
"Apa yang Baginda lakukan?" tanya Michelina. Ia malu mengingat tatapan orang ada yang merasa kasihan dan ada yang mengejek, bahkan juga berbisik-bisik. Jika di ingat lagi, pakaian laki-laki tadi, bukanlah pakaian biasa. Sepertinya dia juga berasal dari seorang bangsawan.
"Hah," Kaisar Jasper menghempaskan tangan Michelina dengan kasar. "Aku membela mu dan kamu membelanya. Apa kamu menyukainya, o iya jangan-jangan kamu terpesona dengan ketampanannya ya." Tuduh Kaisar Jasper. Seandainya tadi dia mengatakan identitasnya, laki-laki tadi tidak akan berani menatap Permaisurinya dengan terang-terang. Ia harus memberikan pelajaran pada lalat itu. Ia harus mencari tau, tapi dia tidak tau siapa namanya. Seandainya dia membawa bawahannya, sudah pasti ia akan menyuruh Marquess Azel menyelidikinya.
"Tuduhan macam apa itu? Semenjak kapan aku menyukainya, kenal juga tidak," sahut Michelina. Mana mau dia kalah berdebat dengan Kaisar Jasper. Suami menjengkelkan ini sudah membuat dirinya malu.
"Bisa jadi, kamu tidak melihat matanya. Dia itu menatap mu tanpa berkedip. Se enaknya saja dia melihat mu seperti itu. Aku ingin mencongkel matanya. Cinta itu tak butuh perkenalan, pertama bertemu lalu jatuh cinta sesudah itu berkenalan."
Michelina bersendekap, "Apa Baginda tidak ingat? Baginda juga seperti itu, malahan Baginda membawa ke istana."
Dia juga tidak terima di salahkan, toh ia sekarang sudah berusaha menjauhi Zoya. "Jangan mengarahkan pada Zoya. Aku dari dulu hanya kasihan dan.menjauhinya. Dianya saja yang gatal ingin dengan ku. Secara langsung aku kan memang tampan.
"Dan aku juga cantik, jadi aku tidak mempermasalahkan laki-laki itu kagum dengan ku." Ujar Michelina seraya melongos ke kanan. Ia berjalan meninggalkan wajah Kaisar Jasper yang semakin kesal.
__ADS_1
"Ah, kenapa jadi begini? awas saja jika aku bertemu dengannya. Aku akan membuat lalat bau itu sadar."
Kaisar Jasper berlari, ia mengikuti Michelina yang sudah menaiki keretanya. Kereta itu berjalan melewati setiap toko yang ramai oleh pengunjung. Rasa hambar, tidak seperti tadi.
"Permaisuri, aku akan membelikan mu Perhiasan atau gaun, atau sesuatu yang kamu suka." Ujar Kaisar Jasper dengan senyuman khas yang mampu melelehkan hati wanita. Namun tidak dengan Michelina.
"Apa Baginda berpikir aku suka semuanya?"
"Hah," Kaisar Jasper menghembuskan nafas beratnya. "Aku minta maaf, aku salah. Apa aku tidak boleh cemburu pada laki-laki lain yang melihat mu."
"Aku juga minta maaf pada Baginda." Kaisar Jasper pun mendongak, ia langsung memeluk Michelina.
"Terima kasih sayang,"
__ADS_1
"Baginda," pekik Michelina saat merasakan wajahnya di hujani oleh ciuman Kaisar Jasper. Tatapan penuh cinta itu, semakin mendekat. Nafas mereka pun sangat terasa. Bibir indah keduanya menyatu, menyalurkan kenyamanan dan kehangatan.
Kaisar Jasper semakin mendorong kepala Michelin, saling menyesapinya dan **********. Kedua lidahnya saling menyapa. Sejenak mereka melepaskan ciuman hangat itu, saling menatap. Kemudian melanjutkannya lagi.
Kaisar Jasper meremas pinggul Michelina. Nafasnya memburu, ia ingin lebih dari itu. Semakin larut dalam kenyamanan, Kaisar Jasper sudah membuka resleting bagian belakang gaun Michelina.
Kaisar Jasper mencium bahu Michelina, beralih ke lehernya.
"Baginda, Permaisuri kita sudah sampai." Ujar seorang pelayan yang menghentikan aktivitas keduanya. Kaisar Jasper menggeram, lagi-lagi harus ada yang mengganggunya.
"Awas saja, aku akan memberikan pelajaran padanya," ujar Kaisar Jasper menuruni keretanya.
Kaisar Jasper menatap dingin, "Kamu."
__ADS_1
"Baginda," cegah Michelina. Suaminya ini akan membuat sebuah drama lagi. Ia harus menghentikannya. "Baginda, ayo kita sebaiknya bersiap-siap. Kita lanjutkan nanti." Michelina menarik lengan Kaisar. Namun sang empu masih menatap dingin pelayan itu yang bingung. Ia memangnya salah apa pikirnya.