Pasukan Kharisma Jagat

Pasukan Kharisma Jagat
Bagian 29 : Pembersihan Gunung dan pembebasan Alka 2


__ADS_3

Butuh waktu satu hari untuk sampai tempat itu, kawanan ditemani Datona dan Bagus Heulang sampai pada lokasi di mana gunung berada.


Di puncak gunung itulah tanah pejuang berada. Tanah di mana salah satu Ayi Tirung yang bernama Ayi Nusia dan para keturunannya tinggal tersembunyi di sana tanpa diketahui oleh siapapun bahkan para Tetua tidak pernah diizinkan masuk, satu-satunya orang luar yang pernah masuk hanyalah Ayi Mahogra, karena diberikan kunci oleh pemilik tanah itu secara pribadi, yaitu sebuah tusuk konde mawar.


Apakah kalian ingat bagaimana sulitnya Ayi Mahogra dulu untuk bisa sampai di puncak gunung itu dan bertemu apa saja di sana? Maka kali ini, kalian mungkin akan mengingatnya kembali.


Mereka akan mulai naik, tapi akan berhati-hati, Ayi sudah memperingatkan bahwa mungkin yang mereka hadapi, bukan ganasnya gunung saja, tapi … para musuh yang sedang mencoba masuk ke tanah pejuang itu.


Semua orang sudah membawa semua yang dibutuhkan di tas ransel mereka, tas yang cukup membawa makanan yang bisa langsung di makan tanpa perlu di masak dulu, karena itu membuang waktu.


Mereka tidak menghubungi pos terlebih dahulu karena urusannya akan repot jika nanti mereka tak kunjung turun dalam waktu yang lama, maka dari itu mereka memilih jalur pendakian pada sisi gunung yang tidak pernah dilewati pendaki.


Mungkin jalur ini akan sangat sulit dilalui karena akan banyak tumbuhan merambat yang menghalangi jalan, tentu saja itu dikarenakan ini bukan jalur umum pendakian, tapi jalur yang masih perawan. Kawanan bersiap dengan senjata pusaka di tangan untuk membersihkan ranting atau tanaman yang menjalar agar jalur bisa dilewati.


Apakah kawanan tidak takut tersesat? Tentu saja mereka tak perlu takut hal semacam itu karena jika tersesat, pasti yang menyesatkan hanya dua hal, pertama pikiran manusia sendiri yang ketakutan dan akhirnya kehilangan arah, atau disesatkan setan, sedang mereka bahkan telah sangat berpengalaman dengan tersesatnya di banyak tempat ghaib. Maka memilih jalur perawan bukanlah hal yang mengkhawatirkan. Justru, yang lebih buat khawatir adalah, apa yang akan mereka hadapi di depan, bukan jin gunung ini yang bikin takut, tapi musuh berwujud manusia laknatlah yang lebih mengerikan.


Aditia memegang tombaknya, Alisha dengan sebuah golok, golok biasa bukan benda pusaka, hanya agar bisa membebaskan jalur pendakian dari tanaman rambat yang mengganggu. Ganding dengan trisula, Hartino golok pusaka dan tentu saja Jarni yang selalu tak perlu membawa benda pusaka apapun, dia hanya butuh tangannya untuk menyingkirkan apapun yang menghalangi jalannya, kau tahulah, kemampuan telekinesisnya sudah sangat tinggi, menggerakkan benda disekitar mengikuti pikirannya adalah sebuah keberkahan yang sangat bagus, dia tak perlu repot membawa senjata tahjam hanya untuk menyingkirkan tanaman, menyingkirkan jin saja dia bisa, apalagi sekedar tanaman.


Bagus Heulang telah terbang disekitar mereka, Aditia dapat merasakannya, walau tak terlihat karena dia dalam mode senyap, takut kalau musuh melihatnya maka kedatangan kawanan dan juga Datona akan tertendus.


“Kau tidak membawa benda pusaka?” Ganding bertanya pada Datona, anak muda tengil itu hanya menggeleng.


“Baiklah kau jalan di belakang salah satu dari kami, agar jalan pendakianmu tidak terhambat.” Ganding memberi solusi, karena mereka rencananya akan berjalan beriringan saling membuka jalan untuk diri sendiri, hal itu untuk membuat jalan pendakian lebih cepat, jadi tidak berbaris yang membuat hanya satu orang palign depan saja yang membuka jalan, itu tidak efektif dan efisien, itu membuat pergerakan mereka akan terhambat dan lamban.


“Ayolah kita naik.” Datona hanya tersenyum tengil saja tanpa menjelaskan tentang dirinya.


Kawanan lalu mulai membuka jalur pendakian baru itu, mereka berjajar membabat habis tanaman rambat besar-besar yang menghalangi jalur pendakian. Menggunakan benda pusaka untuk bisa menebas habis tanaman itu.


Sementara semua orang sibuk membuka jalan, Ganding tiba-tiba tersadar, tak ada Datona di belakangnya.


“Datona mana!” Ganding khawatir, semua orang berteriak mencari anak muda itu. Tak lama terdengar suara dari arah depan meraka, dia terengah menjawab ….


“Aku di sini, ada apa?” Datona ternyata sudah jauh di depan mereka, dia bahkan harus berlari berbalik arah karena mendengar kawanan berteriak memanggil.

__ADS_1


“Kau … kapan kau naiknya? Aku tak lihat.” Hartino terkejut hingga dia bertanya, Ganding juga penasaran.


“Ya naiklah seperti ini.” Datona menunjukkan cara naiknya, dia mendaki dengan kaki dan tangannya, persis seperti … monyet yang sedang berjalan, menggunakan kaki dan tangannya untuk mendaki, gerakannuya sangatlah cepat dan terarah.


“Karuhunmu monyet!” Aditia bertanya, karena dari tadi dia tak melihat karuhun milik Datona yang berkeliaran, artinya karuhun itu ada di dalam tubuhnya terus.


“Iya betul!” Datona tertawa bangga, karena akhirnya ada yang sadar.


“Pantas saja.” Ganding menjadi kesal, karena tadi dia repot memikirkan Datona naik tanpa senjata pusaka, ternyata senjatanya sudah ada di dalam tubuh, bahkan dia naik beberapa kali lebih cepat dari dia yang memegang benda pusaka.


“Anak itu memang jenaka, persis seperti yang Ayi bilang, dia harus dijaga, kalau tidak, lihat saja kelakuannya, anak seperti itu bisa dikendalikan Ayi dengan mudah, tapi sepertinya, kita tak bisa semudah itu mengendalikannya.” Aditia tersenyum. Tapi tiba-tiba dadanya sakit sekali dan dia terjatuh.


“Dit, kenapa!” Semua orang terdiam tak jadi membuka jalan, mereka langsung menghampiri Aditia yang terjatuh.


“Sakit, dadaku sakit.” Aditia berkata dengan nafas yang tersengal dan sesak.


“Jarni, lihat sekitar, apakah ada yang menyerang kita?” Ganding memerintah, Jarni lalu melihat sekitar dan memasang pagar ghaib, karena pagar ghaib miliknya mampu menghalau serangan apapun.


“Tidak ada, pagarku terbentuk mulus tanpa ada hambatan, artinya kita aman.” Jarni kembali membuka pagarnya.


“Dit, hanya kau yang bisa berkomunikasi dengan kakak secara ghaib, kami tidak, coba kau komunikasi dengan kakak melalui komuikasi ghaib.” Ganding mengingatkan.


“Aku sudah beberapa waktu ini tak bisa lagi berkomunikasi dengannya, terakhir adalah di hutan palsu itu, dia berkata sesuatu tentang Dokter Adi, tapi aku tak paham, aku pikir dia akan datang untuk menyelamatkan kita, tapi ternyata aku salah, kak Malik yang datang. Setelah itu aku coba komunikasi tapi tak pernah sama sekali bisa terkait, aku tak pernah bisa lagi berkomunikasi pada jalur ghaib itu, entalah, mungkin dia terlalu sibuk dengan urusan menjaga kakaknya itu.” Aditia terlihat kesal.


“Dit, kalau memang kakak dalam bahaya, kita tak boleh diam, ini efek pada jantungmu pasti karena lanjonya!” Hartino si paling cuek itu berkata dengan khawatir.


“Aku tidak bisa merasakan energi kakak sama sekali.” Jarni rupanya mencoba merasakan energi Alka, tapi dia juga penasaran kenapa tak pernah bisa merasakan energi kakaknya, selama ini dia pikir kakaknya sengaja menutup akses agar tak ada yang bisa mendeteksinya, tapi mendengar Aditia juga kehilangan koneksi ghaib, membuat Jarni jadi khawatir.


“Dit, apa yang harus kita lakukan?” Ganding bertanya.


“Kita tak bisa meninggalkan misi ini untuk memeriksa keadaan Alka, bukankah itu pilihannya untuk pergi ke tempat Zerata, jadi dia harus terima resikonya, kita tak bisa konsentrasi pada dua hal, ini bukan masalah kecil, Tanah Pejuang di puncak sana, semua warganya dan keponakan baru kita anak Kak Behr aitu, lebih butuh perlindungan daripada Alka, maka kita harus tetap fokus pada tugas yang Ayi berikan.” Aditia berkata dengan dingin, masih ada marah pada hatinya karena Alka bersikera tak ingin ikut ke AKJ.


“Dit, apa itu tak keterlaluan?” Ganding protes.

__ADS_1


“Bagiku, perintah Ayi lebih penting dari apapun, bahkan lebih penting dari diriku sendiri, jika kalian ragu, turunlah lagi, sisanya ikut aku.” Aditia merasa bahwa kawanan tidak akan mendengarnya, karena bagi mereka Alka sangatlah penting, sedang Ayi bukan ratunya mereka, tapi ratunya Aditia sebagai Kharisma Jagat.


“Aku akan ikut Aditia, aku percaya Alka bisa menjaga dirinya, kalaupun dia dalam masalah, dia pasti akan menemukan cara untuk menyelesaikan masalah itu.” Alisha berkata, maka Hartino tak bsia berkata hal lain selain ikut istrinya itu.


“Aku akan mencari kakakku.” Sedang Jarni berbeda, baginya Alka adalah hidupnya, maka dia harus memastikan kalau Alka baik-baik saja.


“Jarni, tidak boleh, kita selesaikan misi ini dulu, baru kita semua cari Alka ke tempat Zerata, bagaimana?” Ganding mencari jalan Tengah dan menahan kekasihnya.


“Kalau itu yang kalian mau, maka fokuslah, aku takkan mengeluh lagi jika dadaku nyeri.” Aditia lalu menguatkan dirinya untuk bangkit dan mulai pembersihan jalan, sedang Datona sudah jauh di depan, dia tak meninggalkan jejak dengan menarik beberapa tanaman merambat itu sebagai jalur pendakian, walau tak bersih membuka jalan, itu sudah sebuah pertolongan yang cukup bagus.



Alka mencoba bangkit di Tengah rimbunnya pohon hutan itu, sudah dini hari, dia merasa udara di hutan itu semakin dingin, cukup lama dia terbaring di Tengah hutan itu sendirian.


Alka bangkit, dia sudah kembali pada tubuh manusianya, Alka lalu berlari dan mencari jalan, entah kenapa dia merasa telah sampai di AKJ, dia merasakan energi AKJ di sana, lalu Alka terus berlari, saat dia berlari, tiba-tiba dia melihat dari kejauhan sepasang ular besar sedang menjaga hutan ini, Alka semakin yakin bahwa di balik ular besar itulah gerbang AKJ berada.


Alka berlari hendak menghampiri sepasang ular itu, tapi urung karena dia mendengar suara riuh dari balik ular itu, dua ular itu juga terlihat tegang dengan suara yang timbul.


“Pasti Ayi sedang membantai anak-anak itu, Ayi Mahogra harus menghabisi mereka agar bisa menyelamatkan anak dalam kandungannya.”


Alka mendengar dua ular jadi-jadian mengatakan itu langsung lemas, dia tak paham dengan ini semua, kalau memang ini adalah AKJ asli, kenapa Ayi membantai anak-anak itu? Kalau memang ini adalah AKJ asli dan benar Ayi membantai anak-anak itu, apakah Ayi telah berubah menjadi iblis wanita? Alka menangis karena begitu takut, kalau benar Ayi telah berubah, maka bisa jadi dia akan dihabisi begitu Ayi melihatnya karen Ayi tak pernah mampu melihat matanya dengan lama, ada rasa dendam dan kecewa mengingat kejadian pembunuhan Pram ketika itu.


Alka mundur perlahan dan mencoba kabur, dia berlari lagi dan akhirnya bisa keluar dari hutan AKJ itu, dia berlari lagi hingga akhirnya ada seseorang yang tiba-tiba berlari mendekati Alka dengan sangat kencang, Alka melihat lelaki itu yang tiba-tiba menjadi lebih banyak terus berlari untuk kabur, tapi sayang, dia tak berhasil, salah satu lelaki itu mampu menghampiri Alka, memegang tubuh Alka dan menikam perut Alka dengan sebilah keris.


Alka terdiam, tak lagi berlari, memegang tangan orang yang menusukkan keris di perutnya, dia melihat lelaki itu, lelaki itu adalah … Ganding.


“Nding ….” Alka yang lemah bisa merasakan energi Ganding yang tipis, walau dia tak yakin ini Ganding Asli.


“Kak, maaf. Ayi butuh tubuhmu untuk purnama yang ketujuh, maka kau harus tetap di AKJ.” Ganding berkata dengan dingin.


Alka jatuh perlahan, dia melihat Hartino, Alisha, Jarni, dan Aditia mendekat, walau Alka tahu, bisa saja ini samaran lagi, tapi hatinya sungguh sangat perih, dia rindu pada kawanan, dia merasa sangat … kesepian dan sendirian.


Maka kalian tahu kan, apa penyebab Aditia tiba-tiba seperti kena serangan jantung, dadanya begitu kesakitan, moment ini bertepatan dengan rasa sakit tikaman dan juga perih akan kesendirian yang Alka rasakan.

__ADS_1


Apakah saat ini kalian menyalahkan Ayi karena memisahkan mereka?


Aku membebaskan kalian untuk komentar apapun, aku ingin tahu apakah kalian masih bisa berpikiran positif pada Ayi Mahogra? Pada Alka dan kawanan?


__ADS_2