
Apakah kalian tahu, kenapa sebuah gunung merapi bisa meletus? Penyebab gunung meletus sangat dipengaruhi oleh kondisi alam, maka berikut ini bisa jadi beberapa alasan gunung meletus, seperti lempeng yang berdesakan, tekanan tinggi, gempa vulkanik, tektinik, suhu kawah meningkat, peningkatan gelombang magnet dan listrik. Jika saja salah satu alasan terpenuhi, maka gunung yang masih aktif akan meletus. Jangankan masih aktif, yang sudah tak aktif lagi saja, tiba-tiba bisa meletus hanya karena kejadian alam yang memungkinkan.
Maka, seperti inilah kondisi yang dihadapi kawanan, sedari awal Ayi tidak takut kalau mereka sampai puncak, pasti tidak akan pernah bisa masuk, walau ada sedikti rasa takut, yaitu kemungkinan 1% yang bisa saja terjadi dan mengandaskan kemungkinan 99% yang mustahil mereka bisa masuk itu, maka habislah ... mereka.
Ya, Ayi sangat takut, karena ... setelah melahirkan, Kharisma Jagat akan cenderung semakin kuat, apalagi anak yang lahir itu berasal dari dua bibit unggul, Behra dan Bohra, menikah sesama Kharisma Jagat tanpa mengikuti pernikahan jodoh adat, karena mereka menikah dengan alasan cinta.
Ayi sungguh takut kalau gunung itu akan meletus dan akhirnya melahap siapapun yang menghalanginya.
Maka dia meminta kawanan untuk melakukan pembersihan, hal ini di diskusikan oleh Ayi melalui Bagus Heulang, Ayi yang mampu melihat masa depan sedang Aditia melihat masa lalu, berkomunikasi melalui Bagus Heulang, Ayi hanya tinggal bicara panya Bagus Heulang dan Aditia akan menangkap obrolan itu sebagai penglihatan masa lalu. Maka Aditia tak pernah bergerak tanpa persetujuan Ayi.
Sedari awal Ayi tak mengatakan bahwa mereka harus dihabisi, tapi ... bersihkan gunungnya, melihat dari alasan-alasan gunung itu bisa meletus, maka yang Ayi lakukan untuk pembersihan itu adalah untuk mencegah gunung meletus, salah satu alasan gunung meletus itu adalah karena tekanan tinggi, untuk itu Ayi mengusahan agar Tanah Pejuang tak mendapatkan tekanan dari penyerangan yang dilakukan musuhnya, untuk itu dia mengutus kawanan ke sana, untuk membersihkan para bocah cilik yang belajar di taman bermainnya Bagaskara dan merasa sudah menjadi anak-anak dewasa yang mampu mengalahkan kawanan, mereka tak paham bagaimana kawanan ditempa untuk bisa sehebat saat ini. Ini kita baru bicara kawanan, belum penduduk desa tanah penjuang milik Ayi Nusia dan dijaga Mang Nariman dulu, sekarang sudah dipedang Bohra dan Behra.
Kedua, alasan gunung merapi meletus adalah, lempeng yang berdesakan, maka ketika musuh Ayi berdatangan ke sana, pasti menimbulkan perang kepentingan, para anak kecil yang diutus Bagaskara kepentingannya adalah validasi kemampuan, sedang Bagaskara kepentingannya adalah mengalahkan Ayi, sedang kepentingan Ayi adalah, agar gunung merapi tak meletus dan melahap siapapun yang ada di bawah puncak gunung itu.
Tapi di sini kita tak bicara tentang gunung secara harfiah, Ayi bicara tentang bagaimana Behra yang baru saja melahirkan dengan kekuatannya yang paling tinggi, karena berkah yang dia dapat setelah melahirkan anak yang bisa menjaga bumi ini dari kerusakan para jin jahat, lalu Bohra suaminya yang bisa saja sangat murka desanya akan diserang, maka ini yang paling Ayi takuti, gunung akan meletus, maksudnya ... bukan gunung Butir-Butir, tapi ... gunung kemarahan penduduk tanah pejuang.
__ADS_1
Tak tahukah kalian, betapa bagi para penduduk itu, membantai satu-persatu orang yang membuat mereka marah itu mudah, tak peduli kau lawan atau kawan, kau akan dibantai oleh mereka, kenapa begitu? Seperti prinsip gunung api yang meletus dan mengeluarkan lava dan juga lahar panas dan saat itiu, mereka takkan peduli, kau kawan atau lawan, kau akan dibantai tanpa memandang bulu.
Itulah di Ayi begitu takuti, dia tak ingin kalau anak-anak kecil itu yang memiliki kemampuan tinggi, harus mati mengenaskan di tangan penduduk tanah pejuang itu.
Maka gunung yang meletus itu adalah, amarah yang akhirnya dilepaskan dengan wujud pembataian oleh semua penduduk desa tanah pejuang, saat mereka melepaskan amarahnya, mereka akan membuka pintu desa di atas puncak itu, bukan untuk menjamu musuh apalagi membiarkan mereka menguasai desa dan membuat siapapun celaka, karena jelas, hidup mereka lebih panjang, tinggi badan ukuran badan mereka jauh lebih menang, kau tahu kan, mereka juga sangat cepat sembuh saat terluka, karena mereka hidup sangat teramat alami di sana.
Lalu apa kau pikir para bocah ingusan yang dipimping Atami, Asti, Masti, Tami & Zarik bisa selamat dari pembantaian itu? sedang Kawanan sedang ada di sana, apakah kawanan juga bisa selamat?
Maka satu-satunya cara untuk Ayi bisa menyelamatkan semua orang, baik penduduk desa tanah pejuang agar mereka tidak membantai dan makin dimusuhi oleh semua orang petinggi ranah ghaib dan bisa saja kelak mereka akan cari cara untuk mengkudeta agar desa itu hancur dengan mengirim semakin banyak serangan.
Begitu juga dengan bocah ingusan kirim Bagaskara yang sangat Ayi khawatirkan akan menjadi orang-orang yang dibantai oleh para penduduk desa di atas puncak itu.
Ayi berusaha agar tak ada lagi korban dalam pertengkaran ini, Ayi sudah muak dengan begitu banyaknya korban yang harus timbul karena peperangan mereka. keputusan Ayi mengirim kawanan adalah untuk mencegah gunung api amarah desa tanah pejuang akhirnya meletus, maka semua orang yang ada di gunung itu takkan selamat, mungkin termasuk orang biasa yang hendak naik gunung, walau gunung ini bukanlah gunung yang umum untuk daki, tetap saja ada orang-orang biasa yang suka mendaki ke berbagai gunung yang dianggap kramat.
Ayi sungguh ketakutan membayangkan bagaimana penduduk desa itu akan membabi buta membantai siapapun di sana untuk melindungi desanya, desa turun temurun sejak Ayi Tirung bagun desa itu di sana, bagi mereka desa itu adalah harga mati, tak heran jika saja akhirnya mereka akan menjaga desa dengan hidup mereka, karena desa mereka adalah harga mati. Ayi mencegah agar amarah mereka tak seperti gunung merapi yang meletus, melahap siapa saja yang ada di bawah puncak gunung dengan lava dan lahar yang panas untuk meluapkan emosinya.
__ADS_1
“Har! Apakah kau menemukan Rangda!” Jarni terlihat khawatir karena dia tak merasakan energi Rangda di sana, artinya apakah Rangda masih belum ketemu?
“Tidak, aku tidak menemukan Rangda, aku sudah meminta semua orang untuk turun, para pasukan bedebah itu hanya bocah-bocah ingusan yang bahkan diantaranya bukan Kharisma Jagat dan hanya dukun junior biasa! Bedebah sekali musuh Ayi itu, mereka akan menumbalkan banyak bocah ingusan untuk membuat penduduk desa murka dan memancing mereka keluar, membantai mereka dan membuat Behra harus bertanggung jawab pada pembantaian itu. Maka sekutu Ayi berkurang satu, itu yang mereka harapkan, tapi sayang, mereka lupa Ayi punya kita!” Hartino lalu menggendong Alisha yang terlihat semakin lemah, mereka akan segera turun dan membuat gunung kembali tenang kembali tanpa tekanan sam sekali dan pembantaian itu takkan pernah terjadi, karena kawanan berhasil meredam amarah para penduduk desa tanah pejuang itu, dengan membuat gunung bersih dari musuh dan tenang.
Jarni, Hartino dan Alisha yang digendong Hartino buru-buru turun gunung, mereka harus segera, hanya agar tak terjadi pembantaian yang dilakukan sekutu Ayi itu.
Sementara Aditia, Ganding dan Datona terus saja melanjutkan perjalanan mereka tanpa menoleh kebelakang.
Tak lama kemudan Hartino, Alisha dan Jarni sudah berkumpul dengan Aditia, Aditia lega melihat mereka.
“Jadi apa rencanamu?” Hartino bertanya pada Aditia yang sedang kebingunan.
“Kita akan menyerahkan mereka pada Ayi Mahogra, mereka akan menjadi milik Ayi kelak, bisa saja ditawan atau malah dibina, entahlah, itu urusan Ayi.”
“Seharusnya kalian semua itu bersyukur, karena kalau bukan karena Ayi ingin melindungi kalian, Ayi tak perlu repot mengutus kami ke sini untuk menyelamatkan kalian, yang mau diselamatkan malah semakin bodoh.”
__ADS_1
Atami terlihat tak suka dengan pernyataan Hartino itu, karena dalam ingatan mereka, Ayi Mahogra adalah wanita iblis, ingatkah kalian soal kata yang dicapkan pada kening Ayi tanpa terlihat? Ya ... itu adalah WANITA IBLIS, padahal mereka belum ketemu dengan Ratunya sama sekali, tapi sudah jago menghakimi.
Maka kali ini apakah pandangan para sandera akan berubah setelah berkenalan dengan Ayi yang mulia itu?