
Setelah penjelasan panjang dari Ayi kemarin, hari ini mereka masih di AKJ untuk memulihkan diri, Alka terlihat sedang melihat ke arah lapangan, dia melihat begitu banyak anak kecil hingga remaja sedang dilatih untuk mengendalikan ilmunya oleh para guru, para cantrik itu terlihat bersemangat walau telah melewati kejadian yang cukup menakutkan itu.
Alka tersenyum sesekali.
“Kau sedang lihat apa?” Aditia bertanya, dia menemani Alka untuk pulih, sedang Alisha masih ditemani oleh Hartino, Ayi sudah memulihkan keadaannya, walau tak ada satu pun khodam mampu masuk ke dalam tubuhnya. Seperti Esash yang menandai tubuh Alisha hingga babak belur, Rangda juga sudah menandai tubuh itu sebagai rumahnya, maka ketika khodam lain ingin masuk bahkan karuhun suruhan Ayi untuk ikut mencoba masuk, tak ada yang sanggup menahan energi yang masih tertinggal milik Rangda, tubuh Alisha masih terus menolak, Ayi sudah meminta beberapa orang untuk melacak keberadaan Rangda.
Ganding dan Jarni ikut beberapa guru untuk memberi materi pada para cantrik, Jarni suka sekali mengajar cantrik anak-anak, dia memang suka dengan anak-anak.
“Aku sedang melihat mereka berlatih, ada yang terlihat bersemangat, ada yang terlihat malas-malasan dan ada yang terlihat sangat usil pada teman lain. Aku iri.” Alka menjawab.
“Iri kenapa?”
“Andai masa kecilku seperti mereka, sejak awal jika saja aku dirawat ayahmu, di tangan orang yang tepat, pasti masa kecilku bahagia.”
“Setidaknya kau bertemu ayahku, walau terlambat, walau setelah tragedi kebakaran itu, tetap saja, kau akhirnya bertemu ayahku.”
“Aku tak pernah tidak mensyukuri pertemuan kami, tapi … tragedi kelam itu membuatku haus kasih sayang orang tua, Dit. Jadinya, aku membuat hubungan antara kita dengan Ayi menjadi berat.” Alka menunduk.
“Sudahlah, sudah takdir, sekarang kita hanya perlu menebusnya, lagian … kita menebusnya bersama kok.” Aditia memegang tangan kekasihnya.
“Dit, apakah lanjo begitu menyiksamu?” Alka bertanya.
“Tidak sebelum bertemu denganmu, setelah bertemu, aku sulit menjauh darimu.” Aditia tanpa malu berkat seperti itu.
“Aku juga, sejak kecil, aku sering mengintipmu dari balik jendela, aku si tidak tahu diri ini selalu ingin melihat … orang yang paling aku cintai di dunia ini.”
“Aku anggap kau menembakku ya!” Aditia langsung mempertegas hubungan mereka.
“Eh … tidak! Maksudku ….”
“Baiklah, hari ini, tanggal bulan dan tahun ini, kita resmi mendeklarasikan hubungan kita sebagai sepasang kekasih, tidak peduli karena lanjo atau tidak, tapi … pokoknya aku adalah orang yang paling kau cintai di dunia ini, maka dari itu, kau sekarang sudah menjadi kekasihku, karena aku menerima keterbukaanmu sebagai ajakan berpacaran, maka jika esok ada yang tanya, aku akan jawab dengan lantang kalau kau duluan yang menembakku!” Aditia lalu berdiri dan memanggil kawanan.
“Dit!” Alka jadi kesal karena Aditia malah jadi ngawur, bagaimana mungkin mereka pacaran sementara mereka masih saja sakit karena lanjo, apakah mereka akan bisa saling mencintai dengan tulus jika sembuh, entahlah, Alka hanya sebenarnya ingin menikmati moment ini.
__ADS_1
Kawanan sudah berkumpul termasuk Alisha, dia terlihat masih pucat.
“Alisha, masih sakit?” Alka bertanya, dia sudah tahu kejadian di gunung itu dari Aditia. Tentang Rangda yang masih hilang.
“Ya, masih Ka.” Alisha menjawab dengan lemas.
“Maaf aku tidak bersama kalian.”
“Kak, tidak ada permintaan maaf lagi, karena seharusnya kami yang ada bersamamu kemarin.” Ganding kesal karena Alka masih saja memikirkan orang lain.
“Baiklah, mari kita bahas kasus, tidakkah kalian ingat bahwa kita masih hutang janji dengan seorang pria yang ada di gunung Butir-Butir?” Aditia bertanya pada kawanan.
“Ya, Kak Alka, kita kemarin sempat menemukan pria yang tersesat di gunung Butir-Butir dan dia ternyata adalah ruh yang harus kita jemput untuk ‘pulang’. Tapi karena kemarin kita harus segera membawa turun pasukan Atami agar tak dihabisi oleh penduduk desa tanah pejuang, maka kita menunda dulu kasus itu.” Ganding memberitahu Alka, karena kemungkinan dia tak tahu soal itu, Alka mengangguk mendengar itu, tanda bahwa dia paham.
“Aku sudah ajukan kasus ini sebagai kasus pertama, Ayi bilang dia sempat bertemu dengan pria itu dulu sekali, hingga dia dikerjai oleh Aki Partagah hingga berputar di lembar gunung itu, Ayi ingat lelaki yang tubuhnya akhirnya sudah dikebumikan dengan benar saat dia datang, tapi ruhnya masih ditahan di sana.”
“Apakah Ayi setuju kita ke sana dulu? Apakah aman meninggalkan Ayi di sini?” Ganding bertanya.
“Apakah aman membawa Alisha ke gunung itu? Kan keadaannya lemah.” Alka bertanya.
“Itu … Har, gimana?” Aditia bertanya pada Hartino.
“Kita akan biarkan dia di sini dirawat Ayi, karena sulit baginya bertarung tanpa Rangda, jadi … misi kita adalah ruh penasaran di gunung itu dan juga menemukan Rangda, aku pikir itu adalah jalan terbaik sementara Ayi di sini membangun pertahanan lagi, untuk membangun pertahanan kita tak bisa ikut campur karena energi berasal dari tim inti, yaitu Ayi, Kak Malik, Kak Hanif, Dokter Adi dan Kak Aam, kita adalah pasukan untuk pertarungan. Maka Dit, aku pikir keputusanmu itu tepat, lagian, aku rindu bertarung bersama dengan kakak, walau sekarang tanpa Alisha, pasti ada terasa yang kurang, istrimu itu kan yang selalu menyediakan makanan enak untuk kita, di ahli gizi yang sulit tergantikan.”
“Ya aku tahu, tapi dia lebih aman di sini, tanpa Rangda dia akan sangat lemah.” Hartino setuju pada keputusan Aditia.
Lalu semua orang menyiapkan bekal untuk naik lagi ke gunung itu dan memenuhi janji memulangkan ruh yang Ayi saja tidak bsia penuhi karena begitu banyaknya agenda untuk dilakukan untuk peperangan itu.
“Aku mengizinkan kalian pergi, selesaikanlah, temukan Rangda dan jemput ruh Sujana untuk pulang.” Ayi mengizinkan mereka pergi untuk sementara waktu dan Alisha tetap di sana, ini adalah langkah terakhir untuk membersihkan gunung Butir-Butir dari pihak luar, Partagah juga sudah mengizinkan kawanan untuk membantunya.
Maka kawanan bersiap ke sana.
…
__ADS_1
Alisha terbangun, semalam dia sudah diberikan energi oleh Ayi untuk bertahan, rasanya hasu sekali, Alisha lalu bangun dan membuka pintu kamarnya untuk mengambil air, karena air yang disediakan di kamarnya sudah habis.
Alisha bangun dengan lemah dan membuka pintu kamar. Gelap … Alisha bingung, kok masih malam, bukankah ini seharusnya pagi.
Alisha lalu berjalan, seingat dia, di dekat kamarnya ada sebuah dapur yang tentu saja ada dispenser untuk mengambil air, tapi saat berjalan, tak ada dapur sama sekali, hanya lorong saja terus.
Alisha terdiam, dia merasa ada yang salah, saat dia berbalik, kamarnya tak terlihat, sejauh matanya memandang hanya ada lorong saja.
Alisha berlari ke arah kamarnya, tempat dia keluar untuk mengambil air tadi.
Tapi, sama saja, hanya lorong saja, dia kelelahan dan sangat lemah, saat dia sedang berlarian itu tiba-tiba dia melihat sosok seorang penari yang lengkap dengan pakaian penarik khas … Bali, dia tak tahu siapakah penari itu, kenapa dia tiba-tiba berdiri di hadapannya dan terlihat tak bisa bergerak, hanya berdiri saja dengan sikap siap menari.
Alisha berusaha mendekatinya, tapi saat dia mendekat, ruangan itu menjadi semakin gelap hanya terlihat penari itu saja, bahkan lorong dan kamarnya menghilang dan yang paling aneh adalah … penari itu tiba-tiba menari memutari Alisha tapi wajahnya menangis, Alisha ikut berputar mengikuti arah tarian penari itu, dia menari dengan gemulai tapi tariannya sangat terpaksa, setiap dia menari, keluar darah hitam dari tubuhnya.
Semakin Alisha mengikuti arah arah tarian penari itu, yang memutari tubuhnya, semakin cepat penari itu menari, Alisha menjadi pusing dan saat mereka berdua kelelahan karena berputar, Penari itu tiba-tiba berbisik … “TOLONG AKU!” Dengan suara yang serak tan berbisik, mendengar suaranya, Alisha tahu … siapa penari itu dan dia berteriak, “RANGDA!” tapi seketika penari itu hilang dalam keadaan tubuh babak beluar.
Alisha tak mengenali wujud Rangda tanpa energi jinnya sama sekali, ternyata Rangda adalah seorang penari yang sangat cantik, makanya awal melihat penari itu Alisha merasa kenal tapi tak kenal karena tak ada energi yang dia rasakan, tapi saat mendengar suara bisikan itu, dia tahu, penari itu Rangda.
Alisha terbangun, ternyata dia bermimpi, di sampingnya ada seorang pelayan yang baru saja menambahkan air putih pada teko di kamar itu.
“Teh, bisa tolong panggilkan kawanan?” Alisha memohon.
“Kawanan kan … sudah pergi ke gunung Butir-Butir.”
Alisha lupa, kalau Hartino sudah pamit semalam sebelum Alisha terapi, sial! Dia harus segera menghubungi suaminya untuk memberitahu, sepertinya Rangda masih disekap Bagaskara!”
Alisha segera menelpon suaminya dan memberitahu mereka untuk hati-hati.
_____________________________________
Catatan Penulis :
Siapa yang mau 2 part malam ini?
__ADS_1