Pasukan Kharisma Jagat

Pasukan Kharisma Jagat
Bagian 25 : Pembersihan Gunung


__ADS_3

Malam tiba, Ayi mengadakan acara makan malam bersama kawanan, tapi pribadi, dia tak ingin siapapun masuk sebagai penyusup, biasanya pelayan yang menyediakan segalanya, tapi sekarang, Ayi meminta orang-orang kepercayaan Hanif yang menyiapkan semua, termasuk Datona.


“Dato, aku dengar kau menyamar menjadi istriku? Berani sekali kau.” Malik mengejek Datona yang sedang membakar daging di tungku dengan arang sebagai bahan bakarnya.


“Aku mana berani kalau bukan diperintah Ayi.” Datona berkata lebih sopan, karena dia memang sangat takut pada Malik, dia itu mantan Kharisma Jagat yang mempelajari ilmu hitam, sama seperti Malik, walau dia bukan Kharisma Jagat, makanya Datona masih bisa merasakan energi kelam milik Malik, ada rasa takut setiap kali berhadapan dengannya. Tapi berbeda dengan Hanif, yang energinya sangatlah terasa nyaman dirasakan.


“Aku tidak tahu kalau kau bisa merubah bentuk sepertiku?” Malik bertanya lagi.


“Ayi yang mengajarkan mantranya, dia juga memberikan sedikit energi pada Karuhunku untuk bisa membantu merubah bentuk. Tidak bisa bertahan lama, sedikit saja Ayi terlambat, aku pasti sudah tak karuan, berubah bentuk perlahan.”


“Aku penasaran, kenapa Datona yang kau suruh menjadi sepertimu, Ser? Kenapa tidak Cantrik perempuan?”


“Pertanyaannya adalah siapa yang lebih loyal dibanding si bengal ini? biarpun dia terlihat nakal dan usil, tapi dia bahkan ikut membangun benteng AKJ dengan tangannya sendiri, makanya aku mengajarinya berubah bentuk dengan ilmu yang lurus.” Karena Ayi tahu, Malik menggunakan ilmu hitam saat berubah bentuk, satu-satunya ilmu yang Ayi izinkan tetap ada, karena begitu ilmu itu Ayi hilangkan, maka Malik sulit melindungi Ayi dan anaknya.


“Jangan besar kepala kau, Datona, karena kalau kau macam-macam, habislah kau.” Malik membuat lingkaran pada lehernya, padahal dia sedang iseng saja.


Datona tertawa dan berkata, “Belum juga tersentuh oleh Pak Malik, aku pasti sudah dihabisi oleh guruku, Pak Hanif.”


Semuar orang tertawa, makan malam itu terasa sangat indah, seolah di dalam benteng tak pernah terjadi apa-apa, padahal musuh selalu mengintai dari jauh.


...


“Ini sudah tiga minggu dia menyerahkan energinya untuk diserap oleh jin itu, kita akan habisi tepat setelah energinya kita dapatkan secara sempurna.”


Seseorang melapor pada Baskara, lelaki tua yang memimpin semua pergerakan ini, dia sungguh licik. Tak memberi ruang sedikit pun pada Ayi dan kawanan untuk bisa leluasa menjalani hidup dengan tenang.


“Dia tak menanyakanku? Maksudku ... Adi? Dokter yang dia sangat percaya, bahkan dia bisa tertipu dengan energi Ayi yang aku samarkan.” Tuan Bagaskara bertanya di AKJ palsu yang tak disadari Alka.


“Tidak, dia hanya terus menjalani ritual pengaliran energi itu tanpa curiga.” Wanita dukun yang tak memiliki ilmu lagi itu melapor, sejak kekalahannya di kasus nyebrang itu, dia mengabdi pada setiap musuh kawanan, sebuah prinsip yang dia pegang, musuh dari musuhku adalah temanku, maka takdir buruk membawanya pada Bagaskara, dia menjadi pelayan yang tak memiliki ilmu, tapi memiliki kelicikan yang nyata. Dukun wanita anak dari dukun musuh Mulyana itu mengawasi Alka dari jauh dan memantau Alka pada setiap pelayan yang mengantarkan makanan.

__ADS_1


“Kau tahu, kelemahan musuh kita adalah bodoh yang dikamuflase dengan ketulusan, alih-alih menyelamatkannya dari pesta bulan purnama, dia malah memberikan jalan pada kita untuk menangkap wanita setengah jin itu. Sungguh, Ayo Mahogra yang dulu dan sekarang, sama bodohnya, jelas dia yang membuat orang kepercayaan mati, tapi dia repot menyelamtkan wanita jadi-jadian itu dengan memisahkan mereka.


Aku sungguh menyukai semua ini, aku selalu menonton betapa pontang-pantingnya mereka meneyelesaikan kasus yang kita buat, dari jaman nenek moyang, hingga sekaran. Mereka lupa, bahwa, bangsa yang kita sembah, diciptakan lebih dulu dibanding manusia pertama, maka tak ada yang lebih pantas disembah selain iblis. Tuhan saja mengatakan bahwa mereka adalah ahli ibadah, maka untuk apa kita mengabdi pada yang setelahnya?”


“Tuan, pada bulan purnama selanjutnya, kita akan melepasnya bukan? dan membuatnya menyerang AKJ, kita akan menjadikannya monster jahanam. Aku suka melihat mereka harus saling bunuh, sebagai balasan atas setiap perlakuan jahat mereka pada keluargaku, membuat ayahku mati sia-sia dan aku yang menjadi kosong.


Seharusnya mereka urus perkumpulan bodoh mereka saja, tidak usah ikut campur pada urusan kita bukan, Tuan? Tapi mereka membangunkan macan tidur.” Dukun perempuan anak dukun itu berkata dengan berapi-api, dendamnya sungguh kesumat.


“Mereka pikir bisa melawan kita, tapi mereka tak paham bahwa, Ratu mereka yang terdahulu saja tewas di tangan tuan yang kita sembah. Maka kita tak perlu takut apapun.


Tetua hanya sekelompok bidak catur yang aku miliki, salah satu yang berhasil aku hasut dan ikut menyembah padaku, mereka yang bertahun-tahun tertipu dengan pernikahan bodoh yang aku karang, hanya agar saling bunuh, kelak akan saling bunuh lagi di AKJ. Sejarah akan berulang, Para tetua memang telah padam kekuasannya, tapi di AKJ, begitu banyak anak muda bodoh yang mudah dihasut, Ayi menciptakan musuhnya sendiri, aku akan memberikan mereka tawaran yang jauh, jauh lebih menarik dibanding sekedar mengabdi pada manusia.


Uang tidak pernah kalah dalam setiap persaingan dengan kemanusiaan, manusia pada dasarnya, adalah makhluk yang serakah.”


Tuan Bagaskara berjalan dengan tongkatnya, entahlah, aku pikir tongkat itu hanya pemanis saja, karena dia tak butuh itu untuk berjalan, tongkat yang dia pegang, adalah senjata yang selalu dia gunakan setiap kali bertarung, walau tak pernah lagi dia lakukan, karena sekarang, dia lebih suka melihat orang lain bertarung dan dipertaruhkan dalam meja perjudian para kaum elit politik negeri ini.


Kalian selalu bertanya, siapakah musuh Ayi, Bagaskara adalah musuh yang nyata bukan? dia induk dari otak kejahatan seluruh kasus ghaib yang harus Mulyana selesaikan, lalu turun ke Aditia dan kawanan.


Sedang Ayi harus melawan pemahaman pernikahan adat yang ternyata juga! tipu dayanya! Lalu apakah kalian masih terus bertanya siapakah musuh Ayi sebenarnya? Aku akan menceritakan hidup Bagaskara kelak, tapi mungkin tidak saat ini.


...


“Behra sudah melahirkan?” Ayi bertanya, Bagus heulang datang untuk memberikan laporan, dia mengawasi kediaman Behra, karena Ayi memintanya pulang ke desa puncak gunung itu untuk melahirkan di sana, bersama orang tua mereka.


Bagus Heulang mengangguk, dia memberikan penglihatan pada Ayi, tentang apa saja yang dia lihat dan hadapi selama memantau puncak gunung itu, karena Ayi memang meminta Bagus Heulang menjaga puncak gunung itu.


Ayi memegang kepala Bagus Heulang, sementara burung raksasa itu memejamkan mata untuk memberikan penglihatan ghaib pada tuannya.


Ayi melihat, gunung itu dikepung oleh banyak makhluk, dengan berbagai bentuk, Bagus Heulang memantau mereka dari jarak aman dan energi yang tidak mungkin terdeteksi karena Ayi memberinya mantra pagar ghaib, agar setiap terbangnya tak pernah terpantau oleh siapa pun, di manapun.

__ADS_1


“Mereka tak bisa menemukan puncaknya, karena puncak itu punya pintu masuk yang unik, hanya penduduk dan tusuk konde Ayi Tirung yang bisa membuka pintunya, karena tusuk konde itu adalah kuncinya.” Ayi tersenyum, “mereka benar-benar mengincar semua orang-orangku, tapi aku masih belum bisa mengatakan itu pada mereka, ini masa tenang, aku takut, sungguh takut kalau mereka akan berkorban lagi, peperangan lima tahun lalu itu sungguh banyak kehilangan yang mereka alami, aku takut, sungguh takut kalau mereka harus berkorban lagi,” Ayi berkata.


Bagus Heulang memeluknya dengan sayap, Karuhun itu paham, betapa wanita hamil yang lemah ini hanya ingin hidup yang damai.


“Kembalilah ke sana, beritakan padaku apapun yang terjadi, setelah Behra membaik, kita akan berdiskusi panjang, dia penasehat terbaik, tapi anaknya adalah prioritas.”


Bagus Heulang mengangguk dan kembali terbang.


Ayi kembali ke kamar, Malik melihatnya gusar.


“Bagus Heulang memberi kabar buruk?”


“Ya dan tidak Malik.”


“Maksudnya?”


“Mereka mengepung gunung, tapi masih belum menemukan jalan untuk masuk ke sana, ke kediaman Behra dan seluruh penduduk. Aku harus mengatakan kepada mereka kondisinya, cepat atau lambat, semua saudara kita harus tahu, seburuk apa kondisinya.”


“Aku pernah berpikir begini, tidakkah kau ingin ... meninggalkan saja semua ini sayang? Maksudku, tinggalkan statusmu sebagai Ayi, kita pergi ke daerah terpencil, kita sudahi perang ini, biarkan mereka melakukan apapun pada dunia ini dan kita lindungi keluarga kita saja?”


“Malik, andai saja aku tak bisa merasakan energimu, pasti aku menyangka kau adalah samaran, tapi aku tahu, kau suamiku yang ... selalu saja tak pernah setuju aku menjadi Ayi, tapi bukankah kau sudah berjanji di hutan itu, hutan milik Raja Bojabon, bahwa kau akan tunduk pada setiap keputusanku sebagai Ratu, bukan istrimu, karena kalau sebagai istri, kau adalah pemimpinnya.


Kau setuju, maka kau harus menepati janji, suamiku.”


“Saat menghunuskan pedang itu, pada samaranmu, aku takut Ser, takut kalau kelak aku salah dan akhirnya menusukmu yang asli, kau saja tak merasakan pelayani tu sudah dirasuki apa mungkin mereka kelak akan membuat kita semua saling membunuh karena saling tak percaya, aku takut kalau kelak, akulah yang mencelakaimu, bukan mereka.”


“Itu takkan pernah terjadi, kalau kita tak bisa lagi saling mendeteksi energi, maka hatilah yang harus berbicara, kau akan ingat ini, hatiku tak pernah berubah, begitu juga hatimu, hati tak pernah bisa berbohong atau dibohongi, rasakan aku dengan hatimu, kita sudah punya dua anak Malik, milikmu ada di dalam rahimku, maka kau yang seharusnya paling mengenal aku, jangan ragu jika kelak kau melihat samaranku, bunuhlah, jangan pernah ragu.”


Malik terdiam, karena walau dia tak ragu, tetap saja, menghunuskan pedang pada tubuh yang begitu mirip dengan Seira Adam Hanida, sungguh membuatnya ... perih.

__ADS_1


__ADS_2