Pasukan Kharisma Jagat

Pasukan Kharisma Jagat
Bagian 22 : Jawatankuasa 22


__ADS_3

Saat mereka sedang berdiskusi dari kejauhan terdengar ada yang bergerak, gerakan awalnya samar, lalu makin lama makin jelas, seperti orang berlarian, kawanan tak begitu memperhatikan karena sedang asik berdiskusi, sesosok yang berlarian itu semakin dekat, sayangnya ... kawanan tidak sadar ada yang mengintai.


Saat sosok itu akhirnya terlihat, kawanan terkejut dengan kedatangannya dan memasang kuda-kuda, sebelum akhirnya sadar bahwa dia adalah orang yang sangat ditunggu.


“Kak Malik!” Semua orang berteriak, mendekatinya dengan senyum yang mengembang.


“Benar kalian di sini, kalau begitu, cepat, kita harus segera kembali ke AKJ, aku meninggalkan Ayi pasti cukup lama.”


“Loh memang sudah berapa lama Kak Malik menunggu kami?” Aditia bertanya.


“Beberapa hari. Tapi kalian sudah hilang dua minggu lebih.”


“Hah!” Semua orang bingung.


“Ini zona ghaib buatan, tentu saja ada perbedaan waktu, mereka mengelabui kalian dengan waktu siang dan malam yang tidak sesuai. Ayi kita keluar sekarang.” Malik kembali mengingatkan pada semua orang untuk ikut dengannya.


“Kak Malik tahu kemana kita harus keluar?” Alisha bertanya.


“Tidak, tapi dia tahu.” Malik menunjukkan sebuah batu.


“Hah? Batu apa itu? Kok seperti batu biasa saja.” Ganding bertanya, dia takt ahu jenis batu itu, biasanya dia sangat tahu jenis benda pusaka, tapi ini terlihat seperti batu biasa.


“Ya memang batu biasa, berbeda karena mantranya, Malik dan Ayi dulu saat mengejar jin di hutan, mereka sering tersesat dan mantra ciptaan Malik yang diucapkan pada sebuah batu akan memberitahu mereka jalan keluarnya, jadi … batunya mah biasa, mantranya yang luar biasa, karena dipelajari selama bertahun-tahun oleh Malik, perpaduan ilmu hi ….”

__ADS_1


“Adi, sudah cukup, kita harus pergi.” Malik mengingatkan, lalu semua orang setuju.


Malik melempar batunya, batu itu mendeteksi setiap pagar ghaib yang berada di sekitar sana, jadi saat dinding ghaibnya bergerak, batu itu akan menumbuk dinding yang dibuat untuk mengelabui karena arealnya sudah diputar oleh musuh, seperti saat kemarin Malik melempar batu itu untuk menemukan jalan ghaib lain yang dia curigai membawa kawanan ke tempat ghaib buatan.


Malik mengambil batu yang menumbuk itu, lalu mengeluarkan pedangnya, dia akan merobek pagar ghaibnya, kawanan mengeluarkan semua senjatanya, termasuk Dokter Adi dan mereka bergerilya untuk merobek pagar ghaib itu, Malik lalu berteriak, “Jangan ada yang maju setelah pagarnya hancur, paham!” Kawanan berkata ‘IYA’ bersamaan, sementara senjata mereka masih terus menumbuk pagar ghaib itu dan tak lama kemudian pagar robek, menghancurkan tautan pagar di hadapan mereka, semua orang terdiam hingga pagarnya rusak sempurna dan mampu membuat mereka melihat apa yang ada di depannya.


“Astaga!” Hartino berteriak dan berpegangan pada Aditia, Aditia menancap tombaknya agar mereka berdua bisa tertahan oleh tombak yang ditancap pada sebuah alas batu yang keras, karena tepat di hadapan mereka ada jurang yang menganga, jadi ini alasannya Malik meminta mereka jangan maju begitu pagar rusak sepenuhnya, rupanya karena Malik sudah mengitari areal yang terlindungi pagar ghaib buatan musuh ini, pada sisi kirinya adalah jurang. Entah mengapa Malik merasa bahwa kawanan akan digiring ke sini pada akhirnya dan dibiarkan berjatuhan ke dalam jurang oleh musuh, makanya ketika dia batu itu menemukan jalan keluar, Malik meminta semua untuk tetap bertahan di tempatnya, tidak boleh maju, takut kalau kecurigaannya benar terjadi dan tentu saja, sekarang buktinya.


“Trus, sekarang gimana?” Aditia bertanya.


“Masuk lagi, lempar batunya dan cari jalan keluar lain Kak, gimana?” Ganding bicara pada Malik, tapi Malik menggeleng.


“Tidak bisa, pagar sisi lain sangat tebal, kita akan kehabisan waktu dan tenaga, aku butuh seharian untuk merobek pagarnya agar bisa masuk dan menjemput kalian, bisa-bisa kita kehabisan waktu dan tenaga dan tidak berhasil.”


“Andai saja ada kakak Alka, kita semua pasti dengan mudah untuk teleportasi.” Hartino bergumam.


Adi menepuk bahunya dengan cukup keras, hampir saja dia jatuh, Adi melirikan matanya pada Malik, mengingatkan bahwa, selain Ayi, Malik adalah orang kedua yang sangat membenci Alka, karena dia dan tetua itu hendak membunuhnya tapi salah sasaran hingga akhirnya Pram yang mengorbankan diri. Maka kebencian Malik pada Alka sungguh besar.


Hartino terdiam, karena dia tadi benar-benar berharap kakaknya ada di sini.


“Kita bergelantung dengan tangan menyusuri jurang ini, memegang bebatuan, Jarni kau bisa membangun pagar perlindungan untuk kau, Alisha dan Adi, sementar aku, Aditia, Ganding dan Hartino akan jalan duluan tanpa perlindungan pagar, minta para Khodam dan Karuhun mendahului kita untuk menunjukkan arah dataran yang tak terlindungi pagar ghaib lagi.” Malik memberi perintah, dia memang seorang Panglima perang sejati.


Abah yang memimpin, dia mendahului kawanan dengan melayang, tentu saja dia tak bisa menggendong tubuh Aditia karena mereka dua entiti yang berbeda, kecuali Aditia lepas raga, dia bisa saja melayang bersama Abah.

__ADS_1


Jarni mulai memasang parga ghaib yang melindungi Alisha, dirinya dan Dokter Adi yang memang belum terlalu pulih, Malik merasakannya, tubuh Adi sangatlah lemah, dia ingin membahasnya kelak dengan Adi, karena penyerangan yang mereka alami, bukan penyerangan biasa, hingga mereka bisa mencuri energi milik kawanan, setidaknya pagar ghaib itu akan menahan badan mereka jika salah satunya ada yang terjatuh, tubuh mereka akan tetap jatuh tapi pagarnya bisa menahan agar jatuhnya melambat.


Abah berteriak bahwa arah yang mereka ambil benar, Abah melayang dan mengatalan bahwa, jaraknya cukup jauh untuk bisa sampai pada areal yang tidak berpagar ghaib musuh, atau hutan buatan itu.


“Paksakan tubuh kalian, karena ini bisa jadi akan cukup melelahkan, kita harus memanjat dinding, walau bukan naik tapi bergeser ke arah kanan, jangan pikirkan apapun kecuali fokus pada energi di tangan.


Para Khodam dan Karuhun masuk ke dalam tubuh tuannya dan berikan energi kalian sebanyak yang kalian bisa pada tuan kalian agar mereka bisa semakin kuat.”


Semua orang mengangguk tanda setuju dan melanjutkan terus memanjat tapi tidak naik, melainkan bergeser kek arah kanan untuk sampai dataran yang tidak terkendali oleh hutan ghaib buatan yang meniru hutan AKJ itu.


Saat mereka terus berjalan, langit terasa semakin gelap, hawa dingin menyeruak, semua orang fokus agar energi pada tangan tetap stabil.


Saat semua orang fokus, dari kejauhan terdengar suara burung yagn khas, bukan suara burung yang terdengar bersahabat, tapi lebih seperti suara gagak yang mengincar musuh.


Malik yang memimpin tiba-tiba berhenti, dia memejamkan mata sebentar dan berteriak, “Blarat angik huraga, Karuhun jeng Khodam!” Seketika setelah Malik selesai membaca mantra, secara otomatis karuhun dan Khodam yang ada di tubuh kawanan keluar secara paksa dan langsung menjadi tameng bagi tubuh kawanan, sementara Malik sudah dengan tubuh penuh kacanya dan mengeluarkan pedang yang begitu panjang, tangan  satunya bergelantungan.


Kenapa Malik memaksa jin pelindung keluar dengan mantra dan membuat Karuhun dan Khodam yang ada di tubuh kawanan itu kaget karena ditarik paksa keluar, adalah karena Malik tahu, ada sekumpulan jin gagak yang mengincar tubuh kawanan, tak ada waktu untuk mengkomunikasikannya dan secara spontan Malik membaca mantra dan membuat karuhun dan Khodam keluar secara paksa seperti ditarik dari tubuh, begitu ruh itu keluar dari tubuh tuannya, mereka langsung paham karena jarak jin gagak laknat itu sudah sangat dekat, seketika para karuhun dan Khodam langsung menjadi tameng tuannya, membuat gagak itu tak bisa menyentuh tubuh mereka dengan paruh yang sangat tajam karena bertabrakan energi dengan para pelindung tuannya.


Sementar Malik menghalau gagak itu dengan pedangnya yang panjang, Jarni, Alisha dan Adi terlindungi oleh pagar ghaib Jarni dan khodam mereka tetap keluar karena mantra Malik, membantu Malik menghalau jin gagak itu.


Rangda yang marah melihat gagak itu hampir membunuh tuannya, langsung memakan satu-satu persatu jin gagak hitam itu dengan lahap, mungkin dia lapar juga, karena sudah berhari-hari dalam ingatan mereka tidak makan dengan layak, mengingat dia makan dari energi yang Alisha berikan, sedang Alisha tak makan Rangda ikut puasa, kasihan sekali tubuh besarnya itu.


Sungguh perjuangan kali ini tidak main-main bukan?

__ADS_1


__ADS_2