
Aditia berjalan di sebuah hutan yang tidak dia kenali, dia tidak ingat apapun tentang sedetik lalu yang terjadi dan mengapa dia ada di sini.
Aditia berjalan terus hingga menemukan sebuah sungai, cahaya matahari tidak terik, tidak juga mendung, hanya hangat saja, kehangatan menera tubuhnya.
Saat terus berjalan, dia melihat seorang perempuan sangat cantik sedang mandi di sungai itu, memakai kemben dan kain jarik menutupi tubuh bawahnya, kulit wanita itu sangatlah putih bersih, rambutnya tergerai panjang hingga menyentuh air sungai, padahal wanita itu sedang berdiri sembari mengusap tangannya, hal yang biasa dilakukan jika kau sedang mandi.
Aditia masih tak paham, pemandangan apa ini, kenapa wanita itu cantik sekali, semakin diterpa angin, semakin memabukkan wangi yang berasal dari tubuh wanita itu, Aditia lalu berjalan mendekatinya.
“Bolehkah aku tahu siapa namamu?” Aditia bertanya, wanita itu yang tadinya hanya terlihat wajah bagian kanannya saja, sekarang terlihat secara sempurna seluruh wajahnya karena sapaan Aditia tadi. Tentu saja, wajah itu tampak sangatlah sempurna juga.
“Aku yang seharusnya bertanya siapakah kamu, kenapa kau berada di sini? apa kau sedang mengintipku mandi!” Wanita itu seketika tersadar bahwa saat ini dia hanya memakai kemben dan juga kain jarik untuk menutupi tubuhnya.
“Tidak, aku tidak pernah bermaksud mengintip, untuk apa aku mengintip seseorang yang mandi, aku hanya pemuda yang tersesat dan tak ingat apapun.” Aditia menyangkal tuduhan itu.
“Aku tahu kau pasti bohong, kau adalah pemuda yang suka mencuri selendang saat aku sedang mandi, kau pasti mengincar tubuhku bukan?” Wanita itu bergegas mengambil selendangnya, takut kalau Aditia mengambil selendang itu dan akhirnya dia tak bisa pulang ke khayangan.
“Aku tak berniat mengambil selendangmu, lagian ... serius dari sekian banyak legenda kau memilih Jaka Tarub? Oh ayolah, kau pikir aku mudah dibodohi oleh paras cantikmu itu? mungkin jika kau menggodaku sebelum bertemu dengan Saba Alkamah, aku bisa saja tergoda, tapi sayang, kau menggodaku saat hatiku sudah tertawan pada lanjo. Aku tak bisa menyukai siapa pun selain padanya, kau kurang beruntung.” Aditia mengeluarkan tombaknya dan menombak wanita yang sok cantik itu.
Tombak meleset karena wanita itu berhasil melarikan diri, tapi Aditia tahu, tombaknya mengenai bahu wanita itu, bisa dikatakan menyerempet hingga membuat bahunya terkoyak.
Seketika pemandangan sungai dan matahari yang hangat hilang, berganti menjadi pemandangan gunung dan matahari baru saja mau terbit, mereka menggunakan tipu daya pada pikiran Aditia yang sedang kelelahan.
“Dit!” Ganding mendekati Aditia yang tiba-tiba roboh.
“Mereka menggendamku!” Aditia kesal karena mereka berhasil menggendam dirinya, hal yang sulit dilakukan oleh siapa pun, kecuali Kharisma Jagat dengan kelas yang sama, karena perlu menyatukan energi untuk mengalahkan energi yang lain.
__ADS_1
“Kau keluar dari pagar Jarni, kami semua tertidur karena kau bilang akan jaga duluan, hingga aku terbangun setelah tak lama tertidur, aku sadar kau menghilang, lalu aku meminta semua orang tetap di dalam tenda itu, tenda yang sekelilingnya dipagari oleh Jarni, aku mencarimu sendirian, kenapa kau bisa terpancing keluar?” Ganding menjelaskan sekaligus bertanya.
“Aku tidak tahu, aku tiba-tiba terbangun di hutan rindang itu, ada sebuah sungai, wanita cantik yang sedang mandi, wanita itu cantik, menyerupai bidadari, tubuhnya diterpa cahaya matahari yang hangat, semakin terlihat sangat putih bersih dan bersinar, wajahnya begitu melihatku, sangatlah cantik dan ....”
“Kau bisa ditipu hanya dengan wanita berwajah cantik?” Ganding kesal karena merasa Aditia mudah sekali digoda.
“Kau jangan bicara sembarangan, kau pun sempat terpukau saat kita bertemu dengan Kemala, apakah lalu kau bisa dianggap mudah digoda!” Aditia kesal dibilang mudah tergoda.
“Heh, kalau itu kita semua sempat terpukau kan? bukan tergoda!” Ganding menyangkal.
“Aku memang sempat terlena dengan wajah yang begitu cantik itu, tapi entah kenapa ... bayangan Alka terus saja terlihat di pelupuk mataku, makanya aku tersadar, kalau tempat itu adalah palsu. Hanya tipu daya.” Aditia tetap tak menemukan ingatan awalnya kenapa dia bisa keluar dari tenda itu, kenapa dia bisa terpancing keluar, tidak mungkin mereka bisa menipu Aditia yang ada di dalam pagar Jarni dengan mudahnya kalau pancingannya tak membuat Aditia percaya dan mengambil resiko dengan keluar dari tenda dan pagar Jarni.
Lalu pertanyaannya, apakah kalian ingat, siapakah diantara 5 Kharisma Jagat yang mungkin menipu Aditia? Lalu kira-kira apa yang membuatnya berani untuk keluar?
Sedang nun jauh di sana, ada seorang wanita yang masih disekap, dengan tangan dan kaki terikat, dia ada di tempat tidur dengan lemah, seluruh tubuhnya tak bisa lagi dia gerakkan, karena sudah sangat amat lemah.
“Aku rindu Aditia, aku rindu adik-adikku, aku ingin bertemu mereka.” Alka memohon pada lelaki yang saat ini sedang menyamar menjadi kekasihnya, Aditia Kamajaya, dia sengaja mengolok Saba Alkamah dengan tubuh Aditia yang palsu itu.
“Mudah saja, aku bisa bawa yang lain dan kita bisa pura-pura jadi mereka.” Aditia palsu berkata dengan entengnya.
“Kau tahu kenapa aku langsung sadar kalau kau bukanlah Aditia yang asli ketika itu, ketika aku berhasil kabur?”
“Insting?”
“Bukan, tapi hati, hati kami tertaut karena Lanjo, kalian pasti sudah tahu soal itu, kalian juga pasti tahu apa penyakit itu bukan? bukankah kalian juga memiliki Karuhun.” Alka berkata dengan lemah.
__ADS_1
“Tentu saja, tapi itu penyakit langka! Hanya sedikit Kharisma Jagat yang bodoh seperti Aditia Kamajaya ini.” Lelaki itu menunjuk dirinya sendiri, tentu saja hinaan itu untuk tubuh yang dia samarkan.
“Tidak, kau salah, penyakit itu bukan untuk orang yang bodoh, tapi penyakit itu untuk orang yang sangat kuat, karena saking kuatnya, dia mampu menguasai karuhun pertamanya dengan penguasaan penuh. Bukankah kalian semua mendapatkan Karuhun karena turun temurun? Dididik menjadi hebat agar menarik perhatian Karuhun kalian dan akhirnya mereka mau mengabdi, sedang Aditia, dia tak perlu warisan Karuhun, karena siapa pun yang melihat jiwanya, pasti akan mau menjadi karuhunnya, tepat setelah itu, maka lanjo akan menjadi penyakit bagi orang yang kekuatannya sangat tinggi.
Kalian semua, tak sebanding dengan kawanan, walau kalian menyamar menjadi mereka dan mencuri sedikit energinya hingga terasa seperti mereka, tetap saja, kalian bukan lawan yang sepadan dengan kekasih dan adik-adikku.”
“Diam kau wanita brengsek, sudah mau mati saja masih bisa meracau!” Aditia Kamajaya palsu itu lalu berdiri dan menusuk kembali perut Alka dengan sebilah keris, Alka muntah darah, dia terbatuk karena menahan sakit, tak bisa menghindar karena tangan dan kakinya diikat.
Tusukan entah keberapa kalinya di perut, membuat Alka kesakitan, seharusnya dia bisa menyembuhkan dirinya sendiri, tapi saat ini sulit baginya melakukan itu, karena dia sudah lemah dan keris yang menusuknya sudah dimantrai, ada kutukan penyakit di sana.
“Jika saja mereka tahu kalian memperlakukan aku seburuk ini, maka mereka takkan pernah melepaskan kalian, kekasihku akan memburu kalian hingga tak tersisa daging dari tubuh kalian, percayalah.” Alka menangis karena sakit yang begitu hebat dari seluruh tubuhnya, dia merasa ajal semakin dekat.
“Kita lihat saja, seberapa lama kau akan bertahan, karena sebentar lagi, kau juga akan mati, begitu juga para kawanan yang kau agungkan itu.”
Lalu lelaki itu keluar, dia mengunci pintu penyekapan Alka dan kemudian berkumpul dengan para pasukan lainnya di aula besar, Tuan Bagaskara sedang mengundang semua orang untuk makan bersama.
Mereka sedang merayakan kemenangan yang hampir terjadi, mereka telah memegang pasukan-pasukan Kharisma Jagat, mereka yakin kalau Ayi saat ini adalah pada kondisi terburuknya dan bulan purnama ke tujuh hampir saja tiba, maka saat itu adalah saat terkuat bagi mereka untuk membantai AKJ dan juga ratunya, mereka sudah memiliki rencana yang sangat amat matang untuk bisa menyerang dengan hasil yang sudah mereka pastikan akan menang.
Bagaskara mengangkat gelas winenya dan berkata, “Wanita muda itu harus diberi pelajaran, bahwa kekuasaan negeri ini tidak bisa dipimpin hanya dengan ketulusan dan kejujuran saja, negeri ini haruslah dikendalikan dengan kekuasaan dan uang, didapatkan dengan segala cara agar semua orang tunduk pada kita.
Apakah kalian rela dipimpin gadis muda yang bahkan tak paham bagaimana memimpin AKJ, kita bisa menyelinap dengan mudah dan hampir saja memegang lehernya untuk dihabisi, itu hanya peringatan saja, maka kelak, aku pasti bisa mencekik lehernya langsung.
Atas nama tuan yang mulia, tuan kita semua. Atas nama negeri ini yang kekuasannya dilumuri darah para tumbal bulan purnama, jayalah kita semua!” Bagaskara meminum wine dari gelasnya diikuti semua orang dan gemuruh yang mengerikan, seolah mereka telah menghabisi seluruh pasukan kharisma jagat, satu yang mereka tak paham ada seorang wanita yang hampir sampai ke sana, dia hampir sampai ke tempat itu, AKJ yang mereka samarkan, tempat di mana Bagaskara duduk di singgasana Ayi Mahogra, singgasana palsu tentu saja karena AKJnya saja palsu.
Bagaskara tak tahu, siapa yang sedang memburunya saat ini.
__ADS_1