PELANGI Di Mata PANGERAN

PELANGI Di Mata PANGERAN
Episode 10


__ADS_3

...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Iya nggak apa-apa,lagi pula aku juga baru datang kok."


"Lah emang ban nya kempes yah?"


"Iya lah,makanya aku tambah angin tadi.Ya kamu mana ngerti,itu ban kurang angin atau enggaknya."


"Ya kan aku emang nggak ngerti,paling aku minta mang Diman buat cek motornya seminggu sekali.Itu juga kalau aku ingat," balas ku.


"Pantes....."


"Oh iya,Rio sama Nadin mana?" tanya ku.


"Rio lagi ngambil motor ku ke rumah,sedangkan Nadin aku tidak tahu.Tadi sih,pas aku lewat depan rumah dia kayaknya dia masih ada di rumahnya deh." jelas Surya.


"Mending kita nunggu mereka di kantin aja,sambil minum coklat panas atau apa gitu.Tadi Rio minta aku buat nunggu dia di kantin aja katanya," jelas Surya.


"Ya udah yuk,kebetulan banget aku juga mau coklat panas sama roti bakar di warung bi Oyen."


Aku dan Surya pun langsung bergegas menuju ke kantin.Sesampainya di sana,untungnya tidak begitu ramai sama siswa yang lain.Hanya ada beberapa siswa yang tengah asik menikmati makanan nya.


"Bi aku pesan roti bakar sama coklat panasnya satu," ucap ku.


"Kalai aku teh anget sama bakpao aja bi," sambung Surya.


"Iya nanti bibi siapkan dulu yah,"


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah menunggu sekitar 7 menitan,pesanan kami pun sudah siap.Aku dan Surya langsung mencari bangku yang masih kosong untuk kita duduk dan menikmati makanannya.


*Bruk.....*


Tiba-tiba saja ada seseorang yang menabrak ku dari belakang,karena aku kaget dan benturan yang cukup keras akhirnya coklat panas yang aku bawa di atas nampan pun menyiram bagian tangan ku.


"Ah....." meringis kesakitan.


"Dira....."


Suraya pun langsung meraih nampan yang aku pegang.


"Maaf yah,aku tidak sengaja.Tadi teman aku dorong aku tiba-tiba," ucap anak laki-laki yang mendorong ku barusan.


"Harusnya kamu lebih hati-hati lah,kamu nggak lihat apa ada orang di depan kamu." ucap Surya.


"Ya kan namanya juga tidak di sengaja,kalau kami tahu dia lagi bawa sesuatu.....''


"Udah lah,sebaiknya kita ke klinik aja.Tangan ku terasa terbakar nih," aku langsung meraih tangan Surya.


"Tapi Dir,mereka ini harus di kasih tahu.Kalau nggak nantinya bukan kamu aja yang menjadi korbannya,bisa aja menimpa yang lainnya.'' timpal Surya tidak terima.

__ADS_1


"Siap tadi yang dorong kamu emang?" lanjut Surya.


"Ini si Dion....." tunjuk laki-laki itu.


"Sini kamu," ucap Surya sambil melambaikan tangannya.


"Anak laki-laki yang bernama Dion itu pun langsung menghampiri Surya dengan kepala yang menunduk."


"Kamu kelas mana?" ucap Surya.


"X D....."


"Ah ternyata kamu adik kelas saya yah,"


"Saya bersikap seperti ini bukan bermaksud apa-apa,hanya saja supaya kedepannya kamu lebih berhati-hati lagi saat kamu berada di tempat keramaian." jelas Surya.


"Iya kak,saya salah.Saya minta maaf,saya janji tidak akan mengulanginya lagi." ucap anak itu.


"Ya udah sana," ucap Surya.


Saat Surya tengah membereskan makanan yang sudah kami pesan tadi,tiba-tiba saja Eran datang menghampiri aku dan langsung menutup tangan ku dengan kain yang sudah di basahi dengan air.


"Ayo kita ke klinik," dia pun langsung menarik tangan ku yang satunya dan meninggalkan Surya sendirian.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sesampainya di klinik,untungnya bu Anjani sudah ada di klinik dan sedang membereskan peralatan yang ada di atas meja kerja beliau.


"Ini bu,tadi tidak sengaja tersiram sama minuman panas." ucap ku.


"Kok bisa,harusnya kamu lebih berhati-hati.Lihatlah baju kamu,semuanya tampak kotor,"


"Ayo sini ikut ibu ke dalam,"


Bu Anjani pun langsung membawa ku ke ruangan yang ada di sebelah.


"Duduk dulu,ibu mau lihat kondisi tangan kamu." ucap beliau.


Bu Anjani pun langsung menyingkirkan kain yang menutup tangan ku yang masih tampak kotor dengan sisa coklat yang menempel.


"Ya ampun,ini cukup parah juga." ucap bu Anjani.


"Sebentar yah,ibu mau lihat dulu apa obatnya masih ada."


"Oh iya,sambil ibu mencari obatnya,Nadira bisa kan basuh dulu tangannya dengan air yang mengalir di wastafel yang ada di luar?"


"Iya bu....."


Aku pun langsung keluar dari ruangan itu dan langsung menuju wastafel yang berada di dekat jendela.


'' Kamu mau ngapain?" tanya Pangeran yang ternyata masih menunggu aku.

__ADS_1


"Ini bu Anjani meminta aku untuk membersihkan sisa coklat yang menempel di tangan ku ini." ucap ku sambil menunjukannya sama Eran.


"Sini biar aku bantu,"


Dia pun langsung mengarahkan aku dan mengambil kain yang ada di atas meja kecil.


"Kalau kamu membersihkannya dengan kasar,takutnya lukanya akan mengelupas dan nantinya saat di obati kamu akan lebih kesakitan lagi." ucap Eran sambil membersihkan tangan ku dengan pelan.


"Tapi ini juga sakit,"


"Aku tahu,aku dulu juga pernah tersiram seperti ini saat kecil." timpalnya.


Dengan telaten dia pun membasuh tangan ku,sempat aku melihat ke arahnya yang tengah fokus membersihkan tangan ku.


''Kenapa?" ucapnya.


"Enggak,hanya saja aku merasa tidak enak saja sama kamu."


"Kenapa kamu merasa seperti itu,bukankan kamu juga waktu itu sudah membantu orang tua ku.Anggap saja ini sebangai ucapan terima kasih aku untuk kamu." ucap nya langsung melihat ke arah ku.


*Deg......*


Aku merasakan jantungku berdetak tidak karuan saat mata kami bertatapan.Aku mengakui dia memang ganteng,siapa sih wanita yang akan menolak laki-laki setampan dia.


"Aku tahu mata ku indah bukan?" ucapnya sambil tersenyum.


Aku pun langsung mengalihkan pandangan ku,karena malu.


"Nih udah," ucapnya.


Aku pun langsung masuk kembali keruangan di mana bu Anjani berada.


"Sudah?" ucap bu Anjani setelah melihat aku masuk.


"Sudah bu,"


"Untungnya obatnya masih ada,jadinya kamu tidak perlu di rujuk ke rumah sakit.Sini biar ibu obati,"


Aku pun duduk di kursi yang berada di samping tempat duduk beliau.Dan beliau pun langsung meraih tangan ku yang tadi tersiram.


"Ini pasti akan terasa perih,tapi tidak akan lama kok.Nanti ibu akan memasangkan perban,takutnya lukanya tergesek sama baju atau apapun itu." jelas beliau.


"Siap yah,kalau kamu merasa takut.Tutup saja mata kam,"


Aku pun langsung memejamkan mataku dan tangan ku yang sebelahnya memegang kursi dengan kuat.


"Ah......"


"Sakit bu..." ringis ku.


"Tahan yah,kalai tidak di obati sekarang takutnya kulitnya malah mengelupas lagi." ucap beliau tambah buat aku khawatir.

__ADS_1


Tiba saja,ada tangan yang langsung menutup mata ku dan memegang ku cukup erat dari belakang.


__ADS_2