Pembalasan Permaisuri Yang Dingin

Pembalasan Permaisuri Yang Dingin
Penolakan


__ADS_3

Sekuat tenaga ia mendorong dada Kaisar Jasper. Lalu memalingkan wajahnya, hampir saja ia kelepasan dan terbuai. Masalahnya masih belum kelar dan Michelina tidak ingin kebobolan sebelum kemenangannya mencapai puncak.


"Permaisuri ada apa? kenapa kamu menolak ku?" tanya Kaisar Jasper dengan wajah kecewa. Padahal ia sudah melakukan segalanya. Berusaha melakukan yang terbaik.


"Maaf Baginda, aku belum siap."


Kaisar Jasper berdiri, hatinya kecewa. Ia kira Michelina sudah membuka hatinya. Menerima kehadirannya. "Sampai kapan kamu mau menerima ku Permaisuri?" tanya Kaisar Jasper dingin.


Dari dulu sampai sekarang ia berusaha mengontrol hatinya. Jika dulu cintanya bersih, tapi sekarang cintanya bercampur kebencian. Laki-laki di depannya tidak akan tau masa penderitaannya di masa lalu. Permainan ini masih setengahnya saja. "Aku tidak perlu memberikan alasannya Baginda." Ucap Michelina dengan datar.


Air mata darah itu tidak akan pernah bisa aku lupakan Baginda.


Kaisar Jasper mengepalkan tangannya, ia langsung pergi begitu saja tanpa memperdulikan Michelina.


Hatinya tidak tega melihat wajah kecewa itu. Tapi apa yang bisa di buat? hatinya belum bisa menerima semuanya.


Michelina membaringkan kembali tubuhnya, ia tidak mau memikirkan apa-apa lagi. Besok pagi dia akan kembali ke istana. Lagi pula urusannya di sini sudah selesai.


Sedangkan Kaisar Jasper, dia bahkan menggila di kamarnya. Dia melempar semua Vas bunga dengan ukiran indah itu. Vas bunga yang tak tau apa pun itu. Kini menjadi sasaran empuknya.


"Argh ! apa kurangnya aku? apa aku terlalu memanjakan mu sampai kamu tidak menghargai ku Permaisuri."


prank

__ADS_1


Vas putih dengan air dan mawar di dalamnya berserakah di lantai.


"Baginda." Sapa Marquess Azel. Hatinya memang tidak enak melihat wajah Kaisar Jasper setelah keluar dari kamar Permaisuri Michelina. Ia meringis melihat pecahan vas bunga itu kemana-mana. Di bawah meja, di dekat lemari dan di bawah tempat tidur. Ada enam vas bunga yang Kaisar Jasper pecahkan. Ia sangat menyayangkan benda-benda yang sudah di pesan oleh Raja Almos justru hancur.


"Baginda, te-tenanglah." Lebih baik ia harus turun berperang dari pada menenangkan singa jantan di depannya.


"Apa kamu tidak bisa mengerti diri ku, hah? apa pikiran mu bodoh?" bentak Kaisar Jasper melihat sekilas. Lalu berdecak pinggang.


Mana aku tau Baginda, seperti apa sakitnya? setidaknya aku tidak bodoh seperti mu batin Marquess Azel.


"Kenapa diam? apa otak mu memang sudah bodoh?"


Di jawab salah, gak di jawab ya tetap salah. Aku harus apa untuk mu Baginda?


"Bu-bukan begitu Baginda. Sebenarnya Baginda harus menenangkannya." Usul Marquess Azel. Ia meringis sendiri dengan jawabannya. Ia memukul mulutnya, tidak bisakah hatinya berkompromi dengan pikirannya dulu. Baru mengucapkan, sepertinya mulutnya ini harus di segel.


Aduh, kenapa jantung ku hampir copot. Tuhan jangan sampai pikiran dan hati ku ketularan gila batinnya.


"Emm," Marquess Azel menggaruk kepalanya. Ia bingung harus mengatakan apa lagi. Jawaban ini menentukan nasibnya. Ia berpikir keras, sejurus kemudian dia mengingat jika salah satu kesatrianya pernah memesan bunga untuk wanita yang dia cintai.


Ia mengangguk mantap, beruntunglah kesatria yang selalu ia hina dengan pikirannya yang terlalu mencintai wanita memberikan jawabannya.


"Be-begini Baginda. Baginda mencintai Permaisuri ya."

__ADS_1


"Lalu,"


"Ee, bagaimana kalau Baginda memberikan sesuatu yang romantis. Misalkan memberikan sebuah bunga. Ee, memberikan sesuatu sebagai hadiah misalkan juga cincin atau semacam kalung. Lalu Baginda harus mengungkapkan isi hati Baginda. Seperti itu,"


Matilah aku, semoga berhasil. Permaisuri terimalah bunga dari Baginda. Apa pun itu, setidaknya jangan menolak usulan ku.


"Begitu ya," Kaisar Jasper mengelus dagunya. Ia menimang-nimang usulan bawahannya. Ia memutar tubuhnya. "Benar juga apa yang di katakan oleh mu. Setidaknya aku harus membuat hatinya tersentuh."


Marquess Azel tersenyum lega. Ingin sekali ia berteriak dan mengucapkan kata lega. Namun dalam hatinya yang paling dalam, ia tersentuh dengan cintanya Kaisar Jasper. Mencintai sang Permaisuri yang begitu dalam. "Baginda, sebaiknya Baginda pelan-pelan mendekati Permaisuri. Hati wanita sangat lembut dan gampang di tusuk, Baginda. Maaf, Mungkin Permaisuri trauma dengan sikap Baginda dulu."


Pikirannya mulai mengingat kejadian masa lalu dengan hati menyesal. Dulu dia tidak pernah memikirkan hati Michelina yang lembut itu. Benar, sikapnya berubah karena dia sering menusuk hatinya dengan perkataannya. Bahkan wanita itu dulunya tidak pernah mendengarkan perkataan wanita bangsawan yang merendahkannya karena mengemis cintanya. Ia juga pernah menolaknya terang-terangan di tempat umum. Pernah di pesta istana, wanita itu menghampirinya.


Namun dengan teganya ia meminta wanita lain, keponakaannya sendiri untuk berdansa dengannya. Di depan matanya sendiri, gadis lembut itu melihat sekelilingnya. Banyak orang yang melihatnya dan meremehkannya. Sebuah penghinaan bagi Duke Ronaf. Seandainya waktu itu, Duke Ronaf tidak di cegah. Mungkin dia sudah di hajar oleh mertuanya. Dengan penuh cintanya gadis itu selalu mengatakan pada ayahnya jangan sampai melukai orang yang dia cintai.


Sebejat itukah dirinya pada wanita yang kini sedang berlabuh di hatinya. Dia adalah laki-laki paling brengsek di dunia ini.


"Dan sekarang giliran ku yang menyembuhkan tusukan di hatinya. Aku yang menusuk hatinya dengan pisau dan Aku juga yang akan mencabutnya."


Hay kakak-kakak, emak-emak tercinta love sekebun jagung.


Maaf ya author kemarin kagak bisa update, ni otak kemaren gak bisa kompromi.


Nah sekarang author mau nyampain, jika suka dengan karya author, tolonglah beli novel author yang sekarang udah terbit. Hanya 86.000 😭 bonus chapter sekaligus tidak akan sama dengan novelnya.

__ADS_1


# Putri Mahkota Yang Terbuang



__ADS_2