Pembalasan Permaisuri Yang Dingin

Pembalasan Permaisuri Yang Dingin
Pertemuan


__ADS_3

Langit pun nampak kemerahan, bulan telah siap menggantikan matahari. Michelina langsung menarik tali kuda itu, membuat kuda itu berhenti mendadak tepat di depan gerbang kokoh. Ia mengelus kepala sang kuda agar tidak memberontak.


Kedua kesatria itu turun dan menghadap ke arah dua penjaga yang tidak tau wajah Permaisuri, Ibu negeri ini.


"Kami dari Kekaisaran, ingin menghadap Baginda."


Kedua pengawal itu pun mengangguk, mereka membukakan pintu kokoh itu. Michelina melangkah masuk. Namun sampai di kedua penjaga itu. Michelina menoleh ke kanan dan ke kiri. "Jika ada seorang wanita yang ingin masuk. Kalian tidak boleh membukakan pintu sembarangan dan harus melaporkan pada Baginda. Aku tidak ingin seseorang berbuat jahat pada Baginda, mengerti."


"Kami mengerti," ujar kedua orang itu.


Michelina tersenyum puas, ia tidak sabar ingin melihat wajah Zoya. Keributan apa lagi yang akan dia perbuat. Ia memasuki halaman depan, matanya melihat sekeliling. Salah satu kesatria melihatnya dan langsung berteriak memanggil gelarnya. Semua Kesatria dan pengawal yang berjaga di halaman depan istana itu pun berlari dan memberikan hormat di ikuti penjaga istana Almos. "Permaisuri."


"Dimana Baginda?"


"Saya akan mengantar Permaisuri ke ruangan Baginda. " Ujar salah satu Kesatria.


"Baiklah,"

__ADS_1


Michelina mengikuti arahan sang Kesatria. Sampai di depan pintu, Michelina menyuruh sang Kesatria tidak usah mengetuknya, ia akan masuk sendiri dan menemuinya. Samar-samar ia mendengarkan sebuah percakapan. Ia melangkah dengan pelan. Hingga telinganya mendengarkan sangat jelas.


"Bagaimana, aku ingin kamu membuat kalung, anting, gelang dan gaun yang tidak pernah ada di kerajaan Almos. Aku ingin sesuatu yang berbeda dari yang lainnya." Perintah seorang laki-laki dengan tegas. Dia berniat ingin memberikan sebuah hadiah pada Permaisurinya saat pulang nanti.


"Baik Baginda, kami akan usahakan dan melakukannya dengan cepat."


Kedua laki-laki berusaha menyenangkan hati Kaisar Jasper. Mereka tidak mau kehilangan nyawa mereka. Apa lagi mereka masih memiliki anak dan istri. Masih ingin bermanja dengan istri dan anaknya.


"Jika aku tidak puas, nyawalah taruhan kalian," ujarnya dingin.


Kelima orang itu memutar lehernya, Kaisar Jasper langsung berdiri. Lalu berlari memeluknya. "Permaisuri."


Ke empat laki-laki itu memberikan hormat undur diri. Mereka tidak mungkin berdiri di sana dan menonton kemesraan junjungan mereka. Ada keterkejutan pada wajah mereka. Menurut rumor, Kaisar Jasper tidak memperdulikan Permaisurinya. Akan tetapi sekarang, melihat dengan mata kepalanya sendiri. Membuat mereka tidak yakin, jika di lihat. Kaisar Jasper sangat menyayangi Permaisurinya. Ternyata rumor hanyalah rumor belum tentu kebenaran pikirnya.


"Aku senang Permaisuri datang kesini." Kaisar Jasper melepaskan pelukannya, sejenak kemudian ia memeluk Michelina dengan sangat erat.


Michelina tersenyum kecil, ia berusaha melepaskan pelukan Kaisar Jasper. Namun tenaganya kalah kuat. Ia hanya pasrah menerima pelukannya yang terasa menyesakkan dadanya. Ia kesulitan bernafas akibat pelukannya.

__ADS_1


"Baginda, bisakah melepaskan ku."


Mendengarkan Permaisuri Michelina dengan suara yang terasa sesak nafas. Ia melepaskan pelukannya. "Maaf, aku terlalu merindukan mu Permaisuri." Ujar Kaisar Jasper dengan jujur.


Ia sangat senang, Permaisurinya mau menyusulnya. Meskipun ada kekhawatiran mengingat Permaisurinya yang menempuh perjalanan panjang dan takut terjadi sesuatu.


Dan kini ia bernafas lega, Permaisurinya baik-baik saja. "Bagaimana bisa Permaisuri datang kesini? apa Permaisuri tidak takut ada seseorang yang ingin berbuat jahat?" tanya Kaisar Jasper secara beruntun. Di wajahnya mulai terlihat ketakutan. Ia tidak bisa membayangkan hidupnya jika terjadi sesuatu pada Michelina.


"Jahat atau tidaknya, aku sudah pernah mengalaminya Baginda." Jawab Michelina. Kaisar Jasper menggaruk pipinya yang tak gatal. Setiap perkataan Michelina membuatnya tersindir.


"Apa Permaisuri lelah? Permaisuri bisa istirahat lebih dulu."


"Ya, tubuh ku sangat tidak enak." Ujar Michelina. Ia merasakan tubuhnya sangat lengket.


"Baiklah, Permaisuri mandilah setelah itu beristirahat. Aku akan menemui Permaisuri saat jam makan malam nanti."


Kaisar Jasper mencium kening Michelina. Mengelus pucuk kepalanya di iringi senyuman. Niatnya ingin berlama-lama. Melihat Permaisurinya yang begitu kelelahan, ia tidak tega. Mungkin nanti malam ia bisa menghabiskan waktu dengan Permaisurinya secara puas.

__ADS_1


__ADS_2