Pasukan Kharisma Jagat

Pasukan Kharisma Jagat
Bagian 37 : Pembersihan Gunung 13


__ADS_3

“Malam ini akan menjadi arena pertempuran, kita akan kejutkan mereka, aku sudah tak tahan dengan gerilya bawah tanah ini, seharusnya kita menyerang secara langsung dari awal.”


“Tentu saja, aku juga sudah tak sabar.”


Mereka menunggu malam tiba, mereka bersiap untuk mendekati musuh, orang yang mereka anggap jahat, orang-orang yang sangat ingin mereka musnahkan.


Sore pun tiba, fajar menyingsing, tak lama kemudian, malam mulai datang, gelap dan dingin.


Mereka mulai bergerak ke arah lawan, memakai sebuah perisai yang membuat mereka terlindungi.


Maka seketika, dalam hitungan detik, mereka melempar serangan demi serangan, pihak lawan terlihat terkejut dan kesulitan menghalau, yang mereka miliki mungkin tak sebanding dengan lawan.


Maka lawan dipukul mundur, lawan saling berpencar untuk menyelamatkan diri, tidak pernah menyangka serangan akan datang membabi buta seperti ini.


Satu yang tumbang, seorang lelaki yang katanya sangat pintar, tapi sekarang tertawan.


“Atami, dia yang membuat kita semua tertipu dengan imajinasi busuk dari ilmu yang dia miliki.” Ganding mencekiknya, Atami tak tinggal diam, dia langsung menggunakan kekuatannya untuk memanipulasi pikiran Ganding, seketika Atami menggunakan kekuatannya, maka Ganding langsung melepas cekikan itu pada Atami, tapi Aditia masih memegang tangan Atami, lelaki licin bak belut, sementara tangan lainnya menggenggam orang lain.


“Jika kau pergi, maka wanita ini akan mati.” Aditia ternyata sedang mencekik Asti, dia membuat Asti kesulitan bernapas.


“Kau ingin wanita yang kau cintai ini akhirnya berakhir di kuburan tanpa pernah tahu kalau kau mencintainya?” Aditia menarik tubuh Asti ke atas, hingga membuat Asti semakin tercekik.


Atami ambruk, dia bertumpu pada lututnya dan memohon, “Aku mohon, lepaskan Asti, dia tak bisa bernapas, dia akan mati kalau kau terus mencekiknya, bukankah kau adalah Kharisma Jagat yang agung, lalu kenapa kau mau membunuh Kharisma Jagat lain? Semesta akan menghukummu.” Atami memohon agar wanita yang dia cintai sejak kecil itu bisa dilepaskan oleh Aditia.


“Tidak akan kulepaskan, kecuali kau menyerahkan karuhunmu pada Alisha, dia akan mengurung karuhunmu di pagar ghaibnya, dia takkan bisa keluar dari sana, dengan begitu, kau takkan bisa seenaknya menipu orang lagi!” Aditia meminta Atami melepas karuhunnya, agar posisi seimbang, satu sandera, berbanding dengan satu sandera lainnya.


“Kelamaan Dit, udah abisin aja dua-duanya!” Hartino hendak membantu Aditia mencekik wanita itu, tapi Atami segera memerintahkan karuhunnya untuk keluar dan akhirnya Jarni memagari karuhun itu dan memasukkannya ke botol, hingga karuhun milik Atami bisa menjadi sandera.


Setelah lemah, Atami masih dalam posisi bersujud, Ganding memukul kepalanya agar Atami pingsan, setelah Atami pingsan, Aditia melepaskan Asti dan seketika Asti jatuh ke tanah, tubuh itu berubah menjadi ....


“Kak, sakit tahu ... kenapa harus sampe diangkat gitu, rasanya leherku akan putus dan mungkin patah, tadi aku beneran nggak bisa napas loh.” Datona memegang leher, sebelumnya dia adalah  Asti yang menyamar.


“Bagaimana kau tahu kalau Atami suka pada Asti?” Hartino bertanya pada Aditia, sementara tubuh Atami digeser ke sebuah tebing agar Atami bisa menyender, Ganding dan Hartino memasukkan Atami pada sebuah sleeping bag, agar dia tak kedinginan kalau nanti ditinggalkan sementara kawanan akan berburu.


“Aku memegang tangannya dan melihat pada masa lalu Atami, sedari kecil dia sudah sangat kagum pada Asti, dia sangat suka pada wanita itu, dia kagum pada gadis kecil yang baginya sangat cantik dan sudah bisa mengendalikan energinya sendiri tanpa melukai orang lain, aku melihat masa lalunya dengan jelas, bagaimana dia sangat mencintai wanita itu, sedang tangan lainku memegang Datona, aku menggumamkan nama padanya ... ASTI, maka dia langsung berubah menjadi wanita itu. Kelemahan mereka adalah, hanya Asti yang bisa merasakan energi orang lain, di kelompok mereka, hanya Asti yang bisa merasakan seseorang palsu atau tidak dari energi yang dia coba rasakan.


Maka dengan mudah, lelaki kasmaran ini kita tipu, dia bisa saja menipu daya kita dengan semua hal yang sangat kita takuti tapi inginkan atau apapun itu, tapi mereka lupa, kita adalah senior bagi mereka, anak-anak ingusan ini mungkin di kelompoknya adalah anak yang sangat berbakat, tapi ... dalam strata Kharisma Jagat, mereka hanyalah keturunan dengan kelas yang rendah.”


“Aku tidak menyangka bahwa strategi nekatmu bisa lumayan berhasil memecah belah lawan Dit.” Ganding salut, karena beberapa jam yang lalu, mereka masih berdebat untuk tetap menunggu atau menyerang, beruntung semua menuruti perintah ketuanya.


BEBERAPA JAM SEBELUM PENYERANGAN MENDADAK, KAWANAN.


“Aku tidak bisa diam saja dan membiarkan kawanan terus dikerjai seperti ini, mereka sengaja membuat kita lelah sebelum akhirnya menyerang kita, mereka tahu kalau kita menggunakan pertahanan sebagai strategi pertarungan kali ini, mereka merasa jumawa karena kemampuan salah satu dari mereka yang bisa mendeteksi energi musuh dengan jarak yang cukup luas. Terbukti, mereka bisa mengerjai kita karena tahu kita di mana. Maka kita perlu untuk mengubah strategi.”

__ADS_1


“Aku sudah menghitung kemungkinan kemenangan kita Dit, itu kecil sekali, karena mereka punya banyak orang di belakang mereka walau hanya beberapa orang saja yang mungkin memiliki ilmu tinggi.” Ganding enggan untuk mengubah strategi mereka yang tetap ingin bertahan.


“Nding, kamu lupa bagaimana kita menyelesaikan kasus dulu?”


“Tentu saja aku tidak lupa.”


“Coba sebutkan langkah-langkahnya?” Aditia bukan mengetes, tapi sedang membuka pikiran Ganding.


“Pertama, kasus muncul, kedua kita mencari semua hal yang merujuk pada kasus, apapun yang mungkin memberikan kita informasi tentang kasus akan kita pelajari, sekecil apapun kemungkinan informasi itu terkait, kita akan tetap pelajari, ketiga kita eksekusi walau kadang belum ketemu jawaban, karena informasi yang kita dapat, akan memberi banyak percabangan pengetahuan yang akhirnya akan menjadi jalan keluar yang kita temukan setelah eksekusi nekat dengan modal informasi tersebut.”


“Maka sekarang, anggaplah musuh kita adalah kasus yang datang, seperti kasus yang ayahku tulis di buku, lalu cara kedua, kita harus menggali informasi tentang musuh itu, tapi tentu saja tak bisa menggunakan tekhnologi Hartino, karena mereka tak tercatat sebagai anak-anak resmi yang dilindungi negara melalui akta kelahiran dan kartu keluarga, banyak dari Kharisma Jagat memang tak tercatat sebagai warga negara, karena keberadaan mereka disembunyikan.


Maka apa yang harus kita lakukan agar bisa mendapatkan informasi kasus dengan cepat?” Aditia kembali bertanya pada Ganding.


“Datang ke lokasi kejadian, dekati orang-orang sekitar tempat kejadian, nyamar jadi tukang sayur, tukang listrik, tekhnisi AC dan ... DATONA!” Ganding paham maksud Aditia.


“Betul! Kita akan nekat membiarkan Datona mendekat untuk menyamar menjadi salah satu dari mereka, jangan langsung jadi bagian inti Datona, jadilah pasukan dengan ilmu yang rendah, agar kau tidak ditandai, orang-orang lemah dalam suatu kelompok, biasanya tak menjadi sorotan, maka Datona hanya perlu datang mendekat ke lokasi lawan, lalu cari celah untuk menjadi salah satu dari mereka, lihatlah siapa yang melipir menjauh dari kelompok, kau habisi orang itu, lalu jadilah samarannya.”


“Tapi Kak, Adit, kalau aku mendekat dan energi terasa oleh salah satu dari mereka bagaimana? bukankah salah satu dari mereka bisa mendeteksi energi kita, makanya kita bisa dikerjai.”


“Pergilah ke sana tanpa karuhun. Jadilah orang biasa, mereka takkan bisa mendeteksi energi manusia tanpa Karuhun atau khodam, pergilah dalam keadaan kosong.”


“Wah, aku bisa mati kalau ketahuan.”


“Maksudnya, aku harus bulak balik gitu?”


“Betul sekali adik yang pintar dan hebat ini, pertama kau pergi sebagai orang biasa, jaga jarak agar tak ketahuan, kau tunggu sampai ada menjauh dari kelompok, entah untuk buang air atau sekedar mengambil air, kau serang orang itu, buat pingsan, tapi kalau terpaksa harus dibunuh, maka lakukan saja, karena ini pertarungan untuk memperjuangkan tanah pejuang.


Setelah itu, kau sembunyikan tubuh orang yang kau serang, kau rasakan energinya, ambil energi itu walau hanya sedikit, ingat, orang yang tak menonjol takkan diperhatikan.


 Lalu kau kembali ke sini, ambil karuhunmu untuk berubah menjadi orang yang kau samarkan.”


“Wah, itu sih capek ya.” Datona terlihat malas.


“Mana ada kasus yang kami selesaikan tanpa kelelahan, dulu kami bahkan tak sempat istirahat.” Hartino kesal karena Datona banyak alasan.


“Iya, iya aku mau, yasudah, doakan aku ya, semoga aku berhasil.” Datona terlihat sangat takut, tapi dia tetap melakukannya.


Lalu Datona pergi ke kelompok itu, menunggu di sana dengan jarak aman, hingga ada seorang lelaki, hanya pengawal biasa saja, mengambil air di dekat tempat mereka mendirikan tenda. Energi Datona tak terasa sama sekali, karena dia hanya orang biasa tanpa karuhun.


Datona mendekati pengawal itu, memukul tengkuknya, seketika pengawal itu pingsan. Datona mengikat kaki, tangan dan mulut pengawal itu, tak membunuhnya, karena dia tak suka membunuh manusia.


Lalu setelah menyembunyikan pengawal itu, dia ambil baju pengawal tersebut dan menghirup sedikit energi pengawal dari mulut yang terbuka sedikit, tentu bukan bagian romantis di mana kau melihat dia mencium pengawal itu, sama sekali tidak, kendalikan pikiran kalian ya, Datona hanya membuka mulut pengawal itu dan perlahan terasalah hawa dari mulut itu, dari sanalah Datona menarik energinya keluar, tanpa saling tersentuh antara dua bibir pria itu.

__ADS_1


Datona berlari dengan sangat kencang untuk mengambil Karuhunnya, disa sudah tahu harus jadi siapa.


Begitu dia kembali, Datona mengambil karuhunnya, begitu karuhunnya masuk ke dalam tubuh, Datona sudah bukan dirinya lagi, dia langsung berubah menjadi pengawal itu, berlari lagi ke arah sumber mata air, mengambil airnya dan kembali ke tempat kelompok itu berada.


Datona memberikan air yang dia bawa ke salah satu orang yang terlihat menyiapkan makanan, dia hanya menebak dan beruntung benar.


Lalu Datona duduk di hadapan pria yang juga pengawal, tapi sibuk mempersiapkan makanan untuk semua orang.


“Aku bantu ya.” Datona mendekati pengawal itu.


“Tumben banget, biasanya males.


“Kasian sama kamu, pasti capek, makanya aku bantu, biar kita semua bisa dapat makan cepat.” Datona dengan tubuh penyamaran sebagai pengawal itu lihai bersilat lidah.


“Ok, itu ide bagus, karena Asti dan Atami bisa jadi monster kalau kelaparan.” Lelaki itu menyebut dua nama, Asti dan Atami.


“Iya sih, aku juga takut kalau mereka lapar, apalagi kalau mereka lagi marah, duh.” Datona hanya menebak, kalau dia lapar saja dia bisa seperti monster, kalau marah pasti sudah jadi iblis.


“Iya, mereka bisa menghabisi kita semua.”


“Ya, yang paling nakutin emang si Atami sih.” Teknik yang diajarkan Ganding untuk menarik informasi sebanyak mungkin. Sok tahulah dengan menilai seseorang, maka kau akan langsung didebat oleh lawan bicaramu yang mungkin saja tak setuju, bisa juga setuju, tapi selanjutnya informasi pasti mengalir.


“Enggaklah! Timo yang lebih kayak iblis dari Atami, bayangin aja, dia kan kuat banget, kalau kau sampai di musuhi olehnya, mungkin kau akan dilempar hingga akhirnya terkubur sendiri, katanya Timo bahkan pernah menggeser gunung.”


“Oh iya, ada Timo ya, dia sih serem juga, tapi Atami kan tetap aja yang paling bahaya, soalnya ....”


“Ya, si Atami kan emang jago nipu pakai halusinasi otak, tapi tetep aja Timo terhebat sih.” Pengawal itu tanpa sengaja memberikan informasi yang lengkap tentang kekuatan mereka.


“Tapi kalau mau bicara paling licik, menurutmu siapa?” Datona kembali memancing.


“Masti sih, dia bisa menghilang tanpa diketahui musuh loh, tubuhnya bisa tak terlihat sama sekali, banyak orang dia permainkan dengan ilmunya itu.”


“Iya sih aku pikir Masti juga memang yang paling licik, kalau yang paling nyebelin, coba aku tebak ... pasti si Asti, ya kan?” Datona terus mendesak dengan cara halus.


“Yaudah pasti itu mah, kalau sama dia kita nggak bisa bersembunyi, karena dia itu paling hebat mendeteksi energi, ga ada sih yang bisa lari dari ini orang, makanya itu pasukan iblis di atas, bisa kita temukan dengan mudah karena kemampuan Asti yang bisa mendeteksi energi. Sayang kita kalah kemarin, padahal hampir saja kita membunuh beberapa.” Pengawal itu bicara dengan enteng.


Datona terlihat kesal mendengarnya, sekarang dia sudah dapat informasi yang cukup banyak, dia tahu siapa dan apa kekuatannya, dia harus cari cara kembali pada kawanan untuk menceritakan semuanya.


_____________________________________


Catatan Penulis :


Siapa yang nyangka, penyerangan awal itu adalah penyerangan musuh pada kawanan? Siapa yang baru sadar setelah aku memberi dialogue tag berupa nama orang yang Ganding, baru kalian sadar, kalau yang nyerang adalah kawanan, bukan sebaliknya? Komentar ya, aku mau tahu, siapa yang tertipu dan siapa yang sadar.

__ADS_1


Lanjut besok ya, sampai pada titik akhirnya mereka bisa menangkap Atami. Pemimpin musuh itu.


__ADS_2