
"Baginda, jangan seperti ini. Jangan memperbesar masalah. Aku mohon," ujar Michelina memelas.
Kaisar Jasper menghembuskan nafas kasarnya, "Demi permohonan mu. Cukup sekarang kamu memohon untuk orang lain, tapi tidak untuk lain kali." Pekik Kaisar Jasper. Ia tidak tega melihat Michelina memohon dengan mata berkaca-kaca.
"Pergilah, jangan mengganggu ketentraman kami." Kaisar Jasper memeluk pinggang Michelina, seolah mengatakan Michelina tidak bisa di sentuh oleh siapa pun kecuali dirinya.
"Tunggu Baginda," Michelina melangkah, ia menghampiri Zoya. Menatapnya dengan puas. Lalu memeluknya.
"Apa kamu masih ingin bermain dengan ku. Berhati-hati lah, jika tidak, semua yang kamu miliki akan aku renggut Zoya. Untuk kali ini, hanyalah permainan awal."
Michelina melepaskan pulukannya, ia melihat ke bawah, tepat di tangan kanan Zoya. Tangannya meremas gaunnya. Menatap tajam ke depan.
__ADS_1
"Duke Lastar, ini adalah peringatan untuk mu. Jaga batasan kalian." Ujar Michelina tanpa melihat Duke Lastar yang memberikan hormat.
Michelina menggandeng lengan Kaisar Jasper, meninggalkan kedua orang itu dengan pikiran masing-masing. Selepas kepergian Michelina dan Kaisar Jasper, Duke Lastar berdiri, ia menarik dengan kasar tangan Zoya. Lalu berhenti di depan gerbang luar setelah gerbang itu di tutup oleh penjaga.
"Dimana sikap mu sebagai wanita bangsawan Zoya? apa kamu tidak malu dengan perkataan Baginda dan Permaisuri?" Duke Lastar mengusap wajahnya dengan kasar.
Duke Lastar mengatupkan kedua tangannya, "Paman mohon Zoya, kali ini saja jangan membuat Paman harus kehilangan semuanya."
"Cukup Zoya, " Matanya memerah seraya menunjuk Zoya. Sedangkan Zoya, ia merasa Pamannya seperti monster. "Kekuasaan, apa ayah mu pernah memikirkan keluarganya. Saat Dia pergi, keluarga nya kacau balau. Bahkan dia tidak sama sekali memikirkan keluarganya, perasaannya. Seharusnya, saat itu dia menyelesaikan permasalahan di keluarganya. Aku memahami mu karena kamu tumbuh di lingkungan biasa dan umur mu masih 18 tahun. Aku pikir jika kamu masuk ke dalam bangsawan, dengan pikiran mu kamu akan dewasa. Di umur ku yang ke 21 aku memiliki tanggung jawab Zoya, siapa saat diri ku berada di bawah. Duke Ronaf, Yang Mulia Duke yang seumuran dengan ayah ku. Dia membantu ku, keluarga Lastar tidak akan seperti ini tampa bantuannya. Apa kamu tidak bisa melihat kebaikannya."
"Tapi Paman, ayah ku pergi karena kakek tidak mau dengan ibu ku." Ujar Zoya, ia mengingat perkataan ibunya. Dulu kakeknya tidak mau dengannya, tidak mau merestui pernikahan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Untuk itu memang iya. Namun, saat ayah meninggal. Dia menyuruh ku menjemput ayahnya. Sejahat-jahatnya orang tua. Dia tidak akan pernah menghilangkan nama anaknya di hatinya. Paman mencari kalian, tapi tidak ada hasilnya. Hingga kematian itu menjemputnya. Dan sekarang Paman memenuhi janji mu."
"Pulanglah, Paman akan mengembalikan mu ke tempat asal mu. Jika dirimu sudah menyadari kesalahan mu. Paman akan menjemput mu," ujar Duke Lastar dengan suara rendah. Berulang kali hatinya meminta maaf menyebut nama adiknya, nama kakeknya. Semoga keputusan yang dia ambil. Ayah dan Adiknya mau memahaminya.
Duke Lastar menarik menarik lengan Zoya masuk ke dalam kereta. Kuda itu pun melaju membelah perjalan yang cukup ramai melewati Ibu Kota. Sepanjang perjalanan itu Duke Lastar dan Zoya hanyut dalam pikirannya. Duke Lastar memikirkan kedepannya, sedangkan Zoya dia memikirkan perkataan sang paman. Dimana kakeknya pernah menginginkannya.
"Semua orang memiliki kesalahan, tapi semua orang berhak memiliki lembaran baru."
Zoya tak menanggapi, justru dia ingin mengatakan sesuatu. Namun hatinya tidak yakin. Lagi pula itu sudah lama, tidak mungkin semacam itu terjadi.
Sementara Michelina berusaha menjauhkan dirinya dengan Kaisar Jasper. Selama di perjalanan, ia merasa risih. Kaisar Jasper memeluk pinggangnya dengan posesif. Sampai di kamar di bawah tangga, Kaisar Jasper menggendongnya, Michelina sempat terpukau dengan mata hitamnya. Kelembutan di matanya tak mampu ia tolak.
__ADS_1
Kaisar Jasper meletakkan tubuh Michelina dengan hati-hati. Tangan kokoh itu membelai lembut pipi Michelina. Hingga bibir itu menyatu kembali.