
“Apa yang kau lakukan padanya hingga dia bisa keluar dari pagar ghaib milik Jarni?” Zarik bertanya pada Atami.
“Ini.” Atami menjentikkan jarinya, maka keluarlah seorang wanita yang bernama Merati, dia adalah orang kepercayaan Bagaskara yang seharusnya tak ikut operasi pembantaian tanah para pejuang di gunung butir-butir ini, karena harus menjaga Alka. Salah satu wanita yang bisa merubah wujud menjadi orang lain, di sana, di tempat penyekapan Alka, ada begitu banyak orang yang memiliki kemampuan yang sama di sana, karena mereka memang hanya bisa meniru dan menipu saja.
“Merati! kapan kau sampai?” Zarik bertanya, dia memang lumayan menyukai Merati, walau belum pernah mengungkapkannya.
“Baru saja, Tuan Bagaskara bilang kalian pasti butuh aku di sini untuk mengerjai mereka, si paling loyal pada iblis wanita itu.”
“Lalu? Apa yang kau lakukan?” Asti bertanya.
“Bodoh sekali kau, masih belum tahu, tentu saja Merati menyamar menjadi Saba Alkamah, dia sudah mencuri energinya di tempat penyekapan, kau tahu kan, kalau energi Alka sudah ditampung sangat banyak, si bodoh itu masih belum paham hendak apa tuan Bagaskara untuk energinya.
“Aditia tertipu?” Kali ini yang bertanya adalah Timo, si paling sadis, yang katanya mampu menggeser gunung.
“Tentu saja, dua orang kasmaran tak bertemu lama, begitu melihat sosok, suara dan energiku, dia langsung keluar dari pagar Jarni dan menghampiriku, hampir saja dia memegangku, karena kalau sampai dia pegang, dia akan sadar, energiku hanyalah curian, ditabur ke seluruh tubuh untuk mengelabui, bukan energi asli yang terpancar. Tapi beruntung si Atami langsung menipunya dengan imajinasi liar, tapi si bodoh ini malah menciptakan imajinasi dongeng Jaka Tarub, kau kurang kreatif!
Tapi dia cukup lama tergoda, hampir saja kita mampu menangkapnya, sayang sekali dia keburu sadar, aku lupa kalau antara Aditia dan Alka punya efek lanjo, Alka bahkan pernah sangat keras kepala mengatakan bahwa lanjonyalah yang membuatnya tak mampu berkhianat.” Merati menjelaskan.
“Hanya orang lemah yang terkena Lanjo, selamanya dia akan terikat dengan Karuhunnya, tuan kok dikendalikan oleh peliharannya, dasar bodoh! Yang kayak gitu mana bisa dibilang Kharisma Jagat dengan kelas yang tinggi.” Atami kesal karena dia tak berhasil melawan Aditia, makanya dia terus ingin menghinanya.
“Lalu pada apa lagi kita akan mengerjai mereka?” Asti bertanya pada seluruh rekannya.
“Apa lagi? Hadapi secara terang-terangan, mereka pasti kalah karena punya banyak kelemahan.” Atami menjawab, bisa dibilang, si ahli tipu daya inilah pemimpinnya.
…
“Kita akan sampai ke puncak gunung sebentar lagi dan aku tak bisa merasakan energi mereka sama sekali.” Ganding berkata, berbeda dengan musuh, kawanan mampu mendeteksi energi musuh tanpa terkecuali, kecuali energi yang memang disembunyikan, seperti saat ini para musuh memagari energi mereka agar tak terdeteksi.
“Mereka belum sampai seperti yang kita khawatirkan, beruntung kita diberi jalan tikus oleh Partagah.” Aditia senang karena puncak gunung sudah terinjak tapi musuh belum juga datang, lalu mereka mulai mendirikan tenda, menunggu musuh datang dan mulai bertarung.
“Makan dulu, aku siapkan.” Alisha lalu mempersiapkan makanan untuk mereka semua. Dia lalu membelakangi kawanan karena akan mengelurkan perlengkapan sementara semua yang lain membuka tenda lagi untuk istirahat, hari masih sore, belum malam, jadi masih cukup penerangan untuk mempersiapkan semua.
Setelah Alisha siap dengan makanannya dia lalu berbalik untuk memberi makan pada semua orang dan … sepi … langit menjadi gelap, bagaimana bisa hanya dalam hitungan detik, sebelum dia berbalik, dia masih mendengar suara celoteh kawanan dan langit masih terang, lalu berubah menjadi gelap dan sepi hanya karena dia berbalik menghadap kawanan. Alisha terdiam, dia tidak akan berteriak mencari kawanan, karena bisa jadi itu menarik perhatian musuh, Alisha memutuskan untuk berbalik lagi, siapa tahu kalau dia berbalik kondisi kembali seperti semula, tapi tidak, matahari tetap gelap dan sepi.
ALISHA
“Kak ….” Terdengar suara dari jauh, suara yang begitu Alisha hapal.
__ADS_1
“Rania!!!” Alisha berteriak sejadinya, dia sungguh histeris mendengar suara itu, suara yang datang dari pinggir jurang, Alisha berlari ke arah jurang itu.
“Aku mohon jawab aku Rania! Jawab aku!” Alisha yang memang tidak pernah melihat secara langsung kematian Rania, harus terkejut dengan suara itu.
“Kak.” Alisha yang sudah tengkurap di pinggir jurang untuk melihat Rania, harus bangkit karena mendengar suara dari belakan tubuhnya, saat dia bangkit, dia melihat seorang wanita dengan baju yang biasa Rania kenakan, tapi baju itu begitu lusuh, wajahnya hancur sebagian, terlihat kulit wajah rontok, tengkorak menonjil dan bibir robek hingga ke telinga. Berdirinya pun sangatlah aneh, karena kaki kirinya patah pada bagian dengkul.
“Rania, ada apa dengan tubuhmu?” Alisha hendak mendekat, tapi urung karena di belakang Rania, terlihat seorang nenek muncul perlahan, nenek bungkuk yang sangat Alisha kenali.
“Esash!” Alisha berbisik, dia sungguh takut karena Esash semakin menghitam, tapi energinya sangat amat tinggi, membuat Alisha ketakutan. Dia ingat, jika Esash ingin dirinya, maka tubuhnya akan terluka, bahkan tulang rusuknya patah berkali-kali karena ulah nenek tua yang ingin tubuhnya itu. Esash yang merenggut rahimnya.
“Kembalikan Rania padaku Esash, aku mohon.”
Alisha menangis tersedu, dia tak jadi mendekati Rania, dia menangis sejadinya sambil bersujud, ingin adik kesayangan yang selalu memanggilnya dengan panggilan nona, bisa kembali ke pelukannya.
“Kau ingin dia?” Esash menarik tangan Rania dan mematahkannya, Rania terlihat kesakitan, Alisha histeris, karena wajah dan seluruh tubuhnya telah hancur, lalu bagaimana mungkin Esash masih terus menyiksanya.
“Hentikan Esash, hentikan!” Alisha berteriak, dia sungguh tak sanggup melihat ini semua.
“Jika kau ingin dia, bertukar tempatlah, aku dengan senang hati menukarnya.” Esash menyeringai dengan senyum yang sangat lebar, Alisha menatap nanar pada Rania, tentu saja, apa yang Esash inginkan, mungkin saja dia berikan.
JARNI
Jarni terkejut, kenapa harus gelap? Tadi langit senja masih terang, kenapa sekarang sangat gelap? Alisha mencari kawanan, dia berlarian ke sana ke mari tapi tak juga menemukan kawanan, Jarni terdiam dan menarik nafas, dia tahu, ini zona yang diciptakan orang lain, dia masuk ke zona ini, tapi bagaimana bisa!
Saat terus melihat sekitar, dari kejauhan, dia melihat seorang anak perempuan dengan pakaian lusuh, kaki yang kotor dan wajah yang sangat pucat.
“Kau siapa?” Jarni bertanya, Jarni tidak pernah ingat soal gadis kecil itu, sampai Mulyana tiada dan tak sengaja Jarni membaca buku catatan Mulyana tentang Jarna yang menjadi salah satu ruh, ruh yang dijemput pulang.
Dari saja Jarni tahu tentang saudara kembarnya, walau kenyataan paling pahit tak pernah dia ketahui, semua orang diam untuk rahasia yang satu itu.
“Aku saudara kembarmu.” Gadis itu berkata dari jauh, dia berjalan dengan susah payah, dari jauh Jarni melihat baju dress yang dia gunakan, lusuh pada bagian dada, seperti ada noda darah di sana.
“Jarna? Kau benar Jarna?” Jarni hendak mendekat, tapi tidak jadi, karena tiba-tiba kepala Jarni terjatuh ke bawah, lepas dari tubuhnya.
“Jarni, berikan jantung itu padaku, sakit rasanya!” Jarna berbicara dengan kepala yang sudah di tanah.
Jarni tidak pernah takut dengan penglihatan yang sangat mengerikan ini, karena sudah biasa. Tapi berbeda jika yang terlihat seperti ini adalah saudara yang dai rindukan.
__ADS_1
“Jarna, maafkan aku, aku tidak tahu tentang dirimu, aku tidak tahu kau sakit dan aku ….”
“Jarni!!! Aku tidak sakit, kau yang mengambil jantungku, hingga aku mati! Mereka memilihmu yang sehat diabanding aku!” Jarna berteriak, tubuh tanpa kepalanya berlari ke arah Jarni hendak mencekiknya, Jarni tercekik, dia membairkan tangan kecil itu mencekik lehernya, dia tak bisa melukai Jarna lagi.
“Tukar tubuhmu dengan tubuhku, aku ingin tubuhmu, bukankah selama ini kau sudah hidup dengan cukup baik? Tukar tubuhmu denganku!” Jarna berteriak dan terus mencekik Jarni yang sudah hampir kehabisan napas.
Hartino
“Dit, kau dengar suara itu?” Hartino bertanya, tapi Aditia tak mendengar, dia terus saja sibuk membangun tenda dengan Ganding.
Karena penasaran Ganding berjalan mencari sumber suara, dia terus mencari dan … gelap! Hartino kaget, kenapa sangat gelap, dia berbalik dan berputar, dia melihat sekeliling, sunyi … sepi … tak ada siapapun di sana, Hartino berteriak memanggil semua orang, semua nama dia sebut tapi tak kunjung ada yang mendengar.
Ganding berjalan tapi saat dia berjalan, dari kejauhan dia melihat seorang anak balita berdiri di hadapannya, jarak mereka cukup jauh.
“Papa!” Anak itu berteriak memanggil Hartino dengan sebutan Papa. Hartino mundur, dia tak paham kenapa anak itu memanggilnya papa.
Anak itu berlari mendekati Hartino, saat semakin dekat, anak itu tiba-tiba memeluk Hartino, Hartino tidak bisa menghindar, karena … ada energi Alisha di dalam tubuh anak itu. Suara yang dia cari sedari tadi, suara tangis anak dan juga suara memanggil papa, suara yang membuatnya penasaran.
“Papa, peyuk papa!” Anak itu meminta Hartino balik memeluknya karena dia sudah memeluk Hartino dengan erat.
Hartino tidak bisa menahannya dan memeluk anak itu, dia memeluknya sambil menangis.
“Har, ayo pulang.” Tiba-tiba Alisha muncul entah dari mana, Hartino menatapnya, Alisha yang mengulurkan tangan itu mengajaknya pulang. Alisha dan seorang balita lelaki, sungguh sempurna sekali hidup mereka.
Hartino menatap Alisha yang sungguh dia yakin itu istrinya, karena itu memang energi istrinya.
Hartino mengulurkan tangan untuk menggapai tangan istrinya, akankah mereka pulang, pulang kemana?
GANDING & ADITIA
“Hei berhenti Alisha, berhenti!” Aditia berlari mengejar Alisha yang berjalan menuju jurang, pinggir puncak tentu saja itu adalah jurang.
“Jarni! Jarni!” Ganding berlari mengejar Jarni yang juga berjalan, tidak … berlari kea rah pinggir puncak yang adalah jurang.
Tanpa mereka sadari, Hartino melakukan hal yang sama pada arah yang berlawanan.
Maka apakah kawanan akan menjadi korban lagi? Siapakah yang tidak selamat lagi?
__ADS_1