Pasukan Kharisma Jagat

Pasukan Kharisma Jagat
Bagian 50 : Rangda dan Sujana 2


__ADS_3

“Pak, Sujana ada?” Putri Kencana bertanya pada bapaknya Sujana, dia terlihat sedang membersihkan kandang burung di depan rumahnya ini sudah pagi.


“Sujana lagi ke kebun antar makanan untuk ibunya.” Bapaknya Sujana tersenyum dengan tulus, dia senang sekali melihat Putri seorang abdi negara ternama di desa ini selalu datang untuk menanyakan putranya.


“Oh, yasudah, nanti kalau sudah pulang, tolong sampaikan pesan bapakku, datang ke rumah ya.” Putri Kencana tersenyum lalu kembali ke rumah.


Tak lama kemudian, seorang pria pulang bersama ibunya, dia masih belia, umurnya 18 tahun, dia baru saja mendapatkan kabar kalau dia mendapatkan beasiswa di salah satu perguruan tinggi di kota, satu minggu lagi dia harus mulai tinggal di sana untuk mengurus semuanya dan mulai berkuliah.


Di desanya tak banyak orang yang bisa mendapatkan beasiswa, tapi karena kegigihan Sujana, dia akhirnya mendapatkan beasiswa penuh dan hanya harus mengeluarkan biasa kehidupan sehari-hari dan tempat tinggal untuk bisa berkuliah di kota.


Itu tak mudah bagi orang tuanya yang hanya tenaga kasar, bapaknya hanya seorang tukang bangunan atau kita biasa menyebutnya kuli, sedang ibunya bekerja di kebun milik orang, kalau tiba waktunya panen, maka mereka bagi hasil 70 dan 30% untuk ibunya Sujana, pemilik kebun akan selalu menjadi pihak yang diuntungkan, sedang pekerja kasar hanya mendapatkan secukupnya saja.


Sujana ingin mengubah hidup orang tuanya dengan berkuliah di kota.


“Jana, tadi Putri Kencana anaknya Pak Maskur yang abdi negara itu ke sini cari kamu.”


“Oh iya pak, mungkin cek genteng boro mereka lagi.”


“Ah, aku pikir ada tujuan lain kedatangan anak perempuan itu, dia kalau ke sini ramah sekali.” Bapaknya Sujana terlihat sumringah, berharap kalau putranya ditaksir abdi negara yang kaya raya itu.


“Pak, dia hanya butuh tenagaku saja, sudah ya, aku ke sana, karena lumayan uangnya untuk bekalku ke kota nanti.” Sujana yang lelah habis bantu ibunya di kebun lalu pamit lagi.


Sujana sampai di rumah Maskur dan mengucapkan salam, Putri Kencana sendiri yang buka pintu dan dia langsung tersenyum begitu Sujana datang.


“Jana, masuklah, papa sudah menunggumu di dapur.”


Putri Kencana membuka pintunya lebar dan membiarkan Sujana masuk.


“Pak Maskur, ada apa?” Sujana bertanya.


“Ini loh, Jana, ****** kami mampet, bisa tolong diliat kenapa ya?” Sujana salah kira, bukan genteng yang bermasalah, tapi ****** mereka, pantas saja Putri Kencana senang Sujana datang, karena dia sudah menahan sakit perutnya sejak tadi karena jambannya yang mampet.


“Oh, itu gampang pak, sebentar saya belikan soda api dulu di pasar dulu ya, supaya bisa larut itu kotorannya, pasti kotoran itu mampet, ada yang buang apa ke ****** nggak?” Sujana bertanya.


“Wah kau ini bisa segalanya ya Jan,” Putri berkata dengan senang.


“Itu mah biasalah Put.” Sujana lalu diberikan uang oleh Maskur dan dia pergi ke pasar.


Sementara Putri dan Maskur menunggu di ruang tamu.

__ADS_1


“Dia disuruh kerja di sini aja sih Pah, biar kerjaan rumah jadi beres, kalau ada apa-apa enak ada dia, cepet, susah nyari tukang yang ahli. Kayak ****** mampet gini kan orang susah buang hajat.” Putri memang sangat suka pekerjaan Jana, dia suka orang yang cekatan.


“Maunya gitu, tapi bapaknya bilang kalau dia mau kuliah di kota, katanya dapat beasiswa, tapi dari kampus swasta yang nggak bonafitlah.”


“Yah, jadi dia nggak bisa jadi kuli kita dong, Pah?” Putri kecewa.


“Iyalah, nggak bisa, tapi biarin aja, nanti juga abis lulus kuliah nggak dapet kerjaan bakal balik lagi ke sini, orang kampusnya nggak bergengsi gitu, paling di sana juga jadi apa? Admin biasa, di tempat Papah, admin rendahan itu masih honorer, gajinya juga nggak seberapa dibayar beberapa bulan sekali lagi. Kalau udah kesusahan gitu, dia pasti balik lagi ke sini.”


Tak lama kemudian Sujana kembali lagi ke rumah Maskur dan dia menuangkan soda api secukupnya untuk ****** yang mampet, lalu setelah menunggu beberapa saat, dia menyiram ****** dan air turun walau tidak terlalu kencang.


Sujana mengulang menuangkan soda api kembali dengan takaran yang lebih banyak, setelah itu dia menutup jambannya dengan triplek, karena ****** itu masih ****** yang jongkok.


“Pak Maskur, ini ditutup dulu selama 9 – 10 jam deh, biar obatnya bisa bereaksi, biar kotorannya terurai, besok pagi lah baru bisa dipake, jadi sementara numpang di tetangga aja ya Put.”


“Iya Jan, makasih ya.”


Lalu Maskur memberikan sejumlah uang pada Jana, Putri mengantar Jana ke depan, ada yang ingin dia bicarakan.


“Jan, katanya kamu keterima kuliah ya di kota?” Putri Kencana bertanya, mereka di halaman rumah Maskur.


“Iya, Put. Alhamdulillah, mimpiku tercapai, aku ingin orang tuaku bangga padaku.”


“Wah hebat ya kamu, Jan.”


“Tetap aja harus bangga dong, Jan.” Putri hanya basa-basi, karena bukan itu yang dia ingin sampaikan.


“Iya bangga kok, yaudah, aku pulang ya.”


“Iya, makasih ya Jan, tapi … kalau di kota nanti kamu ngerasa susah setelah selesai kuliah, balik lagi ke desa ini ya, di rumah ini kamu akan selalu diterima kok.” Putri tersenyum dengan manis dan sangat cantik mengatakan itu, Sujana mendengarnya, sungguh terkejut tapi senang, karena perkataan bapaknya tadi, dia jadi mulai percaya bahwa Putri memiliki niat lain, padahal sebelum ini, dia selalu berpikir bahwa kebaikan Putri hanyalah karena dia selalu bisa menyelesaikan pekerjaan kasar di rumah Maskur itu, jika saja bapaknya Jana tak berprasangka berlebihan, Jana masih mengira bahwa Putri hanya menganggapnya pesuruh saja, tak lebih dan dia masih merasa tak pantas.


“Gimana, gentengnya bener bocor?” Bapaknya Jana bertanya.


“Jambannya mampet, udah dikasih soda api.”


“Oh, yasudah kamu mandi trus makan deh sama ibumu sudah dimasakkan telur dadar tuh.” Bapaknya lalu bermaksud pergi ke masjid untuk solat magrib.


“Pak, aku ingin cepat lulus deh.”


“Lah, mulai kuliah aja belum, Bapak tahu, kamu nggak sabar mau jadi Sarjana dan dapat kerjaan enak kan?”

__ADS_1


“Bukan itu Pak, aku ingin melamar Putri, tadi dia bilang, kalau di kota terlalu susah, aku disuruh balik ke desa ini trus dia bilang, di rumahnya saya akan selalu diterima, Pak.” Sujana senang sekali menceritakan itu.


“Nah, apa Bapak bilang, Putri pasti naksir kamu tuh, yasudah, sekarang kamu solatnya diperbaiki, siapa tahu setelah kuliah kerja enak, kamu bisa pinang anak abdi negara yang tersohor itu, keluarga kita akan terangkat derajatnya.” Bapaknya Sujana lalu pergi ke masjid setelah tadi sempat ditahan anaknya untuk curhat.


Sementara Jana makan dengan lahap, walau tangannya masih terasa bau soda api akibat ****** yang dia bersihkan.



Hari di mana Sujana akhirnya harus pergi ke kota untuk kuliah tiba, dia hendak berpamitan dengan orang tuanya.


“Ini ada sedikit bekal, kamu belikan HP ya, HP biasa saja yang penting bisa nelpon kami, ini juga ada nomor HP tetangga kita, nanti kamu telepon dia kalau bisa, hanya untuk sekedar berkabar sama kami.”


“Iya Pak, makasih ya, nanti aku cari HP yang biasa saja, yang penting bisa nelpon Bapak sama Ibu.”


Kala itu HP sudah menjadi kebutuhan utama, tapi di desa tidak semua orang punya. Jadi, Sujana belum pernah punya HP, tapi berpisah jauh dari orang tuanya, membuat bapaknya meminjam uang dari bank keliling di desa itu agar bisa memberikan uang lebih pada Sujana.


“Pak, Bu, sehat-sehat ya, suapaya Jana bisa tenang di sana, bisa kuliah fokus.”


“Iya Nak, kamu yang semangat, cepat lulus dan cari kerja, jangan pacaran di sana ya, ingat, ada Putri Kencana yang menunggumu di sini.”


“Iya Pak, aku akan ingat itu, aku takkan macam-macam biar bisa fokus dan bisa segera pulang dengan pekerjaan yang bisa membuat bapak, ibu dan keluarga Putri bangga.”


“Bagus Nak, hati-hati di jalan.” Bapaknya Sujana memeluk anaknya, disusul ibu dan akhirnya Sujana pergi dari desa itu, dia sudah berpamitan dengan Putri kemarin saat dia membetulkan jendela kamar Putri yang sulit dibuka karena umur, Sujana membetulkan jendela itu dan membuat Putri lagi-lagi senang.


Kesenangan Putri yang menganggap Sujana sebagai pekerja kasar yang mahir, dianggap sebagai kekaguman wanita terhadap seorang pria, membuat Sujana semakin ingin segera pulang, padahal belum juga dia kuliah.


Waktu berjalan, Sujana menjadi seorang Mahasiswa yang sangat pintar, dia bahkan berhasil meraih cumlaude di jurusannya, orang tuanya diundang karena akan duduk di bangku paling depan, khusus untuk semua orang tua dari mahasiswa yang cumlaude.


Warga desa mendengar itu sungguh bangga pada Sujana, berkat itu orang tua Sujana menjadi dikenal dan setiap orang menunggu kepulangan Sujana, si calon orang sukses.


Sementara di rumah Maskur Putri terlihat kesal.


“Kenapa sih Put?” papahnya bertanya.


“Ini nih, pintu lemari dibenerin sama tukang kebun kita, sekarang udah rusak lagi, nggak becus dia!” Putri kesal.


“Tunggu beberapa hari lagi si Jana pulang kok, kamu bisa minta tolong dia benerin.”


“Oh iya ya, nggak sabar nunggu dia pulang, banyak pekerjaan yang harus dia beresin nih di sini.” Putri senang mengingat itu.

__ADS_1


Apakah ada di antara kalian yang juga bermasalah dengan tukang yang akhir-akhir ini keberadaannya mulai langka? Kalau ada, itupun kurang mahir, sekalinya ketemu yang mahir, biaya hariannya tinggi sekali.


Hati-hati bersikap baik pada orang ya, karena bisa jadi salah sangka, seperti Sujana dan keluarganya.


__ADS_2