Pasukan Kharisma Jagat

Pasukan Kharisma Jagat
Bagian 55 : Sujana dan Rangda 7


__ADS_3

“Pulang Nak, bapak … bapakmu … sudah meninggal dunia.” Suara dari sebrang sana terdengar, suara ibunya Jana yang memberitahu anaknya, bahwa bapaknya sudah meninggal dunia melalui sambungan telepon rumah milik kelurahan, ibunya menelpon kantor Sujana dari sana.Sujana mendengar itu langsung terjatuh, matanya mengeluarkan air mata tanpa suara, dia ingin menagis tapi dadanya terasa tertindih, dia sesak nafas dan setelah rekan kantornya memberikan air, Sujana baru merasa tak sesak lagi dan mulai bisa bernafas, setelah itu tangisnya batu pecah, dia menangis sejadinya sambil meminta maaf pada bapaknya.


Sujana meminta izin lagi ke kantor, walau malu karena sudah ada hutang tapi terkesan banyak izinnya, dia tak bisa membiarkan ibunya mengurus kematian bapaknya sendirian, bagi dia, bakti seorang anak juga harus dipertanggungjawabkan, maka dia harus tebal muka untuk izin pulang.


Tentu setelah minta izin dia diizinkan, orang kantor malah sibuk memberi semangat, karena setahu mereka Sujana baru saja melamar, tapi harus kehilangan, mereka tak tahu apa yang terjadi saat ini lebih mengenaskan lagi.


Salah Sujana karena selalu sesumbar dirinya melamar seorang wanita kaya yang menunggunya, padahal … dia hanya ditunggu untuk diperbudak.


Sujana begitu sampai kampungnya, berlari untuk sampai rumah, sepi … bahkan tak ada bendera kuning yang terpasang di depan rumahnya, bukankah bendera itu tanda bahwa ada warga yang meninggal di rumah itu, tapi kenapa tak ada bendera kuning di rumah itu.


Sujana terdiam, dia masih berpikir, apakah dia dikerjai, tapi dari telepon, itu jelas suara ibunya, masa ibunya mau mengerjai dia, maka Sujana meneruskan larinya masuk ke dalam rumah.


Dia melihat ibunya sedang mengkafani bapaknya … sendirian.


“Bu, Astagfirullah, Bu!” Sujana menangis melihat ibunya susah payang menutupi bagian tubuh bapaknya dengan kain kafan yang sudah disiapkan.


“Jan, sudah sampai kamu nak?” Ibunya terlihat sangat lelah, tapi air mata tak kunjung surut dari matanya.


“Ke mana para tetangga, Bu? Kenapa ibu sendirian?”


“Mereka takkan datang, Nak.”


“Loh, kenapa? Bapak ini kan orang yang cukup dikenal karena mereka kalau butuh beli hewan ternak, pasti ke sini, tetangga yang langganan sama bapak juga banyak, belum lagi teman-teman masjid bapak, bukankah bapak juga sering bersedekah jika masjid perlu bantuan untuk pembangunan?” Sujana kaget dan tak paham, kenapa tetangga tak ada yang datang.


“Itu dulu, sebelum dia ketahuan … main dukun.”


“Apa?” Sujana tak paham.

__ADS_1


“Bantu ibu kafani bapakmu dan kita kuburkan di pekarangan belakang, tak ada TPU yang mau terima bapakmu, ibu sudah memohon pada tetangga, bahkan merayu mereka dengan memberikan uang, tapi mereka menutup pintu semua, mereka bahkan membanting pintu di depan ibu, jadi … bantu ibu selesaikan dulu pemakaman bapakmu, baru ibu ceritakan semua, ya.” Ibunya memohon, Sujana hanya mengangguk dan dia lalu mengerjakan pekerjaan ibunya yang tadi tertunda karena kedatangannya.


“Jadi, tadi yang mandikan bapak siapa?” Sujana bertanya lagi.


“Ibu memandikannya sendiri Nak, kalau bukan ibu, tak ada yang akan melakukannya, ini pengabdian terakhir yang bisa ibu berikan pada bapakmu, hanya ini Nak.”


Sujana berhenti bertanya dan fokus untuk mengkafani bapaknya, setelah selesai, dia menggali tanah di pekarangan belakang rumahnya dan menggendong bapaknya sendiri untuk dimakamkan, setelah selesai, dia menancapkan nisan dan setelah itu dia dan ibunya masuk ke dalam rumah, Sujana mandi sementar ibunya menyiapkan makanan untuk Sujana.


Sujana makan dulu bersama ibunya, walau hidup terasa sepi tanpa bapak, tapi hidup harus terus berjalan, makan terasa hambar walau keahlian memasak ibunya tak pernah hilang, tapi … rasa getir yang dirasakan ibunya saat memasak, menjadi refleksi dari masakannya, tapi mereka terus makan hanya agar punya tenaga, mengurus pemakaman sendirian tanpa bantuan siapapun membuat Sujana harus kuat, dia harus tahu apa yang terjadi.


Setelah makan, Sujana membereskan piring dan gelasnya, dia lalu ke belakang dan mencuci bekas makan, setelah itu dia duduk di ruang tamu bersama ibunya, dia sedang menatap foto bapaknya.


“Jadi, apa yang terjadi bu?” Sujana bertanya.


“Ini adalah sebulan setelah tragedi lamaran itu Nak, kamu mungkin menganggap bahwa kami baik-baik saja, tapi tidak Nak, kami hancur, berantakan dan malu.”


“Nasi sudah menjadi bubur, ini akan menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa … perkara hati itu sulit ditebak. Aku pikir bapakmu diam saja saat kita ke pasar dihina dan dicemooh karena menganggap kamu anak yang tidak tahu diri, adalah sikap ikhlas dan menerima. Tapi aku salah, dua hari berturut-turut kami di hina, ternyata dia sudah menyiapkan sesuatu untuk membalas.”


“Membalas? Putri Kencana?” Sujana terkejut, dia bingung dengan arti kata membalas.


“Ya, Putri Kencana.”


“Apa yang bapak lakukan? Apakah bapak mencelakai Putri dan keluarganya?” Sujana khawatir, karena kalau iya, tak heran mereka dikucilkan, bahkan sekedar membantu memasang bendera kuning saja tak ada yang mau melakukannya.


“Ya, dia mencelakai Putri, tapi bukan fisiknya, melainkan … jiwanya.”


“Bapak ngapain, Bu?” Sujana mulai menangis, karena rasanya dia bisa menebak apa yang dilakukan bapaknya.

__ADS_1


“Bapak menemui dukun itu, dukun yang rumahnya di tengah hutan, dia meminta bantuan untuk bisa menyantet Putri.”


“Apa!” Sujana lemas, kenapa sejauh ini, dia memang mangatakan pada Putri bahwa, besok-besok dia yang akan datang ke rumah Sujana, tapi bukan berarti Sujana akan menyantet atau memeletnya, dia bermaksud bekerja lebih keras lagi, dia akan melakukan apapun agar bisa kaya raya, dia akan membuat Putri menyesal melakukannya, menolak lamaran dan menghina orang tuanya, jadi, karena kemarahan itu dia merasa mampu mencapai titik kaya raya yang dia angankan.


Tapi tak ada terbesit sedikit pun di dalam pemikirannya bahwa, dia akan pergi ke dukun dan mengerjai gadis itu secara ghaib.


“Lalu, apakah dukun itu membantu bapak?”


“Ya, dia membantunya, tersiar kabar bahwa Putri akan segera dipinang oleh seorang yang kaya raya, tapi pinangannya batal karena saat si pelamar itu datang, sayang Putri sangat pucat dan terlihat sakit-sakitan, maka akhirnya pelamar itu mundur karena takut Putri akan menjadi beban bagi keluarganya.


papanya yang curiga dengan keadaan Putri, lalu akhirnya pergi ke dukun yang sama untuk meminta bantuan melihat Putrinya, dukun itu bilang bahwa Putri telah disantet, tentu saja dia tahu, kan dia yang mengerjakan santetnya.


Papanya Putri begitu tahu soal ini, tahu bahwa bapakmu yang mengerjainya, karena selama Putri sakit, Putri tidak menceritakan semuanya, dia hanya diam saat ditanya kenapa, tapi keadaannya semakin memburuk dari hari ke hari, hingga minggu ke minggu.


Papanya Putri mengancam akan memberitahu warga bahwa dukun itu melakukan praktik santet ke warga kampung, jika saja warga tahu, dia akan dibakar ramai-ramai, selama ini dia bisa hidup tentram, karena tidak pernah menerima pesanan yang datang untuk mengejai warga kampungnya, tapi bujukkan bapak kemarin sangat menggiurkan, hasil ternak yang banyak milik bapakmu akan dia miliki, hasil ternak itu memang hampir seluruhnya yang diberikan.


Dukun itu lalu memohon agar papanya Putri mau tutup mulut, sebagai gantinya dia akan membantu Putri sembuh, karena santet yang digunakan bapakmu tergolong santet yang tinggi, maka pertaruhannya juga tinggi, dukun itu meminta uang yang sangat banyak untuk bisa membatalkan santetnya. Papanya Putri setuju. Maka setelah uang tunai diberikan, dukun itu berusaha keras untuk mengirim berbagai macam serangan pada bapakmu, serangan ghaib yang intens membuat bapak kewalahan, karena dia tak bisa melawan, pocong yang dia miliki, hanya satu sedang serangan begitu bertubi-tubi, sibuk memerintah pocongnya untuk menjaga dirinya, perlahan Putri sembuh, tapi perlahan juga bapak mulai lemah, serangan yang tak bisa dihalau oleh pocong peliharaannya, tetap menyasar pada tubuhnya, bola api dan jin yang suka merasuk, beberapa kali mencelakai dirinya, maka sejak saat itu, bapakmu sakit-sakitan, sakitnya aneh, seluruh tubuh penuh luka bakar dan koreng yang bernanah.


Memanfaatkan penyakit ini, papanya Putri lalu menyebar informasi tentang, bapakmu yang melakukan santet pada Putri, tapi tidak kena, makanya serangan itu mental dan malah mencelakai dirinya, warga marah mendengar itu dan mulai mengucilkan kita, bahkan saat bapakmu sekarat, aku harus menggendongnya sendirian ke tukang ojek yang aku cari dari kampung sebalah, karena tukang ojek kita tak ada yang mau antar.


Lalu setelah itu aku merawatnya sendirian, sampai dia meninggal dunia.”


“Ini keterlaluan Bu, sangat keterlaluan.”


“Nak, sudahlah, ayo kita pindah, bawa ibu ke kota, ibu bisa tinggal di mana aja, ngekost satu kamar saja, kita hidup baru di sana, jangan tinggal di sini, sampai rumah ini terjual, kita hidup irit saja, jangan ulangi kesalahan bapakmu.”


“Iya bu, aku takkan ulangi kesalahan bapak yang gagal memilih dukun, aku akan pastikan, kali ini, serangannya akan kena tepat sasaran, bagaimana aku bisa hidup nyaman setelah tahu bapakku mati-matian membela harga diri kami, sedang aku hanya tenggelam dalam mimpi membuktikan aku mampu kaya, tidak bu, cukup, keluarga itu harus malu seperti kita!” Sujana sudah membulatkan tekad untuk meneruskan perjuangan ayahnya, menghancurkan keluarga itu dengan jalur ghaib.

__ADS_1


__ADS_2