Pembalasan Permaisuri Yang Dingin

Pembalasan Permaisuri Yang Dingin
Kesusahan Membawa Berkah


__ADS_3

Ke esokan paginya.


Michelina mengucek kedua matanya, menguap lebar-lebar sambil beranjak duduk. Ia menggaruk kepalanya, kemudian menguap kembali. Saat membuka matanya, ia melihat beberapa pelayan sekaligus pelayan yang melayaninya.


"Permaisuri,"


Dahi Michelina berkerut, ia tak peduli. Lagi pula hari ini dia akan pulang pikirnya.


"Hari ini Permaisuri akan menjalankan perawatan kulit,"


Hah


Mata Michelina melebar, "Siapa yang menyuruh kalian? aku tidak mau, hari ini lebih baik kalian menyiapkan semua keperluan ku. Aku ingin kembali ke istana."


"Permaisuri tidak boleh pergi sebelum Permaisuri menjalani semua perawatan."


Kelima pelayan itu membelah, memberikan jalan bagi orang yang bersuara. "Aku akan ikut pulang Bersama Permaisuri. Lagi pula urusan ku di sini sudah selesai."


"Ini masih pagi dan Baginda perlu menyelesaikan masalah di istana ini." Ujar Michelina.


Kaisar Jasper melirik ke arah jendela. Ini sudah memasuki waktu siang, tapi Michelina mengira masih pagi. Tadinya ia ingin sarapan bersama. Namun pelayan yang melayaninya malah mengatakan jika istrinya yang paling menggemaskan itu masih tidur.


"Kalian keluar lah, nanti aku yang akan memanggilkan kalian." Ujar Kaisar Jasper pada kelima pelayan itu.


Kaisar Jasper berjalan selangkah demi selangkah, memandang setiap inci wajah Michelina. Ia duduk lalu mengelus kepalanya. "Ini sudah lihat, cobak lihat di jendela matahari sudah di atas." Ujar Kaisar Jasper menggeleng pelan.


Michelina melihat ke arah jendela. "Astagah ! kenapa tidak membangunkan ku?"


"Aku tidak tega membangunkan mu. O iya, bersiap-siaplah, sebelum kita pulang ke istana. Kita akan menghabiskan waktu di Ibu Kota dulu."


"Apa Baginda ingin pulang dengan ku?"

__ADS_1


"Tentu, lebih enak menghabiskan waktu dengan Permaisuri ku." Ujar Kaisar Jasper seraya mengacak pucuk kepala Michelina.


"Baiklah aku tunggu di luar, tidak perlu berlebihan pakai gaun yang biasa saja. Aku tidak ingin semua mata tertuju pada kecantikan Permaisuri."


Wajah Michelina memanas, telinganya mulai keluar asap. Ia malu dengan gombalan Kaisar Jasper.


"Baginda," teriak Michelina yang baru menyadari Kaisar Jasper sudah menutup pintu. Michelina mengusap wajahnya, menepuk pipinya. Ia menggeleng, tidak boleh tergoda oleh Kaisar Jasper.


Kelima pelayan itu pun masuk, Michelina langsung berdiri. Ia harus buktikan dirinya belum tergoda. "Ayo,"


Ke lima pelayan itu mengikuti Michelina. Kedua pelayan sibuk mengusap kedua tangan Michelina dengan Yogurt dan satu pelayannya lagi memijat kepala Michelina.


Sang empu semakin menikmati dan kini satu jam sudah berlalu. Michelina di rias biasa saja. Anggap saja sekarang dia memakai baju biasa. Namun terbuat dari kain sutera yang terbaik.


"Apa-apaan ini? kenapa penampilan ku begini?" pekik Michelina.


"Maaf Permaisuri, gaun ini di siapkan oleh Baginda."


"Permaisuri," Raja Almos yang baru memeberikan hormat.


Michelina mendekat dengan hati kesal bercampur marah. Ingin sekali ia mengeluarkan suaranya. Ia tidak suka dengan pakaiannya. Bisa-bisa dia tidak di lirik oleh para laki-laki dan membuat laki-laki di depannya berfikir. Jika dirinya bisa di perebutkan oleh laki-laki.


"Sudah selesai, ayo."


Kaisar Jasper paham, Permaisurinya tidak akan suka dengan gaun yang melekat di tubuhnya. Lebih baik dia membiarkan wanita di depannya marah dari pada harus melihat laki-laki memujanya. Meskipun sederhana ia khawatir, gaun warna hijau muda dengan ukiran pita hitam menyilang di dadanya dan rambutnya yang tergerai dengan ujung yang bergelombang kecil.


"Kadang kala aku merasa khawatir, aku akan bersaing dengan laki-laki lain."


Michelina tak menjawab, dia menaiki sebuah kereta. Duduk dengan benar, membuang muka ke luar jendela.


Kaisar Jasper menaikan kedua alisnya, ia tak peduli, yang di pedulikan hatinya. Ini adalah usulan kedua dari Marquess Azel yang ia bicarakan kembali tadi pagi sebelum mengurus penguasa istana Almos.

__ADS_1


"Permaisuri boleh membeli apa saja yang Permaisuri inginkan."


Tidak ada jawaban, Kaisar Jasper memilih diam. Ia yakin, wanita di depannya pasti akan tenang setelah membeli sesuatu.


Dan benar saja, selama di Ibu Kota. Michelina keluar masuk toko, ada saja yang ia beli membuat Kaisar Jasper bukan main kepalang. Kepalanya pusing melihat istri nakalnya menunjuk ini dan itu, mencoba gaun bahkan ia merasa menjadi laki-laki bodoh. Mengikuti Permaisurinya berpindah dari toko ke toko lainnya. Beruntungnya dia membawa satu pelayan, sehingga bukan dirinya yang membawa belanjaan istrinya itu. Namun hatinya tak merasa lelah, justru senang, kesusahannya membawa berkah untuk hidupnya. Michelina sering bertanya, sering berbicara padanya. Seakan tidak ada lagi jarak di antara keduanya.


bruk


Aww


Michelina menggerang sakit saat lututnya berdenyut perih. Terkejut, Kaisar Jasper berlari karena jarak keduanya lumayan jauh.


"Ma-maaf," ujar seorang laki-laki. Dia mengangkut beberapa vas bunga untuk di pindahkan ke salah satu kereta di depan Michelina.


"Istri ku,"


Kaisar Jasper membantu Michelina berdiri, ia membantu membersihkan gaunnya yang kotor. "Apa kamu tidak bisa melihat?" bentak Kaisar Jasper sambil menggertakkan giginya.


"Su-sudah, aku tidak apa-apa. Ayo kita pergi, lagi pula dia tidak sengaja, Baginda." Cicit Michelina seraya menarik lengan baju Kaisar Jasper.


"Maafkan pelayan saya tuan," ujar seorang laki-laki menyela percakapan keduanya. Ia menatap Michelina tanpa berkedip. Semilir membawa rambut hitamnya.


"Heh, kata maaf mu tidak bisa menyembuhkan lukanya, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya." Kaisar Jasper tambah mengeras, ia tak suka tatapan memuja untuk istrinya.


"Ba-baginda," Michelina merasa tidak enak di tatapan oleh orang-orang.


"Maafkan suami saya, dia memang seperti itu." Michelina menarik Kaisar Jasper. "Ayo Baginda,"


Laki-laki itu menghela nafas berat, baru saja ia merasa dadanya berdetak lebih hebat. Namun harus menerima kekecewaan.


"Aku tertarik dengan gadis itu," gumamnya pelan, melirik ke pelayan laki-laki di sampingnya. "Lain kali berhati-hatilah."

__ADS_1


__ADS_2