
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Kamu kenapa? Aku perhatikan dari tadi kamu murung banget." ucap Rio.
"Aku lagi kesal aja,"
"Sama siapa? Cerita aja sama gue,nggak apa-apa kok."
"Ya itu sama Hana,"
"Lah emang dia kenapa lagi?"
"Tadi pagi dia udah buat aku kesal,baru aja gue sampai di parkiran dia sudah nyamperin aku dan mengikuti aku sampai ke tangga.Dan lebih parahnya,tadi dia malah menelpon aku." jelas Eran.
"Lah,kok bisa.Emangnya sebelumnya kamu ngasih nomor kamu sama dia?"
"Itu dia,aku juga nggak tahu dari mana dia mendapatkan nomor telpon ku.Padahal setahu aku,belum ada yang aku kasih selama aku pindah ke sini." sangkal Eran.
"Coba deh,kamu ingat-ingat lagi.Mungkin kamu udah pernah kali,kasih nomor kamu ke teman kamu setelah kamu masuk sekolah di sini."
"Masa iya sih,Hana itu hacker bisa ngelacak nomor orang."
Eran pun langsung terdiam dan merenungkan perkataan Rio.
"Sambil kamu ingat-ingat lagi,sebaiknya kita cepat ke lapangan untuk bergabung dengan yang lain." ajak Rio.
"Yuk....."
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Itu dia mereka," tunjuk Nadin.
"Mereka habis dari mana sih,lama banget." timpal Surya.
Rio dan Eran pun langsung bergabung dengan kami dengan senyuman yang di tunjukkan oleh Rio.
"Lah ini anak,malah senyum lagi." ucap Surya.
"Hei,senyum itu ibadah.Jadi perbanyaklah senyum," timpal Rio.
"Oh iya,kok tumben pak Faiz belum datang,biasanya kan dia on time."
"Nggak tahu nih,mana udah panas lagi." ucap Nadin.
"Sebaiknya kita nunggu di bawah pohon mangga aja,yuk." ajaknya.
"Eh nanti kalau pak Faiz lihat,takutnya kita malah kena marah lagi." balas ku.
"Enggak lah," timpal Rio.
"Iya yuk....." ajak Nadin kembali.
Saat kami baru saja berbalik menuju ke arah pohon mangga,tiba-tiba saja tetdengar suara tepukkan tangan yang cukup keras.Sontak kami langsung berbalik,karena mengira itu pak Faiz.
"Perhatian......" ucap Septi.
"Ya ampun,aku kira pak Faiz."
"Ternyata itu Septi," ucap Rio pelan.
"Hari ini pak Faiz tidak masuk,beliau sedang menghadiri acara perlombaan di tingkat kota.Jadinya jam pelajaran beliau di bebaskan,karena tidak ada guru pengganti." jelas Sipti.
__ADS_1
Sontak saja sorakan teman sekelas ku bergemuruh.
"Yes,akhirnya....." ucap Nadin.
"Pantas aja,dari tadi aku merasa malas untuk pergi ke sini.Eh tahunya,pak Faiz nya nggak masuk." ucap Rio.
"Ya udah yuk,kita mendingan duduk di bawah pohon mangga itu.Tadi aku juga udah bawa cemilan yang aku beli tadi pagi itu.Kalian tinggal beli minumannya saja," ucap Nadin.
"Kalian? Maksudnya?" ucap Surya.
"Ya kamu,Rio sama Eran lah.Emangnya siapa lagi," timpal Nadin.
"Ya udah deh iya....." ucap Rio pasrah.
Mereka bertiga pun berlalu menuju ke arah kantin,sedangkan aku dan Nadin menggelar karton bekas botol minuman yang sudah ada di bawah pohon mangga itu.
"Enak banget yah,berteduh di sini sambil di iringi semilir angin." ucap Nadin.
"Iya......"
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
*Di kantin......
"Sepertinya ini cukup deh," ucap Surya.
"Bentar,tapi masa iya kita cuma makan cemilan aja.Nggak bakalan kenyanglah," ucap Rio langsung menahan Surya.
"Lah terus apa lagi dong?" tanya Surya.
"Kita beli cilok yuk," ajak Rio.
"Ya ampun,Sur....."
"Itu mah sedikit kali,"
"Ya udah kalau kamu nggak mau,biar aku saja yang beli.Kamu dan Eran tunggu di sini saja,"
"Ya udah sana....'' ucap Eran.
Tidak lama setelah kepergian Rio,mereka berdua pun menunggunya sambil menikmati minuman es coklat di warung langganan.
"Hai.....'' ucap Hana sambil melambaikan tangannya.
"Ya ampun dia lagi," ucap Eran pelan.
"Kamu lagi istirahat yah? Kebetulan banget yah,aku juga baru selesai perkatik.Ini aku mau istirahat juga,"
"Nggak ada yang nanya juga kali...." timpal Surya.
"Ish,lagian aku nggak bicara sama kamu.Aku bicara sama Pangeran,tau." bentak Hana.
"Aku boleh gabungkan sama kamu," lanjut Hana.
"Maaf yah,aku nggak lagi istirahat sekarang.Hanya saja,aku sedang beli minuman aja.Kebetulan aku lagi ada pelajaran juga saat ini." balas Eran.
"Tapi kamu kok bisa ke sini,kalau emang lagi belajar."
"Pelajaran olah raga," timpal Eran.
"Oh,pelajaran olah raga."
__ADS_1
"Tadinya aku mau istirahat bareng sama kamu,ya udah deh.Mungkin lain kali saja," ucap Hana tampak kecewa.
Eran pun langsung berdiri dari tempat duduknya setelah melihat Rio sudah kembali.
"Yuk....." ucap Eran.
Rio pun yang tidak tahu apa-apa,langsung mengikuti Eran dari belakang di ikuti Surya.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Emangnya ada apaan sih?" ucap Rio.
"Kamu nggak lihat apa,tadi di sana ada cewek aneh itu." ucap Eran.
"Oh makasud kamu Hana,"
"Iyalah siapa lagi,"
"Iya ih,gue juga ngerasa nggak nyaman banget dengan sikap dia.Kelihatan banget kalau dia lagi naksir sama Eran." timpal Surya.
"Masa sih?" ucap Rio.
"Sudahlah,aku malas banget kalau sudah bahas dia."
"Bentar deh,setahu aku si Hani itu bukannya satu club dance yah sama teman kamu siapa itu,yang pas awal kamu makan di kantin sekolah itu."
"Dila,maksud kamu?" ucap Eran.
"Iya dia,aku yakin."
"Soalnya aku pernah lihat dia waktu itu,kebetulan kami satu ruangan juga." ucap Surya yakin.
"Mungkin nggak sih,orang yang kasih nomir kamu ke dia iyu si Dila?" ucap Rio.
"Tapi perasaan,aku nggak pernah kasih nomor aku juga sama Dila." tutur Eran.
''Kalau sama Kenzi?"
"Sepertinya,soalnya saat itu aku pernah pinjam HP dia buat nelpon." ucap Eran.
"Nah itu,aku yakin Hana bisa tahu nomor kamu dari Dila.Apalagi satu sekolah ini sudah tahu,hubungan pertemanan kamu sama Dila dan Kenzi bukan?" timpal Rio.
Eran pun langsung terdiam dan menatap Rio dengan seksama.
"Padahal aku sudah bilang sama mereka,untuk tidak menyebar luaskan nomor aku pada siapa pun.Tanpa persetujuan aku,"
"Tetap saja,namanya juga orang." timpal Surya.
"Ya kalau kamu merasa terganggu,kamu kan bisa blok nomornya Hana.Nggak mungkin kan,kalau kamu sampai mengganti nomor kamu?"
"Enggak lah," balas Eran kesal.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Kalian dari mana saja sih,aku dan Dira sudah kering kepanasan di sini berdua." rengek Nadin.
"Iya nih,kalian ke kantin kan?"
"Ya iya,emangnya kita kemana lagi." timpal Rio langsung duduk di samping ku.
"Hanya saja....."
__ADS_1