
TIGA HARI YANG LALU.
“Bu, gimana? apa uangnya cukup?” Sujana bertanya, dia terlihat sangat rapi, memakai kemeja berwarna abu-abu dan celana bahan hitam, tak lupa dia juga sudah mempersiapkan sepatu pantofel untuk melengkapi penampilan formalnya.
Sementara ibunya memakai gamis dan bapaknya memakai batik.
“Cukup sih Nak, tapi uang yang kamu kasih itu sudah habis, karena Ibu beli buah-buahan dan kue basahnya yang agak mahal, kan nggak enak Nak, kalau beli kuenya yang murah, takut nanti membuat kamu malu.”
“Iya Bu, maaf ya, nanti begitu lamaran selesai, aku akan bekerja lebih keras lagi deh, supaya bisa bahagiain ibu dan bapak, trus kumpulin uang juga buat nikah.”
“Iya Nak, pokoknya kamu harus semangat dalam mencari nafkah ya, kau tahu kan, Putri itu dari keluarga yang kaya Nak, aku takut kalau sampai nanti kamu nggak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.”
“Tenang aja Bu, Sujana akan berusaha lebih keras lagi setelah ini, lagian ... Putri itu anak yang baik, dia sangat ramah padaku dan pada keluarga kita, pasti dia begitu karena dia berharap aku segera melamarnya, kita jangan kecewakan dia ya, Bu.” Sujana yang sedang dimabuk kepayang tak bisa melihat secara benar.
Akhirnya, Sujana, ibu dan ayahnya siang itu jalan ke rumah Putri, anak dari seorang abdi negara, mereka datang dengan naik becak, tidak jalan kaki seperti biasa.
Saat sampai, pintu gerbang masih ditutup, Sujana turun dan membayar becak, ayah dan ibunya ikut turun di becak yang lain, Sujana lalu mengetuk gerbangny sembari berteriak salam. Dari dalam pembantu mereka keluar dan terdengar membuka kunci pintu gerbang rumah, Sujana lalu bertanya, “Bi, Putri dan orang tuanya ada?”
“Iya ada, tapi Non Putri lagi tidur, paling kalau mau benerin pompa, langsung aja ke belakang.” Bahkan pembantu itu sudah melihat Sujana begitu rapi, tapi masih tetap tak mampu memiliki prasangka bahwa Sujana akan melamar nona muda di rumah itu, nona yang terkenal sangat angkuh dan sok cantik itu.
“Yaudah, tolong dibangunkan ya Bi, saya ke sini nggak mau benerin pompa, jadi kami tunggu di ruang tamu ya.” Sujana langsung saja masuk tanpa mendengar jawaban bibinya, orang tuanya dia ajak masuk dan mereka duduk di sofa keluarga kaya itu.
Sementara bibi yang bingung, dia menuruti mau Sujana, memanggil papanya Putri dan mamanya, lalu membangunkan Putri juga.
“Ada apa Sujana?” Pak Maskur bertanya.
“Tunggu Putri dulu ya, Pak.” Sujana masih tersenyum di moment itu, papanay Putri terlihat sangat heran dan dia kurang suka, keluarga miskin ini duduk di sofa mahalnya dengan santai.
Putri hendak keluar dari kamar, tapi dia berteriak, “Kenapa sih aku dibangunin! Baru juga tidur! Ma, ini kenapa si Bibi maksa aku bangun sih!” Putri terlihat sangat marah, tanpa peduli kalau sedang ada tamu, Putri memang dikenal tak ada adab, dia baik kalau ada maunya saja, ajaran orang tuanya mungkin.
__ADS_1
“Put, aku datang sama orang tuaku.” Sujana berkata dengan lembut begitu Putri sudah duduk di hadapan mereka.
“Iya Neng, ini kami bawa buah tangan, ada buah dan kue basah, enak ini loh.” Ibunya Sujana menyodorkan buah tangan yang mereka bawa.
“Iya, makasih ya, Bu, taro aja di meja.” Putri membalas dengan ramah tapi tak mau memegang keranjang bawaan itu, dia masih belum paham kenapa Sujana datang.
“Lanjutkan Sujana, apa tujuanmu datang ke rumah ini?”
“Mau benerin pompa kan, Jan?” Putri bertanya dengan polos, ibunya Sujana mulai memiliki perasaan tak enak, entah kenapa, dia merasa tersinggung dengan gaya kurang sopan Putri padanya tadi, dia menjulurkan tangan untuk memerintah menaruh keranjang bawaan mereka di meja ruang tamu itu.
“Bukan Put, aku kan ... datang seperti yang kamu bilang, kalau aku mesti pulang untuk balik lagi ke sini. Aku dan keluargaku bermaksud untuk melamar kamu Put.”
Mendengar itu, Putri yang sedang menguap karena memang masih sangat mengantuk langsung terbatuk dan matanya membelalak, sungguh tak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Put, kamu mau menerima lamaranku kan?” Sujana masih mencoba untuk percaya diri.
Kau, berhenti menghina anakku.” Ibunya Sujana dalam tangis berkata, dia tak sanggup lagi mendengar ocehan hinaan dari wanita ini.
“Kami datang karena kami ingin melamarmu Putri Kencana, kau anak seorang abdi negara, kau seorang yang ramah sebelumnya, selalu menanyakan perihal putraku, kami merasa bahwa kau memang menyukai putra kami.” Kali ini ayahnya Sujana yang berkata.
“Kalian sudah salah sangka, aku disuruh bapakku menanyakan anak kalian, untuk membantu kami melakukan pekerjaan kasar, melakukan pekerjaan tukang, apa kalian tidak berpikir bahwa aku dan anakmu begitu jauh dan berbeda level! pak kau hanya seorang pekerja kasar, bagaimana mungkin bermimpi menjadikanku menantu kalian!” Bukannya diam, Putri malah semakin menjadi menghina Sujana, pria yang selama berkuliah di Jakarta sangat bekerja keras, menanti hari ini, hari yang dia pikir akan menjadi hari paling baik dalam hidupnya. Tapi malah menjadi mimpi buruk.
“Berdiri kalian, keluar dari rumahku sekarang.” Maskur berkata dengan pelan tapi sungguh penuh penekanan.
Ibunya Sujana dan bapaknya segera bangkit dan keluar dari rumah itu, Sujana mengikuti mereka keluar.
“Aku akan pastikan kalau kau takkan injak lagi rumah ini, pekerja kasar ingin menjadi menantu, kau gila!” Rupanya Putri masih sangat kesal dan tak juga puas menghina, walau mereka sudah berada di luar rumah.
“Berhenti Kencana! Berhenti menghina orang tuaku, cukup, jika memang kau keberatan, katakan saja tidak perlu menghina.” Sujana berkata menahan air mata yang akhirnya jatuh.
__ADS_1
“Bagaimana aku menolak, kalian datang saja sudah merupakan aib, bagaimana jika kabar ini terdengar ke pelosok kota, siapa yang mau meminangku setelah ini, jika orang rendahan seperti kalian berani datang melamarku!” Kencana masih menghina mereka, bahkan keluarga Sujana tidak dibiarkan masuk lagi, mereka hanya berbicara di halaman tanpa duduk.
Sujana mendengar itu semakin tak karuan perasaannya, dia tak tahan, keluarganya diusir, dia dihina dengan sangat buruk dan buah tangan yang ibunya belikan dari uang hasil meminjam dari perusahaan itu dilempar begitu saja, Sujana melihat ibunya memungut buah dan kue basah yang telah kotor dengan menangis, bapaknya sudah jalan keluar dari rumah milik orang sombong itu, sementara Sujana untuk terakhir kalinya mendekati Putri dan berkata ....
“Setelah ini kau yang akan datang ke rumahku.” Itu kata-kata Sujana.
Putri meliaht Sujana masih dengan marah, sementara papanya melihat Sujana mendekati anaknya mendorong Sujana hingga jatuh, Sujana tersenyum getir dan keluar dari rumah itu, dengan menarik ibunya yang masih saja memungut buah dan kue basah, Sujana tak melepaskan matanya pada Putri yang masih juga terus melihat dengan mata yang menyalang. Sungguh Putri tak tahu, bahaya apa yang akan mengintai dirinya.
...
“Sudah kubilang kalau dia takkan menerimanya, ini aneh, kalian salah sangka, bukankah sudah kuperingatkan, karena banyak pemuda kaya dari kampung sebelah dia tolak, karena baginya masih kurang kaya dan kurang tampan, dia tak menolak karena menunggumu Nak, kita semua salah paham.” Ibunya menangis sambil membersihkan buah yang dia berhasil selamatkan itu.
“Sudah diam Bu, ini bukan salah kita, sikapnya dia yang salah, dia suka anak kita karena bisa dijadikan budak, jadi ... jangan merasa rendah dan salah, dia yang salah, kalau pun mau menolak, seharusnya dia menolak dengan baik dan sopan, katakan tak ingin menerimanya dan kita salah paham, mungkin kita akan malu, tapi bukan berarti kita boleh dipermalukan begini.” Bapaknya berkata dengan berteriak, lupa bahwa ibu bukan orang jahatnya.
“Pak, jangan kasar pada ibu, ini salahku, jangan jadikan kesalahan ini membuat keluarga kita hancur.”
“Keluarga ini sudah hancur, besok pasti kita semua ditertawakan! Jadi jangan kau masih lembek kayak gini, seharusnya tadi kau tampar wajah wanita itu. Dia sudah menghina kita semua!”
“Pak, sudah cukup, sudah cukup.” Ibunya meminta suaminya untuk diam dan tidak lagi membicarakan hal memalukan ini.
“Aku akan langsung balik ke ibu kota, maaf pak, bu, aku tak sanggup menanggung semua ini di sini, aku janji akan bekerja sebaik mungkin di sana untuk membahagiakan kalian.”
“Tidak perlu, kami sudah malu, kami juga tak ingin uangmu lagi, pergilah dari ini, biar kami menanggung malu ini sendirian.” Bapaknya setelah berkata lalu pergi begitu saja.
Ibunya menangis memeluk Sujana.
“Jan, pergilah, hidup baik di kota ya, jadi anak baik dan soleh, pasti nanti ada perempuan yang mau menikah denganmu dan menerima kita dengan baik.”
Sujana hanya mengangguk, karena dia sudah tak ingin lagi berurusan dengan cinta sialan ini.
__ADS_1