Pasukan Kharisma Jagat

Pasukan Kharisma Jagat
Bagian 30 : Pembersihan Gunung 6


__ADS_3

Kawanan terus menyusuri gunung itu dengan membuka jalur baru bahkan tanpa simaksi, atau melapora pada petugas pos jaga kawanan konservasi gunung butir-butir, mereka tak butuh itu karena kalau sampai mereka lakukan, pada akhirnya akan mnejadi masalah, kawanan pasti akan dilaporkan hilang, naiknya kapan, turunnya entah kapan lagi.


Walau jalan naiknya berliku, kawanan tak mengeluh sama sekali, bahkan setelah dua jam berjalan, tak ada yang ingat untuk istirahat. Dalam perjalanan naik tiba-tiba ada seorang pria duduk, sepertinya dia sedang naik gunung, tapi aneh, ini adalah jalur baru yang sedang dibuka oleh kawanan, jalur perawan yang tak pernah terjamah karena saking terjalnya. Lalu bagaimana dia ada di sini, apakah dia tersesat?


“Syukurlah, syukurlah ada kalian, bisakah kalian menolongku, aku tersesat!” Lelaki itu dengan pakaian khas orang yang naik gunung, terlihat lega karena akhirnya bertemu dengan orang yang bisa menolongnya.


“Kau sudah sejak kapan tersesat?” Ganding bertanya dan mendekatinya, saat mendekat, bau anyir terasa menyengat, Ganding mundur.


“Hmm, sepuluh mungkin.”


“Sepuluh hari?” Kali ini Hartino yang maju dan sekali lagi dia mencium bau yang sama, tapi selain anyir, dia juga merasa mencium bau bangkai.


“Kau pasti sudah 10 hari ini tak mandi, apakah kau sudah makan dan minum?” Hartino menahan nafas karena bau yang menyengat itu, membuka tas untuk memberikan makanan, tapi Aditia mencegah dengan menahan tangan Hartino agar tak memberikan makanannya.


Hartino melihat Aditia, Aditia melihat Hartino dengan memberikan tanda, Hartino paham, Aditia curiga pada lelaki ini.


Aditia melihat kakinya, kaki itu tak berasal dan terlihat sangat sudah ... rusak, bukan, bukan terluka, tapi sudah rusak! Sungguh terlihat menghitam dan penuh luka yang bernanah.


“Kakimu kenapa?” Aditia bertanya, sementara lelaki itu melihat ke segala arah dengan perasaan senang karena melihat manusia lain setelah ... 10 ... tidak ... 15 atau lebih. Maksudku, tahun. 10 atau 15 tahun lebih, apakah kalian ingat siapa lelaki ini?


Lelaki itu terdiam dan melihat kakinya, dia lalu terduduk dan menangis.


“Dia bukan manusia, tidakkah kalian merasakannya?” Aditia bertanya pada kawanan.


“Tidak, aku tidak merasakan energi ghaib sama sekali, apakah dia musuh?” Hartino bersiap dengan mengarahkan senjatanya pada lelaki itu.


“Aku tidak tahu, kalau musuh harusnya dia menyerang kita atau mengendap, bukannya malah menyapa.” Aditia menarik kesimpulan.


“Tubuhnya tinggi, dia memakai jaket parasut yang di tutup hingga leher, pakaiannya mirip seperti pendaki profesional, apakah dia adalah pendaki yang tersesat?” Ganding bertanya, bukan pada siapapun tapi pada kemungkinan.


“Kita tinggalkan dia?” Datona yang tiba-tiba datang bertanya.

__ADS_1


“Kalau kau jadi Ayi, apa yang akan kau lakukan?” Aditia bertanya pada Datona, sebagai Kharima Jagat senior, Aditia berhak untuk mendidik Datona.


“Hmm, terus jalan dan meninggalkannya?” Datona menebak.


“Menolongnya!” Kawanan berteriak mengoreksi.


“Ya maaf, aku pikir kan Ayi orangnya fokus, ternyata tidak ya?”


“Kau mau kuhabisi!” Aditia pura-pura mengacungkan tombaknya, Datona hanya meminta ampun dengan menyatukan kedua tangan seolah akan pamit.


“Apakah kau tahu kalau kau sudah meninggal dunia?” Aditia bertanya.


Lelaki itu mengangguk.


“Kau ingat di mana tubuhmu berada?” Alisha kali ini yang bertanya.


“Tidak ingat.”


“Tidak tahu.” Lelaki itu menjawab dengan lesu.


“Beberapa ruh memang sulit ingat kejadian terakhir dia meninggal dan kenapa dia masih tertinggal di sini. Kau ikutlah bersama kita saja, nanti jika urusan kami selesai, kami akan bantu kau untuk pulang.” Ganding memberi solusi.


Seperti tugas mereka yang biasa, menjemput jiwa yang tersesat, apakah kali ini ruh tersebut memang bagian dari kasus yang harus diselesaikan?


Kawanan melanjutkan perjalanan dengan tambahan tim, yaitu lelaki yang tak ingat tentang dirinya, aku harap kalian masih ingat siapa dia karena kisahnya pernah aku ceritakan, aku harap kalian ingat.


“Kita istirahat di sini.” Waktu semakin malam, udara semakin dingin, Alisha melihat bahwa udara sudah pada 10 derajat saja, sungguh sangat dingin. Kalau mereka memaksa untuk tetap jalan  mungkin akan berbahaya, hipotermia selalu mengintai setiap pendaki gunung yang lalai.


Mereka membangun tenda, hanya dua satu tenda yang mereka dirikan, tenda yang cukup besar, sengaja tak ingin ada drama hilang atau disesatkan, kawanan memutuskan membawa satu tenda yang cukup besar untuk menampung meraka, tentu dengan jarak tidur antara lelaki dan perempuan yang diatur agar tetap aman.


Udara di luar sangatlah dingin, maka mereka makan di dalam dan menyeduh kopi dengan air panas yang masih panas dari dalam sebuah botol minum stainless steel yang mampu menahan suhu panas atau dingin air yang ditampung di dalamnya.

__ADS_1


Semua orang menikmati kopi yang dibuatkan Alisha, dia memang seorang ibu rumah tangga sejati, keberadaannya selalu bisa mencukupi kebutuhan makanan dan minuman kawanan.


Lelaki tersesat itu ada di luar tenda, dia tak lagi merasakan dingin dari gunung itu, karena tubuh ruhnya.


Kawanan menyesap kopi dan makanan yang mereka bawa, saat sedang asyik beristirahat, mereka merasa angin di sekitaran tenda semakin kencang, bahkan tenda mereka menjadi bergoyang-goyang, walau telah ditahan dengan pasak besi yang ditanam ke dalam tanah dengan cara dipalu agar pasak bisa menahan tenda itu, tetap saja, tendanya bergoyang dan membuat mereka menjadi sedikit khawatir.


“Aku merasakan ada sekelompok energi yang sangat kuat mendekat.” Datona berkata, yang lain mengangguk.


“Bersiap, bisa jadi ini musuh. Hei kau, masuk ke dalam tenda, aku takut kalau kau akan ikut menjadi korban.” Aditia berteriak pada lelaki yang tersesat itu karena dia tak ingin lelaki itu menjad korban.


“Jarni, pasang pagar agar energi kita tak terdeteksi, aku ingin musuh menganggap kita hanay manusia biasa yang sedang naik gunung.” Aditia memerintahkannya dan Jarni lansung memasang pagar ghaib di dalam tenda, agar energi mereka tak terdeteksi.


Saat angin semakin kencang, tiba-tiba terdengar gemuruh petir yang membahana, kawanan sampai terkejut, aneh sekali, ini bukan musim hujan, lalu bagaimana mungkin gunung menjadi hujan deras seperti ini? walau memang cuaca di gunung sulit diprediksi, tapi perubahan cuaca seekstrim ini bukanlah hal yang bisa dimaklumi.


Setelah gemuruh petir dan angin yang lebat, perlahan terdengar suara tawa yang melengking, satu suara, lalu menjadi dua suara, tiga suara dan tiba-tiba terdengar riuh tawa melengking dari luar sana, rupanya para jin sedang beraksi untuk menakuti kawanan, artinya mereka tak tahu siapa yang ada di dalam.


“Diam, jangan ada yang keluar, aku tak ingin mereka tahu keberadaan kita jika ini adalah musuh Ayi.” Aditia mengingatkan, karena dia melihat Alisha sudah sangat marah dan ingn menghajar suara tawa melengking dari luar itu, dia tahu siapakah yang tertawa seperti itu, pastilah sekelompok jin wanita yang menyebalkan. Rangda sudah tak tahan ingin menghajar mereka.


Tiba-tiba hening, tak ada suara sama sekali, Aditia dan kawanan mencoba mendengar suara dari luar, hening.


“Apakah sudah boleh melepas pagar?” Jarni bertanya.


“Tidak, jangan, belum.” Aditia menahan.


Benar saja, tak lama kemudian terdengar suara ledakan dari luar dan suara-suara lain bermunculan, suara-suara tawa melengking yang terdengar seperti lebih dari 10 makhluk yang tertawa, lalu suara monyet yang saling bersautan, suara itu jelas hanya ingin membuat kawanan keluar dari tenda karena takut, walau mereka pasti tak paham siapa di dalam tenda, mereka kalau keluar pun, bukan karena takut, tapi karena kesal.


Suara terus terdengar tapi diabaikan oleh kawanan, tahu tak digubris tiba-tiba mereka mendekati tenda dan menggoyang-goyangkan tendanya dengan kasar, membuat kawanan terombang ambing di dalam tenda, karena saat ini pasak besi yang mereka tancapkan ke tanah masih tertancap dengan baik.


Tentu saja takkan bertahan lama, karena para makhluk itu menggoyangkan tenda dengan sangat keras, membuat pasak besi lepas dari tanah dan membuat tenda menjadi rubuh seketika.


Kawanan terkubur dalam tenda itu, karena sudah rubuh tendanya, mau tak mau kawanan akhirnya mencari jalan keluar dari kain besar yang menutup tubuh mereka.

__ADS_1


Dan begitu semua orang sudah keluar, betapa terkejut mereka melihat pemandangan di luar, sungguh tak disangka-sangka!


__ADS_2