
Sujana melihat ibu yang melahirkannya pergi dari rumah tanpa mau menoleh ke belakang, kepergiannya sangatlah cepat, tepat ketika ayanya telah dikebumikan, ibu tidak tahu bahwa Sujana telah menghabisi dukun yang menjadi perantara untuk membunuh bapaknya, ibu itu tak tahu bahwa, betapa Sujana telah merencanakan yang jauh lebih buruk dari itu.
Apakah kalian tahu apa itu, ‘KEMAT JARAN GUYANG?’ ini adalah sebuah ajian pengasihan tingkat tinggi bagi praktisi ghaib. Baiklah, jika kalian belum pernah mendengar, maka mari kita pelajari bersama ... eh maksudku, mari kita bahas bersama, Kemat berasal dari bahasa Sunda kuno yang identik dengan kata pelet karena berisi ajian, doa-doa atau mantra-mantra yang diyakini bertuah, artinya sama sekali berbeda dengan kata Goyang karena bukan berarti menari, Guyang adalah suatu keadaan di mana suatu objek mandi dengan bergelimang air, maka kalau ditarik garis kesimpulan, Kemat Jaran Guyang adalah, suatu objek yang seluruh tubuhnya bergelimang mantra, atau dihujani dengan ajian pengasih, di mana korbannya, tidak akan segan untuk melakukan apapun agar pelaku pelet mau bersamanya.
Pelet Kemat Jaran Guyang sudah sangat jarang digunakan karena pelaku harus melakukan beberapa ritual yang menyerempet kematian atau tirakat mati geni, yang lagi-lagi berbeda artinya dengan tirakat pati geni milik masyarakat jawa yang dilakukan untuk menghilangkan hawa nafsu atau emosi yang berkobar dalam diri dengan cara puasa.
Tapi Tirakat Mati Geni adalah suatu ritual yang melakukan tindakan tidak makan dan minum, berdiam di tempat gelap dengan waktu yang tidak terhitung, kau melakukannya sampai sekarat, atau hampir mati, jadi Tirakat Mati Geni adalah puasa yang dilakukan sampai kau merasa sudah hampir ajal. Lalu, pertanyaannya, kenapa pelaku pelet mau melakukannya? Dia ingin memikat jin yang memiliki ilmu sangat tinggi di suatu tempat, perwujudan dari kerelaan melakukan tumbal pada diri sendiri.
Pada akhirnya, jika kau beruntung, jin yang kau rayu dengan puasa tanpa batas waktu itu, mau menolongmu dengan memberikan kekuatan untuk menaklukan siapapun agar tunduk seperti binatang pada tuannya.
Sujana mendengar dengan serius apa yang dikatakan oleh dukun cabul ini. Dia sudah mengajarkan Sujana bagaimana caranya dan kapan waktu terbaik untuk melakukannya, maka sekarang adalah, tinggal mencari orang yang bisa menenaminya, karena dukun ini menolak menemani, dia takut bala yang akan menimpanya jika dia ikut dalam ritual. Dukun yang sangat tidak profesional.
Sebenarnya Sujana pernah mendapatkan cerita ini dari seorang teman yang juga bekerja di perusahaan yang sama dengannya, teman itu mengatakan tentang ajian ini karena mendengar Sujana berkeluh kesah tentang Putri, tapi Sujana tak mau melakukan itu, walau hatinya sakit, dia tidak ingin melakukan hal buruk pada kekasihnya, karena Kemat Jaran Guyang sekali dilakukan, hanya kematian yang bisa memisahkan korban dengan pelakunya, karena pelet itu begitu terkena, kau akan langsung dimakan jiwanya, hingga tak memiliki jiwa, berjalan, bernafas dan melakukan apapun sesuai perintah tuannya, jiwamu telah habis dilahap jin yang disuruh tuannya.
Sujana sekarang telah sangat tergiur untuk melakukan itu, maka dia menelpon temannya itu di wartel, karena pada tahun itu, telepon genggam memang bukan barang yang pasti dimiliki semua orang, dia ingin temannya itu menemaninya melakukan ritual.
Sujana mengajaknya ketemuan, lalu di sinilah mereka sekarang, sebuah warung kopi dekat kantornya, karena mereka bertemu saat temannya itu pulang kantor.
“Jadi, kau akan melakukannya?” Teman bernama Tio itu bertanya.
“Ya, aku akan melakukannya.”
“Bapakmu meninggal karena ulah keluarga perempuan itu?”
“Kok, kau tahu?” Sujana terkejut, karena dia belum jgua cerita apapun, baru menyampaikan niat ingin melakukan ritual Kemat Jaran Guyang itu saja.
__ADS_1
“Karena, tidak ada yang akan melakukan hal seburuk itu tanpa rasa sakit yang dalam, jika kau memang sudah siap, ini yang harus kau tahu, bahwa melakukan ritual ini, kau harus sepenuhnya menyerahkan jiwamu pada jin yang akan membantumu memakan jiwa dari wanita itu, kau harus tunjukkan kerelaanmu pada jin itu untuk melakukan apapun dengan cara tirakat Mati Geni agar Kemat Jaran Guyang pada akhirnya bisa menimpa wanita itu.”
“Aku akan menyerahkan seluruh hidupku untuk keberhasilan pelet ini.”
“Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu di kantor kita? apakah kau akan cuti terus? Kau tahu kan, paling lama kau akan dikasih cuti selama seminggu saja, sedang Tirakat Pati Geni itu tanpa batas waktu loh, sekali gagal, kau harus mengulangnya dari awal.”
“Aku akan berhenti, aku akan bertapa di tempat yang diperintahkan, pokoknya aku akan serahkan hidup dan mati pada setan itu jika dia bisa membuat Putri gila dan keluarganya akan malu.”
“Baiklah, sepertinya tekadmu sudah bulat sekali, aku akan membantumu.”
“Terima kasih ya, kau baik sekali, tapi aku penasaran, kenapa kau tahu soal ritual ini? bukankah informasi seperti ini sulit didapatkan kalau ....”
“Ya, kau benar, aku pernah melakukannya untuk seorang wanita, walau akhirnya aku menyesal.”
“Kenapa menyesal?”
“Kau jadinya kapok?” Sujana bertanya.
“Ya, untuk Kemat Jarang Guyang, tapi pelet lain yang lebih ringan, aku masih pakai.”
“Ooohhhh, pantas saja banyak wanita di kantor kita mengejarmu, ternyata ....”
“Ya, begitulah, mereka memang kena peletku.”
“Kau tidak mau memacari salah satunya?”
__ADS_1
“Untuk apa? menikah? Ah, sudahlah, itu bisa kita lakukan jika sudah siap punya anak, sekarang mah, bersenang-senang saja dulu.” Tio memang brengsek.
“Kalau begitu, terserah kau saja, tapi kapan kau bisa temani aku untuk melakukan pelet itu?”
“Kalau libur lah, sabtu ini ya? aku juga akan minta cuti selama 1 minggu, aku hanya akan temanimu selama 1 minggu saja, setelah itu, kalau kau masih gagal, maaf, aku tak bisa terus temani.
“Baiklah, kalau begitu, terima kasih ya Tio, hanya kau yang menolongku di saat sulit begini.”
“Ya, itu namanya teman.”
Teman brengsek lebih tepatnya.
...
Hari itu pun tiba, lalu Sujana dan Tio pergi ke sebuah hutan yang bernama hutan ceremai, hutan ini terkenal sangat angker, katanya jin yang berada di sini bukan jin dengan ilmu rendah, maka tempat ini menjadi tempat yang dipilih Sujana untuk melakukan ritual untuk bisa mengirim Kemat Jaran Goyang pada putri, tirakar Mati Geni akan jadi perantara penghubung antara dia dan jin yang akan melakukan pelet itu.
“Hutan ini dulu tempat aku melakukan tirakat, tapi di sini sangat angker, kau harus siap, di tempat ini, kau harus melakuakn Tirakat Mati Geni, tidak minum, tidak makan dan saat pagi tiba, begitu matahari terbit, kau harus pindah ke gua, karena tubuhmu tidak boleh kena sinar matahari sama sekali, apakah kau sanggup?”
“Jangan tanya lagi kesanggupanku, aku sudah siap.”
Lalu Sujana duduk di tengah hutan itu, mereka berdua telah memakai pakaian berwarna hitam-hitam dan duduk dengan bersila, lalu kedua tangan Sujana menutup perut, mata ditutup dan hening seketika.
Tio tidak melakukannya, dia hanya memastikan kalau Sujana benar melakukan setiap langkahnya. Tio hanya duduk bersila saja.
Malam semakin gelap, angin mulai berhembus terasa dingin dan pohon-pohon bergoyang, seolah tahu, bahwa akhirnya manusia laknat akan lahir satu lagi, menyekutukan Tuhan untuk menimang-nimang dendam, padahal jika saja dia ikhlas, mungkin Tuhan akan berikan hal yang jauh lebih baik lagi, seperti cinta baru atau kekayaan yang berlimpah dan berkah, sungguh dendam memang seperti bara api yang jika ditiup maka makin panaslah baranya, tapi jika didiamkan, perlahan bara akan menghilang, sekiranya begitu juga dendam dan amarah, jika kita terus mengingatnya dan meniup setiap amarahnya dengan lonjakan emosi yang tidak mau dikendalikan, maka dendam akan menjadi sesuatu yang besar dan panas, rasa ingin membalas semakin tinggi, berbeda jika kau hanya mendiamkan saja dendam dan amarahnya, tidak lupa, memang tidak bisa dilupakan begitu saja, tapi diamkan, maka bara api akan perlahan mati, butuh waktu, tapi kau akan selamat.
__ADS_1
Maka makhluk apa saja yang akan Sujana lihat dan hadapi, lalu pertanyaannya, kenapa Sujana di hutan ini, bukan di Gunung Butir-Butir?