
“Yaudah pasti itu mah, kalau sama dia kita nggak bisa bersembunyi, karena dia itu paling hebat mendeteksi energi, ga ada sih yang bisa lari dari ini orang, makanya itu pasukan iblis di atas, bisa kita temukan dengan mudah karena kemampuan Asti yang bisa mendeteksi energi. Sayang kita kalah kemarin, padahal hampir saja kita membunuh beberapa.” Pengawal itu bicara dengan enteng.
Datona terlihat kesal mendengarnya, sekarang dia sudah dapat informasi yang cukup banyak, dia tahu siapa dan apa kekuatannya, dia harus cari cara kembali pada kawanan untuk menceritakan semuanya.
Setelah selesai dengan penyamaran, dia kembali lagi ke tempat di mana dia meninggalkan tubuh telanjang dari salah satu pasukan yang dibawa musuh, dia kenakan lagi baju orang itu dan membuka ikatannya, karena ikatan itu memang hanya untuk jaga-jaga jika dia bangun, tapi ternyata dia tak bangun juga setelah Datona kembali, maka Datona mengenakan pakaiannya sendiri, masih dengan energi orang itu karena takut kalau dia merubah energinya, dia akan membuat Asti si pengenal energi jarak jauh sadar ada penyusup.
Datona kembali dengan cepat ke kawanan, karena dia memang hebat dalam pelarian.
“Jadi?” Mareka sudah ada di tenda, sedang Alisha masih lemah, dia takkan bisa ikut apapun itu misinya, ditambah Rangda yang belum juga kembali.
“Ada Asti, Atami, Zarik, Masti dan terakhir Timo, mereka semua punya kekuatan masing-masing.” Lalu Datona menjelaskan kekuatan masing-masing dari musuh, walau kawanan sudah curiga dan memang pernah punya informasi tentang Kharisma Jagat dengan tipikal kemampuan menipu melalui halusinasi dan mendeteksi energi, tapi mereka takt ahu identitas asli. Banyak dari Kharisma Jagat tak punya identitas seperti Aditia ataupun Ayi Mahogra, punya identitas yang jelas. Itu karena orang tua mereka tak benar-benar mengabdi pada perkumpulan tetua saat dahulu kala mereka masih berkuasa.
“Wah, musuh mengirim lawan yang hampir sepadan, tapi jelas, mereka kalah jam terbang, Dit, caranya barbar dan tidak memperhitungkan banyak hal, hanya yang penting serang saja, untung kita sampai duluan. Aku jadi ragu, Ayi mengirim kita untuk membersihkan gunung ini, untuk menyelamatkan desa tanah pejuang, atau malah sebaliknya, untuk membuat anak-anak muda itu selamat dari bantaian para pejuang di desa itu, kan mereka terkenal tanpa ampun bukan?” Ganding berkata dengan senang, karena musuh tak seperti yang mereka sangkakan.
“Tapi kak, bukankah mereka sangat lihai dan ahli, buktinya saja mereka bisa membuat orang kita masuk ke halusinasi yang mereka buat.” Datona mengingatkan.
“Berhasil? Berhasil itu jika mereka mencapai tujuan, justru itu artinya tak berhasil.” Aditia tak terima kalau jebakan sebelumnya dianggap berhasil oleh Datona.
“Betul, berhasil itu jika mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, tapi kan tidak, itu berarti mereka tidak mempersiapkan rencananya dengan matang, rencana yang mereka eksekusi itu banyak celahnya, walau bisa menjangkau Alisha, Jarni dan Hartino, tapi tidak memikirkan kemungkinan Aditia tak bisa dijebak.” Ganding ikut membela.
“Ok, ok, lalu sekarang, kita harus gimana?” Datona tak mau lagi membantah, maka dia bertanya.
__ADS_1
“Pertama, aku akan tujukkan padamu apa itu rencana yang matang. Tapi mungkin kau akan sangat kesakitan.” Ganding berkata dan membuat Datona menjadi khawatir.
“Memang kenapa aku mesti kesakitan?”
“Jadi begini kawan-kawan ….”
SAAT MEREKA MENYERANG
“Aku tidak kuat, energi kalian terlalu besar.” Datona terjatuh, dia terpaksa harus menghirup energi seluruh kawanan, karena untuk mengelabui Asti.
“Baru energi Aditia dan Ganding sudah kewalahan, bagaimana dengan energi yang lain belum tertampung di tubuhmu, ayolah bangkit, kita tak punya waktu yang banyak, kalau kau bisa, aku akan memberimu sesuatu.” Hartino membujuk Datona agar dia mau bertahan dan melewati batasan, karena bekerja dengan kawanan harus selalu melewati batasan, ingat kan? slogan mereka adalah mati dan hidup bersama, maka batas akhirnya adalah mati.
“Kau mau kasih aku apa?” Bak anak kecil yang diimingi hadiah, Datona sumringah.
“Kau janji ya! Ayo ucapin sumpah! Kalau ga, aku nggak mau loh maksain diri gini.” Seolah tak percaya dia akan mendapatkan benda pusaka, Datona memastikan, Hartino lalu mengangguk dan mengucapkan sumpah.
“Aku bersumpah, akan membiarkanmu memilih benda pusaka yang kau suka setelah kau mampu menampung semua energi kami.” Datona senang, dia lalu bersiap kembali menerima energi dari kawanan, bukan melalui mulut tentu saja, karena mereka orang-orang sakti, mereka hanya perlu untuk saling menggenggam dan Datona sudah bsia menyerap energi kawanan. Walau sangat berat, seperti ditimpa batu yang sangat besar, batu yang jatuh di pegunungan, tubuhnya sungguh sangat terasa berat. Dia harus mengunci energi itu untuk sementara waktu.
Energi kawanan sudah terserap sempurna pada tubuh Datona.
“Ok, sekarang lepaskan semua karuhun kita.” Ganding memerintah.
__ADS_1
Kali ini semua orang harus jadi orang biasa, karena kalau mereka masih terisi khodam, pastilah mereka takkan bisa menjangkau musuh yang memiliki Asti, si pendeteksi energi, cuma satu orang saja yang bisa, sudah sombong, sedang untuk kawanan, semua orang bisa mendeteksi energi satu sama lain dan bahkan mendeteksi energi dengan jangkauan yang sangat luas, mereka tak sombong.
“Ok, kami akan menyerang, kalian tunggulah di sini, tunggu sampai Jarni mengirimkan pagarnya pada kalian, itu tanda kalian harus segera menyusul kami.” Ganding berkata, dia, Hartino dan Jarni akan menyerang duluan dengan tangan kosong, maksudnya kosong secara ghaib, karena tangan mereka tetap akan memegang senjata, karena hanya itu yang mereka punya untuk melawan musuh, tangan kosongnya mereka adalah tanpa khodam atau karuhun. Beruntung mereka semua menguasai ilmu bela diri yang dipelajari sejak kecil. Mulyana melatih mereka dengan sangat baik hingga mereka bahkan bisa bertarung dengan tubuh kosong tanpa ruh pelindung.
Ganding, Hartino dan Jarni jalan dengan mengendap mereka terus berjalan dan tak lama kemudian mereka melihat musuh sedang beristirahat, tentu saja ini malam hari, tak heran mereka istirahat, pasti merasa sedang karena berhasil menyerang kawanan, tak menyangka bahwa kawanan akan menyerang balik dengan cepat.
Ganding, Hartino dan Jarni langsung mendekati salah satunya, bertarung dengan mereka secara spontan dan musuh terkejut, beberapa pasukan bawaan lawan langsung tumbang, sementara mereka yang menjadi pemimpin, ada yang berusaha melawan karena melihat orang yang datang tiga orang saja, tapi tak bisa, tahukah kalian mengapa? Perhitungan Ganding tepat!
“Seharusnya kau bisa mendeteksi mereka!” Atami terlihat sangat marah pada Asti yang tidak sadar kedatangan mereka, bahkan mereka masih di dalam pagar ghaib buatan Zarik, sehingga kekuatan mereka menjadi kosong, karena prinsip pagar Zarik adalah siapapun yang dipagari, maka akan menjadi netral atau normal, tanpa kekuatan.
Jadi, ketika kawanan menyerang, mereka masuk ke pagar ghaib itu dengan leluasa, karena mereka hanya orang biasa yang bisa saja masuk ke pagar itu tanpa efek sama sekali, setelah masuk mereka menyerang siapapun dengan membabi buta, sedang Zarik berusaha menghilangkan pagar ghaib yang tadinya melindungi tapi malah secara instan menjadi senjata kawanan untuk melemahkan mereka, butuh waktu beberapa saat untuk menghilangkan pagar ghaibnya, hingga waktu tersebut dimanfaatkan oleh kawanan untuk menyerang dengan cepat, setelah pagar ghaibnya dibuka dan mereka kembali memiliki kekuatan, Jarni melempar pagar ghaibnya agar bisa menjadi pertanda bagi Aditia dan Datona untuk datang. Tak lupa para Khodam milik kawanan yang juga tak ada di dalam tubuhnya.
Itu yang membuat Asti tak mampu mendeteksi mereka, khodam mereka lepas dan energi mereka diserap Datona, maka apa? Ya betul, Asti bisa terbodohi dengan mendeteksi energi kawanan masih ada di puncak gunung, padahal itu energi palsu yang ada di tubuh Datona, sementara Ganding, Hartino dan Jarni menyerang tanpa diketahui oleh musuh, seperti perhitungan Ganding, kalau ada yang bisa membuat pagar ghaib yang membuat mereka netral tanpa ilmu, maka pasti mereka menggunakan pagar itu hingga tak bisa dideteksi kawanan keberadaannya.
Ini hal yang menguntungkan, keberanian kawanan untuk bisa menyerang adalah, lagi-lagi karena perhitungan Ganding yang selalu tepat, dia sudah memperkirakan, tipu daya mereka, bisa disaingi dengan tipuan yang lebih gila lagi, yaitu, memakai trik yang sama dan menggunakan senjata mereka sebagai senjata yang malah menyerang tuannya, siapa lagi kalau bukan tuan muda Ganding yang memikirkan ide segila ini.
Aditia datang bersama Datona, sedang Alisha masih dipagari Jarni agar tetap aman di puncak gunung sana, Aditia memang sengaja tak ikut, karena energi Kharima Jagatnya terlalu tinggi, walau melepas Karuhun, tetap saja, dia bukan Kharisma Jagat biasa, ditubuhnya bahkan telah mengalir energi sangat tinggi, makanya dia tak bisa ikut ke atas. Walau energinya tetap diserap oleh Datona, hanya untuk berjaga, ini yang dibilang Ganding, setiap rencana harus tak ada celahnya, kadang bersikap berlebihan hanya untuk memastikan keberhasilan, itu langkah yang perlu dilakukan.
Aditia datang, menyerang dengan membabi buta, musuh kocar-kacir karena melihat begitu menakutkannya Aditia dengan mata yang bersinar dan tubuh yang kekar, serta menyerang dengan tombak tanpa ampun, mereka kabur, yang tersisa hanya Atami, sang ketua.
Aditia memberi kode pada Datona untuk berada di sampingnya, sementara Atami ditundukkan dan kalian tahu selanjutnya dia tertipu oleh sosok Datona yang menyamar menjadi Asti, dia memberikan khodamnya dan sekarang telah kosong.
__ADS_1
Tapi sayang, Rangda masih dipegang oleh Zarik, dialah yang memagarinya, sedang dia kabur, maka sekarang Datona tertawa sambil bilang, “Rencana kalian juga gagal, ini nggak ketangkep semua.”
Kawanan melotot karena kesal, walau Datona benar, mereka belum berhasil, tapi ketuanya, sudah tunduk! Itu juga pencapaian bukan?