
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Untungnya ini tidak sampai buat kulit kamu melepuh,coba aja kalau meleluh.Ibu akan langsung buat surat rujukan untuk kamu.Tadi terlihat parah,karena masih tertutup oleh sisa coklat yang menempel di tangan kamu." jelas bu Anjani.
"Nah sudah selesai,sekarang tinggal menunggu salepnya meresap dan gak kering.Nanti ibu akan pasang perban," lanjut beliau.
Tangan yang menutup ku sedari tadi pun perlahan terlepas. Aku sempat melihat ke belakang dan ternyata itu Eran yang berdiri tepat di belakang ku.
"Ayo ikut sama ibu," ajak beliau.
Aku pun langsung beranjak dari duduk ku dan mengikuti bu Anjani dari belakang.
"Ini siapa? Sepertinya ibu baru lihat.Biasanya kan kamu barenga-bareng sama Rio,Nadin dan Surya saja." ucap beliau.
"Ah ini......."
"Saya Pangeran bu,kebetulan saya baru masuk kemarin."
"Ah maksudnya kamu murid baru di sekolah ini?"
"Iya bu,"
"Pantas ibu baru lihat kamu,pindahan dari mana?"
"Jogja bu,"
"Wah lumayan jauh juga yah,"
"Iya bu....."
Bu Anjani pun langsung memasangkan perbannya di tangan ku dengan sangat hati-hati.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Nanti kamu bisa cek kembali ke sini,atau nggak kamu bisa pergi ke klinik untuk mengecek perkembangannya.Semoga cepat sembuh yah," ucap bu Anjani setelah selesai memasangkan perbannya.
"Iya bu,"
Setelah itu aku dan Eran pun berpamitan,karena memang jam pelajaran pertama sudah terlewatkan begitu saja.
Sesampainya di kelas,aku langsung di sambut oleh teman-teman ku,begitu pun dengan murid yang lainnya.
"Nadira....." ucap Nadin langsung menghampiri ku dengan raut wajah yang sedih.
"Gimana?" tanya nya.
"Aku baik-baik aja kok,hanya saja ini perlu di perban takutnya ke gesek sama benda yang dapat menimbulkan luka baru." jelas ku.
"Makasih yah,udah batu Nadira." ucap Rio sama Eran.
"Surya mana?" tanya ku.
"Dia tadi katanya mau nyusul kamu ke klinik,ini juga aku dan Rio sama mau ke sana.Kebetulan bu Azizah hari ini tidak masuk," jelas Nadin.
"Tapi aku nggak lihat dia barusan di jalan," timpal ku.
"Lah,kalau gitu di kemana dong." ucap Rio.
"Ya sudahlah,sebaiknya kita duduk dulu.Kamu pasti masih merasa kaget dengan kejadian yang menimpa kamu pagi ini."
__ADS_1
"Tadi Septi udah minta surat ijin untuk kamu,dan untungnya wali kelas kita memberikan ijin untuk kamu pulang lebih awal." jelas Nadin.
Aku pun langsung duduk di bangku ku,
"Tapi aku merasa udah mendingan kok," timpal ku.
"Nadira,tapi sebaiknya hari ini kamu istirahat di rumah saja.Kamu juga bisa memeriksakan nya ke rumah sakit atau klinik." sambung Rio.
"Tapi......"
"Ini yang terbaik untuk kamu sekarang,kamu harus nurut sama kami.Oke,"
"Baiklah....." ucap ku pasrah.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Mang....."
"Iya non,"
"Bisa jemput aku sekarang?"
"Sekarang non,ini kan belum saatnya pulang sekolah."
"Nggak apa-apa mang,sekarang mamang jemput aku yah."
"Baik non,"
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Dira.....!" seruan Surya mengagetkan aku yang tengah mengibrol dengan teman ku yang lain.
"Kamu kok,udah di sini aja sih? Aku barusan ke klinik kamu sudah tidak ada." ucapnya.
"Ya kamu aneh,kok bisa sih nggak berpapasan sama Dira." ucap Rio.
"Tadi aku mampir ke kantin dulu buat beli minuman untuk dia,'' ucapnya.
"Pantas aja,"
"Gimana,lukanya nggak apa-apa kan?"
"Nggak kok,ini sudah di obati sama bu Anjani tadi."
"Syukurlah,aku sangat khawatir tau.Apalagi tadi kamu yang menghilang begitu saja," ucapnya.
"Iya tadi kebetulan Eran yang bantu aku ke klinik."
"Makasih ya,karena kamu sudah bantu aku untuk bawa Dira ke klinik." ucap Surya sambil menepuk tangan Eran.
"Iya sama-sama," balas Eran sambil tersenyum.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ...
Rio pun mangantar aku sampai di gerbang depan,untungnya mang Diman pun sudah tiba saat aku sampai di sana.
"Ya udah aku pulang duluan yah,makasih udah di antar sampai ke sini." ucap ku.
"Iya sama-sama,nanti kabari aku kalau ada apa-apa." ucapnya.
__ADS_1
"Iya......"
Aku pun langsung menunjukan surat ijin pulangnya sama satpam yang berjaga di pos. Setelah itu,barulah aku masuk ke dalam mobil.
"Ayo mang," ucap ku.
"Iya non......"
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Loh non,itu tangannya kenapa?'' ucap mang Diman setelah menyadari kondisi tangan ku.
"Ah ini,tadi tidak sengaja terkena coklat panas saat aku mau makan di kantin." jelas ku.
"Kok bisa,harusnya non lebih hati-hati lagi.Ibu pasti khawatir kalau lihat kondisi non,pulang dalam keadaan seperti ini.''
"Tadi tuh,ada adik kelas yang tidak sengaja menabrak aku dari belakang.Kebetulan saat itu,aku tengah bawa coklat panas di tangan ku.Ya jadinya begini deh,"
"Ya mau di sembunyikan juga nggak bakalan bisa," lanjut ku.
"Mamang barusan habis mengantar ibu ke tempat acara yang kemarin ibu ceritakan.Katanya nanti siangnya minta di jemput kembali sambil jemput non ke sekolah." jelas mang Diman.
"Eh tahu nya aku malah pulang lebih cepat ya mang,"
"Iya non....."
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Ya ampun,non."
"Ini tangannya kenapa?" ucap bibi terkejut.
"Tersiram sama coklat panas bi,"
"Ya ampun non,"
Bibi pun langsung membawa aku ke kamar dan langsung menyuruh aku untuk beristirahat.
"Nanti bibi telpon dokter Hendra supaya ke sini," ucap beliau.
"Ini sudah di obati kok bi,"
"Tetap saja non,bibi tidak akan tenang sebelum dokter Hendra kesini untuk memeriksanya." ucap bibi langsung keluar dari kamar ku.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Saat aku tertidur,tiba-tiba saja bibi membangunkan aku dan memberitahu aku bahwa dokter Hendar sudah datang.
Setelah aku bangun dan tersadar dari tidur ku,barulah bibi meminta dokter Hendra untuk masuk ke dalam kamar ku.
Beliau memnag merupakan dokter kepercayaan keluarga ku sejak aku masih kecil.Sedari dulu memang saat aku sakit atau pun ada dari anggota keluarga yang sakit,bunda akan langsung meminta dokter Hendar ke rumah untuk mengobati dan memeriksa kondisi kami.
Dokter Hendar pun langsung membuka perban nya dan melihat kondisi tangan ku.Beliau tipe orang yang tidak banyak bicara dan hanya cukup melihat kondisinya saja.
"Sus,tolong buatkan resep obatnya."
Suster yang biasa mendampingi dokter Hendra pun langsung memberikan buku resep pada dokter Hendra.
"Sebaiknya sekarang tidak perlu di pakaikan perban,supaya obat yang akan di oleskan meresap dengan baik dan nantinya kulitnya akan cepat kering juga." jelas beliau.
__ADS_1
"Iya dok,"
Saat dokter Hendar tengah menyampaikan apa saja yang harus aku lakukan dan apa saja yang harus aku hindari.Aku mendengar kehadiran bunda yang langsung menuju ke kamar ku.