Pasukan Kharisma Jagat

Pasukan Kharisma Jagat
Bagian 51 : Sujana dan Rangda 3


__ADS_3

“Lalu?” Ganding terlihat seru mendengar cerita yang ruh Sujana ceritakan.


Sedang Partagah duduk di sana dengan segelas kopi yang dibawa kawanan.


Mereka sedang mendengarkan cerita tentang Sujana yang kasusnya harus diselesaikan kawanan.


Sementara ada pesan masuk dari Alisha, Hartino melihatnya dan menyampaikan.


“Alisha bilang dapat penglihatan dari Rangda, Rangda mencoba untuk berkomunikasi dari jauh, dia minta tolong.”


“Har, apakah Rangda memberitahu dia ada di mana?” Ganding bertanya.


“Tidak, hanya sebuah ruangan penuh dengan lorong, Rangda menari dan meminta tolong dalam keadaan babak belur, tapi kata istriku Rangda berbeda, dia menjadi wanita yang sangat cantik aku ralat, jin wanita yang sangat cantik. Maka, kemungkinan itu wujud aslinya tanpa semua ilmu yang dia miliki, maka dia masih disekap oleh Bagaskara, apa yang harus kita lakukan Dit?” Hartino bertanya.


“Bukankah Bagaskara sulit dilacak karena dia menaruh markasnya di dunia ananta?” Partagah bertanya.


“Iya, Aki.”


“Kalau begitu, akan sulit menemukannya.” Partagah berkata dengan khawatir, “tapi bukankah anak buah mereka masih di markas kalian? Atau mereka sudah lepas saat Bagaskara datang ke AKJ?” Partagah bertanya.


“Oh, Atami dan kawan-kawan? Mereka hilang setelah penyerangan itu.” Aditia menjawab.


“Bodohnya anak-anak muda itu, padahal ilmu mereka mumpuni sebagai seorang Kharisma Jagat, walau umur muda, tapi ilmu tinggi, sayang tidak bijak, harusnya mereka ikut pada Ratunya, sepertiku yang sudah menentukan arah untuk mengabdi.” Partagah ingat, dulu sempat mengerjai ratunya, tapi dia tak marah, fokusnya sangat tinggi, tak peduli pada hal sepele, Ayi ketika itu memang sedang mengejar rakyat tanah pejuang untuk dijadikan sekutu.


“Ya, justru yang aku takutkan adalah, jika saja mereka tetap di sana, maka mereka mungkin pada akhirnya akan celaka, Ki, karena Bagaskara tidak benar-benar peduli pada mereka, jika saja kami membiarkan mereka tetap di sini saat Kak Behra keluar bersama rakyatnya, maka, habislah mereka. Tapi Ayi baik sekali, mereka mengutus kami yang harus berburu agar mereka tak sampai ke puncak, bukan takut mereka menyerang, tapi takut mereka mati.” Aditia ingat kejadian beberapa waktu lalu.


“Maka, paling baik saat ini adalah, menunggu Bagaskara menyerang lagi di bulan purnama ke 8 dan diam-diam masuk ke tempat yang dia buat dengan mencari tawanan paling rendah, karena pengikut dengan ilmu terendah, biasanya tak terlalu setia.”


“Ya, itu dia Har, kita harus menunggu, tak bisa menemukan jika hanya mencari tanpa arah, kau tahu, Ayi saja tak bisa menembus pertahanan mereka.”


“Ya, Dit. Aku tahu, tapi aku hanya takut, kondisi istriku akan semakin buruk.”


“Har, dia di tangan orang yang tepat, percayalah, Ayi akan menjaganya.”


“Aku tahu itu.”

__ADS_1


Hartino dan Aditia lalu mendengar lagi cerita dari Sujana.


Hari itu, adalah hari kelulusan, Sujana sangat senang, walau tak ada orang tuanya di sini, karena tak cukup biaya untuk memboyong mereka, sedikit kecewa karena seharusnya orang tua Sujana duduk di bangku paling depan, bangku undangan untuk orang tua mahasiswa yang cumlaude, tapi Sujana tetap bahagia, dia akan pulang dulu setelah wisuda selesai, dia ingin semakin dekat dengan Putri Kencana, hanya sebentar saja pulang, karena sebenarnya, dia sudah dapat pekerjaan di sebuah perusahaan yang cukup besar, jabatannya masih junior dan tidak terlalu tinggi, walau belum lulus kuliah, Sujana sudah mendapatkan pekerjaan itu sejak setahun yang lalu, karena dia orang yang pintar dan gigih, sehingga perusahaan juga bisa menerima ijazah SMA Sujana, dengan ijazah sarjana, kemungkinan naik jabatan akan sangat besar, Sujana yakin, dia bisa memulai karir dengan sangat cemerlang di kota ini, dengan pekerjaan tetap dan gelar yang baik, dia sudah sepadan untuk Putri, itu yang ada dalam pikirannya.


Maka walau sendirian, Sujana bahagia, dia bahagia karena akan segera pulang dan bertemu dengan kekasih yang belum juga dia pinang sebagai kekasih.


Hari wisuda selesai, Sujana izin pada perusahaannya untuk pulang ke kampung, dia ingin bertemu orang tuanya dan menyampaikan kelulusannya yang sangat cemerlang, dia menjadi salah satu mahasiswa yang paling pintar dengan nilai kelulusan yang sempurna.


Hari kepulangan pun datang, Sujana pulang disambut meriah oleh para tetangga yang menunggu di rumahnya, Sujana melihat orang tuanya menahan haru kepulangannya disambut bak seorang pahlawan.


Di antara para tamu yang datang, Sujana mencari Putri, tak ada wanita itu di sana, apakah dia tak datang? Atau dia tak tahu Sujana pulang? Sujana mencari keberadaan kekasih yang dia tunggu selama 4 tahun terakhir ini, karena dia tak pernah pulang sejak ke kota untuk pertama kalinya, dia tak punya cukup uang untuk pulang, tak seperti sekarang, dia bisa pinjam uang dari kantor karena telah setahun bekerja dengan sangat baik.


“Kenapa? Cari Putri?” Ayahnya bertanya pada Sujana yang terlihat celingak-celinguk di rumahnya sejak dia datang tadi, sementara para tetangga sibuk makan hidangan yang disediakan oleh orang tua Sujana ala kadarnya, uang kiriman dari Sujana juga belum terlalu banyak selama setahun ini, karena dia masih fokus untuk membayar biaya lain selama kuliah, walau dia adalah mahasiswa beasiswa.


“Emmm … enggak kok, Pak.” Sujana malu.


“Putri tahu kok kamu mau pulang, kemarin bapaknya ke sini mau minta tolong benerin pompa air mereka yang ngadat, bapak kan nggak bisa, trus bapak bilang kalau kamu lusa pulang, ya hari ini, jadi nanti kamu mampir aja ke sana ya, Putri mungkin malu ke sini, takut disangka nyamperin laki-laki.” Bapaknya kembali salah sangka, Putri memang enggan datang ke rumah gubuk itu, karena dia butuh Sujana hanya sebagai … kuli bangunan saja.


Sujana yang tadinya sedih karena Putri tak datang, takut kalau selama ini dia salah kira, kembali bersemangat, pastilah bapaknya benar, Putri malu datang ke sini, nanti kesannya dia yang nyamperin laki-laki, seorang anak kaya raya, tidak boleh seenaknya datang ke rumah lelaki, Sujana semakin suka dengan Putri, karena dalam penilaiannya, Putri memang seorang yang sangat tinggi derajatnya.


“Makasih ya Jan, sudah mau datang, selain mesin pompa air yang rusak, ini pintu lemariku juga rusak, tolong benerin ya, Pah, ada yang lain nggak yang rusak? Mumpung ada Jana nih.” Putri bertanya pada papahnya.


“Itu loh Nak, jendela kamar mama sama papah ya, udah seret, kayaknya kusen jendelanya udah turun deh, Jan, nanti sekalian dilihat ya.”


“Iya Pak, nanti saya lihat, tapi untuk mesin pompanya, ini sudah tak bisa dibenerin ya, harus beli baru, udah rusak ini, nggak bisa jalan lagi, kayaknya koslet deh, apa ada percikan api sebelumnya? Atau listrik mati?” Sujana bertanya.


“Oh ya, benar, sempet mati listriknya, ternyata dari mesin pompa ini, pantas begitu dia mati, listrik aman, nggak sering ngejepret, Jan.”


“Nah itu bahaya loh Put, bisa terjadi kebakaran kalau didiemin, untung kamu segera panggil aku.”


“Kami nunggu kamu loh buat benerin semuanya, soalnya nggak ada yang bisa benerin tuntas selain kamu, Jan. Nggak sia-sia ya kamu kuliah di kota. Kamu memang cerdas.” Perkataan basa-basi Putri yang membaut Sujana melambung tinggi.


“Yaudah Jan, kalau begitu, kamu beli pompa airnya ya, ini uangnya, nanti langsung pasang saja. Yang lain juga jangan lupa benerin ya.” Maskur memerintah, nadanya memang seperti seorang juragan memerintahkan pada pesuruhnya, tapi Jana yang sedang dimabuk asmara, tidak menganggap itu sebuah perintah, tapi sebuah permintaan karena mengira dia akan dijadikan mantu. Sungguh bodohnya Sujana.


Sujana melaksanakan semua perintah dengan sangat teliti, ketika selesai, papanya Putri memberikan sejumlah uang untuk Sujana, tapi Sujana menolak, sudah seharian dia di sana, dia juga sudah dikasih makan, dia menolak uang itu karena tak enak, besok-besok kan dia jadi menantu di rumah itu, pikiran dungunya datang lagi

__ADS_1


“Wah kau sudah jadi mapan ya, sampai menolak bayaran, Jan?”


“Yah, lumayan lah Pak, sudah bekerja saya, mungkin sebentar lagi dijadikan pegawai tetap, jadi tak usahlah, ini saya hanya membantus aja.”


“Yaudah kalau begitu, Putri kamu bawakan makanan untuk keluarga Jana deh, kami nggak suka utang budi.”


“Iya, nanti aku bungkuskan makanan ya, Jan, tunggu di depan aja ya.” Putri menjawab dan pergi menyiapkan makanan untuk dibawa Sujana.


Tak lama kemudian Putri keluar dengan membawa rantang makanan, dia berikan rantang itu ke Sujana.


“Nih, nanti kasih ibu dan bapakmu ya, makasih udah bantu, duh sekarang mah sombong deh, udah kerja di kota.”


Sujana menerima rantang itu dan berkata, “Besok aku datang lagi ya, selepas dzuhur aku ke sini lagi.”


“Oh … iya.” Putri membalas dengan tersenyum.


Sujana senang mendengar Putri ternyata memang menerima kedatangannya besok, walau Sujana belum menjelaskan maksudnya, tapi Sujana kira, Putri paham kalau dia berniat menyampaikan hal baik.


Sujana pulang dengan perasaan yang bahagia.


“Kenapa dia? Tadi kayaknya kalian ngobrol, ayahnya bertanya.


“Oh, iya, itu besok dia mau datang lagi ke rumah abis dzuhur.”


“Ngapain?” Papahnya bertanya.


“Nggak tahu deh, mau liat mesin pompa air kali, takut macet lagi, soalnya kan dia yang beli, dia kan emang selalu bener kalau kerja, makanya kita suka manggil dia.” Putri mengambil kesimpulan sendiri.


Mamanya lalu memanggil suami dan anaknya untuk makan malam, karena ini sudah sore, Jana hampir seharian tadi membetulkan semua yang rusak di rumah Putri.


Begitu sampai rumah, dia sampaikan rantang dari abdi negara itu, rantang diterima oleh ibunya dengan senang hati, rantang dari orang yang mereka pikir akan menjadi besan mereka.


“Pak, Bu, besok abis Dzuhur kita ke rumah Putri ya, kau sudah bilang aku akan ke sana lagi besok abis Dzuhur, Putri tidak bertanya, mungkin dia paham, jadi … besok kita ke sana ya, Bapak tolong lamar dia untuk aku, ini ada uang sedikit untuk membawa hantaran.”


“loh, ini uang dari mana Nak, kok banyak?” Ibunya kaget diberi uang cukup banyak oleh anaknya.

__ADS_1


“Udah nggak usah dipikirin, yang pentin beli yang enak-enak, supaya kita nggak malu.” Sujana tak ingin orang tuanya tahu kalau dia sudah meminjam uang dari kantornya untuk melamar Putri, Sujana tak sabar menunggu esok tiba.


__ADS_2