
Setelah bergulat dengan jin gagak yang berhasil dilumpuhkan, Malik yang kelelahan tetap bergelantungan dengan satu tangan di tebing yang bawahnya adalah urang itu.
Aditia terlihat kelelahan, karena dia juga salah satu yang bergelantungan dengan tangan satu, sedang tangan lain yang memegang senjata untuk melawan jin gagak itu.
“Masukkan senjata kalian, pegang tebing dengan kedua tangan dan bersiap untuk jalan lagi!” Malik berteriak, semua setuju walau sangat lelah dan setelah sampai ke dunia nyata, mereka baru sadar telah hampir dua minggu tak makan dan minum, betapa haus dan keringnya tenggorokan mereka, beruntung mereka bukan manusia biasa hingga walau tanpa makan dan minum selama itu, masih bisa bertahan, tak heran jika manusia biasa yang hilang ke alam ghaib, harus tak ditemukan hingga ke jasadnya, karena tubuh biasa takkan bisa bertahan selama itu di dunia ghaib, ruh tak sadar bahwa di sudah tersesat di alam ghaib dan selamanya terjebak di sana.
Mereka terus berjalan di pinggi tebing dengan kedua tangan yang memanjat, hingga tak lama kemudian akhirnya sampai pada batas di mana hutan ghaib tak lagi dikuasai oleh pagar buatan musuh.
Malik memanjat ke atas dengan sisa tenaga, saat tubuhnya sudah naik sempurna, Malik tidak langsugn istirahat tapi dia langsung menarik Aditia, begitu Aditia sampai di atas, dia menarik Ganding, Maik menarik Hartino, Ganding menarik Alisha, Adi lalu Jarni, mereka saling bahu membahu untuk bisa menaikkan semua orang.
Begitu semua orang naik, mereka semua langsung terlentang, membiarkan tubuh mereka beristirahat sebentar saja.
“Kak Malik, kalau kak Malik tidak datang, menurut perhitungan Ganding dengan melihat angka yang tertera pada setiap pohon, mungkin kami keburu mati lemas di sana. Bagaimana bisa, hutan ghaib milik musuh berhadapan dengan hutan AKJ, mereka membangun markas tanpa ketahuan oleh Ayi?” Malik heran.
“Kalau musuhnya mudah, apa kau pikir Ayi butuh bantuan kalian yang juga banyak menangani kasus milik Mulyana?” Malik masih terngah mengatakannya.
“Kalau musuh selicin itu, Ayi pasti sangat khawatir ya, Kak?” Aditia bertanya lagi.
“Kehamilannya yang membuat dia sangat ketakutan, takut kalau anaknya ada yang mencelakai.” Malik terdengar sangat sedih mengatakan itu.
“Aku tidak ketakutan, aku bukan orang yang mudah takut, karena yang kutakuti hanya satu, suamiku tidak pulang-pulang sejak dia mengatakan ingin memeriksa keadaan kalian.”
Semua orang tiba-tiba terkejut karena kedatangan ratunya Kharisma Jagat yang membawa begitu banyak pengawal.
“Kenapa kau keluar dari AKJ?” Malik terlihat gelisah melihat istrinya dengan perut yang sangat besar itu.
__ADS_1
“Aku merasakan energi kalian yang melemah, duduklah makan dulu, karena batu mantramu memanggilku, aku mendengar tumbukan batu mantra milikmu yang terus berbunyi, aku yakin kau sedang mencari jalan keluar karena terjebak suatu kondisi hingga mengeluarkan batu mantra untuk mendapatkan lokasi ghaib yang bisa menuntunmu ke lokasi berlawanannya.
Aku buru-buru keluar dari AKJ karena tersadar, begitu lamanya kalian sampai ke AKJ dan batu mantra penanda tempat ghaib, maka aku sadar, kalau kalian semua pasti terjebak di suatu tempat, maka aku menemukan kalian di sini sekarang, maka makanlah hidangan yang aku bawakan untuk kalian.” Para pengawalnya lalu memberikan rantang makanan yang lengkap dengan nasi dan lauk, kawanan buru-buru mengambil makanan itu dan besiap untuk melahapnya, tapi Malik berteriak dan berkata, “Jangan makan nasinya!” kawanan dan Dokter Adi tak jadi melahap nasi dan lauk yang terlihat enak serta masih hangan tersebut, hening ....
Malik terdiam setelah mengatakan hal tersebut dan ... dia mengeluarkan pedang lalu berlari ke arah Ayi Mahogra dan berusaha menghunus pedangnya tepat pada perut Ayi.
Kawanan menutup mata mereka dengan tangan, kaget dengan apa yang dilakukan Malik, Aditia bahkan bersiap untuk menyerang Malik karena melihat kakaknya dia tebas oleh suaminya sendiri.
Tapi Aditia urung melawan karena begitu pedang Malik terkena tangan yang menahan hunusan pedang dari Malik itu, Ayi Mahoga berubah menjadi seorang wanita yang berbeda, dia bukan wanita hamil lagi, hanya pakaiannya saja yang terlihat sangat mirip dengan pakaian yang Ayi sering gunakan, yaitu pakaian khas AKJ, seketika wajah itu berubah, Malik terus mengincar lehernya untuk ditebas, dia tak peduli walau seorang wanita, Malik tetap saja berniat menghabisinya.
Sedang para pengawal yang terlihat seperti pengawal Ayi, menyerang kawanan, kawanan yang baru saja leyeh-leyeh karena selepas membuang tenaga karena memanjat tebing itu, terpaksa mengeluarkan senjata lagi dan mulai membela diri.
Malik terus mencoba menyabet pedang panjang yang tajam itu, tapi wanita ini ternyat sangat mengusai bela diri, dia terus mampu menghalau serangan Malik, hingga akhirnya Malik berhasil sangat dekat untuk menghunuskan pedang, tapi gagal lagi karena pedang itu berhasil ditangkis dari tangan Malik dan terpental.
“Kalau aku ingin kekuasan, sudah sejak lama aku bergabung dengan kalian, tapi lihat bagaimana aku mempertahankan semua, untuk menjaga milik istriku, aku selalu bisa mengalahkan kalian bukan? maka jika saat ini kau bilang aku bisa mendapatkan wanita lain, apa kau sudah gila dan hilang akal? Sebanyak apapun wanita di dunia ini, tetap takkan bisa menggantikan istriku, wanita mulia yang merupakan ratunya Kalian!” Malik mengambil pedangnya lagi dan kali ini dia terus menyerang tanpa ampun secara membabi buta, dia terus menyerang tanpa belas kasihan hingga akhirnya wanita itu kewalahan dan terjatuh, Malik menusuk wanita itu dengan pedangnya tepat di dada, tapi sedetik sebelum pedang itu menghujam jatungnya, Malik menarik kembali pedangnya dan membuat darah wanita itu mengucur deras.
“Katakan pada para tetua dan anteknya, kalau kalian takkan pernah bisa meruntuhkan kekuasaan Ayi Mahogra, karena kekuasaan itu diberikan oleh Tuhan untuk menanggung dua semesta ini berjalan sesuai dengan semestinya.
Jadi, kami sudah siap dengan segala tipu muslihat kalian!” Wanita itu lalu bangkit dan berlari, tersadar dia sudah kalah telak, kawanan berhasil membantai orang-orang yang menyamar menjadi pengawal Ayi Mahogra.
Malik terjatuh setelah melakukan itu, tubuhnya gemetar. Walau dia sadar itu bukan istrinya, tapi menghunuskan pedang pada tubuh samaran Ayi, sungguh membuat Malik merasa sedih, seketika dia merasa akan membunuh istrinya, saat dia menghunuskan pedang itu pada tubuh Ayi yang palsu, dia menutup mata, makanya serangan itu mudah dihalau musuh sesaat sebelum dia akhirnya berubah ke wujud asli.
Aditia mendekatinya dan memegang bahu Malik sembari berkata, “Bagaimana kakak bisa yakin kalau itu bukan Ayi? Aku merasakan energinya yang sangat mirip dengan Ayi, aku bahkan tadi mengira kau tiruan, aku benar-benar bingung dengan semua ini, aku jadi takut kalau kita semua akhirnya tidak saling percaya.” Aditia kalut.
“Batu mantra, Ayi tak pernah tahu soal itu, walau sedikit tak yakin, tapi setelah kuingat kembali, aku tidak pernah mengatakan soal ini pada Ayi, karena batu mantra itu masuk golongan ilmu hitam, Ayi sangat benci ilmu hitam, makanya aku tak pernah memberitahunya soal ini.” Malik tak sungkan memberitahu kawanan, karena dia paham, kawanan pasti tahu soal Malik dulu adalah seorang manusia yang ngilmu ilmu hitam dan putih untuk melindungi Ayi dan menjaga semua milik Ayi.
__ADS_1
“Wah, ternyata rahasia suami istri bisa membantu di saat genting begini.” Ganding takjub, tapi Malik merasa itu bukan pujian, walau Ganding benar, dia masih banyak menyimpan rahasia dari istrinya.
“Segera masuk AKJ, karena dia pasti selalu mengincar kita dan hendak membawa kita jauh dari Ayi.” Malik meminta semua orang untuk ikuti dia.
...
“Tunggu Malik dan kawanan untuk eksekusi, jangan lakukan tanpa mereka, karena kau ingin Malik di sisiku saat pembantaian massal itu terjadi, aku yakin anak-anak pasti panik saat tragedi itu terjadi, tapi tak ada cara lain selain mengumpulkan mereka semua di lapangan AKJ.” Ayi berkata pada Hanif, mereka berdua bicara di aula.
“Baiklah, tapi apakah akan ada resiko kita melakuanya dengan terbuka? Kenapa kau memilih cara sekeras ini?” Hanif bertanya.
“Aku tak punya waktu untuk memanggil mereka satu persatu, yang aku butuhkan adalah, membantai mereka.” Ayi terlihat berbeda.
“Aku merinding melihatmu, Seira.” Hanif memanggil adik iparnya dengan santai.
“Pak Hanif, apa aku menakutkan bagimu?”
“Aku melihat sisi adikku yang tertular padamu, dingin dan sangat penuh amarah saat yang terkasihnya dicelakai musuh. Malik dulu berkelana sejak SMA untuk mengumpulkan pasukan untukmu, aku melihat tatapan dan hati yang dingin di sana, karena tujuannya satu, agar kau aman.
Sekarang aku melihat tatapan itu Ayi, aku melihat betapa dinginnya wajah itu. Kalian berdua sungguh sangat kuat melindungi apa yang kalian cintai. Anakmu ini membuatmu sedikit berubah Ayi.”
“Bagaimana tidak, insting seorang ibu untuk menjaga anaknya takkan pernah meleset. Aku tak mau lagi menjaga prinsip yang mungkin mencelakai anakku dan AKJ. Maka ini satu-satunya cara, menjadi sekejam musuhmu.”
“Ayi, hati-hati, jangan sampai kau menjadi benar-benar seperti mereka, ini hanya nasehat dari kakak iparmu.” Hanif lalu pamit setelah mengatakan itu.
Seira menatap pada perutnya, mengusap perut itu, “Maafkan ibu ya Nak, tidak bisa memberikan dunia yang tenang padamu, kukira peperangan itu akhirnya, tapi aku salah, peperangan itu hanya baru permulaan, anakku sayang, maafkan ibu yang harus menjadi ibumu, hingga kau harus semenderita ini sejak di dalam kandungan.” Ayi menitikkan air mata sembari terus mengusap perutnya.
__ADS_1