Pembalasan Permaisuri Yang Dingin

Pembalasan Permaisuri Yang Dingin
Tega membuangnya


__ADS_3

Keesokan harinya.


Michelina terbangun saat ia merasa seseorang tengah mencium pipinya. Matanya terbuka lebar saat Kaisar Jasper mengendus-enduskan hidungnya ke lehernya membuat merasa geli. "Baginda."


Kaisar Jasper meneruskan keusilannya, akhir-akhir ini ia sangat suka dengan aroma wangi Michelina.


"Tunggu,"


Michelina menggelitiki Kaisar Jasper membuatnya menyerah dan tertawa.


"Permaisuri, Permaisuri hentikan." Ucap Kaisar Jasper seraya tertawa lepas.


Michelina menghentikan gelitikannya. "Baginda coba ulangi sekali lagi."


"Permaisuri."


Michelina langsung memeluk Kaisar Jasper yang berada di atas pahanya. Betapa senangnya mendengarkan sang suami yang sudah bisa bicara lagi. "Suami ku kamu sudah bisa berbicara lagi. Aku sangat mencintai mu." Ucap Michelina.


Kaisar Jasper memegangi tenggorokannya, ia lupa jika dirinya tidak bisa berbicara. "Aku sembuh, aku sembuh."


"Iya sayang kamu sembuh,"


"Maka berikan obatnya sekali lagi Permaisuri." Kaisar Jasper mencium bibir Michelina. Mengenyam dan menyesapi setiap inci bibirnya.


Berita tentang kesembuhan Kaisar Jasper pun tersebar di seluruh penjuru istana. Semua pelayan merasa bersyukur dan kini ketiganya sedang berbincang hangat di meja makan seraya menyantap sarapan pagi.


"Sayang aku ingin keju."


Michelina pun mengangguk, ia mengolesi keju di roti Kaisar Jasper dan menaruh di piringnya. "Terima kasih istri ku."


Ibu Suri tersenyum, seandainya suaminya masih hidup tentu dia akan melihat putra dan menantunya telah mencintai. Dulu mereka khawatir pada putranya itu yang tidak mencintai Michelina. Tapi sekarang rasanya sangat indah untuk di pandang. Bahkan ia tidak ingin melepaskan momen saat ini.


"Ibu Suri, Baginda, Permaisuri." Ucap seorang pelayan dengan keringat yang membasahi dahinya.


"Ada apa?" tanya Ibu Suri.


"I-itu, tuan Viscount Andry tidak sadarkan diri."


Ketiganya pun membulatkan matanya, mereka langsung mengikuti pelayan itu menuju ruang tamu.

__ADS_1


Ibu Suri menggosokkan kedua tangannya ke tangan kanan Viscount Andry. "Putra ku, ada apa dengan mu, Nak?"


"Kenapa kalian masih diam, cepat panggil kesatria untuk membawanya ke kamar." Teriak Ibu Suri dengan panik.


"Sayang bangun, ini Ibu, Nak." Ibu Suri mengelus pipi Viscount Andry dan mencium tangan kanannya. Ia berharap tidak akan terjadi sesuatu pada putranya itu.


"Cepat panggilkan Dokter istana." Perintah Kaisar Jasper pada Lucilla.


Viscount Andry di periksa oleh Dokter istana. Kemudian dia menatap Ibu Suri. "Tuan kelelahan dan stres. Dia terlalu banyak minum Wine sampai membuatnya tak sadarkan diri." Jelas sang Dokter.


"Lucilla, cepat berikan obat penawar mabuk."


"Baik Permaisuri."


Michelina merasa iba pada Viscount Andry, pasti ia sedang ada masalah dengan Ibunya itu.


"Permaisuri, kamu temani Baginda. Biar aku yang menjaganya." Ucap Ibu Suri.


"Baik Ibu," Michelina keluar dari ruangan itu seraya menggandeng lengan Kaisar Jasper.


Sesaat kemudian Viscount Andry tersadar. Ia melihat sekelilingnya. Ruangan yang begitu megah yang tentunya bukan kamarnya.


Viscount Andry melirik ke arah Kanan, ia beringsut duduk dengan di bantu oleh Ibu Suri yang setia menjaganya. Ia memegangi kepalanya yang terasa berat itu. "Ibu, kenapa aku bisa di sini?"


"Apa kamu lupa jika kamu pingsan saat sampai di sini?"


Viscount Andry ingat, ia meminum banyak Wine. Lalu melajukan kudanya ke istana. Pikirannya kacau dan hatinya juga kacau. Satu-satunya yang ia ingat hanyalah wajah Ibu Suri.


"Tidak masalah jika kamu tidak ingin menceritakannya pada Ibu, tapi Ibu mohon jangan bersikap seperti ini. Kamu akan menyakiti Ibu mu ni."


Viscount Andry menangis layaknya anak kecil. Ia menangis tersedu-sedu. Kasih sayang yang selalu ia panjatkan. Kini ia dapatkan. "Ibu,"


Ibu Suri menepuk punggung gagah itu, "Maaf, apa Ibu menyakiti mu?"


"Tidak, dia tidak menginginkan ku. Dia mengatakan aku pembawa sial."


Deg


Hati Ibu Suri langsung perih dan sakit. Ia tidak terima putra keduanya di hina seperti itu. "Siapa yang mengatakannya pada mu? Katakan siapa? Ibu akan menghukumnya."

__ADS_1


Viscount Andry menggeleng. "Dia Ibu ku sendiri."


Ibu Suri menutup mulutnya, ia tidak percaya. Bagaimana bisa seorang ibu mengatakan hal buruk pada anaknya.


"Dia tidak meginginkan ku Ibu. Lihatlah ini." Viscount Andry menarik kerah tangannya. Terdapat bekas cambukan di lengan putihnya. "Dia selalu seperti ini pada ku, Bu."


Ibu Suri kembali memeluk Viscount Andry. "Tenanglah Putra ku, tidak akan ada lagi bisa menyakiti mu. Percayalah pada Ibu dan untuk Ibu mu, aku sendiri yang akan berbicara padanya. Tinggallah di sini. Kamu harus menjadi seorang Pangeran."


Viscount Andry tersenyum, perkataan Ibu Suri padanya membuatnya merasa tenang dan belaian tangannya membuatnya nyaman dan hangat.


Ibu Suri mencium kepala Viscount Andry. Tubuh mu yang besar, tapi hati mu masih seperti anak kecil. Apa yang sudah dia lakukan pada mu, Nak batin Ibu Suri.


Ibu Suri membaringkan tubuh Viscount Andry dengan hati-hati. Ia membelai pipi putra keduanya itu. "Aku bersalah pada mu, Nak. Ibu akan menebus semua kesalahan Ibu." Ucap Ibu Suri dengan air mata yang mengalir.


Pada malam harinya.


Ibu Suri di kejutkan oleh kedatangan seorang wanita yang ia kenali di masa lalunya. Dengan angkuh dan tersenyum, wanita itu memberikan hormat padanya.


"Sangat senang bertemu dengan Ibu Suri kembali."


Ibu Suri duduk di hadapannya di ikuti Kaisar Jasper dan Michelina.


"Apa mau mu datang kesini?" tanya Ibu Suri tanpa berbasa-basi lagi.


Wanita itu mengembangkan bibirnya. "Tentu saja untuk bertemu dengan putra. Aku baru tau jika dia ada di sini."


"Apa yang kamu lakukan padanya sampai putra ku seperti ini?"


Wanita itu mendekik tajam. "Dia bukan putra mu, tapi dia darah daging ku."


"Wanita macam apa yang tega membuat putranya seperti itu."


"Kamulah penyebabnya,"


"Aku memang penyebabnya, aku minta maaf. Waktu itu aku ragu karena kamu bukan wanita baik-baik. Apa memang tidak ada cinta di hati ku sampai kamu memperlakukan tubuh mu begitu buruk? Putra mu saja kamu lukai seperti itu."


"Cinta?" Wanita itu tertawa. "Bagi ku Cinta telah mati. Aku tidak percaya dengan cinta. Saat aku memberikan cinta ku dengan tulus. Orang itu justru meninggalkan ku, Aku pernah mencintai seseorang, tapi dia tega mengkhianati ku dan aku tidak percaya pada cinta." Wanita itu berdiri. "Jika kamu ingin Putra ku, rawatlah dia dengan baik. Aku menyerahkannya pada mu. Aku tidak akan merebutnya. Dia akan bahagia bersama mu, tapi kamu jangan lupa. Aku harus hidup seperti apa yang terlukis di hidup mu." Ucapnya tersenyum sinis. Memberikan hormat dan langsung pergi begitu saja.


Ibu Suri, Kaisar Jasper dan Michelina serta pelayan Lucilla menganga, mereka tidak percaya wanita itu menyerahkan putranya begitu saja. Meskipun penjelasan wanita di depannya tersakiti karena cinta, bukan salah anaknya tapi kenapa harus anaknya yang juga menanggungnya.

__ADS_1


Sementara Viscount Andry yang mendengarkannya. Ia menggenggam erat pagar pembatas di tangga itu. Ia tidak menyangka, Ibunya benar-benar tega membuangnya.


__ADS_2