
“Ada apa Nding?” Aditia bertanya, mereka semua sedang mempersiapkan perlengkapan untuk ke gunung itu.
Aditia melihat Ganding malah terdiam tanpa melihat melakukan apapun, seperti memikirkan sesuatu, Aditia tahu pasti ada sesuatu yang dia pikirkan.
“Aku hanya bingung, kemarin kita terjebak di hutan itu lebih dari seminggu, kita tak makan dan minum sesekali saja jika terasa haus dan kita baik-baik saja. Aku tahu kalau kita bukan orang biasa, kita adalah orang yang punya khodam, tapi di sana selama satu minggu lebih tanpa persiapan makanan, apa kau tak merasa heran dengan tubuh kita yang bahkan masih bisa bergelantung di tebing itu untuk mencapai dataran yang tidak terjamah pagar ghaib musuh?”
“Tidak terpikir sampai kau katakan barusan sih.” Aditia memang tak secerdas Ganding, lagian siapa juga yang bisa sejenius dia.
“Itu membuatku bingung.”
“Apa yang membuatmu sampai memikirkan itu secara intens seperti ini?” Alisha lebih penasaran pada apa yang menjadi dasar Ganding tiba-tiba memikirkannya.
Pembicaraan mereka memang bisa terdengar kawanan, karena jarak mereka tak berjahan, makanya menjadi diskusi yang seru.
“Kita memang merasa lemas ketika sampai dataran itu, lapar juga dan haus, tapi bukan seseorang yang kelaparan, kehausan dan lemah tak berdaya.
Buktinya masih bisa bertarung, bahkan Jarni masih bisa melindungi Alisha dan Dokter Adi secara penuh. Aneh nggak sih?”
“Iya aneh, tapi arahmu kemana!” Aditia kesal mendengar pembukaan yang terlalu lama ini.
“Energi, ilmu dan juga kemampuan kita, menjadi meningkat pesat begitu mendekati AKJ. Aku merasakan itu, walau kita terpisah dengan pagar ghaib musuh, tapi karena AKJ begitu dekat, maka energi AKJ terserap oleh kita, makanya energi kita semakin tinggi.
Coba kalian pikir, jika manusia biasa, mereka terjebak di hutan tak bisa keluar, lebih dari seminggu, bahkan hampir dua minggu, maka ... seharusnya dia ditemukan dalam keadaan kurus kering dan sangat teramat lemah, mungkin jalan saja tidak bisa, benar bukan?” Ganding mengkonfirmasi pada semua orang.
“Eh iya bener tuh, aku pernah nonton berita orang yang tersesat di gunung selama seminggu, dia diketemukan dalam keadaan kurus kering dan sangat lemah, bahkan linglung, tapi itu kan manusia biasa.” Hartino yang menjawab.
“Ya benar, mereka manusia biasa tapi efek pada kita itu terlalu lemah dengan waktu sepanjang itu, aku hanya merasa seperti tak makan seharian dan baru bisa makan keesokan harinya, hanya seperti itu saja, lemas, tapi tak sampai menjadi lemah.”
“Ya, aku juga pikir begitu rasanya.” Alisha setuju dan yang lain mengangguk.
__ADS_1
“Lalu? Apa yang menjadi kekhawatiranmu, Nding? Bagus dong kalau memang dekat dengan AKJ kekuatan kita semakin besar? Lalu kenapa ekspresimu begitu khawatir?” Aditia masih tak paham, karena Ganding tidak seperti menyampaikan informasi bahagia, tapi ada rasa khawatir hingga dia terus memikirkannya.
“Aku curiga musuh Ayi sengaja ingin membuat kita tak sampai AKJ karena, mereka tahu itu, tapi beruntung, kita punya Kak Malik yang menemukan kita.” Ganding akhirnya sampai pada kesimpulan.
“Wah, kalau mereka tahu, sedang kita tak tahu, artinya ....” Aditia baru sadar.
“Mereka punya pengetahuan yang lebih luas tentang alama ghaib dibanding ... kita.” Ganidng meneruskan.
“Aku merinding mendengarnya, karena mereka bisa tahu kekuatan kita, maka mereka bisa mencari cara untuk menemukan KELEMAHAN KITA.” Pada kata kelemahan kita, semua orang mengatakannya bersamaan dengan Alisha.
“Aku takut, takut kalau Ayi akan sulit menghadapi semuanya, aku merasa kalau kita sedang diserang dari berbagai sisi.” Ganding menggenapi seluruh kekhawatirannya, yang sedari tadi Aditia tanyakan.
“Mari kita selesaikan satu-satu, kita harus segera ke gunung itu, Kak Behra para penduduk di sana, butuh bantuan, kita harus fokus dan hati-hati di sana, jangan sampai mereka menjadi korban.
Aku sungguh takut, takut kalau peperangan itu menjadi bahan belajar mereka, bahwa mereka tahu, menghabisi sekaligus Ayi Mahogra dengan para sekutu, tak mungkin bisa mereka lakukan, maka mereka melakukan gerakan bawah tanah, bukan hanya menghimpun pasukan, tapi mengumpulkan catatan, seperti yang Ganding bilang, ilmu mereka tentang alam ghaib, lebih tinggi dari kita, bahkan mungkin Ayi sudah memprediksi ini, maka kita harus hati-hati, jangan sampai semuanya menjadi beban pada Ayi semata, kita adalah pasukan Kharisma Jagat dari berbagai jenis, maka kita harus menjadi garda terdepan Ayi Mahogra.” Aditia menutup diskusi dadakan itu dan mereka semua melanjutkan mempersiapkan perlengkapan untuk kepergian ke gunung itu. Tak banyak makanan yang akan mereka bawa, karena mereka saat ini merasa makanan bukan hal krusial lagi untuk menopang daya hidup tubuh mereka, ilmu ghaib pada tubuh mereka sudah sangat tinggi, hingga mereka bahkan mampu tanpa asupan selama dua minggu lebih, dengan catatan, dekat pada AKJ.
...
Para kawanan dan Datona sudah berangkat ke gunung itu, sementara pagi ini Ayi sengaja mengumpulkan semua orang untuk melakukan upacara, termasuk para guru.
Cantrik berbaris sesuai dengan urutan kelas dan juga kemampuan. Ayi sudah meminta Malik untuk menutup semua gerbang, agar tak ada yang akan bisa melarikan diri.
Sedang Hanif memeriksa semua lorong, dia memastikan tak ada yang bersembunyi, termasukk seluruh kamar bersama cantrik kepercayaannya.
Setelah memastikan bahwa semua orang sudah berbaris, termasuk semua guru, Ayi dengan perut besarnya lalu berbicara dengan microphone, “Aku meminta untuk seluruh guru dan cantrik untuk tetap berdiri di barisannya, apapun yang terjadi pada orang-orang atau karuhun yang ada di samping kalian, jangan bergerak atau kalian akan menjadi orang yang dicurigai.”
Semua orang tiba-tiba ketakutan, mereka berbicara dengan riuh.
“Diam!” Ayi meminta semua orang diam dengan menunjuk tangan ke atas, karena dia adalah Ayi Mahogra yang bisa bebas mengendalikan semua karuhun di sana, maka semua orang menurut dan diam, ketakutan lebih tepatnya, karen tak pernah melihat Ayi yang lemah karena kehamilan itu dengan wajah cukup serius dan sedikit mengerikan, karena matanya tidak lagi mata manusia biasa, matanya telah berubah bentuk dan warna, matanya berwarna kuning dan pupilnya menjadi mengecil berwarna hitam, persis seperti warna mata ... maung.
__ADS_1
Dua karuhun Ayi keluar dari tubuhnya, berjalan di samping kanan dan kirinya, Malik memakaikan jubah dari Raja Bapati pada Ayi, menambah keanggunan dan kesan mistis pada dirinya,
Ayi mengeluarkan senjata yang telah diberika oleh Ratu laut, maka dia berjalan pada setiap barisan yang dibuat berjarak, pada barisan pertama, aman, tak ada seorang pun yang terbakar.
Seperti dugaan Ayi, itu adalah orang-orang kepercayaan Hanif.
Lalu Ayi berjalan maju pada barisan kedua, dia berjalan perlahan, satu persatu dia perhatikan pada baris itu, pada barisan awal, maju ke tengah dan ... “Panas! Panas! Panas.” Suara orang yang terbakar itu berubah, dari suara perempuan kecil karena dia cantrik yang masih belajar, berubah menjadi suara seorang lelaki yang sangat berat, dia terbakar sempurna dan hanya menyisakan debu.
Semua orang melihat itu panik, seketika semua ornag berlarian karena takut, takut pada Ayi Mahogra yang saat ini terlihat seperti iblis wanita dibanding seorang ratu.
Keadaan menjadi huru-hara, setiap orang berteriak ketakutan, lupa dengan yang dikatakan oleh Ayi, walau sudah diprediksi, tapi tetap saja anak-anak yang berlarian itu sulit untuk dikendalikan, maka Ayi, Malik dan Hanif saling lihat-lihatan dan mengangguk, tandanya bahwa mereka perlu membuat pagar dengan mantra yang sudah Ayi ciptakan, di mana pencipta pagarnya adalah tiga orang tersebut.
Ayi, Malik dan Hanif lalu memasang kuda-kuda, Ayi dengan perutnya walau susah payah tetap memasang kuda-kuda, membaca mantra dan saling merenggangkan tangan dari kejauhan regangan tangan ketiga orang itu saling bertautan dan menciptakan energi yang menutup seluruh akses lapangan, setiap orang yang hendak berlarian mencari jalan keluar, terpental dan tak bisa keluar lapangan, maka Ayi menghentak kakinya sebanyak tiga kali dan semua orang terdiam, tak bisa bergerak, dia memasang mantra paku bumi, setiak orang di tempat itu seperti tertahan oleh medan magnet hingga tubuhnya tertempel pada aspal di lapangan itu.
Ada yang dalam posisi berdiri, ada yang dalam posisi terlentang karena baru saja mental terkenap gar ghaib tiga orang hebat itu, ada yang tengkurap, semua dalam posisi yang berantakan.
Hanif dan Malik mengambil alih pagar, walau semua orang tak bisa bergerak karena efek mantra paku bumi Ayi, tapi tetap saja mereka berjaga-jaga dengan tetap memasang pagar ghaib di sekitar lapangan, sementara Ayi mulai berkeliling untuk menghabisi para pembelot yang menyamar menjadi anak-anak ataupun guru di AKJ, yang terbakar bukanlah cantrik sebenarnya, tapi yang terbakar adalah orang-orang yang menyamar, orang dewasa yang menjadi cantrik untuk mencelakai Ayi.
Ayi berjalan berkeliling, satu persatu semua cantrik yang menyamar terpanggang api akibat dari Mustika Banon Arnawa, sebuah batu yang membuat setiap orang yang menyimpan niat buruk pad Ayi, karena telah dibacakan mantra pengikat, maka batu itu akan mengikat Ayi sebagai tuannya dan setiap penyelinap yang menyimpan niat buruk dihatinya pada tuan batu itu, akan langsung terbakar, karena penciptaan batu itu juga adalah api yang sangat panas dari dasar inti bumi di bawah laut paling dalam.
Ayi terus mengincar siapapun, tak hanya yang ketakutan, tapi semua orang yang terlihat tenang, dia juga dekati, ada yang terbakar, ada yang tidak.
Tapi api bermunculan dari segala arah, setiap anak ketakutan dan menangis sejadinya, mereka hanya anak-anak kecil yang sedang berlatih, tentu saja ketakutan, Ayi sengaja tak memberitahu maksud dari semua ini hanya agar proses pembersihan dapat dilakukan dengan sempurna, maka saat ini sudah ada 17 anak yang terbakar api, tentu saja, bukan anak-anak yang terbakar, tapi mereka yang menyamar menjadi cantrik.
Ayi masih terus berkeliling memastikan kembali.
Tapi jika bukankah ini menjadi pertanyaan yang sangat mengkhawatirkan? Jika mereka menyamar menjadi anak-anak itu, maka kemana anak-anak aslinya? Sungguh Ayi menjadi sangat khawatir dengan nasib para cantrik yang hilang itu, karena hanya ada dua kemungkinan, pertama mereka dibunuh, kedua mereka disekap.
Apakah Ayi bisa menemukan mereka kelak? karena anak-anak itu adalah tanggung jawabnya, dititipkan oleh para orang tua maupun kerabat anak tersebut yang kebetulan tak lagi memilki orang tua, atau ytim piatu, apakah Ayi kelak akan menjadi iblis di mata mereka semua? Bukankah sekilas ini seperti pembunuhan masal?
__ADS_1