Pasukan Kharisma Jagat

Pasukan Kharisma Jagat
Bagian 41 : Penyelamatan Alka


__ADS_3

“Mau sampai kapan kau bersikeras menahan energimu? Hanya tersisa sedikit saja bukan?” Seorang lelaki yang menggunakan wajah Aditia sudah duduk di samping tempat tidur Alka, wanita itu sudah berwajah sangat pucat, tak punya sedikitpun energi untuk bahkan sekedar membuka mata.”


Dia memang menahan energinya agar tak keluar lagi, karena untuk bisa menjadi persembahan bagi bulan purnama, maka kau harus bersedia memberikan energimu secara sukarela tanpa dipaksa, maka dia menahan sisa energinya agar tetap bisa bertahan hidup.


“A-aku ... takkan pernah biarkan kau menguasai hidupku, kalian takkan pernah bisa mendapatkan hidupku.” Alka menjawab dengan sisa energinya.


“Bukankah malam ini adalah malam purnama ketujuh, maka ini saatnya menghabisi wanita iblis yang kalian selalu benggakan itu.”


Aditia palsu itu berdiri dan membopong Alka di bahunya.


“Mau kau bawa kemana aku!” Alka berteriak, untuk pertama kalianya dia menangis, sungguh dia merasa terombang-ambing dalam takdir yang berat ini.


Alka melihat bahwa dia masuk ke dalam suatu aula yang sangat besar, aula itu sungguh besar hingga menampung banyak orang, dia melihat semua orang memakai jubah berwarna putih, jubah itu bertudung dan mereka semua memakai tudungnya di kepala, hingga tak satu pun wajah mereka terlihat.


“Kau tahu, ini hanya sebagian dari kami, kalau kau melihat wajah mereka, pasti kau akan tahu di mana kau sering melihat mereka, karena mereka ada di setiap jabatan penting di negeri ini.


Kau pikir, kami bertahan hidup hanya dari omong kosong adat Pasundan? Kau salah, omong kosong itu kami gunakan untuk membuat keributan, mengadu domba dan bahkan mencelakai orang-orang yang sok pahlawan seperti Ayi Mahogra sang iblis perempuan yang membuat kami rugi dalam beberapa tahun terakhir ini.


Wanita sok tak butuh uang itu bahkan melempar 1 koper besar uang yang aku sodorkan sebagai buah tangan karena kunjunganku.


Aku mengundangnya untuk makan malam pada kehamilan pertamanya, aku mengundangnya agar dia mau menjadi sekutu kami dengan begitu, aku berjanji akan mengeluarkan suaminya lebih dari pada waktu yang ditetapkan pengadilan, tapi wanita busuk itu malah berkata bahwa uang tak pernah menjadi masalah baginya, dia bahkan membanggakan betapa dirinya terbiasa susah dan pernah 2 tahun penuh tinggal di hutan makan ala kadarnya agar bisa menyatukan seluruh Kharisma Jagat untuk bisa kembali bersatu dan melaksanakan tugasnya sesuai berkah yang Tuhan berikan.


Si sombong dan angkuh itu bahkan berani menatapku dengan tajam, anak kemarin sore itu tak tahu, aku bahkan melewati kematian untuk bisa mengendalikan negeri ini dan sekarang wanita ingusan itu berani menolakku dan memintaku untuk tidak berusaha menemuinya lagi, dengan pongah dia menuruh hewan peliharannya mengusirku dan membuatku terhina karena harus membawa kembali buah tangan itu.


Aku ingat bagaimana bocah perempuan ingusan itu sangat bangga pada gelarnya, padahal gelar itu takkan berguna jika tak ada pengikutnya, makanya sekarang dia menghimpun kekuatan untuk menjadi bala tentara yang kelak akan menggantikanku sebagai pemimpin dari pengendalian pada negeri ini.


Jadi, antara aku dan Seira, tak ada perbedaan sama sekali, siapa pun yang memimpin, kami akan tetap menjadi orang yang serakah dan mengendalikan kalian.

__ADS_1


Tak akan ada bedanya, kau memihakku ataupun wanita itu.” Bagaskara merubah wujudnya dari Aditia menjadi dirinya sendiri, lelaki tua yang terlihat berumur, Alka menakar umurnya mungkin 60 atau 70 tahun, tapi mereka tak tahu dia bahkan berumur lebih dari itu.


“Ada bedanya, dia memimpin kami semua dengan ketulusan, sedang kau dengan keserakahan, jangan bilang tak ada perbedaan, sedang dengan jelas bahwa kalian menciptakan banyak rasa takut agar orang-orang itu tunduk, sedang bagi Ayi, dia mengusahakan kebaikan pada semua orang agar tugasnya tetap bisa dilaksanakan sebagai pemimpin dari Kharisma Jagat dan mampu menyatukan mereka semua menjadi kesatuan yang membantu menyeimbangkan dua dunia, menjaga dunia ini tetap ada hingga kiamat tiba.” Alka muntah darah karena memaksa berbicara sepanjang itu, dia lalu ambruk karena saat berbicara, Bagaskara telah menurunkan Alka dari bahunya dan menyandarkan dirinya pada salah satu tiang di ruangan itu.


“Tuan sudah waktunya, ini sudah bulan purnama ketujuh, sejak terakhir kita serang dia di apartemen itu, dia sudah semakin lemah karena kehamilan, makanya sekarang kita akan menyerang dia di kediamannya sendiri.” Bagaskara bersiul lalu dua orang menarik Alka untuk ikut duduk di antara semua musuh Ayi yang duduk melingkar, Alka ada di bagian paling depan lingkaran itu, sedang Bagaskara menjadi orang yang di paling depan pada lingkaran, kalau dilihat dari atas, dia terlihat seperti inti lingkaran. Seolah dia adalah bumi di mana bulan dan matahari mengelilinginya. Tentu saja teori ini masih terus dibantah, walau datang dari Aristoteles yang seorang filsuf ternama dari Yunani.


Tapi tentu saja hal ini dilakukan oleh sekutu Bagaskara yang mengangapnya pusat semesta. Padahal dia hanya seorang kakek tua yang hidupnya ingin abadi.


Alka yang sudah sangat lemah tak paham apa yang hendak mereka lakukan, tapi satu yang Alka paham, bahwa ini dilakukan untuk mencelakai ratunya.


Dia terus bertahan agar mampu melihat, bahwa dia tidak pernah salah berpihak pada seorang wanita bijak. Setelah dia yakin Ayi selamat, maka dia bisa saja pergi dengan tenang ke hadapan Tuhan.


Tapi tidak sekarang. Mereka membaca mantra, ruangan itu seperti berputar, Alka pusing dan setelah gelap.


...


“Aku lebih baik mati daripada harus menghadap wanita busuk itu.” Atami berteriak, mereka sudah dibawah dengan jalur tak umum bagi para pendaki yang memang nekat mendaki gunung ini, sedang Jarni, Alisha dan Hartino, menuju ke tempat Aditia menunggun mereka.


“Aku takkan biarkan kalian membawaku ke sana, aku akan bunuh diri dan aku takkan pernah mengabdi padanya!” Atami keras kepala.


“Tak butuh kau sebagai pengabdi, Ayi sudah punya banyak pengikut, kami justru menolongmu bodoh!” Ganding kesal dan terpaksa berkata kasar.


“Lalu kenapa kalian tetap menangkap kami kalau tak butuh kami untuk merekrut sebagai pasukan wanita itu.”


“Sekali lagi aku dengan kau memanggil Ayi dengan sebutan tak baik, aku benar-benar akan merobek mulutmu!” Datona menahan diri sejak tadi karena Ayi terus saja dihina, padahal keselamatannya sekarang adalah karena kemurahan hati Ayi Mahogra.


“Kau memang bisa apa!?” Atami malah menantang.

__ADS_1


“Aku bisa melakukan ini.” Datona mencekik Atami dan karena cekikannya itu, Atami melihat rasa takut yang teramat sangat, Aditia menarik tangan Datona agar dia tak lagi mencekik Atami yang sudah kehabisan nafas.


“Kita kan tunggu kawanan sampai berkumpul lagi di sini, baru kita kembali AKJ.” Aditia memerintah yang lain setuju.


“Kalian takkan sampai ke sana tepat waktu, aku tahu kalau Tuan sudah bersiap, lihat, sebentar lagi bulan purnama ketujuah bukan?” Atami tertawa karena teringat itu, hari mulai pagi, karena semalam kawanan bergerilya untuk menangkap musuh, hingga pagi tiba dan Hartino sudah datang dengan menggendong Alisha yang kedaannya sangatlah lemah.


“Kenapa Alisha masih digendong, apakah Rangda belum juga ditemukan?” Aditia terlihat khawatir sekali.


Hartino kelelahan, Jarni dan Ganding menerima tubuh Alisha dan membaringkannya, Alisha hanya diam, di benar-benar tak kuat lagi, luka tusukan yang membuatnya sekarat itu mulai terasa lagi.


"Cepat keluar dari gunung ini sekarang, suku tanah pejuang sedang membantai sisanya di belakang, aku melihat mayat bergelimpangan, pasukan musuh sudah dibantai." Hartino gemetar melihat beberapa tubuh ditinggalkan begitu saja dengan keadaan yang mengenaskan, itu pasti pasukan Behra yang membabi buta. Mereka tak suka gunung itu dijamah seenaknya.


"Apa maksudmu dibantai?" Atami terlihat bingung.


"Kau masih tak paham tujuan tuanmu mengutus kalian ke sini?" Aditia terlihat kesal.


"Dia ingin kami memberantas para sekutu wanita itu, di atas ada desa rahasia yang harus kami habisi." Atami sangat percaya diri.


"Kau pikir kenapa tuanmu mengutus kalian dan bukan dia yang datang sendiri, karena kalian bukan tandingannya!"  Ganding kali ini yang geram.


"Kami bukan tandingannya? tapi bukankah mereka adalah orang-orang yang disembunyikan, hanya orang tak terlatih bukan?" Atami tidak bisa menyembunyikan kebingungannya.


"Kau pikir apa alasannya desa itu disebut desa pejuang? karena di sana terkumpul orang-orang yang berstatus Kharisma Jagat kelas 1, bahkan kami bukan tandingannya! Ayi saja harus memecahkan teka-teki Ayi tirung untuk bisa masuk ke sana dan kau bahkan akan sangat terkejut melihat betapa besarnya bentuk fisik mereka, kalian benar-benar bodoh!" Hartino tak mau ketinggalan mengolok anak kecil ini.


Atami terdiam, dia mencoba mencerna, tapi di antara itu semua, dia mencari sekeliling, berharap Zarik ada di sana, tapi dia tak juga menemukan Zarik, dia lalu bertanya di maan Zarik pada Hartino, lalu Hartino terdiam ... "Aku menemukan mayat lelaki itu di antara mayat pasukanmu, dia sudah tiada tapi Rangda hilang, maaf, kami tak bisa melindungi temanmu yang satu itu." Hartino meminta maaf.


"Apa? melindungi, kalian datang ke sini untuk melindungi kami?" Atami bertanya dengan tubuh gemetar.

__ADS_1


"Ayi mengutus kami untuk melindungi kalian dari amarah Behra dan para penduduk desa pejuang itu." Aditia akhirnya mengungkapkan apa yang menjadi tujuan utama mereka datang ke gunung Butir-Butir.


Atami jatuh ke tanah dan menangis sejadinya,


__ADS_2