
“Terima kasih karena membuatku ingat, aku punya saudari.” Jarni lalu memegang kepala saudari kembarnya menarik kepala itu dan menjatuhkannya ke jurang.
Setelah itu, pemandangan di sekitarnya berubah, dia merasa ada yang memegang pinggangnya, terkejut Jarni berusaha melepaskan diri tapi lelaki itu berkata, “Aku, ini aku Ganding!” Jarni tersadar kalau ini adalah kekasihnya, dia lega.
“Kau kenapa?” Ganding buru-buru menariknya menjauh dari jurang. Jarni tersadar, ternyata dia sudah di bibir jurang.
“Kenapa aku di sana?”
“Kau berjalan ke arah jurang. Tidak hanya kau tapi juga ….
“Rania … adikku yang cantik, ambillah apapun yang kau mau.” Alisha terlihat sangat lemah, tanpa Rangda, keadaan tubuhnya memang sudah lemah, walau sempat membaik dan mereka bisa naik ke gunung, tapi keadaannya tidak siap untuk menerika serangan ghaib seperti ini.
Maka Alisha belum bangun, Aditia sengaja mengikatnya dan Alisha didudukkan di dalam tenda, beruntung Aditia memiliki tombak, benda pusakanya itu, tidak bisa mengejar Alisha maka Aditia melempar tombaknya untuk membuat kaki Alisha terjegal dan berhenti berlari ke arah jurang, lalu Aditia langsung menarik tubuh Alisha dan mengikatnya segera.
Sedan Hartino, tidak ada dari kawanan sadar dia juga sedang berlari ke pinggir jurang, Datona yang baru saja sampai puncak karena sebelumnya dia disuruh patrol oleh Aditia untuk melihat keberadaan musuh, ternyata sudah kembali. Aditia sengaja menyuruh Datona karena dia yang paling cepat jalannya di gunung ini, maka dia memilih orang yang tepat, karena cepat, dia bisa melihat Ganding berlari ke arah jurang dan melompat, Datona berlari dan menggapai tangan Hartino sembari memegang batuan pada tebing yang menjorok, tangan satu memegang Hartino yang berhasil dia tangkap, sedang tangan lainnya berpegangan pada tebing agar mereka bedua tak jatuh.
“Tolong!” Datona berteriak, Aditia dan Ganding berlari mencari sumber suara dan teringat Hartino tak ada di sekitar sana.
“Datona! Bertahanlah!” Aditia melihat Datona bergelantungan dan memegang Hartino yang masih memiliki pandangan kosong.
Jarni ikut melihat itu dan segera mengambil kuda-kuda, dia membuat pagar dan menaruh pagar itu pada sekitaran Datona dan Hartino, seketika Hartino tersadar, sedetik sebelum Datona tak kuat lagi memegang batu dan Aditia sedang membuat simpul pada tali untuk menarik mereka.
Hartino terkejut, tapi dia buru-buru menguasai keadaan dan akhirnya melepaskan pegangan Datona dan melompat pada tebing yang bisa menahan tubuhnya.
“Untung saja, tanganku sudah tak kuat.” Datona lega.
‘Kau ternyata hanya cepat saja, tapi tak cukup kuat.” Hartino berkata mengejak.
__ADS_1
“Hei, aku menyelamatkanmu loh, Kak!” Datona kesal dibilang tak kuat.
“Iya, iya … terima kasih.” Hartino berkata sambil tersenyum.
Aditia telah di samping Datona dan mengikatkan tali pada tubuh Datona, dia lalu berteriak pada Ganding dan Jarni agar mereka menarik Datona, Ganding dan Jarni memerintahkan khodam untuk bersiap, mereka mengguankan dua energi untuk menarik Datona dan akhirnya Hartini, terakhir Aditia.
Setelah mereka sampai di atas, mereka berkumpul di dalam tenda yang cukup besar itu dan Jarni buru-buru memasang pagar pada sekeliling tenda dan membuat Alisha tersadar.
“Kenapa kau bangungkan aku!” Alisha menjerit pada Jarni begitu dia tersadar.
“Hei, kau kenapa! Jarni mengeluarkanmu dari zona ghaib!” Hartino menarik Alisha yang tadi berteriak pada Jarni dan memegang bahunya dengan kasar.
“Aku ingin bersama Rania, aku ingin bersamanya, dia kesakitan, kami akan bertukar hidup!”
Hartino menampar Alisha, untuk pertama kalianya dia bersikap kasar pada istrinya.
“Aku tahu! Apa kau pikir aku tidak tahu kalau itu bukan Rania asli? Tapi aku ingin dia yang hidup, aku ingin dia yang ….”
“Meski sudah tahu kau membiarkan dirimu dikuasai karena rasa bersalah? Tak adakah pikiranmu sedikit saja untukku? Aku di sini bahkan mengorbankan apapun, mengorbankan keinginanku untuk bisa tetap bersamamu, kau tak pikirkan sedikit pun tentangku!” Hartino sungguh marah.
Alisha terdiam dan akhirnya meminta maaf pada Jarni.
“itu bukan zona ghaib, kalian dikurung dengan pagar ghaib, kalian masih di tempat yang sama, tubuh kalian tidak disesatkan ke zona ghaib seperti di hutan AKJ palsu itu, tubuh kita masih di sini, artinya mereka memagari tubuh kita dan kabar buruknya, siapapun yang memagari, dia mampu membuat zona netral pada tubuh kita.” Jarni berkata dengan serius.
“Jadi maksudmu … kalau kita dibuat terpenjara pada pagar ghaibnya, maka kekuatan kita hilang seketika selama masih di pagar ghaib itu?” Ganding memastikan kalau dia tak salah mengerti.
“Betul, ini aku pelajari, karena begitu aku membuat pagar ghaib pada Hartino, untuk menjaga mereka, jika mereka jatuh, maka jatuhnya takkan membahayakan, karena pagarku akan memperlambat efek jatuh. Tapi justru begitu pagar itu aku buat untuk Hartino dan Datona, Hartino tersadar, artinya pagar mereka menjadi pecah begitu pagarku melindungi Hartino, gesekan energi, kemungkinan … energi pagarku lebih kuat, walau efeknya hanya perlindungan bukan menghilangkan kekuatan dari objek yang dipagari.”
__ADS_1
“Kalau mereka bisa menyerang kita dengan pagar ghaib tanpa kita ketahui, artinya ….” Aditia tidak melanjutkan perkataan.
“Mereka sangat dekat!” yang lain melanjutkan perkataan.
Sementara tak jauh dari sana, pagar ghaib sudah dipasang, makanya energi mereka tak terdeteksi sama sekali, karena pagar itu membuat semua kekuatan hilang, mereka terlihat tapi tak terasa.
“Jadi begini, energiku akan tak terasa sama sekali ketika mendekat, karena aku dan Zarik dipagari oleh Zarik, sehingga energi kami tak terasa, kami akan sampai jarak paling dekat bagi mereka dan tanpa mereka sadari, Zarik akan memagari mereka satu persatu, seketika mereka tak memiliki kekuatan apapun dan aku akan segera membuat mereka terjebak dalam hal yang paling mereka takuti, aku akan memanggil kenangan yang paling menyakitkan dan membangkitkan keinginan mereka yang paling buruk, satu lagi, aku akan membuat mereka menghadapi apa yang paling mereka hindari.
Sekuat apapun mereka, bukankah mereka takkan pernah bisa menghadapinya? Kalaupun mereka sadar telah kita tipu, sebagian diri mereka pasti enggan berpisah dengan apa yang mereka inginkan tapi takuti.”
“Kau yakin bisa menjangkau semuanya untuk dipagari secara diam-diam, membuat energi mereka hilang seketika dan tubuh itu tanpa kekuatan? Kau tahu kan kalau Aditia tidak mudah dikelabui?” Asti bertanya.
“Paling tidak, kalau kita bisa menghilangkan satu atau dua diantaranya, mereka akan berkurang.” Zarik menjawab.
“Aku tidak suka dengan cara diam-diam begitu, seperti pengecut tahu!” Timo yang selalu memakai kekuatan, merasa terhina dengan usul penyerangan ini.
“Ini namanya siasat, mereka itu sudah menangani kasus banyak sekali, tetap solid, tapi Tuan Bagaskara sudah memecah mereka dengan menangkap wanita setengah jin itu, lalu sekarang kita pecah belah mereka, bahkan lihat Rangda ini terlihat sangat cantik dan imut di dalam pagarku.” Zarik mengingatkan.
“Maka ayo kita jalankan.”
Selanjutnya, adalah apa yang terjadi pada kawanan, mereka terjebak dalam hal yang paling mereka inginkan, Alisha terjebak pada ingatan Rania, Jarni terjebak pada keinginan paling menakutkan, yaitu menghidupkan kembali Jarna dan Ganding pada keinginan yang paling menakutkan juga, keturunan dari rahim Alisha, yang sulit mereka dapatkan.
Pada Aditia pagar mereka tak tembus karena gesekan energi, makanya ketika Aditia merasakan kalau dia sedang diserang, dia melihat Jarni dan Alsiha hendak berlari ke jurang, mereka pintah sekali, menyerang yang bukan Kharisma Jagat, karena tahu, mereka kalah kelas, sedang Aditia diserang belakangan dengan Ganding yang keburu dihalau Aditia serangannya hingga Ganding tak kena.
Apakah kalian tetap ragu pada kekuatan kawanan? Bukankah sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan ada waktunya jatuh juga, kawanan bukan manusia sempurna, mereka punya kelemahan, sama seperti Ayi yang sedang hamil dan Alka yang memiliki orang tua sebagai kelemahannya hingga membuatnya menjadi objek yang diperebutkan, bukan disayangi, tapi hanya pada kawananlah dia disayangi, maka sekarang, kalau kalian berharap kawanan adalah orang yang sangat kuat tak terkalahkan, kalian salah, dunia ini selalu mengajarkan kita untuk tak jumawa, karena di atas langit masih ada langit, bahkan semesta kita yang merupakan satu-satunya semesta yang kita kenal, ternyata hanya salah satu dari ribuan semenstar dalam tatanan tata surya.
Lalu apakah hidup sedatar itu bagi kawanan? Ada musuh lalu menang, sungguh membosankan bukan?
__ADS_1