
Pada malam harinya. Suasana hening itu menghiasi ruangan itu. Hanya ada suara sendok dan garpu yang saling bersahutan, tidak ada pembicaraan keduanya.
Kaisar Jasper sering melirik ke arah Michelina, ia ingin memulai pembicaraannya, tapi ia tidak tau harus memulainya dari mana. Ia menghela nafas. "Permaisuri aku ingin menambah kaldunya." Ujar Kaisar Jasper.
Michelina menghentikan suapannya, hatinya terhenyak. Dari dulu Kaisar Jasper tidak pernah memintanya melayaninya atau dulu bisa di bilang tidak menerimanya dan hanya Zoya dan Zoya yang ia terima.
"Lucilla, siapkan untuk Baginda." Ujar Michelina tanpa menoleh. Lucilla ragu, ia memandang Kaisar Jasper yang kecewa. "Tapi Permaisuri,"
"Siapkan saja Lucilla." Tegas Michelina.
Kaisar Jasper memberikan kode pada Lucilla agar tidak melaksanakan perintah Permaisurinya. "Aku ingin di layani oleh mu Permaisuri."
Dulu kata itu yang ingin ia dengarkan. Tapi sekarang setiap perkataannya ada rasa sakit yang menjalar di urat-uraymtnya. "Lucilla bisa melakukannya."
"Aku hanya ingin kamu Permaisuri," Sekali lagi dia memaksa, memandang lekat wanita di depannya.
"Baginda," Michelina berdiri, ia mengambil kaldu itu dan menaruhnya di piring Kaisar Jasper. Sedangkan Kaisar Jasper tersenyum. Ia senang Michelina mau merawatnya.
"Jika Baginda ingin sekali di rawat seperti ini. Saya sarankan Baginda menikah lagi."
__ADS_1
Sendok yang berisi nasi dan kuah kaldu itu terjatuh ke piring. Tangannya gemetar, cahaya senyuman itu memudar dalam sekejap. Salahkah dirinya di layani, salahkah dirinya meminta di layani oleh istrinya. Kaisar Jasper menatap tak percaya, dia mempertahankan Michelina di istananya. Lebih tepatnya di istana hatinya, tapu wanita di depannya tidak memiliki hati sedikit pun. Air matanya tertahan, matanya menajam bagaikan pisau yang siap menusuk.
"Apa maksud mu? apa hanya karena aku ingin di layani. Salahkah seorang suami meminta pada istrinya."
Dia berusaha mengejarnya, tapi justru malah mendorongnya ke dalam pelukan wanita lain. Tidak adakah cinta sedikit pun di hatinya atau setidaknya sayang sebatas menghargainya.
"Kenapa kamu selalu ingin mendorong ku, Permaisuri. Pantas saja, kamu menyuruh ku menikahi Zoya. Apa karena kamu bosan? baik aku tidak akan meminta mu melakukannya lagi. Aku tidak akan memaksa mu apa yang tidak di sukai mu. Tapi aku mohon, jangan mendorong ku ke dalam jurang yang tak bisa aku panjat." Ujar Kaisar Jasper. Ia lebih memilih pergi dari pada harus berdebat. Bosan, ia sangat bosan berdebat dan bertengkar, di sindir tiap harinya. Bisakah dirinya seperti bangsawan lain yang merasakan hangatnya keluarga?
Kaisar Jasper menutup pintunya dengan kasar. "Pelayan, siapkan aku 5 botol wine." Teriaknya. Ia melangkah ke teras depan menatap bulan di iringi air matanya.
Selang beberapa saat, sang pelayan pun datang. Kaisar Jasper langsung menyambar botol yang baru saja di taruh itu. Ia menuangkan ke dalam gelas itu dan duduk menatap 5 botol wine dengan kualitas anggur yang terbaik.
Kaisar Jasper terus merancau, kadang dia berteriak, menangis dan segala macam ia keluarkan. Dan yang tegukan terkahir, ia menangis sambil meminumnya. Ia beranjak dan keluar kamarnya. Sang kesatria dengan sigap menahan tubuhnya agar tidak limbung.
"Lepaskan ! aku bisa jalan sendiri."
Kesatria itu pun berjalan di belakang Kaisar Jasper, mengawasinya. Sesekali ia menahan tubuh Kaisar Jasper yang berjalan tak tentu arah dan melepaskannya kembali agar tidak membuat Kaisar Jasper marah.
Sesampainya di kamar Michelina. Kaisar Jasper membuka pintu itu, lalu menutupnya kembali. Antara sadar dan tidak sadar, ia berjalan menghampiri Michelina yang tertidur pulas.
__ADS_1
"Michelina." Kaisar Jasper menaiki ranjang itu. Ia menjatuhkan kepalanya di dada Michelina. Mendekapnya dengan erat. Ia menangis hingga membuat sang empu terbangun.
"Baginda," pekik Michelina berusaha mendorong tubuh Kaisar Jasper. Namun Kaisar Jasper justru mempererat pelukannya.
"Jangan menolak ku, aku mohon. Aku akan melakukan apa pun. Aku akan melakukan apa pun. Apa pun itu." Rancau Kaisar Jasper.
Michelina menjatuhkan tangannya yang hendak mendorong tubuh itu kembali. Ia mencium aroma anggur yang menyengat. Ia menduga, Kaisar Jasper menghabiskan beberapa botol Wine hingga membuatnya menyasar ke dalam kamarnya.
"Aku, aku mencintai mu Michelina."
Secepat kilat Michelina mendorong tubuh Kaisar Jasper dan terjatuh ke samping. Michelina memijat pelipisnya saat melihat wajah damai tanpa dosa itu di depannya.
"Cinta, cinta ku telah mati Baginda." Umpet Michelina.
"Apa dia tidak bisa membuat ku tidak susah, tidak jengkel sedetik pun."
Michelina memperbaiki selimutnya agar menutupi tubuh Kaisar Jasper. Sebenci-bencinya dirinya. Ia masih memiliki rasa kasihan.
"Sepertinya malam ini, aku harus tidur di sofa."
__ADS_1