
Jika kalian membenci seseorang, apakah kalian mampu melihatnya? Apakah kalian ingin melihatnya? Jika saja kebencian kalian hanya soal tersinggung karena tersilap kata, mungkin kalian masih bisa melihatnya sejenak jika saja tak sengaja papasan, tapi jika orang itu yang menjadi salah satu penyebab matinya orang yang kalian sayang, lalu apakah kalian bisa menatapnya?
Jika kalian ingat, bahwa aku berkali-kali mengatakan, Ayi tak pernah bisa melihat wajah Alka, jika saja dia melihat wajahnya, maka Ayi akan mengamuk, dia bahkan pernah membaut wajah Alka gosong sebelah dan membaut cambuknya memendek karena sangat tak mampu melihat wajah itu.
Bahkan terakhir kali Ayi menemui Alka dalam mimpi, Ayi meminta Alka untuk duduk di sampingnya, di dunia ghaib itu, tapi Alka menolak, dia tetap berada di belakang Ayi, dia bahkan tetap menyembunyikan wajahnya ketika Ayi menatap untuk mengatakan agar Alka tidak ikut ke AKJ dan mencari alasan agar bisa berpisah dari kawanan.
Jika kalian ingat itu, maka kalian sudah menemukan jawaban dari, kenapa Alka akhirnya mampu mengetahui yang mana Ayi asli dan yang bukan, hanya dari menatapnya. Betul sekali, hanya dari menatap Alka tersadar sesuatu.
Ayi yang asli, takkan pernah mempu menatap Alka lebih dari 4 detik, karena lebih dari itu, Ayi akan mengamuk.
Maka ketika Alka mendekati Ayi yang datang dari pintu aula dan memaksanya menyerap energi bulan sinar bulan purnama, Alka belum sadar, bahwa Ayi yang palsu itu mampu terus menatapnya dan membujuk menyerap sinar bulan purnama.
Tapi ketika Ayi memasang pagar agar sinar bulan purnama tak terserap di tubuh Alka dalam wujud jinnya, Alka menatap Ayi, di titik itu Ayi juga menatapnya, tapi setelah 4 detik, Ayi Mahogra menunduk, menahan marah karena menatap wajah yang menjadi alasan Pramudya Aksara meninggal dunia.
Dari sana Alka tersadar sesuatu, bahwa Ayi yang tadi baru saja datang itu, terus menatapnya dengan tegas, tidak pernah sedikit pun menunduk karena menahan marah. Sedan Ayi yang ini, tidak pernah mampu menatapnya lama. Maka Alka jadi yakin, kalau Ayi di hadapannya adalah Ayi asli.
Bukankah kalian sekarang ingat, kalau banyak di kisah ini ataupun kisah sebelumnya selalu aku tuliskan Ayi tak pernah bisa menatap wajah Alka karena kemarahannya pada Saba Alkamah atas kematian Pram, lalu kenapa kalian masih bertanya cuma tatap-tatapan aja Alka bisa sadar, padahal jawaban sudah aku tebar di mana-mana, pasti kalian lupa lagi.
Alka tersadar bahwa ini adalah rumahnya yang belum bisa dia tinggali, soal kenapa Ayi melarangnya menyerap sinar purnama, dia juga tak tahu, kenapa Ayi bersikeras kalau Alka bahkan tak boleh berubah wujud di AKJ, padahal sebelumnya dia juga pernah berubah wujud di AKJ, tapi tak masalah, lalu kenapa saat malam tadi dia begitu takut Alka berubah wujud.
Hanya Ayi yang tahu.
“Kau yakin akan memberitahu semua orang soal rahasia yang Ayi Sarika katakan padamu melalui mimpi?” Malik bertanya pada istrinya yang sedang tidur di samping suaminya itu.
“Aku tak bisa lagi menutupi apapun, keputusan ada di tangan mereka, aku ratunya, tapi aku bukan penentu kehidupan mereka, cukup sekali aku salah dan aku akan selalu buat keputusan yang adil, aku kemarin memang cukup sekarah, ingin AKJ tetap berdiri, ingin kawanan tetap bersamaku dan ingin Alka tetap selamat tanpa dihakimi.
Maka sekarang, aku ingin semua orang ikut andil dalam ambil keputusan.”
“Aku akan setuju padamu, tapi aku mohon, jangan salahkan dirimu atas apa yang terjadi pada Alka, ktia tak mungkin bisa menemukannya kalau musuhmu membuat AKJ palsu di dunia ananta, kita bahkan tak bisa melacaknya sama sekali.
Terakhir kali kau menyelamatkan Panglima dan Raden saja harus lepas raga dan membuat janinmu terancam. Maka ini bukan salahmu.”
“Malik, tenang saja, aku bisa terima salah ini dengan tenang, aku memang salah, tak seharusnya aku memisahkan mereka, pasti ada jalan lain, pasti!” Ayi semakin yakin.
Lalu akhirnya Malik memeluk istrinya yang sangat tangguh ini, karena tentu saja, hanya wanita tangguh yang mampu bertahan dalam situasi menegangkan seperti semalam dalam keadaan hamil besar, masih terus bisa melindungi Alka dan juga memastikan kalau AKJ aman.
“Apakah kau benar-benar suka dengan jalan hidup seperti ini?” Malik bertanya dalam keadaan memejamkan mata, dia memeluk kekasih jiwanya pada bagian perut, sementara Ayi hanya bisa tertidur dalam keadaan miring membelakangi Malik, dia suka dipeluk dari belakang oleh suaminya.
“Tidak, aku bersyukur pernah hidup normal karenamu, karena kau menjadi tamengku, tetap mencari sekutuku dengan ngilmu, mengumpulkan mereka dengan karembo hejoku, bahkan hampir mati karena itu, aku hidup dengan normal, apa yang aku takutkan saat itu hanya kehilanganmu, selalu merasa bahwa aku mengejarmu terus sementara kau tak mencintaiku, tanpa tahu kalau kau sudah babak belur untuk tetap membuatku hanya khawatir pada hal sepele seperti cintaku padamu yang terasa tak bersambut, padahal yang kau hadapi untuk membuatku hidup normal jauh lebih berat.
Tapi, walau aku tak suka, aku harus tetap menerima bahwa aku adalah Ayi Mahogra yang takdir hidupnya berdiri di dua alam, karena sadar aku takkan bisa selamanya kabur dari takdir ini, kau juga mempersiapkan penjara di bawah rumahmu itu untuk jin-jinku kan? kau juga tahu bahwa suatu saat, aku akan mengemban tugas ini.”
“Ya, dan saat itu yang aku takutkan hanya satu, kehilanganmu. Aku bisa gila jika itu terjadi.”
“Tapi kau bertahan sejauh ini, aku sungguh berterima kasih Malik.”
Mereka berdua lalu tertidur begitu saja menikmati sisa malam purnama yang menegangkan malam ini, purnama ke 7 telah terlewat dengan sangat berat.
__ADS_1
…
Pagi hari tiba, Alka terbangun dengan terkejut, ingatan masih ditahanan membuatnya terbangun, saat melihat Aditia duduk di samping tempat tidurnya, Alka mundur dan bersiap menyerang.
“Ini aku.” Aditia menatapnya tanpa membuka mulut, dia berbicara dengan batinnya.
Alka lega dan mulai ingat kejadian semalam, dia sudah di rumah.
Alka memeluk Aditia, tak peduli apapun yang akan terjadi, dia butuh memeluk kekasih jiwanya.
Aditia membalas pelukan itu dengan memeluk Alka sangat erat, sampai sesak.
“Sakit.” Alka terbatuk karena Aditia memeluknya berlebihan.
“Maaf, aku minta maaf.”
“Tenang saja kasep, aku kan kuat!” Alka bercanda.
“Bukan soal pelukan itu, tapi soal … meninggalkanmu sendirian.”
Alka terdiam.
“Bukan kau yang meninggalkanku, aku yang meninggalkanmu.”
“Maaf karena aku percaya begitu saja. Maaf kalau ….”
"Ya, karena perintah Ayi pasti untuk kebaikan kita, itu yang kita yakini." Aditia tertunduk.
"Jangan merasa bersalah untuk keadaan yang memang kita semua tahu, tak bisa apa-apa." Alka mengingatkan kekasih jiwanya dan memegang tangannya, menikmati keaslian tubuh dari yang dia rindukan ini.
"Kenapa?" Aditia bertanya karena tiba-tiba Alka terdiam sambil melihat ke wajahnya Aditia.
"Tidak apa-apa, hanya ... aku ingin melihat wajahmu saja." Alka tersenyum, Aditia memegang wajahnya.
"Apa di sana kau pernah merasa ketakutan?" Aditia bertanya.
"Tidak, sama sekali tidak, aku hanya khawatir kalau kita berpisah tapi tanpa berpamitan satu sama lain, kalian pasti akan sangat menderita dan merasa bersalah." Alka mengatakannya dengan tulus.
"Kau wanita yang sangat berani, aku kagum itu."
"Aku sudah dididik ayahmu dengan baik, jadi ... tidak mungkin aku tak tangguh."
"Bisakah mulai sekarang kita selalu bersama." pertanyaan yang menyesakkan datang dari pria yang biasanya selalu menerima.
"Hidup dan mati bersama!" Alka mengatakannya berbisik, meledek slogan mereka.
"Tentu saja itu benar, tapi apakah akan selalu begitu?"
__ADS_1
"Akan selalu begitu, karena kita punya ratu yang sangat hebat, dia akan selalu memikirkan kebaikan kita dulu, baru dirinya, sekarang aku paham kenapa dia menjauhkanku."
"Kenapa?" Aditia bertanya.
"Saat semalam, apakah kau dengar gemuruh dan petir yang menyambarku?" Alka balik bertanya.
"Ya, ketika kau keluar untuk mengejar mereka yang menyamar menjadi kita semua."
"Saat petir itu menyambarku, aku sama sekali tidak merasakan apapun, tidak terkejut, tidak merasa kepanasan apalagi terbakar, aku merasa ... sangat nyaman dan merasa energiku sangat tinggi, aku merasa bahwa ... energi jinku sangatlah kuat, aku kira ini semua karena ...."
"Hei kak, sudah bangun? Ayi sudah menunggu kita semua untuk sarapan dan juga dia akan menjelaskan segalanya di sana, tapi kita semua harus makan dulu, ayo kita ke sana." Jarni datang tiba-tiba, dia terlihat senang karena Alka sudah bugar kembali walau tubuhnya masih babak belur, biasanya Alka selalu mampu memulihkan dirinya dengan cepat, tapi entah kenapa memar yang dia alami saat ini tidak bisa cepat sembuh.
"Ya, aku dan Aditia akan ke sana, sebentar aku ganti baju dulu, Dit, duluan sama Jarni ke aula, aku ganti baju dulu."
"Tidak, aku akan menunggumu di luar kamar, aku tak mau meninggalkanmu." Aditia bersikap sangat protektif, dia tak ingin berpisah dulu dari kekasih jiwanya.
"Baiklah tuanku yang sangat galak, tunggu aku di depan kamar ya."
Jarni pergi duluan ke aula dan Aditia menunggu Alka di kamar.
Alka membuka baju dan betapa terkejutnya dia, luka memar tak sembuh dan juga luka-luka lain, seharusnya luka cepat sembuh karena Alka memiliki kemampuan menyembuhkan diri dengan cepat, tapi luka ini terlihat sangat kentara dan ... sakit!
"Ka, sudah? kok lama?" Aditia hanya memastikan kalau Alka ada di dalama sana.
"I-iya Dit, sebentar." Alka buru-buru memakai baju tangan panjang agar seluruh memar tertutup, karena yang terlihat sama sekali tak seberapa dibanding yang tak terlihat, dia babak belur.
Alka lalu setelahnya keluar, Aditia mengulurkan tangan untuk bersama-sama ke aula, Alka tersenyum, jika saja waktu bisa berhenti, Alka ingin hidupnya berhenti saat tangannya digenggam Aditia, rasanya sangat ... nyaman.
_______________________________
Catatan Penulis :
Ada dari kalian yang masih menyangka masih ada plot twist pada bagian ini? Masih merasa aku akan menipu kalian lagi? kalau ada jujur ya.
Ini namanya sebuah kemampuan melindungi diri dari alam bawah sadar kalian, karena kemarin-kemarin aku sering menipu kalian, jadi kalian memasang pertahanan yang bernama antisipasi, seolah akan ada plot twist lagi yang kalian pikir akan siap untuk keadaan itu, tapi tidak kok, ini benar-benar beberapa bab sampai selesai bab penyelamatan Alka dan kita akan masuk kasus baru.
Balik lagi ke kemampuan melindungi diri dari alam bawah sadar yang kalian merasa apa jangan-jangan Author masih akan memberikan plot twist lagi, rasa curiga itu datang dari terlalu seringnya dibohongi, dalam kasus ini ringan, karena Author hanya berniat memberi plot twist ketika memberikan naskah yang berputar dan terkesan menipu, jadi efeknya kalian hanya kaget.
Tapi bagaimana jika ini terjadi pada hubungan cinta? alau kalian dibohongi, maka mekanisme pertahanan dari alam bawah sadar kalian selalu melindungi dengan sikap tak percaya pada semua kebaikan yang datang, tentu saja, itu bukan hal buruk, alam bawah sadar kalian hanya sedang menjaga kalian untuk siap dengan keadaan yang terburuk.
Makin sering kalian disakiti, makin sering kalian berantisipasi pada orang baru yang datang atau bahkan orang baru yang membuat kalian tertarik.
Jadi ... jangan anggap orang yang punya rasa percaya rendah pada setiap orang itu orang yang jahat dan aneh, percaya ini saja, orang itu melalui banyak rasa sakit saat dia selalu percaya dan akhirnya ... menjadi tak percaya siapapun ketika bahkan hal baik datang.
Pada part ini aku hanya ingin memberitahu kalian tentang psikologi seseorang yang sering sekali dibohongi dan disakiti selama hidup, lalu dia menjadi tak percaya pada siapapun lagi, bahkan ketika yang datang adalah orang yang tepat. Tetap saja, dia akan antispasi kemungkinan terburuk, karena takut ... takut akhirnya sakit lagi. Itulah yang mungkin sedikit kita semua belajar lagi pada part ini, aku harap siapapun kalian yang saat ini sedang menahan perih dan sakit karena apapun, bisa kembali sembuh dan percaya, bahwa pada akhirnya akan ada seseorang yang mampu memberikan rasa aman dan percaya, seperti Ayi Mahogra yang walau benci tapi tetap memberikan rasa aman dan percaya pada Alka.
Terima kasih PKJ Addict, aku sayang kalian semua.
__ADS_1