukan sebuah perkampungan di mana dukun paling termasyur di kamput itu tinggal, katanya, dukun itu adalah guru dari semua dukun di kampung-kampung terdekat, maka Sujana ke tempat dukun itu.
Begitu sampai, dia melihat rumah yang biasa saja, tidak ada aura mistis di sana, bahkan rumah itu terlihat sangat normal dan energi gelap tak terasa sama sekali.
Begitu Sujana dipersilahkan masuk, Sujana melihat beberaa orang wanita baru saja keluar dari kamar dan sisanya masuk ke kamar itu lagi.
Sujana agak kaget karena wanita-wanita itu hanya memakai kain jarik untuk menutupi tubuhnya, dari mulai bawah ketiak sampai paha saja kain jarik itu menutupi. 2 orang wanita keluar, dua orang lainnya masuk dengan memakai kain yang sama, hanya menutup sebaik tubuh mereka.
Butuh waktu 15 menit akhirnya dukun itu keluar dari kamar yang sama juga, kamat wanita kain jarik itu keluar dan masuk yang lainnya.
Dukun itu berperawakan kecil dan gundul, memakai pakaian seadanya begitu keluar dari kamar, sehelai celana bahan yang tipis dan kaus dalam, sarung dia selempangkan di bahu, sarung itu melingkar dari bahu ke perutnya.
Dukun itu lalu duduk di hadapan Mulyana, membakar sebatang rokok, sementara dua orang perempuan berkain jarik yang tadi masuk, ikut keluar dengan rambut yang acak-acakan. Mereka pergi ke sebuah ruangan di belakang, entah apa yang akan mereka lakukan.
“Itu pasien-pasienku, mereka habis aku ruwat untuk buka aura, kau mau memelet wanita itu? mudah, asal maharnya bisa kau penuhi.” Dukun itu seperti tahu isi hati Sujana hingga menjelaskan siapa wanita yang lalu lalang dengan kain jarik itu dan bahkan membaca niatnya datang ke tempat itu.
“I-iya Bah, aku mau memelet wanita itu, dia sudah menolakku dengan kasar dan menghina.”
“Kau mau akhirnya menikah atau mati?”
“Aku ingin dia menjadi gila Bah, aku ingin dia datang ke rumahku setiap hari dalam keadaan bugil dan setiap saat dia selalu menyebut namaku, aku ingin dia dan keluarganya malu seperti mereka mempermalukanku.”
“Mudah itu, tapi ... maharnya mahal ya, karena itu pelet khusus, sekarang siapkan maharnya dulu, kalau sudah siap, kau datang lagi, kita akan adakan ritual, kelak kau akan tahu pelet apa yang akan aku lakukan, pelet paling ampuh untuk orang yang membuatmu sakit hati itu.”
Sujana menyetujuinya dan pamit, sementara saat dia keluar dari rumah, masih ada beberapa wanita yang menunggu giliran, ruwatan macam apa yang hanya mengenakan kain jarik saja di kamar itu, Sujana tersenyum sinis, tapi dia tak peduli, yang dia inginkan hanya segera membalas dendamnya.
__ADS_1