
Gelap, sungguh gelap yang Alka rasakan, dia sedikit bingung karena terbangun dalam keadaan yang aneh, seluruh tubuhnya sangat sakit, lalu dia melihat tangan dan kakinya diikat, ternyata Alka tak dalam kondisi berbaring, tapi dia dalam kondisi tergantung dengan tubuh yang dijadikan topangan, tubuhnya diikat dengan tali tambang yang cukup tebal, sadang tangan dan kakinya diikat.
“Dokter Adi, to … tolong!” Alka berteriak, karena dia saat ini merasa ada yang menjebak, dia berpikir bahwa AKJ telah diserang musuh, tak ada sedikit pun rasa curiga bahwa dia telah dijebak.
Seseorang masuk ke ruangan gelap itu, Alka berusaha melihatnya, karena ruangan sangat gelap, dia hanya bisa mendengar langkah kaki.
Langkah kaki itu berhenti di hadapannya, masih tak dapat melihat apa yang ada di sana, Alka terus berusaha memicingkan mata, berharap bisa melihat siapa yang ada di hadapannya.
Saat dia berusaha melihat, tiba-tiba ada seberkas cahaya dari bawah, sedang tubuhnya masih tergantung, cahaya tersebut memberikan penglihatan pada tubuh yang berada di hadapannya, Alka terdiam, dia sungguh terdiam dan kebingungan, karena dihadapannya sekarang adalah ….
“Dit! Dit! Kemana yang lain?” Alka lega karena ternyata yang ada di hadapannya adalah orang yang paling dia percaya.
“Ka, aku akan potong talinya, kita harus keluar dari sini, yang lain sedang menghadang musuh Ayi, AKJ diserang oleh mereka, para musuh!” Aditia membuka tali tambang yang menahan tubuh Alka dengan sebuah pisau kecil, setelah talinya terbuka, Aditia langsung menopang tubuh Alka yang lemah.
“Dit, kita harus bersama yang lain, kita harus melawan mereka semua, ke mana Dokter Adi dan Ayi?” Alka bertanya.
“Dokter Adi dan yang lain sudah pergi ke markas rahasia, aku pun takt ahu di mana letaknya, tapi kau harus segera pergi dari sini, kita harus pergi.” Aditia lalu mengulurkan tangan pada Alka, tapi Alka tak kunjung menerima uluran tangan itu.
“Ayo! Kita tak punya waktu lagi!” Aditia berkata dengan khawatir.
“Dit … kenapa kau tak merasa bingung aku di sini?” Alka bertanya dan mundur, energinya memang miliki Aditia, tidak mungkin ini orang lain, tapi tipis, energi tipis ini selalu dia rasakan setiap kali berkunjung ke AKJ, karena energi AKJ yang besar menutup energi yang lain, Alka mencoba mengambil keputusan nekat, dengan orang yang paling dia percayai.
“Tentu saja aku tahu karena Dokter Adi tadi bilang kau ada di sini, aku sempat bingung tapi tak bertanya lagi karena taka da waktu, mereka harus pergi, makanya aku ke sini berusaha menyelamatkanmu, kenapa kau malah seperti ini? Jangan buang waktu, kita harus segera pergi!” Adiita berusaha menarik tangan Alka, tapi Alka mundur hingga tangannya tak lagi bisa digapai.
“Dit, apa hal yang paling aku benci di dunia ini?” Alka bertanya tiba-tiba.
“Kau kenapa bertanya begitu?”
“Karena hanya kau yang tahu itu, aku pernah mengatakannya dan hanya kita berdua yang tahu soal itu, kalau kau tak bisa jawab, aku takkan ikut denganmu!” Alka bersikeras, terdengar suara-suara pertarungan dari luar, Alka mengabaikan itu, dia hanya tak ingin salah ikut orang.
“Alka, kau tidak percaya aku? Bukankah kita tidak boleh seperti ini? Alka, kawanan di luar sedang bertarung, kita harus cepat!”
“Jawab atau aku akan bertarung denganmu!” Alka merasa memang aneh, kenapa dia diikat, kenapa Aditia tiba-tiba datang dan kenapa dia tak terkejut dirinya di sana, ini sungguh seperti potongan puzzle ingatan yang tidak bisa dia jadikan satu kesatuan, seperti sesuatu yang sudah diatur.
“Baiklah, kau paling benci … berpisah dariku.” Aditia menjawab dengan percaya diri.
__ADS_1
Alka terdiam, karena jelas, jawaban itu benar, dia benci berpisah dengan Aditia, tapi bukan sesuatu yang PALING DIBENCInya!
Alka lalu mengeluarkan cambuknya, tubuhnya lemah, tapi dia masih bisa melawan siapapun orang ini.
“Kau kenapa?” Aditia bingung.
“Keluarkan senjata pusakamu!” Alka menantang, karena kalau orang ini benar Aditia, dia pasti bisa mengeluarkan tombaknya.
“Aku tidak ingin melukai orang yang aku cintai.” Aditia berkata dengan lembut.
“Tentu saja, Aditia takkan berkata begitu kalau itu menyangkut pembuktian tentang dirinya, keluarkan pusakanya, atau cambukku akan menghancurkanmu!” Alka dengan tertatih, tubuh lemahnya harus terus berupaya untuk melawan.
“Baiklah, ini yang kau minta bukan?” Aditia lalu berdiri tegak, seolah mau mengeluarkan benda pusakanya, tapi ternyata tidak.
Perlahan, tubuh Aditia berubah menjadi tubuh yang menghitam, pada kakinya terlihat tengkorak yang mulai terlihat dari daging dan kulit yang terkoyak, semakin ke atas, Alka semakin tahu, siapakah orang ini.
“Ze … Zerata!” Alka berteriak karena melihat keadaan kakaknya yang sudah sangat mengerikan, seperti tubuh yang sudah dikubur selama berbulan-bulan dan akhirnya termakan oleh belatung. Sebagian tulang tengkoraknya terlihat di banyak tempat, termasuk wajahnya.
“Alka, aku kesakitan, aku dipaksa mereka untuk mengelabuimu, Alka aku mohon, ikutlah denganku, aku kesakitan Alka, mereka menyiksaku!” Zerata dengan suara paraunya memohon bantuan.
“Alka, tolong kakak ya, ikut kakak, aku mohon, kau harus bersama mereka agar kakak bisa selamat.” Alka terdiam, dia tahu kakaknya memang bisa merubah bentuk, tapi memiliki energi Aditia, itu sungguh aneh.
Tapi Alka tak punya pilihan lain, dia mengguankan nalurinya sebagai seorang adik untuk percaya.
Alka lalu menerima uluran tangan Zerata dan … dia mencambuk tubuh Zerata dengan keras, hal itu membuat Zerata berteriak kesakitan, sebagian tubuhnya yang telah hancur itu, malah jadi terbakar, semakin hancur saja tubuh itu.
Alka terus menyerangnya karena dia yakin, lelaki ini bukan Zerata, karena sampai mati, Zerata takkan pernah mengorbankan adiknya, walau dia bukan manusia yang baik, tapi Zerata seorang kakak yang baik, bahkan masa akhirnya, dia memohon untuk dikubur agar tak mencelakai orang lain, maka tak mungkin sekarang dia bangkit dan meminta Alka untuk menyerah.
Setelah menghabisi Zerata palsu, Alka melihat, lelaki yang sudah hangus itu berubah bentuk, tak lagi terlihat seperti Zerata, tapi entah seperti siapa, karena wajah itu sangatlah asing baginya, tak dikenal.
“Penyamaran, bagaimana mungkin lelaki ini masuk ke AKJ dengan menyamar dan bisa masuk begitu mudah!” Alka terlihat sangat bingung.
Dia berjalan perlahan dengan membawa lilin yang tadi Aditia palsu nyalakan untuk menerangi kamar penyekapan Alka ini.
Alka merasa kesulitan jalan karena pakaiannya masih gaun putih yang sangat panjang hingga mata kaki, sedang rambutnya digerai. Alka mengikat rambutnya dengan tautan rambut lain di kepalanya, setelah itu dia menarik gaunnya sampai ke lutut dan mengikat bahan gaun itu hingga gaunnya menjadi tidak sepanjang mata kaki lagi, tapi hanya sebatas lutut.
__ADS_1
“Ini baru nyaman.” Alka mengendap melihat ke arah luar dari pintu ruangan gelap itu. Sepi, sunyi, hanya ada suara pertarungan, tapi di luar jelas sunyi.
“Sepertinya mereka membohongiku!”
Alka lalu berubah bentuk dengan tubuh bersisiknya, dengan begini dia masih bisa melayang.
Alka tembus pintu penyekapan itu, ada beberapa penjaga di sana, begitu melihat Alka yang tembus dari pintu penyekapan, mereka terkejut dan langsung ingin menyerangnya.
Tapi gagal, Alka terus melayang dan melewati dinding dengan cara menembusnya, hal itu tentu sulit untuk dikejar.
Hingga akhirnya Alka sudah di luar pada suatu lapangan yang sangat luas, terakhir kali Alka ingat, dia melihat lapangan ini untuk bertemu dengan kawanan terakhir kali di AKJ sebelum akhirnya dia pura-pura pulang dan kembali ke AKJ diam-diam agar tenaganya bisa dikuras untuk bulan purnama.
“Tapi ada yang aneh di sini, Alka tak lagi merasakan energi AKJ yang sangat kuat, di sini dia hanya merasakan sepi, hanya tampilannya saja yang terlihat seperti AKJ, tapi ini jelas bukan!”
“Heh! Siapa kamu!” Seorang lelaki paruh baya bertanya pada Alka yang sedang berdiri terdiam di tengah lapangan untuk melihat keadaan sekitar sembari terus melayang.
Alka berbalik dan melihat lelaki tua jalan dengan tongkat, berusaha untuk menegurnya. Alka mengeluarkan cambuknya, hal itu membuat lelaki itu terdiam tak lagi maju.
“Kau ini kenapa Alka?” Lelaki itu bertanya, Alka bersiap dengan cambuknya.
“Kau yang siapa! Aku tak mengenalmu!” Alka berteriak.
“Kau mengenalku, kau sangat mengenalku, kau adalah keturunan Darhayusamang, kau adalah wanita yang sangat mulia bagi kami dan kami dulu bahkan menyiapkam kuil persembahan untuk ayahmu, tapi sekarang tak lagi karena tuanku lebih kuat dari ayahmu.
Maka mengingat kebaikan dan kedekatan kami sebagai sekte pemuja ayahmu, aku akan biarkan kau bebas, tapi ada syaratnya.” Lelaki paruh baya itu mengajukan syarat.
“Baiklah, apa syaratnya?” Alka bertanya.
“Serahkan tubuh jinmu padaku dan kau bisa hidup dengan tenang sebagai manusia biasa, kau mungkin bisa menikahi Aditia dan punya anak normal kelak, kau bisa menjadi bahagia. Yang perlu kau lakukan hanya, berikan tubuh jinmu padaku, aku akan membuatnya terpisah, antara ruh dan juga tubuhmu yang selama ini menyatu menjadi terpisah, hingga kau terlihat tak punya sukma. Padahal kami bisa mengupayakan perpisahan itu, ruh jinmu yang sangat berharga itu, kami akan lepaskan, lalu tubuhmu akan bisa menjadi manusia biasa.” Lelaki paruh baya itu membujuk.
Alka melihat ke arah lelaki paruh baya itu dan berkata, “Kalau tubuh jinnya aku berikan dan aku menjadi manusia biasa, lalu ruh di dalam tubuh manusia biasa itu siapa? Antek-antekmu! Tubuh normal tanpa ruh, artinya mati! Kau pikir aku bodoh!” Alka setelah mengatakannya lalu dia melayang semakin tinggi dan melesat, dia pergi dari AKJ palsu itu, melayang-layang pada sebuah hutan yang rimbun pepohonannya.
Alka jatuh di tengah hutan itu kareka kehabisan energi, dia hanya terbaring saja tak langsung bangun setelah jatuh dari tubuh melayangnya, tubuh jinnya tentu saja.
Lalu tanpa dia sadari, dia terlelap, sungguh lelah dan lemahnya dia.
__ADS_1